Diantara para pemburu, mereka semua memiliki peringkat rank dari kontribusi yang mereka berikan. Dan salah satu untuk meningkatkan poin kontribusi adalah dengan cara menyelesaikan banyak misi atau melakukan pertarungan satu lawan satu dari ranker tersebut.
Dan Felix adalah salah satu diantara para ranker, walau peringkatnya tidak terlalu tinggi, tapi Felix berada di jajaran sepuluh renker terkuat yang pernah ada.
Hingga beberapa saat lalu dia memilih untuk mengundurkan diri dari daftar peringkat karena dia ingin membangunkan sebuah serikat. Yang mana itu akan memakan banyak waktunya.
Sepuluh perintah terkuat yang kini melawan seorang pemburu level satu, itu adalah hal yang mustahil untuk dimenangkan oleh Alea. Dia sendiri tidak berharap jika dia bisa memenangkan pertarungan ini. Pertarungan yang awalnya mereka lakukan untuk sebuah pengujian sejauh mana Alea berkembang.
Tapi kini, pertarungan itu berubah menjadi sebuah pertarungan sengit antara kedua belah pihak.
Di sisi Felix, dia terlihat begitu berambisi dengan kekuatan yang dia miliki, bahkan api yang berkobar di seluruh tubuhnya jelas-jelas memperlihatkan bagaimana kekuatan yang dia miliki itu nyata. Di tangannya, pedang kayu yang awalnya hanya digunakan untuk sarana latihan sudah berubah menjadi pedang api yang sangat kuat dan panas, bahkan konon katanya. Satu tebasan saja mampu melumpuhkan banyak monster dan membakar hampir setengah hutan.
Yah. Dia adalah Felix, si naga api yang memiliki kekuatan mengerikan, bahkan namanya hampir dikenal oleh banyak orang dan menunjukkan bagaimana kuatnya koneksi yang dia miliki.
Sedangkan di sisi lain, Alea si pemburu level satu, tanpa peringkat, dan hanyalah seorang pemburu yanguang mendapat gelar pemburu paling lemah di dalam menara, dia terlihat tengah mempertahankan harga dirinya, menggunakan salah satu pedangnya dia berusaha menumpu berat tubuhnya di sana. Napasnya terengah karena pertarungan terus berlanjut setelah Felix memaksa dirinya untuk mengeluarkan kekuatan sesungguhnya.
Dia tidak ingin menggunakannya, dan bersikeras untuk mengatakan jika dia tidak pernah memiliki senjata seperti itu. Tapi sekeras apapun dia bertahan. Felix terus menekan dirinya.
Hingga pada akhirnya Augus yang baru saja terbangun merasa muak ketika melihat bagaimana Felix menghajar Alea sampai terpojok seperti itu.
[Persetan pada persepsi orang! Jika kau tidak menggunakan aku, maka jangan salahkan aku jika aku akan keluar dan mengamuk karenanya!]
Mendengar itu Alea tak bisa berbuat apa-apa, staminanya belum pulih dan kondisi tubuhnya sudah sangat parah. Ada begitu banyak luka sayatan di tubuhnya dan membuat dia tak bisa banyak bergerak karenanya.
(Aku setuju, tidak peduli bagaimana mereka akan menilai mu! Aku hanya tidak ingin kau mati!)
Dia ego uang bersatu untuk memberontak adalah salah satu hal yang sulit dihindari oleh Alea, kekuatan mereka jauh lebih besar, dan mereka bisa keluar kapan saja untuk membantu dirinya.
Alea yang melihat bagaimana keteguhan hati kedua ego itu dibuat tak bisa berkata-kata. Dia hanya menghela napas pelan sebelum akhirnya dia mengambil langkah untuk berdiri.
"Jika itu yang kalian inginkan." Alea membuang kedua pedangnya dan menatap Felix yang terlihat begitu semangat dengan pertarungan ini. "Maka aku tidak akan segan-segan menahan diri!"
[Bagus! Aku akan bersenang-senang untuk itu!]
(Mari tunjukkan bagaimana kekuatan kita yang sesungguhnya!)
Alea mengangguk, lalu setelahnya dia mulia merubah Augus dan Jess menjadi pedang panjang yang memiliki warna berlawanan. Hitam dan putih. Element kegelapan dan cahaya, itu adalah sebuah elemen yang baru dilihat oleh Felix.
Hingga ketika melihat dua pedang yang muncul dari cincin di kedua tangannya itu membuat Felix termangu sejenak.
"Apakah itu kekuatanmu yang sesungguhnya?"
"Aku tidak tahu, karena yang aku tahu. Aku tidak akan mau kalah darimu, bahkan jika ini adalah peraturan untuk membuktikan sejauh mana perkembangan ku!"
Alea benar-benar marah. tatapannya berubah menjadi sangat tajam. Bak pemburu yang tengah menatap lawannya secara langsung.
"Hahaha! Bagus! Aku suka semangat itu!" Felix menggenggam erat pedangnya dan detik itu juga dia langsung melesat dengan kecepatan yang sebelumnya mampu membuat Alea terpojok dan kerepotan.
Hanya saja hal itu tidak akan berlaku sekarang. Di sisinya dia sudah memiliki Jess yang bisa dengan mudah memberikan penglihatan setiap pergerakan lawannya. Tidak peduli bagaimana cepatnya pergerakan itu. Lalu di tangan kanannya, Augus sudah siap untuk memblokir serangan lawan dan mencuri energi dari lawan secara langsung. Dia akan melahap apapun yang bersentuhan dengan tubuhnya. Dan kekuatan yang dia serap itu akan diubah menjadi energi kekuatan untuk Alea.
Kini Alea bisa melihat pergerakan dari Felix yang terlihat sedikit lambat dari sebelumnya, bahkan tebasan pedang itu terasa sangat lama untuk mengenainya. Alea mengambil langkah ke samping kiri sebelum akhirnya dia menggunakan Augus suntik menahan pedang api milik Felix.
PRANKKK!
Felix tersenyum kecil ketika melihat bagaimana Alea Moh menghalau serangannya dengan sangat sempurna, dia bisa melihat sejauh apa Alea berkembang sekarang.
"Aku tidak tahu apa yang sudah kau lalui di dalam hutan terlarang." Felix tersenyum saat berusaha mendorong pedangnya agar membuat Alea mundur beberapa langkah. "tapi melihat bagaimana kau berkembang hingga sekarang. Itu membuatku yakin!" Felix mengambil langkah mundur untuk mengangkat pedangnya dan segera mengambil kuda-kuda untuk melakukan tebasan yang sangat kuat.
Hanya saja kali ini Alea bersama Jess, dia langsung menggunakan Jess untuk memblokir serangan Felix, dan setelahnya dia menggunakan Augus untuk menahan pedang itu.
"Kau berkembang sangat pesat!" Felix tidak tinggal diam. Bahkan setelah mengatakan itu dia langsung memberikan sebuah tendangan yang mampu di tangkap oleh Alea. Dia sudah memprediksi jika Felix akan melakukan serangan secara langsung dan membuatnya tak bisa berkutik di sana. Namun apa yang dilakukan oleh Felix mampu diketahui oleh Alea.
Dan dia hanya tersenyum saat melihat hal itu.
"Kau tahu, aku berkembang bukan hanya segi kekuatan." Alea segera mendorong Felix membuatnya menghantam tembok dan membuat ruangan itu bergetar.
"Tapi ada begitu banyak pengalaman yang aku dapat, dan ada begitu banyak monster kuat yang ada di luaran sana! Aku bisa bertahan dan keluar dari hutan terlarang karena aku mampu membunuh mereka!"
Tatapan tajam itu berubah, posisi yang dia ambil untuk melakukan ancang-ancang juga sangat kokoh, tidak ada celah sedikitpun dari posisi Alea. Dia memberikan tatapannya, lalu melesat secepat yang dia bisa. Ini adalah kekuatan yang dia dapat ketika memakai dua senjatanya secara langsung.
Si pemburu level satu yang bisa mengeluarkan potensi tersembunyi dari dalam dirinya, level bukanlah sebuah patokan untuk menunjukkan seberapa kuat dirimu, tapi pengalaman dan juga kecerdasan akan menunjukkan bagaimana seseorang akan berkembang.
Kecepatan Alea mampu dikatagorikan sebagai kecepatan yang sudah melebihi pemburu level 20 bahkan, insting berburunya juga sudah berada di tahap yang jauh untuk seorang pemburu level satu seperti dirinya.
Ini membuktikan jika Alea mampu berkembang walau dia memiliki keterbatasan dalam dirinya.
Melihat itu tentu saja membuat Felix tersenyum puas. Sampai detik ini dia tidak pernah menyangka jika Alea akan jauh berkembang hanya dalam beberapa bulan saja.
Dia masih mengukir senyumnya, berdiri dan menunggu ketika Alea datang kepadanya, dengan aura api yang mengelilingi tubuhnya, menjadikan sebagai perlindungan ketika Alea melancarkan serangannya. Tebasan yang diberikan Alea mampu menggetarkan tembok penghalang yang biasanya mampu menahan keterampilan dari setiap pemburu, tapi sekarang, tembok itu tergores dan memperlihatkan sebuah tebasan pedang yang menyilang di sana.
Felix terkejut akan hal itu, jika dia tidak menggunakan keterampilan api dan aura yang menutup sekujur tubuhnya, mungkin saat ini dia akan terpotong menjadi dua. Siapa yang menyangka jika Alea akan menyerangnya dengan menggebu seperti itu, tapi dia sendiri tidak heran, karena semua ini dialah yang memulainya.
Felix segera melompat untuk menjaga jarak dari Alea, dan setelah itu. Dia mengambil kesempatan untuk menyerang pria itu dengan bola api milik ya, dia menggunakan pedangnya untuk memberikan tebasan pedang yang mengikuti bola api.
Lalu apa yang dilakukan Alea setelahnya benar-benar membuat dirinya tercengang. Pria itu dengan santainya menebas semua bola api yang datang dengan pedang hitam. Dan setelahnya bola api itu seolah terserap ke dalam pedang hitam yang kini mulai menyala. Lalu dengan pedang putih itu dua menebas tebasan api yang Felix lancarkan. Itu adalah serangan kombinasi yang sesuai.
Tapi, ada satu hal yang membuat Felix mengerutkan kening ketika Alea memasang senyum kecil di wajahnya. Itu adalah sebuah senyum yang datang ketika seseorang mendapatkan kesempatan. Dan sebelum Felix berhenti mengambil langkah.
Satu hal membuatnya benar-benar terkejut, pedang hitam yang tadi menyerap bola apinya kini berubah menjadi sebuah pistol yang terarah ke arahnya, dan tak lama setelahnya sebuah peluru mana datang dengan kecepatan sangat tinggi dan tak bisa dihindari oleh Felix.
Alea berpikir serangan itu akan berhasil. Namun ketika beberapa saat berlalu. Dia bisa melihat bagaimana Felix tertawa sangat puas. "Kau ... Aku tidak menyangka jika kau menyembunyikan kekuatan sebesar itu!" Tubuh Felix sempoyongan, tapi setelah beberapa saat dia berdiri dengan kokoh dan tidak ada luka sedikitpun di tubuhnya. Semua karena aura yang mengelilingi tubuhnya, dan itu adalah pertahanan mutlak yang dia miliki. Bahkan serangan kerasa sekalipun tidak akan bisa menembus pertahanan itu.
"Usaha yang bagus!" Felix mengangkat kepalanya, tatapan gelap kini berubah menjadi taman dan menghunus, itu adalah tatapan yang begitu mengerikan. Bahkan jika Alea tidak menggunakan kedua egonya, mungkin saat ini dirinya akan terjebak dalam tekanan yang sangat kuat.
Tidak sampai di sana. Lantai tempatnya berpijak mulai bergetar dengan kuat dan menunjukkan bagaimana gilanya kekuatan yang dimiliki oleh Felix.
Alea bahkan menelan ludahnya kasar ketika melihat bagaimana tingkat kekuatan itu. Bahkan kekuatan Minotour tidak ada apa-apanya dibandingkan kekuatan Felix.
[Dia benar-benar gila!] Pekik Augus yang merasakan tekanan yang ada.
(Rubah aku menjadi armor, itu akan mengurangi dampak serangannya!)
Alea tak membuang waktu lagi. Dia berpikir jika Felix akan benar-benar serius menyerang dirinya, dan seketika itu juga dia merubah Jess menjadi armor yang menutupi seluruh tubuhnya, lalu langkah setelahnya dia mulai memikirkan bagaimana cara mengembalikan serangannya, dia berpikir untuk tidak terlalu tergesa dalam melakukan serangan, atau ini akan menjadi akhir baginya.
Aura di seluruh tubuh Felix mulai meluap, kekuatan itu benar-benar gila bahkan dari jarak sejauh itu Alea bisa merasakan tekanannya.
Ini akan sulit. Itulah yang dipikirkan Alea, tapi satu hal yang pasti. Dia tidak akan menyerah. Karena ini adalah sebuah pembuktian untuk dirinya. Dia tidak akan menyerah di tempat ini.
Alea merubah Augus menjadi pedang hitam, itu akan lebih mudah untuk menyerap serangan yang datang. Dia masih berpikir jika Felix akan menggunakan energi sihirnya untuk menyerang dirinya. Dan itu akan sangat merepotkan nantinya.
"Apa kalian siap?" Tanya Alea kepada dua rekannya.
[Jangan remehkan aku.]
(Aku siap!)
"Baiklah. Mari kita lihat sudah sejauh mana kita berkembang!"
Felix semakin menggila, lalu tanpa sepengetahuan Alea, bahkan ketika dia menggunakan keterampilan Jess yang mampu melihat setiap pergerakan cepat. Felix masih bisa lebih cepat lagi. Dengan tangan kosong Felix sudah berdiri di hadapannya, dengan mata merah nyalang. Dia mengangkat lengannya memberikan satu pukulan yang segera Alea tangkis menggunakan Augus.
Kakinya tertahan di lantai. Kepalanya yang menunduk dia angkat perlahan. Sebelum dia menunjukkan senyum kecil di wajahnya.
"Jangan berpikir serangan seperti ini mampu menjatuhkan ku!" Ucapnya dengan senyum mengejek.
Mendapatkan itu Felix murka, dia menambah sejalan serangannya. Pukulannya terasa semakin berat. Dan hal itu membuat kaki Alea tertanam di lantai tempat dia berdiri.
Secara diam-diam Alea sudah merencanakan ini, jika dia bisa menahan pukulan Alea menggunakan Augus maka secara tidak langsung dia bisa memanfaat energi yang meluap dan membiarkan Augus melahapnya, itu akan memberikan keuntungan untuk dirinya, dan tidak akan merugikan Felix.
"Apa kau tahu?" Perlahan Alea mampu membalikkan keadaan. Dia mendorong tubuh Felix, melepaskan kakinya yang tertancap di atas lantai dan bergerak satu langkah ke depan.
"Aku sudah terlalu banyak melalui hak sulit bahkan ketika aku harus mengorbankan nyawa untuk bertahan...." Alea mendorong tubuh Felix perlahan. "Dan serangan seperti ini tidak akan membuatku mundur."
Itu adalah kenyataannya, dia sudah melalui banyak hal sebelum ini. Dan serangan seperti ini tidak akan membuat mentalnya berkurang, bahkan dia malah mendapatkan banyak keuntungan. Energi yang Augus dapatkan sangat berlimpah, dan itu membuatnya girang.
[Aku penuh!] Teriak Augus keras.
Alea tersenyum karenanya. Dia segera mengambil momentum untuk mendorong Felix, dan setelahnya dia berlari ke samping untuk menjaga jarak, dan saat itu terjadi, Alea langsung merubah Augus menjadi sebuah senjata ektra besar. Itu adalah senjata plasma dengan daya hancur yang sangat luar biasa dan biasa digunakan saat perang dunia. Dan seketika itu juga augus mengarahkan senjatanya ke arah Felix.
"Terima kasih atas suplai yang berlebih ini!"
Alea tersenyum, dan setelahnya dia menekan pemantik di sana, hingga tak lama setelahnya ledakan mana keluar dari peluncur. Memberikan sebuah serangan yang sangat kuat hingga membuat ruangan itu bergetar hebat.
"Kau tahu! Aku selalu berpikir apakah aku pantas untuk berada di sisimu selama ini! Kau kuat! Kau hebat! Bahkan kau berada di barisan tertinggi pemburu terkuat yang pernah ada, dan kau memungutku, memberiku tempat dan harapan! Dan sekarang!" Alea mencengkram erat. Bahkan karena daya ledak yang berlebihan itu. Kakinya sampai terdorong kebelakang, itu adalah pertama kalinya Alea menggunakan senjata yang sama seperti yang ada di kepalanya.
"Aku selalu ingin membuktikan diri apakah aku pantas! Dan sekarang! Kau memaksaku! Memaksaku untuk mengeluarkan apa yang ada di kepalaku!"
Alea tertawa sangat keras.
Dia tidak berpikir jika serangannya itu mampu menggetarkan seluruh ruangan yang sudah di bangun khusus untuk pelatihan para pemburu. Bahkan getaran itu mampu membuat gedung serikat flame red dragon sedikit bergetar karenanya.
===
"Apa kau merasakannya?" Tanya Brain saat dia merasakan keanehan yang terjadi di gedung tempat dia berdiri pada salah satu pegawai yang ada di sana.
Dia baru saja kembali dari sebuah pertemuan. Dan ketika dia sampai. Dia disambut dengan guncangan yang asing.
"Aku tidak tahu, pak, tapi sepertinya guncangan ini terjadi di ruang pelatihan."
"Ruang pelatihan?" Brain mencoba untuk memikirkan apa yang ada di sana.
"Jam berapa sekarang?" Tanya Brain lagi.
Bawahannya itu segera melihat jam di tanganny. "Jam sebelas, pak."
Mendengar itu brain langsun berlari secepat yang dia bisa. Ini adalah waktu di mana Alea melakukan pengujian. Dan dia tidak berharap jika Felix akan mengujinya secara langsung, dan jika sampai itu terjadi. Maka sudah di pastikan, tempat ini akan benar-benar hancur.
Brain bukanlah orang bodoh yang tidak bisa melihat potensi yang ada di dalam diri Alea. Bahkan ketika dia menjemput Alea kemarin, dia bisa merasakan aura yang sangat kuat di dalam dirinya.
Dan sekarang. Apa-apaan mereka ini!
Brain langsung membuka pintu ruang pelatihan, tapi sepertinya mereka menguncinya dari dalam. Tidak ingin membuang waktu Brain langsung mendobrak pintu itu, hanya saja keamanan yang ada membuatnya tak bisa berkutik. Ini adalah sebuah kelemahan yang ada. Mereka selalu dilarang untuk menggunakan kekuatan mereka di zona aman, tapi akan berbeda cerita jika mereka semua berada di dalam ruang pelatihan, dan inilah yang selalu ditakutkan oleh Brain.
"Sial! Apa yang kalian lakukan di dalam!" Brain yang frustasi mulai mendobrak pintu di hadapannya, dia berharap jika mereka akan berhenti dan keluar dari ruang pelatihan sekarang juga sebelum mereka benar-benar menghancurkan bangunan ini.
"Sialan! Apa yang mereka lakukan sebenarnya!"