Untuk kesekian kalinya aku menginjakkan kaki di gedung ini. Suasana yang sepertinya tidak mendukung membuatku menjadi pusat perhatian. Tidak hanya itu. Aku bahkan menjadi bahan olok-olok mereka untuk sekedar membuatku merasa jatuh, dan terkena mental.
Tanpa mereka sadari. Aku sudah terbiasa dengan semua itu. Aku bahkan tidak akan mati ataupun menderita hanya karena mendengar mulut-mulut mereka yang busuk.
(Aku tidak suka mulut mereka!) Dengkus Jess yang merasa tidak nyaman mendengar ucapan orang-orang yang mengatakan aku lemah dan menindas ku dengan kalimat tajamnya.
[Abaikan saja!] Balas Augus dengan nada malas di sana, sepertinya dia sudah enggan jika harus berurusan dengan orang-orang seperti itu. Dan sudah jelas jika Augus sudah mulai terbiasa seperti Alea kini.
Aku tidak menjawab keduanya, dan memilih untuk masuk. Suasana dan kondisi di sekitar gedung serikat tentu akan terasa berbeda dari pada pasar loak sebelumnya, di tempat ini ada begitu banyak pemburu kuat yang datang dan untuk mengumpulkan informasi atau menjalankan misi seperti biasanya. Apalagi sekarang adalah hari kerja, akan banyak orang yang berdatangan untuk menjalani hari mereka.
Menghela napas pelan. Aku memilih untuk masuk dan menuju meja resepsionis yang ada di tengah-tengah aula.
"Selamat pagi ada yang bisa saja bantu?"
Aku tersenyum kecil. Dia sepertinya ramah. Namun tidak tahu apa yang akan terjadi ketika dia melihatku secara langsung. Karena pada saat ini dia tengah menundukkan kepalanya untuk mengisi daftar orang-orang yang mungkin saja datang ke tempat ini.
"Apakah bapak Brain ada di tempat?" Aku bertanya secara langsung tanpa basa-basi, karena menurutku hal itu akan membuang banyak waktu.
Mendengar nama Brain, dia mengangkat kepalanya dan menatapku lamat-lamat.
"Maaf...?"
"Bapak Brain. Apakah beliau ada di tempat?" Aku mengulang pertanyaan ku, ini adalah pertanyaan formal yang aku ucapkan. Dan aku yakin jika Brain mendengar hal ini. Maka sudah dipastikan dia akan tertawa terbahak-bahak karenanya.
"Apakah anda memiliki keperluan dengan beliau?" Wanita kecil ini menatapku dari atas hingga bawah, tatapannya terlihat tidak suka, dan sudah ku katakan sebelumnya, ini adalah reaksi yang wajar ketika aku yang berpenampilan biasa saja menanyakan orang penting di dalam gedung ini.
Apalagi ketika aku menanyakan keberadaan Felix, mungkin dia akan semakin jijik dengan keberadaan ku.
Aku mengangguk pelan. "Aku sudah membuat janji dengan beliau."
"Maaf, hanya saja sepertinya bapak Brain tidak bisa diganggu untuk saat ini."
Aku mengerutkan sebelah alis saat mendengar pernyataan itu. "Apakah anda sudah mencoba untuk menghubungi beliau?"
"Sepertinya tidak perlu. Apalagi untuk orang seperti anda, yang sepertinya tidak terlihat pantas untuk masuk ke dalam bangunan serikat ini!"
Aku tidak tahu apakah dia sengaja atau tidak, tapi mendengar intonasi yang sengaja dibesarkan membuat beberapa pasang mata menatapku dengan tatapan aneh.
"Kenapa tidak? Sudah saya katakan bukan. Jika saya sudah membuat janji dengan beliau hari ini jam sembilan."
"Tapi maaf, sekeras apapun anda mencoba untuk membodohi ku, saya tidak akan termakan perkataan tanpa dasar yang anda berikan."
Aku tertegun sejenak, apalagi setelah itu ada beberapa banyak suara yang aku dengar.
"Hey, bukankah itu si pemburu dengan peringkat lemah yang sering di katakan banyak orang?"
"Ah iya aku ingat sekarang. Aku ingat jika dia adalah pemburu yang tidak bisa menaikkan peringkatnya hingga detik ini. Dan aku dengar dia masih berada di level satu."
"Dan apa kau dengar apa yang dia katakan barusan? Bertemu dengan tuan Brain, apakah dia bercanda?"
"Haha! Bahkan aku yang sudah menjadi salah satu anggota saja belum sekalipun bertemu dengan tuan Brain!"
Diam-diam aku mengepalkan tangan ketika mendengar kalimat tajam dari orang-orang ini. Entah sampai kapan mereka akan terus menindas ku seperti sekarang, mungkin sampai mereka benar-benar puas karena hal ini.
Dengan perasaan kesal, aku bahkan tidak menghiraukan ucapan dari Jess dan juga Augus yang marah. Aku masih mengepal tangan.
Baik. Jika kalian benar-benar ingin menjatuhkan harga diriku, maka aku akan membuktikan. Terserah apa yang akan kalian katakan nanti.
Diam-diam aku menghubungi Felix, aku tahu dia sibuk, tapi aku sangat berharap jika dia segera mengangkat panggilan ku dan aku bisa mengatakannya dengan lantang.
"Hey! Apa-apaan kau ini, aku sedang berada di tengah-tengah rapat!"
Aku mendengar dirinya memekik keras, tapi sayangnya aku tidak peduli.
"Hey tuan Felix! Sepertinya aku akan pergi dari sini dan perjanjian kita batal! Aku akan menunggu sampai sepuluh detik! Jika Brain tidak datang maka jangan harap aku akan Sudi menginjak kaki di ubin serikat mu!"
"Hey apa yang kau katakan sialan! Aku masih di dalam rapat!"
"Aku tidak peduli itu tuan Felix! Bukankah kau yang memintaku untuk datang? Lalu apa-apa sambutan ini?! Bahkan resepsionis mu saja tidak mengijinkan aku untuk masuk. Dan yang paling penting, apa-apaan tatapan itu. Dia bahkan menatapku bagaikan kotoran yang pantas untuk di buang!"
Aku melirik dengan senyum tipis yang menghiasi saat melihat wanita pendek itu langsung mendelik tajam, bahkan orang-orang yang membicarakan tadi langsung terdiam tanpa suara.
"Waktu terus berjalan tuan Felix! Aku akan pergi jika Brain tidak datang!"
"Ck, sepertinya kau benar-benar mempermainkan aku!"
Aku menahan senyum ku saat mendengar Felix mendengkus tajam. Sebelum akhirnya aku mendengar suara kekacauan dari sana.
"Jangan tutup panggilannya, aku akan segera datang menyusul mu dan memberimu pelajaran!"
"Baiklah, aku akan dengan senang hati menunggu kedatangan mu tuan."
Aku tersenyum pongah menatap resepsionis yang menatapku dengan tatapan tak percaya. Dia pikir aku sudah gila dan bisa menginjak harga dirinya, aku akan dengan senang hati melakukannya.
Karena bagiku, orang-orang seperti dirinya harus diberikan pelajaran agar tidak semena-mena terhadap banyak orang.
Sejenak sang resepsionis sombong tidak berani menatapku. Dan ini adalah sebuah hal yang bagus untuk di lanjutkan.
"Terima kasih, karena kau, sepertinya aku sudah mengacaukan rapat tuan Felix, dia bahkan sampai repot-repot untuk mendatangi ku."
"Apa maksudmu...?"
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, aku datang ke tempat ini karena sudah memiliki janji dengan brain, tapi kau tidak menganggap ku. Dan karena kesombongan mu itu aku menghubungi Felix. Kebetulan aku hanya memiliki nomornya."
Aku baru saja akan menutup mulutku sebelum aku merasakan aura yang sangat kuat datang dari arah tangga. Dan tak lama setelahnya Felix berdiri di hadapanku dengan tatapan tajam.
Hal itu tentu saja menarik perhatian banyak orang, bahkan hampir semua orang yang ada di tempat ini melarikan tatapannya kepadaku.
"Dasar sialan!" Dia mendengkus tajam, lalu dengan cepat dia memutar tanganku hingga tubuhku ikut berputar sebelum akhirnya dia menarik kerah bajuku dan menyeretnya. Namun sesaat langkahnya terhenti. Dia menyempatkan diri untuk menatap sang resepsionis sebelum mengatakan. "Aku memiliki urusan dengan mu setelah ini!"
Aku tersenyum mendengarnya, tapi aku tidak akan sejahat itu sampai membiarkan Felix mengecap wanita itu. bagaimanapun juga dia memiliki sesuatu yang harus dia hidupi dengan pekerjaan ini.
===
"Hey! Berhentilah melakukan ini! Kau membuatku terlihat seperti anak kecil!" Aku benar-benar malu atas apa yang dilakukan Felix. Dia benar-benar membuatku terlihat seperti orang bodoh di depan banyak orang.
"Diamlah! Kau yang memaksaku untuk melakukan hal ini!"
"Ck! Terserah kau saja!"
Hal ini terjadi lagi. Untuk kedua kalinya aku diperlakukan seperti ini. Brain dan Felix adalah dua orang yang harus aku hindari, karena ini akan sangat memalukan untuk kedepannya.
Aku hanya diam dan membiarkan Felix menyeretku dengan paksa. Hingga akhirnya penderitaan ku berakhir ketika aku sampai di sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruangan untuk pemeriksaan.
Felix melepaskan ku setelahnya, dan aku memilih untuk bangun. Aku melihat sekitar untuk memastikan sebelum akhir ya aku bertanya.
"Di mana orang-orang? Bukankah ini akan menjadi penilaian untukku?"
Di mendengkus pelan dan berjalan pada kursi yang ada di sisi ruangan ini. "Aku sudah menghubungi mereka, mungkin sebentar lagi mereka akan sampai."
Aku mengangguk dan segera menyusul Felix dan memilih untuk duduk di hadapannya.
"Lalu, apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang kunci?" Aku sengaja bertanya untuk memancing Felix. Walau setidaknya aku sudah mendapatkan sedikit informasi mengenai keberadaan kunci. Aku tidak ingin mengatakannya secara terus terang, karena itu akan membuat Felix curiga nantinya.
Terdengar helaan napas sebelum akhirnya Felix bersandar pada kursi.
"Sampai saat ini kami masih mengumpulkan informasi tentang kunci, dan dari semua informasi yang di dapat, kami belum mendapatkannya."
"Sangat di sayangkan. Padahal jalan menuju lantai atas sudah ada di depan mata."
Aku mencoba untuk tidak melakukan kecerobohan, apalagi ketika menyangkut hal sensitif seperti ini.
"Lalu, bagaimana denganmu, aku penasaran apa saja yang sudah kau alami di dalam hutan terlarang. Dan anehnya, kenapa ketika kau di dalam sana tiba-tiba saja gerbang bos terakhir muncul? Apakah kau sendiri memiliki informasi tentang semua ini?" Tanyanya lagi dengan tatapan penasaran.
"Ti-tidak, aku hanya melakukan perburuan biasa saja, tanpa ada yang aneh. Kau tahu bukan aku hanya mengumpulkan beberapa item dan juga tanaman herbal untuk aku jual, dan berusaha untuk menaikkan levelku, walau hasilnya tetap saja sama." Aku menghela napas pelan. "Aku tidak berkembang di sana.
Aku mengatakannya, aku memang tidak berkembang, tapi bukan berarti aku tidak mendapatkan kekuatan lain. Hanya saja aku harus merahasiakan ini.
"Sungguh?"
Aku mengangguk sekali lagi, tapi setelahnya Felix malah bangkit dan beranjak dari kursinya. Dia melepaskan jas yang dia kenakan dan meletakkannya di atas meja, meninggalkan kemeja putih yang kini dua kancing bagian atas telah dia bukan.
"Aku benar-benar penasaran, bagaimana caranya kamu bisa keluar dari hutan yang bahkan membuat banyak pemburu tidak bisa keluar dari sana hidup-hidup," ucapnya sembari membuka kancing lengan dan menggulungnya sampai siku. Setelahnya dia berjalan menuju ke arah lemari senjata yang ada di sana. Berdiri sejenak untuk memilih senjata buatan yang tidak memiliki efek apapun di dalamnya.
"Bagaimana jika hari ini aku sendiri yang akan mengujimu?" Tanyanya dengan senyum miring. "Aku sungguh penasaran sejauh mana kamu berkembang."
Aku tidak tahu apakah aku akan menerima tantangannya, ataukah ini hanya sebuah jebakan yang aku dapat. Aku tidak ingin kelepasan atau malah membuat suasana semakin kacau.
Aku tidak langsung menjawab. "Apa kalian dengar?"
(Tentu saja, aku mendengar percakapan kalian)"
"Lalu bagaimana dengan Augus." Aku bertanya karena dia tidak menjawab pertanyaan ku.
(Sepertinya dia tengah tertidur.)
Aku menghela napas pelan. "Lalu apa yang kau pikirkan?"
(Sepertinya tidak masalah, asal kau tidak menggunakan kami.)
"Kau yakin?"
(Tentu saja, bukankah ini kesempatan yang bagus untuk melihat sejauh mana kau berkembang?)
Aku tidak langsung menjawab. Apa yang Jess katakan tentu masuk akal, sejauh ini aku selalu mencari kekuatan. Dan aku sendiri tidak tahu sejauh mana kemampuan ku ketika tidak menggunakan kedua egoku, apakah ini akan baik-baik saja, tapi setidaknya itu tidak masalah.
Felix tidak akan melukaiku bukan? Dia hanya penasaran sejauh mana aku berkembang. Dan begitu juga aku, aku penasaran sampai mana aku berkembang.
"Baiklah." Aku beranjak, lalu berdiri menghadap Felix. "Hanya saja aku ingin kamu berjanji satu hal untuk ku."
"Oh, apa itu?"
Aku berjalan mendekatinya. "Aku ingin kau tidak menggunakan seluruh kemampuan mu, aku hanya ingin membuktikan sejauh mana aku berkbang."
"Tidak masalah." Felix tersenyum dengan permintaan ku. Lalu dia mengambil pedang dua tangan yang terbuat menggunakan bahan kayu dari lemari senjata.
Aku mengangguk, walau sedikit ragu, tapi tidak masalah. Ini hanya sebuah latihan bukan? Aku akan baik-baik saja dengan itu.
"Dan ...." Felix berhenti lalu berbalik dan menatapku. "Ruangan di sudah di desain untuk para pemburu agar mereka bisa menggunakan kemampuan yang dia miliki. Jika kamu ingin, maka kamu bisa menggunakan keterampilan yang kamu miliki, itu akan sangat bagus untuk menentukan sejauh mana kamu berkembangnya."
"Apa tidak masalah?"
"Tentu saja, kamu pikir aku akan kalah dari mu?"
Sialan. Dia benar-benar meremehkan ku. Walau apa yang dia katakan ada benarnya, kekuatan kamu jelas berada di tingkat yang berbeda, dan itu akan sangat sulit, bahkan untuk menggoresnya.
"Baiklah, pilih senjataku dan datang padaku. Tunjukkan kemampuan yang kau miliki itu."
Aku mengangguk, lalu tak lama setelahnya aku memilih dua pedang satu tangan yang akan aku gunakan. Pedang ganda adalah keterampilan yang sudah aku latih semenjak aku mendapat Jess, ini adalah kemampuan dasar yang seharunya sudah aku kuasai.
"Apakah kamu pengguna pedang ganda?"
"Seperi itulah, belakang ini aku melatih keterampilan ku ini."
"Lalu pedang seperti apa yang kamu miliki?"
Aku mengedikkan bahu. Lalu mengambil kuda-kuda untuk melakukan serangan. Sedangkan Felix, dia terlihat seperti meremehkan ku, bahkan dia tidak mengambil kuda-kudanya dan membiarkan banyak sisi yang terbuka. "Entahlah. Mungkin seperti pedang panjang berwarna hitam dan satu lagi berwarna putih."
"Hoo, apakah mereka memiliki elemen yang berlawanan?"
"Anggap saja seperti itu." Aku mengambil kuda-kuda dan setelahnya langsung melakukan serangan. Serangan yang aku lakukan hanyalah serangan dasar. Kecepatan yang sudah aku latih selama ini akan aku keluarkan hari ini. Itu akan membuktikan sejauh mana aku berkembang.
Melihat kecepatan ku, Felix sedikit terkejut, bahkan dia hampir saja terkena serangan yang aku lancarkan ke arah sisi kanan di mana itu adalah bagian yang terlihat kosong tanpa ada perlindungan.
"Cepat! Aku tidak tahu kau memiliki kecepatan seperti ini."
Aku tersenyum ketika dia berhasil memblokir seranganku menggunakan pedangnya. Namun, seranganku bukanlah serangan ringan yang hanya mengarah ke bagian lengan kanannya. Aku masih memiliki pedang yang lain. Bahkan ketika dia baru saja menyelesaikan kalimatnya, aku segera mengayunkan pedang keduaku ke arah kepalanya, itu adalah serangan yang cukup dadakan, dan bisa dikatakan itu adalah serangan yang mencuri perhatian orang ketika kita mengalihkan perhatiannya.
"OPS! Sepertinya kau benar-benar ingin menunjukkan kemampuan mu." Serangan mampu digagalkan hanya dengan menunduk, dia memiliki insting yang cukup bagus dalam masalah ini.
Aku langsung melompat mundur. Menjaga jarak untuk serangan berikutnya. Aku tidak ingin dia melancarkan serangan yang tidak bisa aku halau, itu akan sangat berbahaya.
"Seperi yang kau katakan." Aku tersenyum, menatapnya dengan tatapan serius dan mengambil posisi bertahan, aku tidak ingin dia melancarkan serangan secara tiba-tiba.
"Baik. Sepertinya kau ingin aku mulai serius."
"Tentu saja! Bagaimana aku tahu sejauh mana aku berkembang jika lawan ku tidak serius?"
Dia tersenyum, senyum yang amat tipis dan aku bisa melihatnya, hingga satu kedipan mata, Felix sudah berada di hadapanku dengan senyum yang semakin lebar.
Sial! Apa-apaan gerakan itu! Dia benar-benar membuatku terkejut. Bahkan satu ayunan pedang itu datang secara tiba-tiba, aku segera menyilangkan kedua pedang ke hadapanku dan berharap bisa memblokir serangan itu.
Dia kuat!
Satu tebasan saja mampu membuatku mundur beberapa langkah. Ini adalah serangan yang tak bisa aku imbangi.
"Sial!"
"Ada apa huh?"
Yah, dia tersenyum diatasi penderitaan ku, bahkan dengan santainya dia mendorongku hanya dengan satu tangan, di mana pedang itu adalah pedang dua tangan.
Dia benar-benar gila, dan aku harus mencari celah agar aku bisa menjaga jarak darinya!
"Ada apa, huh?"
"Ti-tidak ada...!" Setengah mati aku berusaha untuk membuat tekanan pedang ini. Felix malah terlihat biasa saja dan amat santai ketika melancarkan serangan itu. Dia seolah mempermainkan ku dengan mudah. Menunjukkan siapa penguasa sebenarnya.
(Aku akan membantumu!) Jess bersuara seketika saat melihatku tertekan.
"Jangan bodoh! Itu hanya akan membuatnya curiga."
(Tenang saja, aku tidak akan berbuat hal yang ceroboh.)
"Apa kau yakin?"
(Lihat saja!)
Aku tidak tahu apa yang direncanakan Jess, tapi aku berharap dia tidak melakukan hal yang konyol hingga membuat Felix curiga.
"Ada apa, hub? Kenapa kau melarikan tatapan mu ketika ditengah pertarungan?"
Aku tersenyum, walau setengah mati aku berusaha untuk bertahan dari serangannya, ini adalah kemungkinan terburuk, di mana pemburu level satu dipaksa untuk bertarung melawan sang penguasa.
Sungguh konyol.
"Tidak ada, aku hanya sedang berpikir, apakah aku harus mulai serius sekarang." Aku tersenyum, lalu saat itu aku mendapat kode dari Jess untuk menggunakan sedikit tenaga ku.
(Aku sudah memberi energi dan keterampilan yang bisa aku pinjamkan, ini akan mempersempit jarak, setidaknya kau bisa membuat mu bertahan dari serangannya.)
Aku sedikit lega saat mendengarnya, lalu untuk memastikannya, aku mencoba untuk mendorong Felix, mencoba untuk pergi dari tekanan pedang yang saat ini masih ku coba untuk menghindarinya.
Perlahan demi perlahan, aku mencoba untuk meningkatkan kemampuan ku, hingga akhirnya aku berhasil, tekanan dari tangannya berhasil aku halau. Dan kini aku bisa mengambil langkah untuk menjauh dan menjaga jarak, walau aku yakin. Dengan kecepatan gila itu. Si naga api pasti akan menyerangku dengan cepat.
"Hoo! Lihatlah bagaimana kau melepaskan diri dari cengkraman ku. Kau benar-benar jauh berkembang sekarang."
Aku terengah, nyatanya aku membutuhkan banyak tenaga hanya untuk menghalau serangan itu, dan kini aku harus mengumpulkan stamina yang terbuang untuk melakukan serangan kedua.
Aku tahu. Sejak awal ini adalah pertukaran yang tidak seimbang, di mana Felix memiliki kekuatan yang jauh di atas ku.
"Katakan. Apakah kamu masih menyembunyikan keterampilan mu?" Tanya Felix pelan. "Karena sepersekian detik tadi aku bisa merasakan bagaimana cincin mu itu memberikan energi yang cukup banyak untuk mu."
Aku tertegun untuk sejenak, itu adalah tebakan yang mendasar. Mungkin dia curiga saat aku bisa mengendalikan keadaan yang diciptakan olehnya tadi.
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud."
Felix terdiam sejenak, sebelum akhirnya dia menatapku dengan tatapan lemah.
"Baiklah. Sepertinya kau masih belum bisa mempercayaiku, padahal aku sudah bersumpah di hadapan mu." Felix mengibaskan pedangnya beberapa kali, sebelum akhirnya dia menatapku pelan. "Tidak apa, jika kamu masih ingin menyimpan rahasia itu, maka sepertinya aku harus memaksamu untuk mengatakannya." Dia menyeringai, bahkan tatapannya berubah menjadi gelap, dan sedetik kemudian, aku tidak tahu apa yang terjadi. Karena tiba-tiba saja Felix sudah berada di hadapanku dengan nyala merah api yang berkobar di pedang kayu miliknya.
Aku berusaha untuk memblokir, tapi yang ku alami setelahnya adalah aku terpental karena ledakan api itu benar-benar kuat.
Sial! Aku benar-benar dipermainkan!