Dongeon tower 53
Keesokan paginya, awan menghilang, dan langit biru perlahan nampak kembali.
Saat hari semakin cerah, Aku melihat desa sekali lagi. Komdisinya benar-benar tak tertolong, mereka terbakar habis.
Beberapa penduduk desa yang masih hidup hanya bisa meratapi nasib, mereka menangis sembari berlutut di tanah yang terbakar.
Mereka kehilangan segalanya.
Dan kemudian, ada rumah Seto yang tidak terbakar. Kondisinya masih utuh, dan itu menjadi sebuah pemandangan aneh di antara semua orang yang selama. Tak lama kemudian, penduduk desa mungkin bertanya pada Seto tentang hal ini.
Kenapa hanya rumahnya saja yang tidak mengalami kerusakan sungguh, tidak lucu bagi warga desa lain yang menderita.
Seto harus memikirkan langkah selanjutnya mulai sekarang. Sedangkan aku, Aku mengikuti jadwal yang sudah aku rencanakan m
Setelah memberi tahu Seto, Aku berjalan ke sisa-sisa rumah lama ku.
Menuju bagian paling selatan desa, sambil mencium bau benda-benda yang terbakar.
Rumah ku tidak tersentuh oleh serangan api gargoyle. Tumbuhan liar tumbuh di sekitarnya dengan bebas.
Melewati halaman, Aku melanjutkan ke dalam interior. Di sini juga didominasi oleh tumbuhan liar.
Aku mengambil Augus dan merubahnya menjadi pedang, dan menggunakannya untuk menebang tanaman pengganggu.
Setelah beberapa saat memotong dan bergerak masuk, Aku akhirnya bisa melihat tiga batu nisan kecil yang ditempatkan bersebelahan.
"Grey, sandi, Jesy, aku datang."
Rasanya ini sudah lama sekali, dan karena tidak pernah mendapat sinar matahari langsung, nisan-nisan itu tertutup lumut.
Sepertinya aku akan merawat tempat ini untuk beberapa saat, untuk kru aku segera merubah Augus kembali, dan setelahnya aku langsung membungkuk.
Tanganku perlahan mengelupas lumut yang menutupi nisan sandi. Dia adalah sahabat yang sangat dekat dengan ku, kami sama-sama mendapat anugrah dari dewa untuk masuk ke dalam menara ini. Hanya saja karena kondisi kami yang lemah dan memiliki keterbatasan, mereka tidak bisa bertahan lama dan kini hanya tersisa aku seorang.
Sandi, dia meninggal setelah diperlakukan keji oleh kepala desa yang membuat dirinya kelaparan. Sandi adalah orang yang jarang berbicara dan dia tidak pernah mencampuri urusan orang lain. Hanya saja karena hal itu dia diperlakukan tidak layak oleh orang-orang desa, dan kepala desa sendiri.
Aku tersenyum kecil pelita melihat kondisi nisan yang sudah dibersihkan, semuanya sudah terlihat rapih dan bersih. Lalu setelahnya aku menoleh menatap nisan Jesy. Dia adalah adik terakhir kami. Si bungsu yang selalu menempel pada grey.
Jesy yang meninggal karena penyakit. Dia memiliki fisik yang lemah dan sulit untuk bisa bertahan lama, hanya saja kehadiran sosok yang begitu ceria dan periang membuat kami menjadi ceria kembali dan mampu mengangkat beban kami secara perlahan.
Lalu yang terakhir adalah grey, dia adalah anak yang tertua diantara kami. Di memiliki peringai yang baik dan sosok yang kuat, bahkan dia mampu bertahan walaupun dengan keterampilan yang minim dan tidak bisa berkembang seperti kebanyakan orang-orang yang terpilih. Kami memang tidak bisa berkembang sejak dulu. Untuk itu kami selalu diasingkan. Bahkan di perlakukan tidak layak oleh orang-orang yang menganggap kami sampah.
Grey adalah satu-satunya diantar kami yang berusaha sekuat tenaga untuk berkontribusi di desa, agar aku dan yang lain tidak diganggu. Dia selalu tersenyum walaupun kami selalu ditindas. Sikapnya itulah yang membuat aku selalu bertanya-tanya bagaimana caranya.
Saat itu, dia mengajari aku bahwa tidak peduli betapa menyakitkannya semua yang kami jalani. jika aku terus tersenyum, kebahagiaan akan menemukan ku cepat atau lambat. Sejak hari itu, Aku juga berusaha keras untuk tetap tersenyum.
Namun, sayangnya Grey meninggal karena keracunan dan dalam kondisi secara sekalipun dia masih bisa menenangkan ku dengan senyumnya ktu. Aku berhenti memaksakan diri untuk tersenyum mulai dari saat itu. Aku sudah kehilangan semua orang yang sudah aku anggap keluarga, dan tidak ada tempat lagi untuk aku bisa berjala. Saat itu aku berpikir jika menyusul mereka adalah pilihan yang terbaik. Hingga ku mengingat satu pesan dari grey yang mengatakan. "Jalani hidupmu. Tidak peduli apa yang akan kamu hadapi di depan nanti, anggap semua akan baik-baik saja bahkan ketika kamu hampir mati sekalipun, kamu memiliki masa depan. Jadi jangan sia-siakan semua kesempatan yang kamu miliki."
Aku berpikir tenang mulai saat itu dan akhirnya perlahan namun pasti aku bisa bangkit dan berusaha untuk tetap bertahan hidup walau aku tidak memiliki siapa-siapa lagi di dekatku.
Setelah lima tahun berlalu. Aku akhirnya mengerti bahwa senyum itu untuk kebahagiaan ku.
Karena itu, Aku tersenyum di depan makam Grey Aku, tidak ingin menunjukkan jika aku lemah. Saat ini bahkan aku sudah menjadi sangat kuat, dan itulah takdir yang akan aku jalani sekarang.
Aku berjanji pada diriku sendiri. Akan mengurus dan menyelamatkan anak-anak yang tidak bisa berkembang seperti kamu dulu. Untuk itu aku sangat berambisi untuk bisa menyelesaikan menara ini. Agar mereka memliki tempa yang layak untuk tinggal.
Grey, aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu mencemaskan aku lago. Jujur saat ini aku bisa hidup dengan kekuatan ku sendiri. Aku tidak lemah seperti dulu. Aku kuat dan aku bisa bertahan untuk hidup ku sendiri.
Aku tersenyum di makam mereka. Menatap satu persatu makam orang yang aku sayangi
Aku juga membersihkan nisan Grey, mengusap batu nisannya untuk sejenak, lalu bangun.
Kapan aku bisa berkunjung lagi?
Aku selalu bertanya-tanya dengan hal yang sebenarnya tidak mungkin. Entah setelah ini apakah aku bisa berkunjung lagi, atau akan benar-benar meninggalkan tempat ini.
Namun satu hal yang pasti. Jika Aku bisa kembali hidup-hidup dari Gallia, Aku pasti akan kembali ke tempat ini untuk berbagi semua hal yang telah terjadi pada ku dengan saudara-saudara ku. Jadi untuk saat ini, Aku tidak akan mengatakan apa-apa lagi.
Dalam perjalanan kembali, ada Seto berdiri di bawah pohon besar. Rupanya, dia sedang menungguku.
"Sepertinya Kamu telah menyelesaikan kunjungan mu."
"Ya, seperti yang kamu lihat. Aku udah selesai beberapa saat yang lalu."
"Jadi begitu…"
Seto tampaknya ingin mengatakan sesuatu. Setelah menunggu beberapa saat, dia membungkuk padaku.
"Sekali lagi, terimalah permintaan maaf ku. Mingkin Masa lalu … adalah masa yang sulit dan Sesuatu yang bodoh yang pernah aku lakukan, jadi tolong maafkan aku."
Aku terdiam untuk beberapa saat sebelum akhirnya aku mengangguk pelan. Tidak baik jika menyimpan dendam terlalu lama apalagi pada seseorang yang sudah benar-benar berubah Seperi Seto.
"Sudahlah. Aku sudah menerima permintaan maaf mu, bahkan sepertinya aku sudah memulai sekarang, Tetapi.…"
Aku dengan cepat merubah Augus menjadi busur. Dan setelahnya aku langsung menarik tali busur, hingga anak panah hitam dihasilkan melalui mana Augus.
Wajah Seto menegang seketika dan menjadi pucat. Meski begitu dia tetap berdiri dan menatapku dengan tentang.
"Al …… kamu …… mungkinkah?"
Seto terlihat mulai marah melihat aku melakukan semua ini. Namun sayangnya aku sama sekali tidakidak peduli, bahkan setelah membidik dan menentukan target, aku langsung melepaskan anak panah di tanganku.
Seto memejamkan mata dan menggertakkan giginya, anak oanag menghilang di semak-semak yang bercabang dari pohon besar.
Gyaaaaaa.
Teriakan terakhir dari seekor monster yang bersembunyi terdengar, tak lama setelahnya seekor gargoyle noir jatuh dari pohon.
"Uaaaaaaaaaaaaa, monster !?"
Pinggang Seto terbuka saat melihat monster itu, dia mendarat di tanah dengan pantatnya.
Aku berhasil menjatuhkan gargoyle itu sebelum bisa menyerang Seto. Jika Aku lebih terlambat satu detik saja, maka Seto akan mati.
Dan sialnya, monster itu tidak sendirian. Sepertinya masih ada beberapa di luar sana.
Mengabaikan suara notifikasi di kepalaku, aku mendekati Seto dan membantunya berdiri.
Dia masih tercengang. Seto bahkan tidak bisa membuka mulutnya untuk memberi sebuah jawaban bahkan ketika aku bertanya.
"Oi! Kendalikan dirimu!"
Aku menampar pipinya dengan ringan sambil mengatakan itu.
Seto mendapatkan kembali pikirannya, dan mulai sadar setelahnya.
"Aku terkejut. Memikirkan bahwa ada gargoyle di pohon tepat dibelakangku … kupikir kau akan …."
Seto tidak mengatakan apa-apa lagi. Tidak, dia tidak mungkin mengatakannya.
Tentu saja Seto mengira aku akan membunuhnya.
Yah, pada saat itu memang tidak ada cara untuk menutupinya bahwa aku mengelus niat membunuh yang sangat buas. Sebenarnya jika di pikir aku memang punya motif untuk menyerangnya. Bahkan saat ini bisa dikatakan jika Seto memiliki hutang secara pribadi kepadaku.
Lalu di saat canggung itu mulai datang.
Entah bagaimana, suasana aneh menyelinap diantara kami.
Seto adalah yang pertama memecah kebuntuan. Aku memperhatikannya saat dia mengangkat dirinya berdiri.
"Al, aku ingin kamu memukulku sekali. Meskipun tidak mungkin untuk mencapai titik impas hanya dengan itu, Aku hanya bisa melakukan sebanyak ini."
Apa yang harus dilakukan… ketika aku sedang berpikir, tiba-tiba saja Augus berbicara kepadaku.
[Tembak saja. Seharusnya mudah dengan statistikmu, fufufuu.]
"Aku tidak akan melakukannya, apalagi saat ini ada seseorang yang sangat membutuhkan kehadirannya."
Tapi meski begitu, aku juga ingin menyelesaikan masalah dengan Seto.
Di sini kemudian, izinkan Aku untuk membalas niat itu.
"Sepertinya menarik. Jadi mari kita ciba. Dan kencangkan gigimu sekarang juha Seto."
Tak menunggu lama aku segera memukul pipi Seto dengan tangan kananku.
Dampaknya cukup besar bahkan setelah aku mencoba menahan diri untuk tidak mengeluarkan seluruh kemampuan ku. Hak itu malah membuatnya terhuyung dan terkapar di atas tanah.
Apakah itu terlalu berlebihan….sementara aku memikirkan itu, Seto tertawa terbahak-bahak. Dan hal itu membuatku kebingungan. Apakah pukulan itu sampai menggetarkan kepalanya sehingga dia menjadi gila?
Ketika Aku berlari ke arahnya, Aku tahu Aku salah. Aku tahu ekspresi ini dengan baik.
Senyum yang sama yang ditunjukkan Grey kepadaku.
Menertawakan segalanya, dan melanjutkan. Paling tidak, begitulah Aku mengartikan tawa Seto.
=====
"Apakah tidak apa-apa."
"Ya, karena tidak mungkin untuk terus tinggal di desa itu, tidak apa-apa."
Aku dan pasangan ayah dan anak Seto telah pindah kembali ke kota pedagang Tetra.
Seto telah memutuskan untuk meninggalkan desa. Karena itu, tidak mungkin mempertahankan desa hanya dengan sisa yang selamat. Selain itu, ia menerima banyak fitnah karena hanya rumahnya yang selamat dari bencana.
Bagi Seto, itu adalah batasnya. Dengan kematian ayahnya, dia tidak lagi memiliki tanggung jawab untuk menggantikan posisi itu.
Dalam pandanganku, Seto memiliki ekspresi segar di wajahnya.
"Apa yang akan kamu lakukan sekarang?"
Aku pikir Aku akan mencoba mencari pekerjaan di sini. Benar. Tolong terima ini.
Seto memberikan kepadaku hadiah 10 perak untuk penaklukan monster.
Aku menggelengkan kepalaku, menolak.
"Aku tidak membutuhkannya. Simpan saja."
"Tidak, Aku tidak bisa melakukan itu …"
"Lalu, gunakan saja untuk kebutuhan putri mu. Seperti yang kamu lihat, Aku tidak terlalu khawatir tentang uang sekarang."
"Jika Kamu berkata begitu …… tapi jujur, ini akan membantu Aku."
Dia akan memulai kembali di Tetra. Jadi dia akan membutuhkan sejumlah uang sebagai modal.awal.
Aku paling mengerti betapa sulitnya hidup di ibu kota dengan sedikit uang. Karena itu, ia membutuhkan sejumlah uang yang cukup banyak.
Setelah mengobrol sebentar dengan Seto, waktu untuk berpisah akhirnya tiba. Aku telah mengatur kereta untuk menuju ke selatan. Aku tidak bisa melewatkannya, karena Aku tidak benar-benar ingin menghabiskan satu hari lagi di Tetra.
"Baiklah sepertinya waktunya kita untuk berlisah"
"Yah, kereta mu sudah sampai, jadi sampai bertemu lagi nanti."
"Sampai jumpa, kakak besar"
Itu benar. Aku ingin bertemu mereka lagi nanti, ketika aku bisa. Sambil melambaikan tangan kepada pasangan ayah dan anak itu, Aku segera berangkat dari Tetra.
===
Aku naik kereta dari Tetra dalam perjalanan ke kota berikutnya.
Hari ini cuaca sangat cerah dan kondisi perjalanan yang nyaman membuatku merasa mengantuk.
"Oy sonny, menguap begitu riang … bisakah kamu mengawal kami dengan benar seperti itu? "
"Ah maaf"
Alih-alih menjadi penumpang, kali ini Aku menjadi pendamping. Ini tidak gratis, tentu saja: Aku akan dibayar 3 perak untuk masalahnya. Yang perlu Aku lakukan adalah memastikan bahwa penjaja paruh baya dan kargo ini tiba dengan selamat ke tujuan mereka.
Aku bisa dengan mudah menanganinya jika itu hanya pencuri atau monster biasa. Namun, jika itu adalah monster tipe pemimpin, penjual tidak punya pilihan selain melarikan diri dan meninggalkan kargo.
"Ngomong-ngomong sonny, apakah kamu benar-benar kuat? Karena sepertinya kamu tidak begitu."
"Aku bisa bertarung dengan baik. Setidaknya, hingga level Ksatria Suci pemula."
Pada saat itu, si penjaja mulai tertawa. Itu cukup berbahaya, karena kuda-kuda menjadi terkejut karena tali kekang mereka ditarik secara tiba-tiba.
"Oi oi, itu terlalu berlebihan. Setara dengan Ksatria Suci! Aku tidak bermaksud buruk, tetapi Kamu tidak boleh mengatakannya di kota berikutnya, bahkan jika itu hanya lelucon."
"Karena begitu kita tiba di kota berikutnya, itu akan menjadi wilayah para Ksatria Suci. Tentu saja, jika ocehanmu terdengar oleh seorang Ksatria Suci, kami pasti akan dipenggal karena tidak sopan."
Kami berdua dipenggal. Pikiran itu membuat tulang punggungku merinding. Aku tidak akan pernah lagi mengatakan apapun tentang Ksatria Suci secara terbuka.
Karena kali ini, Aku berencana untuk tinggal sebentar dan beristirahat. Aku tidak dapat melakukannya kembali di Tetra karena penaklukan monster di kampung halaman Aku.
Di saat itulah tiba-tiba Augus berbicara kepadamu.
[Bukankah itu bagus, karena kamu dapat mencoba melawan seorang Ksatria Suci? Setelah itu, Kamu bisa tidur dengan perut kenyang. Apakah Aku benar?]
"Aku bahkan tidak akan bisa tidur jika aku melakukan itu, semua prajurit di kota akan mengejarku."
[Kamu harus berpikir jauh, Takdir. Jika itu masalahnya, maka Kamu bisa mengambil alih kota. Dengan begitu, Kamu bisa tidur nyenyak karena kota ini berada di bawah kekuasaan Kamu. Apakah Aku benar?]
"Itu ide mu untuk bisa tidur nyenyak, tentu saja itu buka keuntunganku …"
Saat mendengar ide gila itu dari augus, kereta tiba-tiba berhenti.
Ee? Apa masalahnya?
Seorang gadis muda terlihat berdiri di sana, menghalangi jalan. Seorang gadis berkulit gelap.
Yup, dia adalah Gallian yang kulihat di kediaman klan Heart. Dia memiliki tato putih yang mengesankan terukir di tubuhnya dan memegang kapak hitam besar yang mengkhianati fisiknya yang kecil.
Sambil menjaga wajah tetap dingin, dia terus memblokir jalan. Tidak tahan lagi, penjual itu bertanya,
"Hei nona kecil. Bisakah kamu menjauh?"
"Tidak. Tapi, jika Aku bisa ikut, Aku akan"
"…u-mengerti. Kalau begitu masuklah. Kamu memiliki wajah seperti anak kecil, tapi hatimu jelas bukan milik anak kecil."
Apakah ini karena penjaja ini telah bepergian selama bertahun-tahun? Dia dengan mudah membiarkan seorang gadis Gallian menumpang di keretanya. Sambil menonton keduanya berbicara, Aku mengirim sinyal mata ke penjual agar Aku tidak mengganggu percakapan. Apa gunanya Aku mengawal jika seperti ini? Namun, itulah yang diinginkan klien, terlepas dari apa yang Aku rasakan.
Yah, biasanya aku akan takut setengah mati jika aku melihatnya bisa mengangkat kapak sebesar itu dengan satu tangan. Gadis ini, dia memiliki jenis aura yang tidak bisa kugunakan dengan jariku, tapi dia pasti tahu jalannya dengan kapak.
Sepertinya dia mengancam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun, jika kita bisa menyelesaikan ini dengan damai tanpa berkelahi, itu akan baik-baik saja, dan penjual itu tampaknya baik-baik saja dengan itu. Hanya masalah menambahkan lebih banyak kargo ke muatan, situasinya seperti itu.
Gadis Gallian memuat kapaknya terlebih dahulu ke dalam kereta.
"Angkat ho!"
[ [Uaaa] ]
Kereta meluncur ke satu sisi karena berat kapak.
Panik, si penjual protes.
"Kereta mungkin rusak. Tolong bongkar!"
"Ah, begitu. Sloth, kembali ke berat semula*
Begitu gadis Gallian menepuk kapak, kereta menjadi seimbang sekali lagi. Mungkin dia melakukan sesuatu yang sangat mengurangi berat kapak.
Itu melegakan. Aku pikir kereta akan pecah.
Gadis Gallian itu duduk di sebelahku sesudahnya.
"Kita bertemu lagi"
"Daripada bertemu, lebih tepat untuk mengatakan bahwa Kamu telah menyergap kami."
Melihat melalui apa yang Aku pikirkan, dia berkata,
"Nama ku Myne. Aku pikir sudah waktunya untuk pergi ke Gallia. Sekarang, Aku belum mendengar nama mu. Katakan padaku?]"
Apa-apaan, aku merasa sangat kesal meskipun dia mengatakan itu dengan nada lembut….
Mungkin, mata Myne, mata merah itu mungkin ada hubungannya dengan itu.
Mata itu terlihat sangat mirip ketika mataku menjadi merah karena dalam keadaan kelaparan.
"Kamu mendengarku, kan? Katakan padaku."
"Alea."
"…Aku ingat sekarang. Alea si lemah yang memiliki kerakusan, kan?]
Eh!??? Aku belum memberi tahu Kamu apa pun tentang kerakusan.
Myne kemudian mulai berbisik kepadaku sehingga penjual itu tidak bisa mendengarnya.
"Aku juga pemilik keterampilan Dosa Mematikan, jadi tentu saja, Aku tahu. Keahlian mu belum matang, jadi Kamu tidak tahu."
"Begitukah… kalau begitu, kamu?"
"Aku adalah pemilik keterampilan [Wrath]. Mirip denganmu. Yah, bukankah Keserakahan sudah memberitahumu tentang itu?"
Myne memiringkan kepalanya, melirik cincin yang ada di tanganku.
"Tapi sepertinya melihat apa yang kamu miliki. Kami memiliki begitu banyak keterampilan."
Aku tidak bisa menjawabnya sekarang
Bahkan jika aku bertanya pada Augus, dia tidak akan menjawab. Dia hanya berpura-pura tidur.
Skill Deadly Sins….juga skill [Wrath] … Apakah ini mirip dengan skill [Gluttony] ku? Aku ingin tahu lebih banyak dari Myne, tapi Penjual itu bisa mengganggu kami kapan saja.
Berbicara lebih jauh sekarang mungkin bukan ide yang baik.
Bagiku, yang sangat cemas, Myne berkata,
"Kamu akan mengerti di masa depan. Karena, kamu telah meminjam sesuatu dariku. Aku akan tinggal bersamamu sampai kamu mengembalikannya kepadaku"
Dipinjam? Mungkinkah saat itu dengan kobold di wilayah klan Heart? Mungkin dia mempertimbangkan untuk menyerahkan kobold itu kepadaku sebagai semacam pinjaman.
Aku pada dasarnya dipaksa untuk berburu kobold, karena Myne akan meratakan seluruh gunung jika tidak. Meski begitu, itu pasti banyak.
Namun aku punya sesuatu yang lain untuk dilakukan sekarang.
"Aku tidak yakin itu. Aku harus pergi ke Gallia."
"Aku tahu itu. Aku menuju ke arah yang sama, jadi tidak apa-apa. Maka Kamu dapat membantu Aku di sepanjang jalan."
Meskipun dia mengatakannya seperti itu, matanya mengatakan bahwa [Aku harus] sebagai gantinya.
Kami menuju ke arah yang sama, dan ada hal-hal yang ingin Aku ketahui, jadi Aku rasa tidak apa-apa.
"Bagus."
"Itu melegakan. Mulai sekarang, ayo lakukan yang terbaik."
Setelah mengatakan itu, Myne tertidur di sebelahku. Itu cepat.
Aah, jadi ini yang dimaksud Keserakahan dengan 'pejuang kelas satu bisa beristirahat kapan saja.' Jika itu benar, maka Myne seharusnya menjadi pejuang kelas satu. Terlebih lagi, pemilik skill Wrath…Aku penasaran bagaimana dia bertarung?
Dari wajah tidurnya yang cantik, dia tidak tampak seperti gadis yang bisa bertarung.
Melihat percakapan kami selesai, penjual itu akhirnya memanggil.
"Wanita kecil itu sepertinya sedang tidur. Ngomong-ngomong, apakah kalian berdua kenalan? Jika seperti itu, maka katakan saja."
"Kami bahkan tidak bisa dianggap kenalan. Aku hanya bertemu dengannya sekali sebelumnya, Aku hampir tidak tahu apa-apa tentang dia."
"Meski begitu, dia cukup ramah padamu. Itu cukup membuatku bingung. Aku kira Aku sudah terlalu tua untuk ini …."