dongeon tower 21

2397 Kata
Dongeon tower 21 Apakah aku akan mati? Satu pertanyaan itu terbesit di kepalaku. Aku tidak bisa melihat semua hal karena aku dalam kondisi tidak sadar, aku terbangun di sebuah tempat yang di penuhi dengan cahaya putih yang begitu menyilaukan. Semua yang aku lihat berwarna putih. Bahkan sampai aku tidak tahu. Apakah aku berpijak pada sebuah lantai apa aku hanya mengambang diatasnya. "Aku di mana?" Aku mencoba mencari tahu. Hingga ketika aku berusaha menggali ingatan yang ada, aku menyadari satu hal. Aku berada di sebuah dimensi lain. Sama seperti yang pernah aku alami sebelumnya ketika aku bertemu Augus untuk pertama kalinya. [Apakah kau tuan baru ku?] Samar suara itu terdengar nyata, tapi aku tidak bisa melihat sosoknya, suara itu hanya terdengar samar dan bergema. Aku menunduk untuk melihat cincin Augus di tanganku, tapi rasanya aku tidak bisa menemukannya. Aku terdiam dan tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang sudah terjadi pada Augus. [Katakan! Apakah kau tuan baruku?] Lagi pertanyaan itu datang ketika aku masih belum siap dan masih bingung dengan keberadaan ini, aku merasa seperti terjebak dalam sebuah dimensi dan alam bawah sadar orang lain yang mana membuatku sulit untuk mengingat ataupun mengetahui apa yang ada di luar sebenarnya. [Kau mengabaikan ku huh!] Akhh! Aku langsung berlutut ketika aura dan tekanan itu datang menyerangku untuk kedua kalinya, aku tidak bisa bergerak, bahkan ketika aku sudah berusaha menggunakan seluruh kemampuan ku. Sekuat hati aku berusaha untuk mengangkat wajah ku. Mendongak tinggi-tinggi untuk mencari keberadaannya dan setelahnya aku menarik kedua sudut bibirku. "Yah! Aku adalah tuan beri mu!" Suaraku terdengar serak dan terdengar sangat kecil. Seolah apa yang aku katakan hanya bisa aku dengar seorang diri. [Dan apa yang membuatmu berani mengakui jika kau adalah tuan baru untuk ku, apakah kau istimewa? Bahkan bertahan dari tekanan yang aku berikan saja kau tidak mampu.] Mendengar itu aku hanya menunduk, aku tidak memiliki keistimewaan yang bisa aku banggakan, aku hanya pemburu lemah yang mendapat berkah dari dewa atas kegigihan ku bertahan dari kematian. Dan aku tidak seistimewa itu. Tapi apa salahnya aku berharap untuk membangun kekuatan, mengumpulkan semua hal yang bisa aku gunakan untuk menyelesaikan dunia baru ini agar orang-orang di luar sana masih bisa memiliki kesempatan untuk masuk. Anak-anak dan para orang tua yang tidak bisa mendapatkan akses untuk masuk adalah prioritas ku untuk bertahan, aku tidak akan menyerah ataupun berhenti di tempat ini. Sekuat tenaga aku melawan tekanan yang ada, aku berusaha untuk berdiri dengan dua kakiku, lalu mengangkat wajahku untuk sesaat dan menatap seluruh warna putih yang ada di hadapanku. "Aku lemah! Tapi bukan berarti aku akan menyerah hanya dengan tekanan yang kau berikan ini" [Sungguh lancang! Siapa kau? Berani sekali kau menantang kehendak sang agung!] WUSHHH Akhhh Aku merasa dadaku mulai panas, balasku tersengal dan tekanan di seluruh tubuhku tak bisa aku Kendalikan, tekanan ini benar-benar kuat dan menarik ku untuk tertunduk di atas lantai untuk kedua kalinya. Aku tidak bisa menurutinya, aku akan membuktikan jika aku bisa melewati semua rintangan ini. Aku lemah, tapi aku tidak akan menyerah. Aku mengangkat kembali kakiku, berusahalah untuk berdiri walau seluruh otot di tubuhku seolah berteriak untuk menyerah saat itu juga. Aku tidak peduli. Bahkan ketika aku akan hancur di tempat ini sekalipun, aku akan terus bertahan. Kembali aku mulai berdiri. Berusaha untuk mendapatkan kendali tubuhku sebelum akhirnya aku mengangkat kembali wajahku. "Jangan sekalipun meremehkan ku!" Aku merasa tubuh dan otot kakiku mulai terkoyak, otot yang ada mulai melemas dan rasa dari semua itu seolah membuat aku akan terjatuh saat itu juga. Aku tidak sanggup lagi, sekuat aku bertahan, aku tetaplah manusia lemah dengan kebangkitan kedua yang tidak memiliki keterampilan apapun. Aku hanya memiliki semangat dan pendirian yang teguh, aku akan mengalahkan semuanya tanpa terkecuali. Rasa sakit yang aku rasakan sekarang tidak sebanding dengan apa yang dirasakan oleh para manusia di luar gerbang. Aku tidak akan menyerah dari rintangan yang sama seperti ini. Walau tubuhku akan hancur sekalipun, aku akan terus melakukannya. Aku terus berjalan. Tubuh tertatih-tatih tidak akan menghambat ku untuk melewati rintangan ini. Aku akan melakukannya, mendapatkan kekuatan ini dan menyelesaikan semuanya. Beberapa langkah ke depan. Aku merasa tubuhku mulai limbung, otot di kakiku dan tidak lagi bisa menopang tubuhku. Aku terjatuh dan hanya bisa memejamkan mata sebelum akhirnya aku merasa sesuatu menopang tubuhku. Aku membuka mata, lalu menemukan Augus yang mengambil bentuk pedang dan menahan tubuhku dari depan. Dia datang ketika aku benar-benar tidak mampu untuk bertahan dari tekanan ini. [Kau benar-benar lemah!] "Aku tahu itu...." Aku mengangkat sudut bibirku dengan lemah, aku tidak tahu harus berkata apa, tapi inilah kenyataannya, aku memang lemah tanpa Augus di tanganku. [Benar-benar! Aku tidak akan membiarkan mu mati di tempat ini sialan!] Augus berteriak di kepalaku dan rasa hangat mulai menjalar dan membuatku merasakan kekuatan yang sama untuk kedua kalinya. Aku memang membutuhkan keberadaan Augus untuk bisa meningkatkan kekuatan yang ada di dalam tubuhku. Augus adalah sebagian dari diriku, dan tanpa dia aku bukanlah apa-apa. [Dan kau! Aku berjanji akan memberimu pelajaran setelah ini karena kau sudah menyakitinya!] (Siapa kau berani menentang ku di istanaku!) [Aku?] Augus bertanya dengan suara berat yang mendominasi, sebelum akhirnya aku merasakan kekuatan yang sangat luar biasa dan perlahan aku bisa melihat Augus mulai mengeluarkan aura dan tekanannya, dia mengambil alih seluruh ruangan ini dengan aura yang dia ciptakan. Pedangnya bergetar dan perlahan aura hitam mulai mengambil alih warna putih di tempat ini, perlahan tapi pasti dia terus mengeluarkan dan seolah bertarung dengan Ego yang memiliki wilayah ini. (BERANINYA KAU!) aku tahu itu, ego pasti akan marah jika wilayah kekuasaannya dikacaukan oleh orang luar seperti ku dan juga Augus, dua benar-benar melakukannya. Tekanan di ruangan ini bertambah berkali-kali lipat membuat otot di seluruh tubuhku mengencang karena aku masih berusaha untuk tetap berdiri, dadaku mulai sesak, napasku tersengal dan ini adalah puncak dari kemarahan ego yang tak bisa dikendalikan lagi. (JANGAN BERPIKIR ORANG LUAR SEPERTI KALIAN BISA MENGAMBIL ALIH TEMPATKU! AKU AKAN MEMBUNUH KALIAN DI TEMPAT INI!) baiklah sepertinya semua ini akan berakhir. [Jangan sombong dasar serigala kecil! Kau hanyalah ego rendahan yang bahkan tidak pantas untuk menentang ku!] Dengan santainya aku bisa merasakan Augus mulai mengeluarkan aura yang dia miliki. Aura yang semakin bertambah kuat sering berjalannya waktu dan membuat keadaan seolah berbalik. Tekanan yang aku rasakan tadi sama sekali tidak membuatku kesulitan saat Augus memberikan perlindungan untuk tubuhku. Dia mulai membungkus ku dengan aura kegelapannya. Dan tidak hanya itu, luka yang aku dapatkan tadi mulai menghilang dan perlahan sembuh. Bahkan stamina ku pun berangsur pulih. [Kau hanyalah makhluk rendah! Jadi berhentilah menyombongkan diri!] Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di luar sana. Mereka seolah sedang membuktikan kekuatan mereka masing-masing tanpa ada yang mau mengalah sedikit pun. (Kau! Lancang sekali mulutmu itu!) Tekanan ini kembali aku rasakan. Aku tidak bisa melihat apa yang ada di luar sana karena aura Augus yang membungkus tubuhku. Hingga samar aku bisa mendengar suara pedang yang saling beradu dan suara pertarungan yang terjadi begitu sengit. Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi di dalam kepalaku terbesit bayangan dua pedang yang sakit bergerak satu sama lain dan bertarung untuk menentukan siapa yang terbaik diantara mereka. Sungguh lucu jika melihat dua senjata yang saling Bergerak satu sama lain untuk membuktikan siapa yang terkuat diantara mereka. Pertarungan itu masih berlanjut dan aura Augus yang terasa begitu mendominasi, Sedangkan aku sama sekali tidak memperdulikan apa yang mer ia lakukan. Aku hanya fokus untuk menyembuhkan diri dan memulihkan seluruh kekuatanku agar ketika aku keluar nanti aku bisa memberi bantuan kepada Augus. ----- Di luar lingkaran yang dicipta Augus untuk melindungi Alea, ada dua makhluk yang sedang bertarung sengit, mereka menunjukkan wujud mereka masing-masing dan saling bertarung satu sama lain untuk memuaskan hasrat dan membuktikan siapa yang terbaik diantara keduanya. (Kau!) Sosok yang dihadapi oleh Augus tercengang saat melihat bagaimana kekuatan Augus yang begitu mendominasi diantara keduanya. Bahkan sosok itu kini bergetar dan bergerak mundur begitu melihat keganasan dari Augus, aura dan kegelapan yang diberikan pun sudah hampir menguasai setengah dari aura sosok itu. [Aku tahu aku kuat! Aku bahkan adalah sosok terkuat yang pernah ada! Dan kau....] Augus memberikan tatapan tajam dengan pancaran amarah yang begituan kentara di sana. [Jangan terlalu besar kepala karena kau bisa memiliki aura sebesar itu! Karena jauh di atas kekuatan mu masih ada sosok yang lebih hebat lagi!] Augus menyeringai dan berjalan mendekat, setiap langkah yang dia ambil. Maka kegelapan itu semakin melahap seluruh aura yang ada. [Berhentilah melawan, atau aku akan benar-benar menghabisi mu di tempat ini!] Augus memberikan penekanan di setiap kalimatnya, dia bisa saja menghancurkan tempat ini beserta pemilik dari dimensi ini jika dia mau. Hanya saja, Alea masih membutuhkan banyak kekuatan. Untuk itu Augus masih menahan dirinya. Bahkan ketika dia akan melahap semua inti aura yang ada, dia masih berusaha untuk menahan dirinya sendiri. [Jika kau berhenti melawan, mungkin aku akan memaafkan mu!] Aura kegelapan miliknya mulai melahap seluruh ruangan ini, warna yang awalnya putih, kini mulai berganti dan warna hitam mulai mendominasi. Menunjukkan siapa yang terkuat di tempat ini. [Kau bisa seenaknya berbicara dan menganggap dia kemah, tapi asal kau tahu. Jauh sebelum dia mengenal ku, dia suda memiliki tekad yang kuat untuk merubah susunan di dunia ini. Jauh sebelum kau ada, bahkan dia sudah berjuang dan hampir kehilangan nyawa tidak hanya sekali.] Augus melihat kepompong aura yang dia buat untuk melindungi keberadaan Alea. [Dan sekarang. Ketika melihat dia dihina, aku sebagai orang yang sudah berjuang bersama dia dari awal tidak akan tinggal diam. Aku akan menghabisi siapa saja yang merendahkan dirinya. Bahkan dirimu buang masih belum memilikinya bentuk!] Sosok cahaya putih itu tidak bisa menjawab. Terlebih kekuatan yang mulai samar, dan keberadaan yang hampir hilang membuat dirinya tak bisa berkata-kata. (Lepaskan dia....) Ujarnya lirih. (Aku ingin melihat kekuatannya secara langsung. Dan aku ingin mengetahui apakah dia mampu menguasai kekuatanku untuk menjadi seorang tuan.) Augus yang mendengar hal itu langsung membuka kepompong yang mengurung Alea, dia membiarkan sang tuan untuk keluar dan menunjukkan kekuatan yang dia miliki. --- Aura yang mengurung dan memberikan ku kekuatan mulai terbuka, awalnya aku berpikir jika aku akan terkurung sangat lama hingga Augus puas dengan mainannya. Akhirnya Aku dibebaskan dari keadaan yang mengurung dan membuatku tak bisa melihat apa-apa. Aku merasa lega dan sedikit terkejut saat aku melihat apa yang terjadi di tempat ini. "Apa yang sudah kau lakukan, Augus!" Warna putih yang mendominasi tempat ini mulai berubah menjadi warga hitam pekat. Warna yang sama ketika aku bertemu dengan Augus dulu, ini adalah aura yang benar-benar sulit untuk aku lakukan. Dan satu pelaku yang menjadikan tempat ini seperti sekarang! [Aku tidak melakukan apa-apa!] "Lalu apa yang terjadi di tempat ini?" [....] "Aku tidak mendengar suaramu sialan!" Aku benar-benar marah atas apa yang sudah dilakukan oleh Augus, benar saja bahwasanya dia membantuku untuk memulihkan luka dan berusaha untuk melindungi ku, tapi apa yang dia lakukan ini benar-benar sudah kelewatan. "Beri aku satu alasan agar aku tidak menghukum mu sialan!" [Aku ... Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya memberi pelajaran untuk ego bodoh yang sudah melukaimu! Siapa memangnya dia? Aku yang sudah lama bersamamu saja tidak melakukan itu...." Aku bisa mendengar suara Augus yang melemah diakhir Kalimat, dia seolah tidak ingin bertanggung jawab untuk apa yang sudah dia lakukan. Terserahlah, menuntut banyak pun tidak akan merubah keadaan. Aku mengalihkan perhatian pada sosok cahaya putih yang kini terdiam tanpa suara. Lalu ketika menyadari jika aura Augus yang lebih mendominasi di tempat ini. Aku berusaha untuk mendekati sosok itu. Karena aku tahu. Setelah ini aku tidak akan terluka lagi karena tekanan yang dia berikan. "Aku tidak tahu apa yang sudah dilakukan oleh pedang sialan itu kepadamu, terlepas dari semua itu, aku hanya ingin meminta maaf kepadamu, aku tidak bermaksud untuk membuat keributan di tempat ini." (Apa bedanya dengan menjadikanku sebagai budakj mu!) "Aku tidak pernah memintamu untuk menjadi budakku." (Jika seperti itu, lalu kenapa mengiyakan ketika aku bertanya, apakah kau yang akan menjadi tuanku?) Aku terdiam, sepertinya ada yang salah paham dengan kalimat yang aku keluarkan tadi. Aku terdiam, menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal sebelum menatapnya lagi. "Aku tidak pernah memiliki maksud untuk menjadikanmu sebagai budakku, aku hanya ingin meminjam kekuatan mu untuk mewujudkan tujuanku. Aku hanya ingin kau bergabung bersama ku. Dan meminjamkan kekuatan yang kau miliki untuk kelangsungan bangsa kami." Aku tidak tahu apakah yang aku katakan sudah benar, aku hanya takut jika dia salah menangkap apa yang aku maksud. "Aku hanya ingin kita terikat sebuah kontrak dan aku akan memperlakukan hal yang sama seperti aku memperlakukan Augus. Kalian adalah teman dan rekan satu perjuangan ku. Aku tidak akan membedakan satu diantara kalian." "Aku akan bersama dan meminta bantuan dari kalian untuk meminjamkan kekuatan untuk tujuanku ini." Aku berharap dia mengerti dengan apa yang aku katakan. Aku hanya ingin dia mengetahui jika aku sangat membutuhkan kekuatan ego untuk memperkuat diriku yang lemah ini. Mereka tentu memiliki peran penting untuk menunjang semua kekurangan dalam diri ini. (Jika aku menolak. Apa yang akan dia lakukan kepadaku?) [Kau!] Aku langsung menatap Augus yang berada di belakangku. Memberinya tatapan peringatan untuk tidak ikut campur dalam percakapan ini. "Aku berjanji. Dia tidak akan menyakiti mu, kami akan pergi ketika kau tidak menerimaku." (Apa kau yakin?) "Tentu." Aku mengangguk yakin. Setelah mengenal Augus cukup lama. Aku bisa membedakan, jika mereka bukanlah monster liar dan mereka bukanlah para pembuat masalah itu. Mereka adalah satu bentuk kekuatan yang memilikinya kecerdasan seperti manusia. Mereka memiliki kesadaran dan tentu saja pengetahuan yang tidak dimiliki oleh kebanyakan manusia, dan karena itu. Aku tidak akan menyakiti mereka yang sama seperti kami. Mereka pantas hidup dan mereka pantas memilih. "Aku tidak akan menyakiti mu, dan aku tidak akan membiarkan Augus melahap mu, aku menganggap kalian sama seperti kami." Yah, aku sudah mengatakannya. Bahkan jika dia tidak ingin bergabung bersamaku, aku akan pergi dan membiarkan dia memilih orang yang menurut dia tepat. Aku melangkah mundur untuk menjauh darinya. (Baiklah.) Satu kata itu membuatku menghentikan langkah, dan melarikan tatapanku untuk menatapnya lekat. "Apa yang kau maksud?" Tanyaku dengan tatapan tak mengerti. (Aku akan bergabung bersama kalian.) Aku yang masih tidak mengerti hanya terdiam dan berusaha mencerna kalimat yang diberikan padaku. Lalu apakah semua ini nyata? Bukankah tadi dia menolak untuk bergabung bersamaku. (Aku akan bergabung asal kau berjanji untuk tidak memperlakukan ku sebagai budak.) "Tentu, aku tidak pernah menganggap kalian sebagai b***k, aku selalu menyamaratakan kalian." (Jika seperti itu maka aku akan ikut dengan mu.) Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi dengan ini aku mendapatkan satu kekuatan tambahan yang sama dengan Augus. Bukankah itu bagus? Aku memiliki kekuatan yang bisa menjadi penopang untuk rencanaku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN