dongeon tower 51

2577 Kata
Dongeon tower 51 Ketika aku datang. Desa masih sama seperti yang dulu. Bahkan nyaris tidak ada yang berubah, mereka masih saja bertahan dengan kondisinya saat ini. Dan dari sekian banyak orang di tempat ini. Aku tidak merasakan satupun diantara mereka yang memiliki aura para pemburu, sepertinya mereka masih berada di tahap yang sama. Mengalami kebangkitan tapi tidak dengan kekuatan. Sungguh di sayangnya. Perlahan aku teringat dengan semua lukisan masa lalu di kepala ku. Kepingan itu membawaku untuk mengingat masa lalu yang kelam, ingin rasanya aku berteriak dan berkata kasar, hanya saja mereka semua memberikan ku sebuah perjalan hidup dan arti hidup yang sesungguhnya, mereka bisa dikatakan adalah bagian dari proses pengembangan diri. Dari masa lalu aku bisa belajar dan mengerti apa artinya hidup yang sesungguhnya, dan dari sana aku bisa tahu, jika hidup harus berjalan sesuai jalurnya, dan semua orang tentu membutuhkan sebuah proses, jadi. Dari pada menyimpan dendam, kenapa kita tidak lebih baik untuk menatap masa depan uang cerah. Aku sendiri berpikir untuk terus maju, apa lagi dengan Augus, Jess dan juga Loki. Mereka memberikan ku sebuah harapan untuk terus maju dan menghilangkan dendam dari masa lalu. Dan berbicara soal penghianat. Yah… aku memang sudah terbiasa dikhianati. Bukan hanya di tengah-tengah kota dan orang-orang yang sudah aku anggap teman. Bahkan orang yang ada di sekitar ku sejak aku masih remaja, mereka sudah mulai mengkhianati ku dengan cara mereka sendiri. Bahkan kala itu mereka semua membuang ku dan kini. Apa yang mereka perbuat kepadaku membuktikan jika mereka masih menganggap rendah diriku. Padahal jika aku mau aku bisa saja pergi dari tempat ini sekarang jika, tapi karena Seto aku memilih untuk bertahan, bahkan saat kepala desa menolakku dengan keras meskipun Seto telah menjaminku. Penduduk desa bahkan mulai mengepungku, mereka tentu tidak menghargai kepulanganku. Ahh, aku bisa melihat bagaimana tatapan mata yang melihatku dengan niat membunuh seolah-olah aku semacam monster. Seto datang tak lama setelahnya, dia langsung menyelinap diantara aku dan penduduk desa, dia berusaha keras untuk mencoba menenangkan para penduduk. Walau sepertinya apa yang dia lakukan tidak akan berguna. "Semuanya, tolong dengarkan! Alea telah datang ke sini untuk membantu mengatasi pada monster! Dia tidak bermaksud untuk hal lain! Dia datang ke tempat ini karena murni ingin membantu kita." Meski begitu, penduduk desa terus mendatangiku dengan cangkul dan kapak di tangan mereka. Seolah aku bisa dimusnahkan dengan senjata rendahan seperti itu. Dan aku yakin. Melihat bagaimana sikap mereka, para penduduk desa tentu melihat kedatanganku untuk membalas dendam, melihat situasi desa yang dalam bahaya. Mereka jelas tidak akan mempercayai kemampuan ku untuk membasmi para monster. Mereka jelas berpikir jika semua yang di katakan Seto adalah bohong, karena pada kenyataannya aku bisa kabur dengan uang itu. Pertama dan terpenting, mereka yang menganggap ku sampah jelas berpikir apa yang akan aku lakukan adalah sebuah kebohongan, dulu saat aku belum mendapatkan berkah dewa, aku hanyalah seorang remaja yang tidak memiliki sebuah kemampuan, bahkan meracik obat saja aku tidak mampu. Lalu sekarang aku datang sebagai seorang pemburu yang di bayar beberapa perak saja… Lusinan penduduk desa mulai menjelek-jelekkan Aku. Semua dikarenakan desa bukanlah desa yang kaya bahkan sebelum para monster menyerang. Jadi melihat kedatangankuhanya membuat hati mereka semakin muram. Bahkan jika dilihat lebih jauh lagi, kondisi sebenarnya jauh lebih buruk daripada ketika aku masih tinggal di sini. Orang-orang ini tampaknya percaya bahwa hanya dengan 10 perak, Seto akan mampu membawa Hunter yang sangat baik. Namun pada kenyataannya, 10 emas adalah minimum yang diperlukan untuk membawa pemburu yang benar-benar layak, apa mereka berpikir bodoh. Sepertinya mereka masih saja mempertahankan pemikiran kolot mereka hingga membuat mereka tidak tahu seberapa keras pertarungan melawan para monster. Beruntungnya, aku tidak membutuhkan uang mereka, karena uang aku butuhkan adalah jiwa-jiwa dari para monster di tempat ini. Penyelamat mereka yang telah lama ditunggu-tunggu ternyata adalah orang tidak berguna yang telah dibuang bertahun-tahun yang lalu. Jadi kemarahan penduduk desa sebenarnya sangat beralasan. Dan Seto yang menunda jadwal hanya membuat api semakin panas. "Seto, apa yang kamu lakukan. setelah menghabiskan banyak waktu, hasil macam apa ini? Kamu bahkan tidak bisa membawa satu Hunter sejati untuk datang?" "Bisakah kamu benar-benar menjadi kepala desa berikutnya dengan cara ini?" "Kami tidak tahu kapan monster akan menyerang lahi, jadi lebih serius dan bawa Hunter sejati! Tidakkah kamu tahu bagaimana kami hidup dalam ketakutan selama ini?!" Teguran juga ditujukan kepada Seto yang berdiri di antaranya. Ayahnya, kepala desa bahkan harus meminta maaf kepada penduduk desa lainnya karena telah memberikan kepercayaan pada Seto, dia berpikir jika sang anak akan benar-benar membawa pemburu sejati dalam kesempatan ini. Sungguh di sayangkan, 10 perak bukanlah harga yang bagus untuk itu. "Semuanya, maafkan dia karena tidak mengutus nya dengan benar … Mungkin, dia masih terlalu muda untuk bisa membawa seorang Hunter. Sedih untuk mengatakan ini. Besok pagi, Aku sendiri yang akan pergi untuk merekrut seorang Hunter untuk membantu kita." Ucap kepala desa dengan nada rendah dan berusaha meminta maaf di sana. "Lalu bagaimana jika para monster datang dengan tiba-tiba? Baru kemarin ku pikir Aku mendengar tangisan monster dari hutan. Mungkin saja kita tidak akan bertahan ketika kamu dan Hunter itu tiba." "Memang. Tapi… bukankah kalian lihat Seto membawa sesuatu yang bagus untuk mereka? Mungkin saja dia akan berguna sebagai pengorbanan untuk mengulur waktu selama aku pergi." Kepala desa menunjuk ke arahku. Apakah dia serius? Dia menganggap ku sebagai pengorbanan saja. Oi oi, jadi kalian akan memperlakukanku hanya sebagai persembahan agar kalian bisa mengukur waktu? Aku baru saja berpikir jika sikap mereka sudah mulai berubah, dan berpikir mungkin saja aku bisa mengunjungi makam teman-teman ku di sini. Lalu bisa saja aku membunuh monster saat aku sudah selesai mengunjungi makam teman-teman ku … tapi apa uang aku lihat sekarang sangatlah luar biasa… Mereka benar-benar memperlakukan ku selayaknya sampah. Aku mendengkus kesal, bahkan saat Augus menertawakan ku dengan suara yang benar-benar mengangguk kepalaku.. "Haha bodoh! Mereka benar-benar tidak menganggap ku! Dan kamu … hanyalah umpan di mata mereka. Hahahahahaha, kamu benar-benar membuatku ingin tertawa karena hal ini." "Ck! Diamlah sialan!" Aku masih menatap mereka dengan kesal, mengingat apa yang sudah kepala desa katakan sungguh melukai perasaan ku. Sejenak aku menoleh dan menatap Seto yang masih tertunduk lesu di antara para penduduk. Mereka berhasil membuatku merasa kelas, dan bshkan jika ini terus berlanjut mereka akan menganggap ku sebagai sampai sampai akhir. Jadi haruskah aku mengintimidasi para penduduk desa sedikit sedikit saja? Mungkin jika aku melakukan hal itu mereka akan memandangku sebagai seorang yang layak. Aku pikir begitu sambil mengambil Augus dan merubahnya menjadi sebuah pedang kegelapan yang memiliki ukuran cukup besar. "Alea! tunggu. Bersabarlah untuk saat ini, aku mohon ...." Seto membungkuk padaku. Mereka ini … orang-orang ini bahkan beehasil membuatku lebih pusing daripada saat aku melawan monster yang kuat. Aku menahan emosiku untuk sejenak. Dan mendengarkan pembicaraan mereka, walau dalam hati aku sudah merasa kesal dan ingin segera mengintimidasi mereka, tapi Seto membuatku tak bisa berbuat apa-apa. Bukan saat Kepala desa segera pergi, meninggalkan yang lain untuk melanjutkan pembicaraan aku masih berdiam diri dengan tangan terkepal. Sementara itu aku dilarang untuk meninggalkan desa karena aku akan sangat berguna untuk dijadikan sebuah umpan. Dan Seto ditunjuk sebagai seorang pengawal yang di tugaskan untuk memastikan bahwa aku tidak akan melarikan diri. "Dengar, Seto. Awasi dia dengan baik agar dia tidak kabur. Sebelum aku kembali dari Tetra besok, jika monster menyerang, gunakan saja dia sebagai korban. Jangan biarkan dia melarikan diri, dan jangan mengecewakan ku lagi." Setelah mengatakan itu, kepala desa kembali ke rumahnya. Penduduk desa yang setuju juga kembali ke rumah mereka. Rupanya, mereka mengira aku masih seperti diriku yang dulu. Si anak remaja ingusan yang bisa ditangkap dengan mudah. Sampah seperti itu tidak diperlukan, tetapi Aku cukup baik sebagai korban. Terutama karena Aku tidak memiliki kerabat lain yang akan menyimpan dendam terhadap penduduk desa setelah aku mati. Bagi penduduk desa, aku hanyalah seekor lalat yang mendekati api. Aku bisa saja mati kapan saja ketika mereka ingin. Sungguh. Aku sebenarnya ingin tertawa saat melihat kenyataan ini. Dan aku ingin mengatakan jika sebenarnya, aku Isa mengalahkan Seto hanya dengan satu tangan jika aku ingin, tapi aku lebih memilih untuk mengabaikan mereka saat ini. Desa menjadi sunyi kembali di malam hari. Hanya ada aku dan Seto yang tersisa di luar. "Oi, Seto. Ini bukan apa yang Kamu janjikan. Aku seharusnya berburu monster, tetapi dengan keajaiban yang mereka putuskan aku malah diturunkan menjadi makanan belaka." "Maafkan aku … aku benar-benar minta maaf." Seto mengatakannya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Apa yang tersisa dari kepalanya yang sebagian botak terbang karena angin. Rupanya masa mudanya habis digerogoti oleh kecemasan. Aku ingin mengunjungi makam teman-teman ku lalu pergi …… pada awalnya itulah yang Aku pikirkan. Tapi…. skill keserakahan sudah mulai aktif dengan menunjukkan rasa lapar yang perlahan muncul Itu pasti tidak akan membiarkan Aku pergi begitu saja setelah mengunjungi kuburan. Aku menghela nafas saat tiba-tiba muncul perasaan aneh di mata kananku, "Untuk saat ini, mari kita tinggal di rumahku. Setidaknya itu lebih baik dari pada di tempat ini. Karena rumah lama mu sudah ...." Ya, rumah ku dan teman-teman lainnya terbakar ketika aku meninggalkan desa. Mungkin, yang tersisa sekarang hanyalah bingkai dan beberapa sisa lainnya. Tentu saja tempat itu bukanlah tempat yang cocok untuk orang bisa tidur. "Jika aku diizinkan untuk melakukannya. Yang jadi masalah adalah, apakah kamu tinggal bersama keluarga mu?" Seto terdiam sejenak sebelum akhirnya dia menggeleng oelan. "Aku punya 1 anak perempuan. Istri Aku dimakan oleh monster di hutan dan mati …" Aku cukup terkejut, dan perlahan mulai mengerti dengan situasi saat ini. Mungkin hal itu bisa menjelaskan mengapa dia begitu putus asa, dia ingin melindungi putrinya. Entah bagaimana, Aku merasa sikapnya menyerupai dengan almarhum seseorang yang pernah aku kenal di desa. Setelah membicarakan masalah ini. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah Seto. Melihat bagaimana sikapnya, menunjukkan jika sepertinya dia benar-benar sudah berubah. "Di sana, rumahku ada di sebelah sana. Silakan ikuti Aku." Aku hanya mengangguk lalu mengikuti langkahnya dalam diam. Sesampai di rumah Seto, Aku menemukan bahwa rumahnya hanya setengah dari kepala suku, mirip dengan penduduk desa lainnya. Mungkin rumah ini hanya bisa ditempati untuk satu keluarga saja. "Ini rumah ku, maaf jika terlalu sederhana." "Tidak mengapa." Aku masih memperhatikan rumah bahkan ketika Seto akan membuka pintu. Ketika dia berhasil membuka pintu, seorang gadis, sekitar lima tahun, melompat ke arah Seto. "Papa, selamat datang di rumah. kamu tahu. Aku sudah menjadi anak yang sangat baik hari ini." "Benarkah? … Gadis baik." Seto menjawab pertanyaan itu dengan tersenyum. Gadis imut itu juga cukup peka terhadap masalah ayahnya. "Papa, kamu tahu. Papa menjadi terlihat murung belakangan ini, Papa…apa kamu baik-baik saja? Rambut mu terlihat semakin rontok di sana." "Ya, itu akan tumbuh kembali pada waktunya. Tidak masalah untuk itu, kami tidak perlu mengkhawatirkannya." "Benarkah?" "Tentu saja." Seto terlihat begitu bahagia bisa berinteraksi secara langsung dengan sang anak. Dia bahkan sangat betah memasang senyum di wajahnya. Setelah bertanya mengapa dia kehilangan rambutnya, putri Seto menatapku dengan rasa ingin tahu. "Papa, siapa orang ini?" "Ah ... Dia ...." Jika penduduk desa menganggap ku sebagai sampah dan juga makanan monster agar bisa mengulur waktu. Lalu kira-kira, apa yang akan Seto katakan pada putrinya? "Orang ini, dia adalah Alea, dan dia datang ke sini untuk membantu desa kita untuk mengalahkan monster. Dia adalah pria yang sangat kuat." "Benarkah?" Putrinya menatapku dengan kagum. Hanya saja beberapa saat setelahnya ekspresi wajahnya mulai berubah, kemudian dia secara perlahan mulai menangis. Mungkin, dia teringat ibunya yang dibunuh oleh monster. Hal itu membuat Seto benar-benar cemas, ketika putrinya mulai merengek dan mengingat kejadian yang mengenaskan masa lampau membuat Seto seketika murung. Aku uang melihat hanya bisa diam dan memastikan, ini akan menjadi kisah sedih diantara keluarga ini. Membayangkannya saja sudah membawaku ke masa di mana aku kehilangan teman-teman ku yang sangat berharga. Hingga sampai waktunya makan malam ketika putrinya akhirnya tenang. Gadis itu mulai berceloteh riang sebelum akhirnya dia mulai bercerita. Saat kepergian Seto untuk mencari orang yang akan membantunya, dia mengatakan bahwa kepala desa telah merawatnya dan memberikan dirinya makan. Hanya saja bagi gadis kecil ini, kakek dan neneknya sangat menakutkan, dia memberi tahu ayahnya bahwa dia selalu takut saat makan bersama kakek dan nenek. "Itu memang buruk. Aku akan berada di sini mulai hari ini dan seterusnya." Seto tersenyum saat mendengar celoteh gadis kecil itu. Bahkan Seto sempat mengelus puncak kepala putrinya dengan sayang. "Yaay, aku mencintaimu Papa!" Melihat pemandangan ini, Aku benar-benar yakin jika Seto sudah sangat berubah dari Seto yang dulu, bahkan tanpa sadar aku memberi tahu Seto apa yang ada di pikiran ku saat ini. "Kamu telah berubah." Orang yang melempar kotoran ternak dan batu ke arahku di masa lalu. Dia sekarang menjadi ayah yang cukup baik. Seto memiliki ekspresi menyesal setelah mendengar kata-kataku. "Pada saat itu, Aku hanyalah seorang anak remaja dengan ego yang tinggi. Itu adalah apa yang ayah… kepala desa perintahkan, dia mengatakan jika kamu hanyalah anak tidak berguna yang menjadi beban banyak orang, jadi aku menerimanya begitu saja. Namun, setelah putri ku lahir, aku mulai berpikir sedikit berbeda … Aku kira, aku memang berubah." Namun, bahkan jika satu Seto telah berubah, itu tidak berarti apa-apa jika penduduk desa lainnya tidak. Desa ini perlu merubah cara berpikir mereka, baru kemudian mereka bisa memulai semuanya dari awal. Dalam diam aku memandangi makanan yang di sajikam malam ini. jika di pikir makanan di meja ini tidak begitu enak. Itu hanya biji-bijian yang dimasukkan ke dalam jus tanaman liar, lalu direbus bersama. Itu tidak bisa dikatakan sebagai hidangan yang enak. Namun, itu memang memiliki rasa nostalgia di dalamnya. Saat aku masih kecil ada seseorang yang rela memaksaku untuk ku dan teman-teman." 'Apakah kalian masih memakan ini?" "Tentu saja, desa ini masih miskin bahkan setelah kamu pergi. Kami masih terjebak dalam kemiskinan." Tidak bisa menjadi kaya, tetap miskin, membuat pikiran mereka memburuk. Di satu sisi, ada baiknya aku meninggalkan desa ini saat itu. Sambil makan bubur, Aku mendengarkan cerita Seto. Terutama tentang serangan monster itu. Dia mengatakan bahwa monster itu telah menumbuhkan sayap, dan mampu terbang. Membayangkan saja sudah terdengar sulit untuk mengalahkannya. Itu seukuran goblin. Memiliki kuku yang tajam, dan tanduk di kepalanya. Karena menyerang dari langit, hampir tidak mungkin untuk menghindarinya. "Berapa banyak jumlah mereka?" "Tidak ada yang tahu berapa banyak jumlah mereka, Tapi hanya satu yang terlihat sejauh ini." Setelah cukup mendengar, aku mengulurkan tangan ke cincin Augus. "Bagaimana menurut Kamu?" Aku bertanya pelan untuk memastikanm [Mungkin itu gargoyle. Monster yang cukup pintar. Hanya satu yang akan menyerang untuk melihat situasi. Kemudian, mereka akan menyerang secara massal ketika saatnya tiba.] "Bukankah mereka salah satu monster iblis… lalu kapan menurutmu mereka akan menyerang?" "Malam hari. Saat mendung dan tidak ada cahaya bulan, hal itu akan membuat mereka mudah bergerak dan melakukan penyerangan." "…Tunggu sebentar." Bukankah hari ini agak mendung? Bulan akan terhalang saat mendung datang. Dan juga, menurut informasi dari salah satu penduduk, dia mendengar teriakan monster dari hutan. Mungkinkah itu ... Ketika aku berbicara dengan Augus, aku lebih banyak diam dan bengong, hal itu tentu terlihat sangat aneh. Karena itu, wajah Seto dan putrinya menatapku dengan wajah yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata, tapi ini bukan waktunya untuk memikirkan itu, ada sesuatu yang lebih penting. Setelah beberapa saat, firasat buruk yang aku rasakan menjadi kenyataan. Dari luar, Aku mulai mendengar tangisan dan teriakan para warga satu persatu satu. Ketika aku berpikir bahwa hal-hal telah menjadi merepotkan, Augus malah mengatakan sesuatu yang lucu. "Al, bagaimana? Untuk menenangkan gargoyle, Kamu akan menjadi korban, umpan, umpan! Bukankah kamu akan menjadi umpan untuk mereka?!" "Jangan berbicara sesuatu yang tidak-tidak atau aku akan menghukum mu. Lebih baik kita pergi ke luar sekarang!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN