Lalu ketika aku sampai di lantai satu. Aku diam-diam menyelinap ke rumah kumuh yang menjadi tempat tinggal ku sebelumnya, tempat ini sangat tidak layak karena terdapat beberapa tempat yang berlubang dan sudah tidak memiliki tempat tidur yang layak, rumah yang sudah tertinggi beberapa bukan terakhir. Aku melihat sejenak. Sebelum akhirnya aku beranjak ke tempat tidur di kamarku sendiri, tempat yang sudah tidak layak di sebut sebagai kamar… namun karena aku sangat mengantuk, aku tidak memikirkan apapun lagi selain tidur, aku butuh tidur walau hanya sesaat saja.
Lagi pula, Aku telah begadang sepanjang malam untuk berburu di hutan terlarang.
Beberapa saat lalu sebelum aku kembali ke rumah ini, aku semgaja untuk berkeliling, dan ketika Aku mencoba untuk melemparkan telinga Raja Goblin ke panti asuhan, mereka telah ditemukan oleh saudari di sana. Aku berhasil menipunya dan melarikan diri. Setelah itu, Aku pergi untuk melihat keadaan Toko Eksklusif di kawasan lantai satu. Tempat yang sudah begitu tertinggal dan sangat penuh karena para penduduk yang berbondong-bondong untuk masuk ke dalam menara walau lokasi ini sudah tidak bisa menampung orang-orang lagi.
Tampaknya kelompok Rafal sudah meninggalkan toko, tetapi tirai jendela dibuka. Aku khawatir tentang apa yang dibicarakan oleh banyak Ksatria Suci. Dari semua kesimpulan, aku berpikir ada kecurangan yang di lakukan mereka untuk memasukkan banyak warga ke dalam menara walau tempat ini sudah tidak memungkinkan untuk bisa ditempati lagi.
Sepertinya isu tentang pemungutan uang agar bisa masuk ke dalam menara sudah mereka lakukan.
Jadi, Aku memutuskan untuk mengintainya nanti.
Untuk itu, penting bagiku untuk mendapatkan jumlah tidur yang baik. Aku mendapat hari libur dari Roxy hari ini, jadi Aku akan tidur seperti kayu gelondongan.
Di tempat ini aku merasa nyaman, rumah yang tidak akan dikunjungi oleh siapapun itu dan, aku butuh banyak istirahat, rasa lelah yang sudah mendera membuatku tak bisa berpikir banyak, aku bahkan langsung terlelap tak lama setelah aku merebahkan diri. Memikirkan urusan di menara benar-benar melelahkan
=====
TOK ... TOK ...
Dalam tidur nyenyak ku aku mendengar seseorang… Mengetuk pintu kamarku.
Aku terbangun karena suara itu, dan tentu saja hal itu membuatku terkejut. Karena bagaimana juga seharunya tempat ini tidak diketahui oleh banyak orang. Dan aku juga sudah menyembunyikan aura dari kedua egoku. Lalu siapa yang datang.
Aku segera mengambil langkah untuk bersiap, jika saja mereka adalah kelompok gelap yang menyerang orang-orang pinggiran.
Perlahan pintu kamarku terbuka, aku bisa melihat seseorang yang masuk ke kamarku. Samar aku coba mengingat siapa sosok itu. Sebelum akhirnya aku menghela napas karena dia adalah salah satu kenalan yang pernah bekerja bersama ketika aku di lantai satu.
"Maaf jika aku mengganggu mu. Aku hanya penasaran apakah kau kembali setelah sekian lama berlalu."
Itu Roxy. Dan kedatangannya malah membuatku merasa sedikit lega. Ketika Aku memeriksa jam, ini sudah siang. Sepertinya Aku telah tidur untuk waktu yang lama.
"Apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau sangat kelelahan."
Aku menghela napas pelan, sebelum akhirnya aku beranjak dari tempat tidurku, ini sudah siang dan seharunya aku bergegas untuk segera kembali, tapi karena kedatangan Roxy, aku sepertinya akan menunda untuk kembali ke lantai atas.
Aku telah banyak tidur, dan sekarang, aku merasa lebih baik dari sebelumnya, rasa lelah di dalam diriku sudah benar-benar hilang.
"Ya, Aku baik-baik saja sekarang."
"Apa kau yakin?"
Aku mengangguk sebelum beranjak. Lalu menoleh menatap ke arahnya. "bagaimana dengan mu, apa kau baik-baik saja?"
"Aku oke. Hanya saja tempat ini sudah tidak sebaik dulu."
"Tidak masalah. Aku sudah berjanji bukan. Jika tidak lama lagi aku akan membawamu ke atas, dan memberikan pekerjaan yang lebih baik untukmu."
Itu adalah janji yang pernah aku buat sebelum aku pergi ke lantai atas untuk merubah nasib ku, dan sampai detik ini aku belum bisa mewujudkan semuanya.
"Aku senang mendengarnya. Tapi, jangan memaksakan diri, oke? Aku masih bisa bertahan di tempat ini."
Aku tidak menjawab. Lalu setelahnya aku duduk di kursi dan mempersilahkan dia untuk duduk. Sebelum itu aku baru sadar jika tempat ini terlihat bersih dan rapih untuk sebuah rumah yang ditinggalkan, walau memang ada beberapa tempat yang terlihat tidak dan rapuh.
"Apa kau yang membersihkannya?"
Di ikut mengedarkan pandangannya sebelum akhirnya dia mengangguk. "Aku membersihkan karena terkadang tempat ini sering menjadi tempat untukku merenung."
"Kau mau buah?" Tawarnya ketika mengeluarkan dua buah apel dari dalam ruang penyimpanannya.
Aku mengangguk dan menerimanya karena aku sedikit lapar setelah perjalanan kemarin. Aku berpikir bagaimana kehidupan Roxy di tempat ini, sepeti halnya banyak orang. Dia jelas bekerja sebagai buruh dan hanya mendapatkan sedikit penghasilan.
"Terima kasih."
"Tidak masalah. Aku selalu membawa lebih, karena terkadang aku berharap kau kembali dan menemui ku untuk sekedar bertukar kabar."
Aku menundukkan kepala karena mendengar ucapannya. Ini adalah sebuah harapan yang pernah aku janjikan dulu. Dan sekarang aku malah melupakannya.
"Apa semuanya baik-baik saja, maksudku. Apa kau sudah mendapatkan kebangkitan mu?"
Bukan rahasia umum lagi. Beberapa orang yang sudah masuk ke dalam menara, apalagi memiliki sedikit energi sihir, maka lambatlaun akan ada gelombang yang membuat dirinya terbangkitkan, itu sudah sering terjadi. Dan setelah terbangkitkan. Maka mereka akan bisa langsung pergi ke lantai atas untuk membantu p*********n. Atau mendapat pekerjaan yang lebih baik lagi.
"Aku tidak tahu. Karena aku tidak bisa memeriksanya, kau tahu, biaya untuk melakukan satu kali pemeriksaan membutuhkan banyak uang."
Kebijakan baru memang sering menekan banyak orang seperti Roxy dan beberapa orang lainnya. Dan itu yang membuat mereka selalu tertinggal, uang adalah hal yang penting untuk bisa mencapai kehidupan yang layak.
"Tidak usah khawatir, aku akan membantumu untuk itu." Segera aku mengeluarkan beberapa uang yang bisa aku berikan untuk Roxy. "Gunakan ini untuk melakukan pemeriksaan, dan segera hubungi aku ketika kau sudah terbangkitkan, itu akan membantu mu untuk naik ke lantai atas, dan setelah naik aku akan membantumu di sana."
"Tapi Al -"
"Sudahlah jangan terlalu sungkan. Aku tidak suka sikap itu." Aku melihat jam sekali lagi. Dan ini sudah waktunya untukku kembali.
"Gunakan uang ini untuk semua kebutuhanmu, aku akan menunggumu di lantai dua ketika kau terbangkitkan. Dan jangan lupa hubungi aku ketika hari itu datang."
Aku beranjak dan segera mengenakan jubahku, itu akan menyembunyikan identitas dan juga mengamankan informasi ku.
"Aku akan kembali karena aku tidak bisa berlama-lama, berjanjilah untuk segera datang!"
"Terima kasih, aku akan berusaha baik setelah ini."
Aku mengangguk. "Aku harus pergi. Dan terima kasih apelnya!" dan setelahnya aku segera pergi dari tempat itu. Aku harus kembali sesegera mungkin jika tidak ingin Felix mencari ku ke dalam hutan larangan.
[Siapa pria tadi?]
Aku hampir saja terkejut ketika Agus bersuara secara tiba-tiba.
"Kau ini, mengejutkan ku saja!"
[Katakan saja siapa pria tadi!]
(Aku juga penasaran.)
"Bahkan Kau juga, Jess?"
[Cukup katakan saja!]
"Dia adalah teman lama satu perjuangan ketika aku datang ke dalam menara, tapi sayangnya nasibnya tidak sebaik aku dan membuatnya tertinggal. Memangnya ada apa?"
[Tidak, aku hanya merasakan aura yang sangat kuat dari anak itu.]
(Aku juga merasakannya, bahkan kekuatannya sudah lebih baik untuk seorang yang baru terbangkitkan.)
"Apa kalian yakin?"
[Apa kau meremehkan ku?]
Tentu saja tidak, aku tidak mungkin meremehkan mereka. Naluri yang dimiliki oleh dua ego ini benar-benar akurat, dan itu berarti Roxy sudah terbangkitkan?
Mendengar itu sudah cukup membuatku gembira, sepertinya aku akan meminta bantuan pada brain dan juga Felix. Jika mereka yang mengambil alih, maka aku tidak akan kesulitan lagi.
Tapi sebelum itu. Sepertinya aku harus segera kembali ke lantai atas, sebelum. Felix benar-benar marah.
---
Aku tidak tahu berapa lama aku pergi. Namun entah kenapa, ketika aku kembali aku merasakan ada sesuatu yang sangat berbeda di tengah-tengah kota. Bahkan ketika aku sampai di depan gerbang sekalipun, aku bisa merasa keanehan itu sendiri.
Aku berusaha untuk mencari tahu dengan menajamkan telinga agar aku bisa mengetahui dari pembicara orang-orang, hanya saja mereka seolah menutup diri untuk tidak membicarakannya di tempat umum.
Ini sama seperti ketika para pemburu menemukan jalan menuju ruang bos di lantai dua. Mereka cenderung merahasiakannya dan tidak ingin membicarakannya di tempat umum.
Aku tidak tahu pasti, tapi ketika aku berjalan di tengah-tengah kota. Aku bisa merasakan tekanan kekuatan yang sangat kuat datang ke arahku secara tiba-tiba.
"Bocah kecil sialan!"
Aku terpental beberapa langkah kedepan ketika tiba-tiba ada sesuatu yang memukul punggung ku, dan seketika itu aku menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Aakkhhh!"
Sialan, aku benar-benar terkejut dan tidak siap untuk menerima pukulan itu.
Aku segera melompat dan berusaha untuk melihat siapa sosok yang sudah memukulku tadi. Tempat ini adalah zona aman dan dilindungi oleh sistem agar antar pemburu tidak bisa mengeluarkan kemampuanya dan bertarung di dalamnya.
Tapi apa-apaan pukulan tadi. Itu jelas bukan sebuah kemampuan, tapi kekuatan dasar yang dimiliki oleh seseorang yang sudah sangat terlatih dengan tubuhnya.
Aku mengangkat wajah. Dan detik itu juga aku mendengkus kasar.
"Sialan!"
"Hey! Dari mana saja kau badjingan!"
Dia adalah brain. Berdiri beberapa langkah di hadapanku dengan tatapan tajam yang menusuk hingga kedalam inti tubuhku. Melihatnya saja sudah membuatku merinding.
Saat mengetahui keberadaannya, aku segera berbalik dan menganggap tidak ada apapun buang terjadi barusan. Aku tidak ingin meladeni orang sepertinya, dan memilih untuk melanjutkan langkah ku.
Aku sudah terlalu lelah untuk mengurusi orang-orang seperti dia, dan aku juga sudah rindu dengan kasur empuk di rumah.
"Bocah sialan! Kau mengabaikan ku huh?!"
Baik! Abaikan saja dia. Terserah dia mau berkata apa.
"Heh!"
Aku terkejut saat menyadari Brain sudah berdiri di sebelahku dan menarik kerah belakang baju yang aku kenakan.
"Kau pikir bisa kabur dariku setelah kau memberiku banyak masalah huh!"
Dia menyeretku setelahnya. Dan aku tidak bisa memberontak ataupun melepaskan diri dari cengkraman tangan itu.
(Hei, siapa pria ini! Kenapa dia tidak sopan kepada Alea?!) Tanya Jess yang mungkin belum mengetahui apa yang terjadi padaku.
[Jika aku jadi kau, lebih biarkan saja, kau akan tahu setelah ini.]
(Apa kau akan membiarkan Alea diperlakukan seperti itu.)
Augus tidak menjawab, dia seperti enggan untuk mengeluarkan suara yang baginya hanya membuang-buang waktu saja.
"Biarkan saja, Jess, dia tidak akan melakukan hal yang jagat kepadaku."
Aku tidak ingin memberontak apalagi mencoba untuk melepaskan diri dari pria ini. Semakin aku melawan maka semakin merepotkan Brain nantinya.
[Kau lihat. Bahkan Alea saja tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan pria itu kepadanya.]
Aku bisa merasakan jika saat ini Augus merasa kesal terhadap perilaku Brain, tapi sama seperti ku, sepertinya dia tidak ingin memperpanjang masalah ini.
"Dasar sialan! Kau pikir berapa banyak pekerjaan yang aku urus dan ditambah lagi harus mencari keberadaan yang menghilangkan beberapa waktu ini?!"
"Aku tidak menghilangkan, bahkan ini masih belum melewati waktu yang ditentukan oleh Felix!"
"Tapi kau hilang kabar beberapa waktu ini. Dan itu membuat ku semakin pusing hanya untuk mendengarkan ocehan dari Felix."
"Bukan urusanku, terlebih. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar bertukar kabar dengannya."
Aku melipat kedua tanganku di depan d**a, dan membiarkan aku menjadi pusat perhatian saat Brain menyeretku seperti anak kucing yang kabur dari rumah, bahkan aku tidak perlu melangkah. Karena sepasang kaki ku terseret oleh kekuatan Brain.
"Kau benar-benar membuat kami cemas sialan!"
Aku tidak menjawab semua makian yang di keluarkan Brain, biarkan saja dia melakukan apapun yang dia suka, karena pada dasarnya, aku tidak melakukan sebuah kesalahan. Bahkan aku kembali sebelum waktu yang ditentukan.
---
Suasana ruangan menjadi sangat mencekam begitu aku sampai di tempat ini. Aku dipaksa untuk duduk di sofa panjang yang ada di ruangan ketua flame red dragon. Dan saat ini terlihat jelas Felix tengah sibuk dengan begitu banyak berkas di hadapannya.
Aku tidak tahu apa yang tengah dia kerjakan, tapi sudah hampir tiga puluh menit berlalu aku hanya duduk diam dan menunggu dia menyelesaikan pekerjaannya.
Sebenarnya aku sudah merasa bosan dan lelah. Aku hanya ingin segera pulang dan mengambil tidur nyamanku untuk memulihkan stamina yang sudah aku buang beberapa hari kebelakang. Namun, hal itu tinggal menjadi sebuah angan saja, karena ketika aku bergerak sedikit saja dari tempat ini. Maka sudah dipastikan Felix akan menatapku dengan sorot tajam yang membuatku merinding seketika.
(Apa-apaan orang ini. Kenapa kekuatan yang dia miliki benar-benar mengerikan!)
Aku yakin Jess pasti akan terkejut ketika menyadari kekuatan dari Felix, dan itu berlaku sama ketika Augus melihatnya untuk pertama kali.
[Sudah aku katakan bukan.] Jawab Augus dengan sombong.
(Sebenarnya, sudah berapa kali pria ini mengalami kenaikan peringkat? Kenapa aura keberadaanya begitu kuat dan nyata, hanya melihatnya saja sudah membuatku merasa akan mati detik itu juga.)
[Itulah kenapa aku menyuruhmu untuk menguatkan mental sebelum bertemu dengannya, dia adalah salah satu monster yang bisa sangat menakutkan nantinya.]
"Kalian berdua, diamlah, jangan membuatku mengumpat di depan orangnya secara langsung."
[Kenapa tidak, jika kau berani lakukanlah, itu akan membuat mental mu tetap terjaga!]
"Jangan memberikan saran yang tidak perlu Augus, atau kau akan merasakan kekuatan itu juga."
[Aku tidak akan ikut campur! Bahkan ketika aku sudah mengalami kenaikan peringkat, aku lebih memilih jalur aman!]
"Ck! Diamlah, kepalaku benar-benar sakit hanya mendengar kalian berdua bergumam di kepalaku!" Aku hampir saja mengeluarkan suara ketika Augus terus saja menjawab perkataan ku, tapi saat aku melakukan hal itu, Felix mengangkat wajahnya dan memberikan tatapan bertanya ke padamu.
"Ti-tidak ada, aku tidak melakukan apa-apa." Aku berusaha untuk mengelak agar aku tidak mendapatkan masalah nantinya.
Dan terlepas dari semua itu, sebenarnya di mana Brain, kenapa dia meninggalkan aku di ruangan ini hanya dengan Felix seorang. Itu akan merusak mental ku secara perlahan.
"Huh...." Felix menghela napas pelan sebelum akhirnya dia menutup berkas yang terakhir. Dan setelah itu dia menyusunnya diantara tumpukan berkas yang ada di sebelahnya. Lalu dia berdiri dan berjalan ke arahku. Mendaratkan bokongnya tepat di sofa sebelahku.
"Sebenarnya, apa yang sudah kau lakukan di dalam hutan terlarang, kenapa kau tidak memberiku kabar tentang keberadaan mu?"
"Em ... Aku tidak tahu kenapa, tapi setelah terakhir kali kita bertukar kabar. Sepertinya ada sebuah gelombang yang membuat sinyal komunikasi kita terputus."
"Apa kau menyadari gelombang itu juga?"
Aku mengerutkan kening saat Felix menanyakan hal yang sama sekali tidak aku rasakan, aku mengatakan itu hanya untuk membuat alasan, dan mengutip kalimat yang diberikan Augus kepadaku sebelumnya.
Lagi Felix menghela napas berat sebelum akhirnya dia mendaratkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Ada begitu banyak hal yang terjadi ketika kau pergi. Dan hal itu juga yang membuat ku merasa cemas." Dia menjeda kalimatnya, lalu membuka sebelah matanya untuk melirik kearah ku.
"Jika saja kau terlambat pulang satu hari saja, aku akan menurunkan orang-orang untuk menyeret mu kembali, dan jika diperlukan, aku sendiri yang akan turun tangan untuk membawamu kembali."
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ketika melihat raut dan ekspresi dari Felix, aku bisa menebak jika sesuatu yang besar baru saja terjadi.
"Sebenarnya, apa yang sudah terjadi?"
Felix mengangkat punggungnya, kini dia merubah posisi duduk dengan kedua lengan yang dia letakkan di kedua lutut, untuk menopang tubuh besarnya itu.
"Aku tidak bisa menceritakan semuanya, tapi inti dari semua masalah adalah, beberapa hari lalu gerbang menuju bos ls tau tiga terbuka, dan itu terjadi secara tiba-tiba, aku tidak tahu apa yang membuatnya muncul. Dan yang menjadi misteri adalah, lokasi gerbang itu tidak jauh dari gerbang utama."
Mendengar itu tentu saja membuat ku terkejut, apalagi ini adalah fenomena yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Biasanya jika kita menyelesaikan misi yang ada di setiap lantai dan mengalahkan bos Raid sesuai dengan jumlah yang ditentukan maka secara otomatis gerbang bos terakhir akan terbuka tepat di depan ruang bos terakhir yang dikalahkan.
Tapi mendengar penjelasan dari Felix, membuatku sedikit heran. Pasalnya, sudah hampir dua tahun berlalu dan kami belum bisa menemukan gerbang bos, tapi sekarang. Entah apa yang terjadi tapi tiba-tiba saja ruang bos itu muncul secara tiba-tiba.
"Dan yang menjadi masalah sekarang adalah, gerbang bos tidak bisa dibuka kecuali kita mendapatkan kuncinya. Dan sampai saat ini. Kami para serikat besar yang terbentuk belum sekalipun mendapatkan kunci yang bisa digunakan untuk membuka gerbang itu."