Dongeon tower 3
Tahun 3030, dunia tak seindah apa yang mereka bayangkan, kekurangan udara bersih, tanah gersang dan segala hal yang di penuhi dengan kebusukan, bahkan air tercemar menjadi salah satu konsumsi mereka saat itu. Penderitaan dan tangis setiap manusia terdengar perih di seluruh penjuru. Hingga suatu hari, entah itu hidayah atau Rahmat, sebuah menara tower muncul di tengah-tengah kota, tower yang hampir memakan sebagian negara dan memiliki ukuran hampir sepertiga dari dunia.
Sesuatu asing muncul bersamaan dengan berkah yang menghampiri setiap umat, mereka yang mendapat berkah, memiliki kekuatan yang aneh di setiap berkah dan tanda yang mereka miliki, bahkan saat mereka beruntung kekuatan yang mereka miliki bisa di luar batas dan tak terkalahkan. Mereka juga mampu mengembangkan kekuatan saat sudah masuk kedalam tower.
Hanya orang yang mendapat berkah yang bisa menjelajahi setiap lantai penuh monster untuk menaklukkan lantai itu dan menjadi tempat hunian baru untuk para warga. Mereka yang mendapatkan berkah berlomba untuk mencatat nama mereka di papan ukir agar mendapat hak istimewa yang bisa mereka dapatkan dari menara. Hal itu juga yang membuat mereka berlomba, mengumpulkan para petualang dalam satu serikat, dan membangun kekuatan untuk mendapatkan keuntungan mereka.
Lalu menyediakan tempat untuk para keluarga yang tak memiliki tempat lagi di dunia luar. Hanya di dalam menara mereka bisa berharap dan menikmati indahnya dunia tanpa perlu susah payah untuk membeli udara segar.
Tiga tahun berlalu dan mereka sudah mencapai lantai tiga, para warga sudah terlalu banyak untuk menempati tiap lantai hingga tak ada tempat lagi yang tersisa, warga yang masih tertinggal di dunia luar mendesak untuk bisa masuk dan merasakan kehidupan yang damai, hanya saja segalanya di batasi, untuk bisa memperluas kekuasaan, mereka harus menyelesaikan lantai yang ada.
Dan untuk menembus lantai empat mereka harus melawan bos monster yang memiliki ketangkasan luar biasa di lantai tiga, belum ada kelompok atau serikat yang berhasil mengalahkan monster itu. Mereka semua terjebak di sana dan hanya menunggu waktu sembari mengumpulkan informasi.
Alea, satu dari sekian banyak manusia yang mendapatkan berkah dan hanya dia satu-satunya yang tergolong manusia sial. Dia adalah player tertinggal dengan rank yang masih bertahan di tingkat F, sedangkan mereka sudah mulai naik dengan kekuatan yang mereka miliki, tiap naik rank maka kekuatan mereka jelas ikut naik, dan hal itu membuat Alea merasa iri dan tertinggal.
Andai saja dia memiliki kekuatan seperti yang mereka miliki, mungkin Alea tak akan berakhir seperti sekarang ini.
Bahkan saat mengumpulkan sosok naga biru untuk membuat sebuah item saja dia harus terpojok. Sojin, orang yang memberinya kesempatan untuk masuk ke Raid ini malah membuat dirinya dan juga kelompoknya terdesak.
Dia tak habis pikir dengan kepemimpinan Sojin, bahkan mengalahkan monster kelas terus dengan peringkat F saja mereka kewalahan. Sungguh bodoh, Alea tak bisa berbuat banyak lagi, tangannya sudah terasa kebas, bahkan sistem saja beberapa kali memberi peringatan untuk segera beristirahat atau dia akan mati terbunuh di tempat itu.
"Wizard tutup sisi kiri, tangker tutup sebelah kanan, sebisa mungkin kita harus bertahan!" Sojin hanya bisa berteriak dan memerintah sedari tadi, dia tak bisa bertingkah selain bersembunyi di balik mereka para anggota kelompoknya. Bahkan Alea yang hanya memiliki rank F saja harus berada di sisi kanan untuk menutup kekurangan orang.
"Jangan diam saja bodoh! Berikan serangan terkuat kalian!"
"Ay ay, kapten!" Teriak sang tanker yang terlihat bodoh dan penuh ambisi, dia seolah tak memperdulikan segala hal yang akan menimpa dirinya.
Bahkan saat bos monster itu memberi serangan fatal hingga mengurangi bar kehidupan mereka, dia tetap saja bertahan dengan tameng yang hampir rusak.
Sedangkan Alea masih bertahan dengan pedang tumpul miliknya, menahan serangan dari monster belalang sembah sialan yang terus saja menghunuskan celurit tajam kearah mereka.
"Tran!!"
"Ting!"
"Duar!"
Segala suara dentuman senjata menggelegar di sana. Sojin masih saja sembunyi di balik tiga orang di depannya, hal itu benar-benar membuat Alea tak habis pikir, dia baru sadar sekarang, Sojin hanyalah memanfaatkan mereka untuk melindungi dirinya dan untuk kepentingan dirinya sendiri. Sungguh luar biasa.
Alea melihat sekitar untuk mencari tempat persembunyian, tapi sepertinya niatnya diketahui noleh Sojin, pria itu langsung menghunuskan pedangnya kearah Alea. "Jangan coba-coba lari dari tempat ini." Desis Sojin sedikit memberi ancaman hingga membuat Alea tak bisa berbuat banyak, jika dia lari maka Sojin akan membunuhnya, tapi jika bertahan pun monster belalang sembah ini akan menghabisi mereka secepat itu juga.
"Cari kesempatan dan serang! Wizard gunakan sihir terkuat mu dan serang Monster itu!"
"Baik kapten!"
Sungguh pengikut yang bodoh, mereka ini seolah gila dengan sebuah pertarungan hingga tak menyadari jika mereka hanyalah di gunakan untuk kepentingan Sojin saja.
Alea muak, dia lebih baik bertahan dengan pedang tumpul yang sebentar lagi akan patah. Hingga sebuah ada sebua kesempatan saat monster di depannya berhenti menyerang, hal itu bisa mereka gunakan untuk menyerang balik, hanya saja mereka tidak tahu jika belalang sembah itu tengah mengumpulkan waktu untuk melakukan serangan terkuat.
"Sekarang! Serang dengan semua kemampuan kalian yang ada!"
"Baik!"
"Armor lighting striker!"
"Fire Buster!"
"Fire kik!"
Tida gerangan di arahkan oleh tiga player tadi hingga mengenai belalang sembah, hanya Alea yang terdiam di sana menunggu dengan penuh harap, dia sendiri yang sejatinya tidak memiliki skill sehebat itu, maka saat mereka menyerang dengan kekuatan terhebat, Alea hanya bisa menunggu dalam diam, membiarkan mereka menyelesaikan tugas mereka.
"Alea!" Teriak Sojin sembari menahan kekuatannya. "Jangan diam saja bodoh, bantu serang Monster sialan ini!"
Teriakan itu tak membuat Alea menurut dia masih saja diam di tempatnya apalagi saat melihat pergerakan dari monster sembah yang akan memberikan serangan terkuat ke arah mereka.
Saat itu Alea sudah menyadari jika sebentar lagi belalang itu akan memberi serangan terkuat untuk mereka, monster bos jelas memiliki pergerakan mereka sendiri dan memiliki serangan yang kuat, berbeda dengan monster biasa yang hanya melakukan serangan acak.
"Awas!" Teriak Alea secepat yang dia bisa saat melihat belalang sembah tadi menambah sabit yang dia miliki dan melakukan serangan memutar seperti angin topan.
Sojin menyadari hal itu dia melihat kearah Monster saat Alea berteriak. Lalu setelah menyadari hal itu. Sojin melompat cepat dan meraih leher Alea, dan mengarahkan tubuh itu untuk menjadi tameng hingga membuat Alea tak bisa berkutik. Bertahan saja tidak mampu.
"Sialan kau so-sojin!" Bisik alea dengan suara terputusnya dia membenci keadaan ini, apalagi saat dirinya tak bisa berbuat banyak dan hanya merasakan sakit dengan sistem yang terus saja memberikan peringatan kepada dirinya.
Sialan, dia tidak bisa terus seperti ini atau dia benar-benar akan mati.
Sistem : skill baru di dapatkan saat kau mempertahankan diri dari serangan yang fatal, dalam kondisi seperti ini pinalti akan di berikan saat kondisi normal. Syarat pengaktifan skill, ketika HP tersisa 10% maka skill bisa di gunakan. Waktu penggunaan akan bertambah saat level baik. Waktu cooldown 6 jam.
Dewa berbaik hati memberimu sebuah kehormatan atas keberanian mu menantang hidup dan mati. Sebuah skill di mana bisa memblokir semua serangan musuh saat darah sekarat, dan kehidupan di ambang batas, syarat level tidak ada.
Di saat-saat terakhir Alea malah mendapatkan skill yang berguna untuk dirinya. Dia melirik bar hp di layar notifikasi, dan memperlihatkan hanya tersisa 6 angka saja. Satu serangan lagi maka dirinya akan berakhir saat itu juga.
Tubuhnya tak bisa bergerak, dia terkena dampak dari serangan dan dari sisa hp yang tak hanya 6 poin saja, dia hanyalah mayat hidup sekarang, berharap jika monster itu tak menyerang dirinya. Dia memejamkan matanya, mencoba mengintip dari sana dan melihat keadaan sekitar.
"Sial!" Sojin menjerit frustasi, dia melihat tiga orang anggota kelompoknya tergeletak tak bernyawa di hadapannya, monster bos bukanlah lawan yang mudah di taklukkan oleh dirinya seorang diri. Sungguh bodoh sudah bergerak dengan gegabah.
"Dasar manusia tidak berguna! Lebih baik aku pergi dari pada aku menyusul mereka!" Ucap Sojin lalu berlari meninggalkan Alea yang masih hidup di sana seorang diri.
Satu pergerakan kecil maka dirinya akan berakhir saat itu juga, luka di tubuhnya terasa sangat menyakitkan, dia hanya bisa memejamkan matanya, bernapas terengah dengan segala kemampuan yang dia miliki, dia harus bertahan walau tidak ada kemungkinan untuk dirinya hidup, tapi dia juga tidak bisa lari begitu saja, dia harus mempertahankan segala hal yang dia miliki.
"Sial!" Alea mengerang sangat kuat, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang.
Dia membuka matanya berusaha untuk merayap dan mendekat pada tank yang tergeletak di sana. Berharap ada ramuan penyembuhan yang di bawa oleh tanker itu.
Hanya saja kekuatan yang dia miliki, dan luka yang tergores lantai malah membuat hpnya turun menjadi lima poin.
Berakhir sudah hidupnya sekarang. Tak ada kesempatan lagi untuk dia bertahan.
Alea terkekeh pelan, inilah akhir dari si pecundang yang hanya bisa menjadi beban semua orang, ah setidaknya saat ini dia berguna untuk melindungi orang yang sudah mengkhianati dirinya, sungguh konyol, entah kenapa hidup terasa tak pernah adik, bahkan tiga tahun lamanya dia sama sekali belum memiliki tanda dan masih saja di rank F, di saat semua sudah mendapatkan tanda dari kekuatannya, Alea justru tidak memiliki apa-apa.
Yah.... Abaikan saja, anggap semua tak pernah terjadi dan Alea menyadari batasan yang dia miliki, mati sekarang tak masalah karena dia tak yakin akan terus bertahan dengan keadaan yang ada. Monster semakin kuat sedangkan dirinya sama sekali tidak berkembang, hidup hanya menjadi beban untuk yang lain.
Dia terkekeh pelan, apalagi saat mengingat ucapan Felix. "Ada kekuatan dalam tubuhmu yang belum bisa kau kendalikan."
Sungguh bodoh. Apakah pria itu hanya membual? Bahkan dalam sistem skill yang dia miliki sama sekali tidak berguna, entah apa tujuannya menjadi petarung, dia hanya mengais reruntuhan selama satu tahun untuk bertahan hidup. Dan setelah dia bisa bergabung dengan kelompok p*********n, dia hanyalah menjadi beban saja.
Sungguh miris nasib yang dia jalani, apakah ada orang yang memiliki nasib seburuk dirinya.
Haha.... Alea hanya akan tertawa dengan nasib yang dia derita. Tak ada lagi alasan untuk dirinya hidup.
Bahkan Felix sendiri, orang yang memujinya ternyata salah pandang, dia tidak sehebat apa yang Felix katakan, hidupnya berakhir sekarang, tidak ada yang bisa dia lakukan untuk mempertahankan apa yang dia miliki.
Bahkan saat belalang sembah itu kembali datang dan menyadari hawa kehidupannya, Alea berbalik dan berbaring, menatap belalang sembah itu dari ujung matanya.
Yah.... Seperti inilah hidup, seperti inilah kematian cepat atau lambat dia akan berakhir dengan menyedihkan.
Belalang sembah datang dengan mengangkat celurit di ujung lengannya, lalu menghubungi benda runcing itu pada Alea yang hanya bisa memejamkan matanya menantikan benda itu menembus tubuhnya.
Sistem : serangan berhasil diblokir.
Sistem yang bodoh, kenapa dia tidak membiarkan dirinya mari begitu saja. Bahkan serangan demi serangan dari belalang sembah itu berhasil diblokir boleh sistem.
Sistem : serangan berhasil diblokir.
Alea hanya ingin mati dengan tenang, ayolah jangan mempersulit keadaan.
Sistem : serangan berhasil diblokir.
Sungguh, Alea muak dengan semua ini, dia tidak merasa sakit apapun, dan semua ini karena skill yang aktif tadi, dia benar-benar merasa bodoh, bertahan saat dirinya tak bisa berbuat apa-apa. Apakah sistem hanya membual dan mempermainkan dirinya? Dia hanya ingin mati dan mengakhiri segala penderitaan yang ada.
Sistem : serangan berhasil diblokir.
Sungguh bodoh, Alea benar-benar frustasi sekarang. Dia hanya berharap serangan belalang sembah ini berhasil menembus pertahanannya. Bukan malah seperti ini.
Sistem : dewa perihatin dengan keadaanmu, dia sedih karena melihatmu putus asa.
Tunggu. Apakah ini lelucon.
Sistem : kau mendapat anugrah besar karena berhasil melewati penderitaan ini, bahkan rasa putus Asamu menggerakkan hati dewa dan memberkati mu dengan kekuatan yang luar biasa. Apakah kau menerima kekuatan ini?
Sistem : skill utusan dewa.
Dewa merasa kasihan dengan kondisimu sekarang, dewa memberikan berkahnya untuk memberimu kekuatan baru.
Sebuah skill yang bisa mengendalikan kekuatan dan berbagai elemen.
Sistem : skill ego.
Sebuah skill untuk memiliki sebuah kesadaran baru sebagai pengikutmu, ego yang bisa berpikir dan membantumu dalam setiap kesulitan. Tidak ada batasan penggunaan. Tidak ada batas syarat level penggunaan.
Sistem : apa kau menerima skill tersebut?
Jojo terdiam, apakah ini mimpi, apakah dia mendapatkan kekuatan baru untuk dirinya sendiri. Apakah dia bisa merasakan kebangkitan kedua, di mana setiap player yang mendapat kebangkitan kedua akan memiliki kekuatan yang sangat dahsyat?