Dongeng tower 11.
Alea tidak pernah menyangka jika dirinya akan mendapat banyak inti core dalam waktu yang singkat.
Bahkan dia bisa mendapatkan inti core berkualitas terbaik yang pernah dia temui hanya karena Felix. Dan sekarang, dia sama sekali tidak menyangka jika di dalam bangunan serikat Flame red dragon ada sebuah ruangan khusus yang bisa digunakan untuk latihan kekuatan.
Saat ini Alea tengah mengikuti seseorang untuk mengantarkan dirinya ke ruangan yang sudah disiapkan oleh Felix.
"Ini ruangannya, kau bisa berlatih di dalam, dan jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku, aku segera datang dan membantumu." Ujar seorang pria yang membantu Alea membukakan pintu di hadapannya. Sebuah ruangan yang akan menjadi tempat Alea latihan.
Alea tak langsung menjawab, dia hanya terpukau saat masuk kedalam ruangan pelatihan itu. Ruangan yang benar-benar sangat luar biasa, dan benar-benar membuat dirinya tak menyangka.
Baru pertama kali ini dia merasa sangat diterima, atau memang sejak awal dirinya sudah diterima oleh Felix, hanya karena dia yang sok jual mahal dan minder dengan semua yang dimiliki oleh Felix yang membuat dirinya menolak itu.
Dan sekarang, Alea sama sekali tidak menyangka. Setelah mendapat inti core dengan kualitas yang luar biasa, kini dia juga mendapat tempat pelatihan, dimana dirinya bisa menaikan level Augus dengan cepat.
[Aku suka tempat ini.]
Alea tak menjawab ucapan Augus, dia menoleh, menatap kearah pria yang mengantar dirinya ke tempat ini.
"Terima kasih, sepertinya aku akan sangat lama di dalam. Jadi tidak perlu risau, aku tidak akan membutuhkan apapun selama aku di dalam." Alea tersenyum lalu melangkah kedepan, meninggalkan pria yang mengantarnya tadi.
"Baiklah, aku tidak akan menggangu mu, hanya saja jika kau membutuhkan sesuatu, cukup katakan saja, oke."
Alea tersenyum, dia menoleh sebentar untuk menghargai apa yang sudah pria itu lakukan. Tindakan baik, tentu saja layak untuk dibalas dengan kebaikan, hanya saja jika ada kemunafikan di dalamnya, maka itu sudah menjadi hal lain lagi.
"Terima kasih."
Pria itu mengangguk lalu menutup pintu besar di belakang Alea dan meninggalkan dirinya di ruangan itu.
[Aku tidak menyukai pria tadi.]
"Kenapa?"
[Dia terlihat ingin menjilat memanfaatkan kedekatannya dengan pria berambut merah tadi.]
"Felix?"
[Siapapun itu.]
"Abaikan saja, mungkin dia memang ingin menjadikanku sebagai batu loncatan, agar dia bisa mendapat muka di depan wajah pemimpinnya. Dengan begitu jelas dia mendapat keuntungan yang lumayan."
[Maka dari itu aku tidak suka.]
Alea tersenyum tipis. "Seperti itulah manusia. Mereka memiliki pilihan hidupnya masing-masing, jalan hidup yang tidak semuanya sama. Banyak yang berbuat baik untuk mendapatkan sebuah kebaikan, ada juga yang berbuat curang untuk mendapat kesetaraan." Alea menghela napas pelan, manusia dengan topeng yang mereka miliki memang sulit untuk dia tebak. "Mereka semua yang hanya memikirkan dirinya sendiri lebih condong akan berbuat curang dan menghalalkan segara cara. Membenarkan semua hal yang mereka lakukan."
[Manusia dengan sifat tamak yang mereka miliki, akan berakhir dengan ketamakan itu sendiri.]
"Kau jelas paham dengan hal itu." Alea berjalan ke tengah aula, benar kata Augus, di tempat ini semua terasa nyaman. Dan banyak sumber energi yang begitu bebas mengalir ke dalam tubuhnya. Seolah dia berada di sebuah tempat yang kaya akan limpahan kekuatan
[Perlahan aku mengerti apa yang ada di dalam pikiranmu.]
"Karena kau memang ada di sana." Balas Alea, perlahan dia memilih duduk bersila di tengah-tengah ruangan itu. Ruangan yang terasa sangat hening dan tenang.
Setelahnya dia langsung mengeluarkan beberapa core yang akan dia berikan pada Augus, dan membiarkan ego itu makan dengan kenyang untuk membangun kembali kekuatannya.
[Apakah sekarang saatnya makan?]
"Untukmu ya, tapi tidak untukku."
[Kau sudah makan tadi.]
"Begitupun dengan mu."
[Lalu, apa aku tidak boleh memakannya?]
"Makan lah sesukamu, aku hanya bergurau tadi."
Tentu saja, tanpa Augus Alea bukanlah apa-apa, dia hanya bisa mengandalkan Augus untuk membuat dirinya bertahan.
Perlahan Alea merubah bentuk Augus menjadi sebuah pedang, dan setelahnya dia membantu Augus untuk menikmati hidangan yang sudah dia siapkan. Inti core yang akan membuat Augus naik level dan membuat dirinya bisa bertambah kuat juga.
"Apa itu enak?"
[Tentu saja, kau akan puas hanya dengan makan satu core saja. Hanya saja, kau jelas membutuhkan kekuatan lebih, itulah alasan kenapa aku memilih mengkonsumsi banyak core. Karena kau membutuhkan banyak kekuatan.]
"Sungguh pengertian." Alea tersenyum miring, membiarkan Augus menyerap semua inti core yang dia dapat dari Felix. Hingga beberapa saat berlalu Agus berhasil menaikkan levelnya tiga kali lipat. Hanya membutuhkan lima puluh inti core saja, Augus sudah sekuat itu. Apalagi saat semua inti core yang dia dapat dari Felix benar-benar sangat berguna.
"Kau kenyang?"
[Lumayan, aku butuh beberapa waktu untuk menyerap semua energi ini.]
"Selalu saja lumayan, kau seolah tidak pernah tahu cara untuk bersyukur."
[Ck, ayolah, aku hanya sebuah alat, sebagaimana kau memperlakukan aku, aku tetaplah alat, jadi apa yang menurutku cukup, ya lumayan saja sudah, karena seberapa banyak kau memberikan kekuatan padaku, aku bisa dengan mudah menampung itu semua.]
"Terserah kau saja. Ambil waktu sebanyak yang kau bisa. Aku akan mencoba menerobos level yang terkunci dalam diriku."
[Maka, berjuanglah.]
"Tidak perlu kau ingatkan lagi." Alea mendengkus, setelahnya dia membiarkan Augus dengan kegiatannya, dan dia akan mencoba untuk berlatih juga di tempat ini.
---
"Kau yakin dia kembali?" Seorang pria dengan perawakan besar itu bertanya dengan serius saat salah satu orang suruhannya datang membawa sebuah kabar yang sejak dulu dia tunggu.
"Benar, aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dia bersama dengan Brian masuk ke dalam serikat, sepertinya dia akan menemui Felix untuk membicarakan sesuatu."
"Sialan!" Pria itu merekat tangannya kuat-kuat, dia tidak menyangka jika pria yang sudah dia anggap mati itu ke Bali lagi dan membawa kabar yang membuat dirinya tercengang.
"Dasar b******n! Aku pikir dia bodoh, tapi ternyata dia memiliki sifat licik seperti itu."
Dia Sojin, pria yang sudah meninggalkan Alea di dalam gua saat belalang sembah menyerang mereka terakhir kali, dia pikir Alea mari bersama dua orang yang ikut dalam kelompok p*********n itu. Namun ternyata, Alea si anak sampah itu masih bisa selamat, dan buruknya lagi, saat dia mendapat notifikasi bahwa monster tersembunyi di kalahkan oleh orang tidak dikenal, dia sangat yakin itu adalah Alea.
"Lalu di mana dia sekarang?"
"Dari yang aku lihat, dia belum keluar dari serikat. Sepertinya dia akan lama berada di sana."
Sojin merasa kesal, dia tidak menyangka jika Alea malah berhasil mengalahkan bos bersembunyi seorang diri dan mendapatkan semua material dari monster itu.
Dia harus mencari Alea dan meminta semua material yang dia dapat dari p*********n terakhir, dia yakin Alea pasti memiliki sebuah material itu.
"Awasi semua pergerakannya, dan kabari, aku tidak akan membiarkan dia bebas begitu saja. Kita harus mengambil apa yang seharusnya menjadi milik kita."
"Baik." Pria berjubah hitam itu langsung pergi meninggalkan Sojin yang masih terdiam di tempat. Dia masih berusaha untuk menguasai kesadarannya dan mencoba percaya dengan kenyataan bodoh ini.
----
"Bagaimana? Apa semua lancar?"
Felix langsung menyambut kedatangan Brain dengan pertanyaan yang berhasil membuat pria itu mendengkus kasar.
"Setidaknya biarkan aku duduk dan mengambil napas dulu."
"Maka ambillah napas sebanyak yang kau mau."
Felix terkekeh pelan. Dia berdiri dan beranjak dari meja kerjanya, laku duduk tepat di sebelah sahabatnya itu. Jika diperhatikan lebih dekat , Felix seolah mengerti jika sahabatnya itu tengah kecewa terhadap acara pelelangan yang dia hadiri.
"Huh!" Brain menghela napas kasar, menyandarkan tubuhnya pada sofa, dan perlahan dia menoleh, menatap Felix yang tengah duduk di sampingnya dengan mata berbinar, sepertinya dia sudah mendapatkan peningkatan. Sehingga memiliki binar bahagia seperti itu.
"Kau tahu, acara lelang tadi hampir berantakan karena semua item yang dijual oleh Alea."
"Maksud mu?"
"Mereka hampir bertengkar karena merebutkan item langka milik Alea, bahkan mereka berani membayar mahal untuk beberapa item yang dijual oleh alea."
Tidak heran, Felix bisa menebak jika hal itu pasti akan terjadi. Jika dipikir, itu hanya beberapa item dan material yang di jual oleh Alea. Entah apa yang akan terjadi jika semua material dia jual, mungkin hari ini, akan menjadi hari kebangkrutan orang yang ada di lantai ini.
Tentu saja, akan banyak orang yang menginginkan material kelas tinggi dan langka itu untuk mereka tempat menjadi senjata dan equipment yang luar biasa.
"Aku tidak bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika Alea menjual Snapdragon api abadi yang dia berikan kepadamu."
"Mungkin dia akan menjadi buruan orang jahat di kita ini."
"Alasan kenapa dia meminta batuan pada kita?" Tanya brain pada Felix.
Felix menghela napas pelan. Sejak awal dirinya sudah yakin, di balik kecacatan yang Alea miliki, ada sebuah potensi yang luar biasa di dalam tubuhnya. Dan kali ini, kali ini dia benar-benar menunjukkan taringnya. Hanya saja dia tidak seangkuh itu menunjukkan siapa dirinya sebenarnya.
Alea lebih memilih untuk menyembunyikan jari dirinya sendiri, tentu saja dengan alasan keselamatan, dia jelas sudah mempertimbangkan apa yang akan terjadi jika dia mencolok, seorang diri dengan pencapaian luar biasa. Tentu saja akan ada beberapa kelompok yang akan memburu dirinya dalam diam.
"Kau bisa menebak itu," ujar Felix dengan senyum terpincing. "Lalu bagaimana dengan permintaan Alea?"
"Sudah aku selesaikan, 40% dari hasil penjualan, aku berikan ke beberapa panti asuhan dan panti jompo, memberi beberapa makanan pada anak-anak yang tidak memiliki tempat dan membuatkan tempat yang layak untuk mereka."
"Seperti biasa, kau memang yang paling bisa diandalkan."
"Jangan terlalu memujiku."
"Aku tidak memujimu, hanya mengatakan apa yang seharusnya aku katakan."
"Ck, kau masih saja dengan sifat keras mu itu."
Felix terkekeh pelan, dia bersandar setelahnya dan kedua terdiam beberapa saat, mereka larut dan dalam pikirannya masing-masing.
"Aku masih tidak menyangka, Alea dengan pendapatan yang luar biasa. Seolah anak beruntung yang mendapat harta Karun secara tiba-tiba, masih memikirkan orang lain dari pada menguasai semua uang itu seorang diri."
Felix mengangguk, itu juga yang dia pikirkan. Alea mungkin terlihat sangat sederhana, dengan penampilan alakadarnya dan semua item equipment yang dia kenakan. Di balik sifat sederhananya itu, Alea sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menguasai segala hal yang dia dapatnya seorang diri.
Berbagi, dia seolah mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri.
Mungkin jika Felix yang ada di posisi Alea saat ini, dia akan melakukan apa yang dia pikirkan tadi, menguasai semua uangnya dan akan dia gunakan untuk memperkuat diri.
Sayangnya, Alea dan dirinya jelas dua manusia yang memiliki pemikiran yang berbeda.
Mungkin karena Alea berasal dari bawah, dia benar-benar merasakan bagaimana sulitnya berjuang. Maka tidak heran jika saat dirinya mencapai kejayaan dengan harta dan yang yang banyak, Alea tidak akan melupakan dari mana dirinya berasal.
Tempat dia memijak bumi untuk pertama kalinya, lalu tempat dirinya tumbuh dan mengukir kenangan indah saat masih anak-anak.
Alea adalah pria yang luar biasa.
Tidak heran Felix benar-benar mengakuinya sejak awal, karena dia sudah merasakan jika Alea adlah sosok yang demikian.
"Karena jika semua manusia tamak, maka tidak akan ada lagi tempat untuk manusia lain di dunia ini." Felix terdiam sejenak.
"Kau tahu, Sebenarnya kita berjuang di tempat ini bukan untuk kita sendiri. Ada keluarga dan orang-orang terdekat, serta orang yang tidak memiliki kesempatan untuk bisa merasakan hidup di tempat yang layak, dari pada di tempat sebelumnya."
"Kau benar." Brain mengangguk kecil. "Belajar dari bagaimana Alea peduli, seolah membuat ku sadar, kita hidup harus berdampingan, dan tujuan, kita berjuang di tempat ini adalah untuk bisa menyediakan tempat untuk mereka yang setidaknya layak berada di tempat ini."
Alea, seorang pemuda yang tidak memiliki talenta, berjuang hanya untuk bisa bertahan dari perasaanya hidup, semua dia pertaruhkan untuk bisa berdiri di barisan depan, semua dia lakukan hanya agar bisa menjadi pria sejati.
Tidak heran, kenapa banyak yang iri dengan tekad dan kemampuan yang Alea miliki. Walau sejatinya dia hanyalah pecundang, tapi semangat dan perjuangannya, bukanlah sesuatunya yang bisa dihina dengan mudah.
"Apa dia akan bergabung dengan kita setelah ini?" Brain menoleh, menatap sahabatnya yang masih menatap kosong ke udara.
"Aku tidak bisa memaksa, semua jelas sesuai kehendaknya, jika dia ingin tempat berlindung, maka di tempat inilah dia bisa berharap, tapi jika dia masih ingin tetap seorang diri dan memegang keteguhannya untuk berkelana seorang diri. Maka aku hanya bisa melindungi dirinya dari kejauhan."
"Aku akan membantumu, kau tenang saja."
--++--
"Apa kau sudah selesai?"
[Sepertinya begitu, ada begitu banyak energi yang bisa aku serap, hanya saja untuk memurnikan energi ini, aku butuh waktu lebih lama lagi.]
Alea mengangguk sebentar, dia mulai membaca statistik kekuatan yang didapatkan oleh Augus. Semua baik dengan pesat bahkan lebih kuat saat egonya belum memurnikan kekuatan itu.
"Kau memiliki banyak kemajuan."
[Tentu saja!]
Ada nada bangga dari dalam diri Augus, sepertinya dia menikmati semua proses untuk membuat dirinya kuat.
[Sistem : Augus telah menyerap begitu banyak energi. Skill baru di dapatkan.]
[Skill : shadow clone. Sebuah kemampuan di mana ego bisa mendapatkan sebuah bentuk untuk beberapa waktu. Ada batas penggunaan. Pemilik juga bisa merubah bentuk ego sesuai keinginan pemilik, tidak ada batas waktu penggunaan."
"Kau merasakannya?" Tanya Alea pelan, dia yakin Augus pasti bisa merasakan jika dirinya mendapatkan skill baru yang begitu luar biasa ini.
[Tentu saja! Apa yang sudah aku capai?]
"Kau bisa merubah bentuk mu sesuai yang kau inginkan, dan selain itu." Alea terdiam sejenak. Dia ingin mencoba sesuatu yang baru, sesuatu yang pernah dia coba sejak pertama mereka bertemu.
Alea membayangkan suatu benda yang mungkin bisa dia gunakan dan terapkan untuk Augus, sebuah senjata yang sangat kuat untuk bentuk Augus setelahnya.
Diam dan membayangkan, Alea benar-benar berkonstruksi penuh. Berusaha menciptakan sehat bentuk baru untuk Augus.
Dan tak lama setelahnya, dia membuka matanya, menunduk dan benar seperti yang dia pikirkan.
Augus berubah menjadi sebuah pistol di tangannya.
[Kau! Apa yang kau lakukan padaku!]
"Tidak ada, aku hanya mencoba skill barumu."
[Skill?]
"Shadow cloning. Skill yang bisa merubah mu menjadi senjata yang aku inginkan."
Dengan ini sepertinya Alea akan mudah untuk menggunakan Augus dalam setiap kesempatan, kondisi apapun dia akan mudah menguasainya. Tinggal bagaimana dia mempelajari setiap senjata yang pernah dia coba.
[Memang kau bisa menggunakan senjata dengan bentuk aneh seperti ini?]
"Jika hanya ku gunakan untuk menembak aku bisa, tapi untuk menguasainya, aku jelas butuh waktu lebih."
Bukan hanya itu, Alea juga tidak yakin, jika dia menggunakan Augus sebagai pistol, lalu amunisi apa yang akan dia gunakan. Tentu saja itu aneh bukan, pistol tanpa amunisi.
Alea mencoba membalik pistol itu, melihat bagian bawah di mana tidak ada tempat untuk amunisi.
Benar benar rumit.
Dari pada membayangkan saja, kenapa Alea tidak mencobanya sekalian.
Alea mengarahkan Augus ke tembok yang ada di hadapannya, lalu menarik pelatuk dan menyebabkan suara tembakan yang cukup keras.
"Dor!"
Alea mengernyitkan keningnya saat melihat ada sedikit goresan di bagian tembok itu, dia jelas tahu jika ruangan ini memiliki keamanan yang ekstra, dan hanya sebuah tembakan tanpa amunisi, jelas tidak mungkin bisa menggores tembok itu.
"Ada yang aneh." Gumang Alea pelan.
[Apa maksudmu?]
"Entahlah, aku merasa aneh dengan bentuk mu yang seperti ini."
[Maksudmu? Katakan lebih jelas lagi supaya aku mudah mengerti!]
Alea mengabaikan ucapan Augus, untuk membuktikan lebih jelas lagi, Alea mengeluarkan sebuah material dari ruang penyimpanannya. Lalu meletakkan di atas lantai. Material berupa sisik hitam kelabang itu menjadi target tembakannya.
Dia mundur beberapa langkah, lalu mencoba mengincar sisik itu dengan pistolnya.
"DOR!!!"
Dan setelahnya sisik itu terpental jauh kebelakang, dan hal itu tentu saja membuat Alea terkejut. Apa yang sebenarnya menjadi amunisi dari pistol ini?
[Aku merasakan sebuah mana keluar dari dalam tubuhku. Apa yang sudah kau lakukan sebenarnya!]
"Mana?"
[Ya, mana yang keluar dari tubuhku setelah kau menekan bagian lain pada senjata ini.]
Alea terdiam sejenak, tidak ada amunisi tapi mampu mengenai sasaran, apakah ini senjata dengan mana sebagai amunisi.
Berarti jika dia terlalu sering menggunakan pistol, maka kemungkinan Augus kehabisan mana sangat mungkin terjadi. Dan hal itu tentu saja tidak menguntungkan untuk dirinya sendiri.
"Lalu bagaimana dengan sebuah pelindung."
Alea membayangkan sebuah armor di tubuhnya, dan setelahnya dia bisa merasakan ada sesuatu yang hangat menyentuh tubuhnya. Agus berubah menjadi sebuah armor berwarna hitam yang melindungi tubuhnya.
"Kau tahu?"
[Apa?]
"Kau lebih berguna sekarang, tidak hanya menjadi senjata saja, tapai kau bisa berguna untuk melindungi ku."
[Bukankah, sejauh ini aku yang melindungi dirimu.]
"Ck, bisakah kau tidak mencelaku?" Sentak Alea, dia merasa kesal karena Augus selalu saja mengucapkan kalimat yang selalu saja sesuai kenyataan.
"Lebih baik kita pergi sekarang kita harus mengunjungi suatu tempat untuk mencoba kemampuanmu."
[Langsung?]
"Tentu saja!"
[Lalu bagaimana dengan pemimpin serikat, apa kau akan pergi begitu saja?]
Alea menghentikan langkahnya, dia tidak memikirkan hal itu.
Kali ini Felix pasti akan meminta dirinya untuk bergabung bersama serikat ya kembali, terlebih setelah apa yang sudah Alea dapatkan, pria itu tidak mungkin melepaskan Alea begitu saja.
"Kita akan membicarakannya nanti."
[Terserah kau saja.]