musuh baru

2978 Kata
Dongeon tower 12. "Kau yakin?" Alea termenung sejenak, beberapa saat lalu setelah dirinya keluar dari ruang pelatihan dia langsung mendatangi Felix, mengatakan pada pria itu jika dirinya akan melakukan perburuan seorang diri di dalam hutan terlarang. Dia ingin mengasah kemampuannya lebih jauh, terlebih Augus, dia ingin memastikan, apakah dirinya bisa mengimbangi Augus sebagai seorang Pemiliki. "Hutan terlarang bukanlah tempat untuk bermain-main. Tempat itu sangat berbahaya, dan ada begitu banyak monster yang belum di ketahui banyak orang, kau masuk seorang diri sama saja mengantarkan dirimu ke dalam sarang para monster." Alea tahu, masuk ke hutan terlarang untuk kedua kalinya benar-benar sesuatu yang bodoh, tapi bagi dirinya, hanya itu kesempatan yang bisa dia ambil untuk menjelajahi lebih jauh tempat itu. Dia ingin melihat sejauh mana kemampuan Augus dan dirinya berkembang. Jika hanya diam dan bermanja diri, dia yakin, dia tidak akan pernah bisa berkembang. Alea tersenyum maklum, perlahan dia mengangkat wajahnya, menatap sepasang bola mata merah milik Felix. "Tidak apa, aku sudah sedikit tahu seluk beluk hutan terlarang, masuk untuk kedua kalinya bukanlah masalah untukku, aku akan mencoba mengeksplorasi tempat itu untuk mengembangkan kemampuanku, dan menempa kepercayaan diri yang selama ini sudah hampir pupus." Felix terdiam, dia tak menyangka jika Alea benar-benar serius tentang ini. "Bisakah aku percaya jika kau akan kembali?" Alea terkekeh, dia tidak menyangka jika ketua serikat terkuat itu seolah-olah peduli dengan dirinya, tapi dengan ini dia bisa merasa, bagiamana dia hargai dan di khawatirkan. "Tentu saja." Felix tak langsung menjawab, dia berusaha mencari celah dari sepasang mata Alea, melihat apakah pria ini benar-benar serius dengan ucapannya. Dan setelahnya, dia menyerah. Alea dengan pendirian yang sudah pasti, dia tidak bisa mencegah seseorang yang sudah memiliki tekad seperti itu. "Pastikan kau kembali, jika tidak, atau pun hilang kontak, aku akan mencariku dan menarik mu kembali saat itulah juga." Sungut Felix dengan tatapan tajam. Alea merasa tak enak, dia mendesis kecil dan bergerak mundur. "O-oke, lakukan saja apa yang kau suka." Untuk orang yang memiliki kemampuan terbaik, apakah perlakuan ini tidak apa-apa untuk dirinya? Maksudnya, apakah dengan semua hal yang diberikan Felix pada dirinya, apakah tidak akan memicu konflik dan iri terhadap anggota lain? Sedangkan dirinya saja bukan anggota dari serikat ini. "Temui Brain sebelum kau pergi." Felix menghela napas pelan. Mungkin hanya itu yang bisa dia lakukan untuk membantu anak ini. Alea merasa bingung dengan ucapan Felix, "Brain?" Tanyanya begitu saja saat Felix malah memintanya untuk menemui pria itu. "Untuk apa?" "Dia akan membantu segala keperluanmu selama kau pergi." "Tunggu, kenapa harus repot-repot, aku bisa pergi begitu saja, terlebih, aku tidak akan lama untuk perjalanan kali ini." Felix melirik tajam, tatapannya membuat Alea terdiam seketika. "Bisakah kau mengikuti perkataan ku? Temui saja Brain, dia sudah menyiapkan segalanya untukmu." "O-oke, aku akan menemui Brain setelah ini." Alea mengangkat kedua tangannya di udara dengan gurat lucu yang terkejut karena ucapan pria ini. "Itu lebih baik." Felix menghela napas pelan, lalu beranjak dari tempatnya, berjalan untuk mendekati Alea. "Jika kau masih belum berminat untuk masuk ke serikat ku, setidaknya kita bisa berteman, kau adalah orang yang mengingatkan diriku pada masa lalu, dan aku hanya ingin menjalin sebuah ikatan saudara dengan mu." "Apakah tidak berlebihan?" Tanya Alea, karena semua yang sudah dilakukan oleh Felix benar-benar berlebihan untuk dirinya. "Maksud ku kau terlalu banyak memberi sesuatu untuk orang baru seperti ku, aku hanya takut, jika semua ini terlalu berlebihan." Felix menghela napas pelan, setelahnya dia menggeleng sejenak. "Tidak ada yang berlebihan, kau sudah ku anggap saudara mulai saat ini, serikat ini sama saja rumah bagimu, walau kau bukan anggota serikat ini, pintu serikat akan terbuka untuk menyambutmu, kapan pun kau datang." Sudah Alea katakan, Felix adalah orang yang menatap dirinya dengan tatapan lain, bukan tatapan merendah seperti yang dia dapat dari orang-orang uang meragukan dirinya. Felix adalah orang satu-satunya yang menganggap dirinya ada. Setelah sekian banyak orang yang menatap rendah kearahnya. "Aku ... Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi ...." Alea menjeda kalimatnya, dia merasa terharu dengan hal ini. Perlahan Alea mendongak, menatap sepasang mata merah milik Alea, lalu setelahnya dia berlutut, tepat di hadapan Felix. "Mulai hari ini. Aku Aleanor Slitic bersumpah di hadapanmu, apapun yang terjadi di masa depan, aku akan membelamu, mengikuti dan mengikat janji setia dengan mu. Aku akan membalas semua yang kau berikan pada ku." "Hey, hey! Ayolah jangan seperti ini, kau tidak perlu melakukan itu padaku, aku percaya jika kau akan membantuku, begitupun sebaliknya." Felix yang panik berusaha membuat Alea berdiri dari sana. "Kau tahu, aku tidak akan pernah meragukan semua ucapan mu, kita memiliki satu tujuan yang sama. Kau dan aku, kita sama-sama memiliki sesuatu yang harus kita raih." Alea menggeleng pelan. "Kau tahu? Aku tidak memiliki apapun yang bisa aku berikan padamu, hanya sumpah setia terhadapmu yang mungkin bisa aku berikan padamu." Felix menatap Alea dengan mata sayu. "Jika memang itu maumu." Segera saja Felix berlutut di hadapan Alea. "Dengan ini, aku Felix, bersumpah atas nama diriku dan juga sekitarku, mulai hari ini aku bersumpah setia pada Aleanor Slitic, apapun yang terjadi padanya di masa depan, aku akan mebelanya, walau nyawa sebagai taruhannya." "Felix apa yang kau lakukan!" Alea segera berlutut, memaksa Felix untuk berdiri dari tempatnya. "Jangan seperti ini!" Felix ikut berdiri saat Alea menarik dirinya berdiri. "Dengan ini kita saling terikat dengan sumpah, apapun yang terjadi kita adalah saudara, kau dan aku, kita satu orang yang akan berjalan bersama untuk meraih apa yang sudah menjadi tujuan awal." Felix menepuk pundak kanan Alea pelan. "Jika suatu saat kau melupakan apa tujuan utama mu dan kau keluar jalur, maka aku akan menjadi orang pertama yang akan menghentikanmu." "Begitu juga sebaliknya. Aku akan menjadi orang pertama yang akan menghentikan mu." Yah, seperti itulah mereka mengikat sebuah janji. Ikatan untuk menjadi saudara, jika suatu hari nanti ada kesulitan maka, satu diantara mereka akan saling membantu. ---- [Apa tidak masalah, kau mengikat janji dengan seorang yang mungkin memiliki pengaruh luar biasa di lantai ini?] "Setidaknya, selama ini dirahasiakan, aku tidak akan khawatir. Masih ada keuntungan untuk kita, perlindungan, dan segala hal yang kita butuhkan untuk menutup semua pergerakan kita. Jika tidak memiliki koneksi maka kita juga yang akan kesulitan nanti ya." [Aku tahu jalan pikiranmu, hanya saja, apa kau sudah memikirkannya baik-baik, ini tidak sebentar, dan akan ada hal yang mungkin tidak kau suka dengan kejadian ini.] "Tidak masalah, asal aku tidak terlalu dekat dan tidak sering keluar masuk ke serikat itu, sepertinya semua akan baik-baik saja." [Lalu apa tujuanmu setelah ini?] Alea terdiam beberapa saat, dia masih belum memikirkan apa yang seharusnya dia lakukan setelah ini. Mungkin s telah masuk ke hutan larangan dia akan mengembangkan kekuatannya, Meningkatkan sistem otot pada tubuh untuk memperkuat tubuhnya. Dia harus mulai melatih skill dasar pada tubuhnya. Dan skill tahap menengah untuk menerobos level yang ada pada dirinya saat ini. "Berusaha menerobos level yang aku miliki sekarang." Alea menjawab dengan mantap menatap hutan yang mulai lebat di hadapannya, setelah melangkah masuk, dia akan mendapat banyak peringatan bahaya yang di berikan oleh sistem. Sudah menjadi ketentuan umum, tempat yang memiliki kadar potensi tinggi, biasanya memiliki peringatan di dalamnya. "Aku merasakan adrenalin yang sama seperti terakhir kali kita masuk ke tempat ini." [Tapi kali ini aku lebih kuat dari yang sebelumnya." "Kita buktikan saja." Karena Alea yakin, tempat ini akan banyak menyimpan rahasia tersembunyi yang akan dia temui nantinya. Dia akan berusaha memecah rahasia yang ada di hutan terlarang. Tempat tidak ada satu orang pun yang menginjak kakinya di tempat ini. [Jangan mengejek ku setelah semua ini berlalu.] Alea tak menjawab, dia melangkah masuk semakin dalam, mengikuti jejak yang ada di sana dan membawa dirinya terus masuk. Menyusuri tiap ruang dan beberapa pohon besar di sana. Ada beberapa hal yang janggal dia matanya, bahkan banyak tumbuhan langka yang memiliki harga jual yang lumayan di tempat itu. Sayangnya, Alea tidak memiliki kesempatan untuk mengumpulkan semua bahan itu, dia harus terus berjalan untuk bisa menemukan sesuatu yang lebih baik lagi. Lebih dalam kau masuk, maka akan semakin banyak juga harta Karun yang ada di dalam sana. Maka Alea tidak memiliki waktu lagi jika harus bersantai di tempat ini memungut sesuatu yang tidak begitu penting. Setelah beberapa langkah berlalu, dia menikah ada beberapa mayat goblin yang terbengkalai dan tengah dimakan oleh para gagak, tak jauh dari tempat itu banyak goblin lainnya yang mati dan tergeletak tak bernyawa di sana. Terlalu sadis cara monster ini melakukan semua perbuatannya. Entah siapa yang sudah melakukan hal sesadis ini. [Sepertinya ada bekas pertempuran di tempat ini.] "Kau benar, dari bekas luka yang ada sepertinya mereka baru saja bertarung." [Apakah mereka bertarung dengan, para orge. Atau mungkin lizardman?] "Sepertinya bukan, dari luka yang mereka dapatkan sepertinya ini serangan langsung yang cukup fatal, banyak hal terjadi di tempat ini." [Kau benar, di saat yang kuat mencoba untuk berkuasa. Maka yang lemah akan segera ditindas.] Alea mengangguk pelan, hukum alam memang seperti itu, lemah kalah, kuat berkuasa. Tidak heran akan ada banyak orang yang berlomba-lomba untuk mendapatkan kekuatan agar bisa menguasai sesuatu yang mereka inginkan. "Lebih baik kita pergi dari sini." [Kau benar.] Karena Alea bisa merasakan sebuah aura di sekitarnya, sepertinya monster yang baru saja menyerang para goblin ini kembali. "Atau kita bersembunyi dulu, aku ingin memastikan siapa yang sudah membantai para goblin di tempat ini." [Apa kau yakin?] "Tidak semakin sekarang, jika kita terpojok sekalipun, kita bisa menyerang mereka." [Terserah kau saja.] Alea mengangguk, dia milih bersembunyi di balik semak tak jauh, menanti pemilik aura ini datang dan melihat siapa sebenarnya yang sudah berbuat hal yang demikian kejam. Dia dengan sabar menunggu, melihat siapakah sebenarnya sosok itu, sosok yang sudah membuat kekacauan seperti ini. Tak lama aura keberadaan itu semakin mendekat, sangat dekat hingga membuat tekanan di sekitar Alea terasa begitu kuat, dia harus menahan kekuatan itu dengan tubuh yang masih lemah. Dia memang sudah terbiasa dengan tekanan monster kuat, tapi untuk bertahan terlalu lama dia tidak mampu. Mengeluarkan Augus di tempat ini pun percuma, posisinya akan jelas terlihat setelah ini. [Keluarkan aku saat ini juga.] Ucap Augus saat melihat Alea memaksakan dirinya untuk menahan kekuatan ini. Tubuh yang tidak memiliki tambahan bonus statistik saat dia tidak menggunakan dirinya. "Sabar, kita tinggal menunggu sebentar lagi, dan kita akan tahu siapa sebenarnya monster sialan ini." [Terserah kau saja.] Dengkus Augus yang entah kenapa merasa kesal karena tingkah Alea yang keras kepala itu. Alea terdiam, dia memfokuskan tatapannya ke arah ujung hutan, melihat langkah kaki yang perlahan mendekat. "Kenapa kita kembali lagi?" Suara itu. Jelas itu adalah suara manusia, dan sedang apa mereka ada di tempat ini. "Aku meninggalkan sesuatu di tempat tadi." "Apa itu penting?" Alea bisa melihat samar-samar dia orang yang perawakan asing berjalan ke arah tumpukan mayat goblin tadi. Salah satu diantara mereka mengenakan jubah, dan terlihat jika dia tipe penyihir dan pendukung, sedangkan satu yang bertubuh besar itu, terlihat seperti seorang tengker dan bertugas melindungi penyihir. Sebuah kombinasi yang tepat untuk membentuk tim pemburu. Terlebih, dari segi kekuatan tangker itu, sepertinya mereka sudah sangat terlatih. "Tentu saja bodoh, jika benda itu dilihat oleh seseorang yang datang ke tempat ini, maka hancur sudah rencana kita. Kita akan ketahuan saat itu juga." "Maksud mu?" Si tengker berhenti, laku memutar tubuhnya untuk menatap si penyihir. "Aku meninggalkan pisau yang ku gunakan untuk membedah goblin tadi. Jika senjata biru di ketahui oleh dia, maka berantakan sudah rencana kita." "Kenapa kau seceroboh itu?" "Aku terburu-buru tadi, kau juga terlalu mendesak ku!" "Aku hanya mengikuti perintah, jika kita tidak bergegas, maka kita bisa terkena masalah." Tengker itu mendengkus pelan, lalu berjalan kearah mayat goblin tadi dan menendangnya hingga mayat itu menggelinding pelan. Setelahnya dia membungkuk, mengambil sebuah belati yang tergeletak di sana. "Kau terlalu ceroboh meninggalkan sebuah bukti di tempat ini." "Ku bilang karena aku terdesak makanya aku melupakannya." "Bodoh!" Desis si penyihir itu, lalu berjalan mendahului si tengker. "Cepatlah, menurut informasi yang aku dapat, anak itu sudah masuk ke dalam hutan, kita harus berada di posisi untuk menyiapkan rencana penyerangan." "Apa kau yakin, kita harus begitu repot hanya untuk menghadapi seorang anak yang bahkan tidak memiliki kekuatan?" Si penyihir menghentikan langkahnya, perlahan dia menoleh. "Setidaknya untuk berjaga-jaga dan untuk keselamatan nyawamu sendiri, jika kau bertindak gegabah untuk mengalahkan anaknya yang baru saja berhasil mengalahkan bos tersembunyi, maka nyawamu bisa terancam dan kau akan mati saat itu juga!" Desis sang penyihir. Tanpa dia sadari, apa yang dia katakan begitu jelas didengar oleh Alea. Pria itu bisa mengambil kesimpulan jika dirinyalah orang yang mereka targetkan. Mengalahkan bos tersembunyi yang baru saja keluar hidup-hidup, dan orang itu lemah. Jika bukan dirinya lalu siapa. Dan kenapa juga mereka bisa tahu jika dirinya baru saja masuk ke dalam hutan larangan. "Jika dia muncul dan ternyata dia kuat, kenapa tidak kita hadapi saja. Kita berdua dan dia sendiri, kota pasti akan diuntungkan dengan hal itu." "Ck, tidak semudah itu bodoh, lebih baik mengantisipasi dari pada kau harus terpojok dan malah mati karena kecerobohan kita!" "Terserah kau saja lah, aku sama sekali tidak mengerti jalan pikiranmu. Kau terlalu banyak berpikir!" "Karena kau bodoh!" Tekanan yang mereka keluarkan benar-benar membuat d**a Alea sesak. Dia tak bisa bertahan lebih lama lagi, kekuatan dan tekanan ini benar-benar mendesak dirinya. Mereka pasti memiliki level tinggi yang membuat dirinya harus merasakan tekanan kuat seperti ini, jika tidak. Mungkin Alea bisa menguasai tekanan ini. [Ayolah, gunakan aku!] Sentak Augus yang tak tahan lagi, dia tak tahan melihat Alea yang terus tertekan seperti itu. Persetan dengan mereka berdua, jika mereka benar-benar mengincar dirinya, maka Alea akan menghadapi dua orang b******n ini. Entah siapa yang sudah mengirim mereka, Alea akan mengetahuinya sebentar lagi. Alea segera mengambil bentuk pedang dari Augus, mengeluarkan aura kekuatan milik egonya hingga mampu melindungi dia dari tekanan kekuatan dua pemburu itu. "Siapa di sana!" Sialan! Alea memekik lalu segera berlari untuk menjauh dari tempat itu, sebisa mungkin dia harus menghindari pertarungan langsung, untuk saat ini dirinya harus memulihkan tenaga dari tekanan yang diberikan oleh para pemburu sialan itu. "Kejar penyusup itu bodoh!" Si penyihir mulai mengejar Alea, begitu juga dengan organisasi a bertubuh besar itu. "Jangan sampai lolos!" Sayangnya, pergerakan Alea sangat cepat, apalagi saat Augus sudah di tangannya, status kekuatannya tentu saja bertambah belum lagi dia mendapat skill yang akan terbuka secara langsung ketika dia menggunakan Augus. [Kau terlalu ceroboh dengan mengukur waktu selama itu!] "Aku tahu itu." [Kau tahu, tapi kau masih menahannya, apa kau benar-benar bodoh?] "Co, ayolah, kau tahu sendiri jika aku menggunakan mu terlalu cepat, aku tidak tahu siapa yang mereka incar?" [Dan sekarang?] "Mereka mengincar ku, kau dengar sendiri kan tadi?" [Lalu kenapa kau lari?] "Hanya sedikit mengukur waktu saja. Untuk sekarang aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka berdua, mereka berada di peringkat lebih atas dibandingkan dengan ku." [Kau takut?] "Tentu saja, siapa yang tidak takut jika harus berhadapan dengan dua pemburu sekaligus, aku harus berpikir dua kali untuk melawan mereka." Karena Alea sadar akan kemampuannya, jika dia memaksakan diri, maka dirinyalah yang akan mati konyol menghadapi mereka berdua. "Mau lari kemana kau!" Alea menghentikan langkahnya, dia melompat mundur tepat saat seorang dari pria tadi menghadangnya. Si pria penyihir yang menyeringai itu siap menyerangnya. "Mencoba untuk lari, huh?" Alea jelas tak bisa berkutik, selama pria itu ada di sana, maka dia tidak bisa lari dari sana. "Siapa kalian?" "Kami?" Si penyihir bertanya dengan menunjuk dirinya sendiri. "Kami adalah utusan yang akan membunuhmu di tempat ini." Si penyihir berjalan memutar sembari menjaga jarak dengan Alea. Dia bukanlah petarung jarak dekat, sedangkan si tengker masih berdiri di belakang untuk menjaga agar Alea tidak lari dari sana. "Sebenarnya kami ingin memberimu sedikit waktu, membiarkan mu bermain-main barang sejenak sebelum kami menghabisi nyawamu, hanya saja, sepertinya nasib arah berkata lain, kau harus mati karena sudah mendengar pembicaraan kami." Alea meneguk air kudahnya sendiri, posisinya saat ini benar-benar tidak memungkinkan dirinya untuk lari, tidak ada celah untuk dirinya kabur, mereka seolah menutup tempat untuk dia lari dari tempat ini. Pilihan terakhir yang dia miliki hanya bertarung. Dia harus melawan mereka berdua. Hanya saja, perbandingan kemampuan dan kekuatan yang mereka miliki jelas begitu jauh. Benar-benar posisi yang tidak menguntungkan. Hingga tanpa dia sadari, kekuatan yang begitu besar tiba-tiba datang dengan cepat dari arah belakangnya, Alea refleks dan melompat mundur, menjaga jarak dari tangker yang berusaha menyerangnya. Perisai dan pedang besar yang sudah dikeluarkan oleh pria besar itu benar-benar terlihat sangat malah dan kuat. Sialan! Apakah dia bisa mengalahkan mereka berdua? Tidak ada yang tahu jika tidak mencobanya. Saat sang tengker menyerang dirinya, Alea mencoba menepis serangan itu menggunakan Augus. Dengan mudah Alea bisa menangkis serangan itu, kekuatannya jelas sudah bertambah setelah dia menggunakan Augus, hanya saja sihir uang tiba-tiba datang dari arah kakinya membuat Alea tak bisa menghindar dari serangan itu. Ledakan uang terjadi membuat tubuhnya terpental, berbeda dengan sang tengker yang seolah sudah mengetahui serangan si penyihir dan melindungi dirinya dengan perisai miliknya. Alea mencoba berdiri, mengusap sudut bibirnya dengan punggung tangannya. Dia melirik kearah penyihir yang menyeringai kearahnya. Belum jika dirinya siap, tiba-tiba sang tengker sudah berdiri di hadapannya. Pria itu memberi tendangan kuat di bagian perut hingga membuat tubuhnya terpental, tidak sampai di sana, pria besar itu langsung mengejar dirinya. Menyerang dengan tebasan pedang miliknya. Membuat Alea kembali terdesak dan hanya bisa menerima serangan dan berusaha menangkis semampu dirinya. "Kau kuat!" Ucap.ssng tengker dengan senyum miring, lalu setelahnya dia memberi sebuah tendangan pada Alea hingga membuat tubuh kecil terpental jauh. "Tapi akan sampai kapan kau bertahan dari serangan kami!" Alea terdiam, dengan tertatih dia berusaha berdiri, kombinasi serangan yang benar-benar merepotkan, dia benar-benar terpojok karena kombinasi serangan ini. [Sampai kapan kau menahan diri bodoh!] Augus yang sedari tadi melihat Alea di serang habis-habisan merasa geram, menurutnya Alea bisa saja menyerang balik dia pria tadi, tapi Alea menahan diri dan kekuatannya, entah apa yang dia pikirkan saat ini. "Tunggu saja, permainan baru saja dimulai." Ujarnya pelan dengan seringai di sudut bibirnya. Sepertinya dia akan menikmati kesenangan ini lebih lama lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN