sisi terburuk

2863 Kata
Dongeon tower 13 Alea melompat dan menghindar, lalu menerjang dan menendang, menebas Augus untuk memberi serangan balasan pada sang tengker yang memiliki pergerakan yang lambat itu. "Kau gesit juga!" Sang tengker tersenyum sembari terengah-engah karena serangan Alea berhasil menyudutkan dirinya. "Kau juga kuat, sangat kuat bahkan." Alea tersenyum, di bisa, yah, dia yakin dia bisa mengatasi serangan mereka berdua. Alea melompat mundur, lalu melompat ke samping, ke depan dan ke belakang saat merasakan aura sihir di bawah kakinya, dia yakin, itu adalah serangan dari penyihir sialan yang tidak akan memberinya kesempatan untuk beristirahat. "Aku tahu aku kuat, tapi kau terlalu lincah untuk aku hadapi seorang diri!" Pria bertubuh besar itu langsung berlari kearahnya, menjadikan tameng sebagai perisai untuk menghindari ledakan sihir yang di lontarkan oleh penyihir, lalu dengan posisi itu juga dia menerjang Alea hingga membuatnya sedikit kurang persiapan untuk menerima terjangan itu. "Apa kalian kesulitan menghadapi ku hingga membutuhkan dua orang hanya untuk melawan manusia lemah sepertiku?" "Apa aku mengatakan jika kau lemah?" Sayangnya, apa yang pria besar itu katakan benar. Dia tidak sekalipun menyebut dirinya lemah, dia hanya memberi pujian sedari tadi. Hanya saja melawan dua orang secara bersamaan adalah sesuatu yang mustahil, mereka memiliki kekuatan kombinasi serangan yang luar biasa. Seperti sekarang, Alea harus melompat mundur saat dia merasakan sihir itu kembali datang, sayangnya saat dia melompat dan pria besar sudah menanti dirinya, bahkan sebelum dirinya mendarat, si pria besar sudah menerjang dan membuat tubuhnya terpental. "Ugh!" Alea harus merasakan sakit yang luar biasa, bahkan notifikasi health poin mulai turun secara perlahan, dia akan mencapai titik di mana dirinya berada di posisi yang mampu menahan segala jenis serangan dan mampu menambah 50% kemampuannya. Hanya saja, dia harus merasakan rasa sakit yang luar biasa untuk mencapai titik itu. [Serang penyihir itu terlebih dahulu. Dia benar-benar mengganggu!] Alea berusaha berdiri, dia melirik kearah penyihir yang selalu bersembunyi di belakang tubuh tengker. Hal itu menunjukan jika si penyihir hanya memiliki daya serang yang kuat, tapi lemah dengan pertahanan. Sepertinya dia harus mengambil kesempatan itu itu. "Aku akan menggunakan sedikit mana mu untuk menyerang mereka." [Kau akan menggunakan itu?] "Jika kau mengizinkan." Alea tahu, menggunakan pistol hanya akan membuat mananya terserap habis, dan ketika dia gagal, maka tidak akan ada kesempatan lagi setelahnya. Augus tentu saja meragukan hal itu, dia tidak yakin apakah Alea akan mampu menggunakan serangan itu, bahkan serangan itu sama sekali belum dia kuasai. [Jika kau yakin, aku akan bergantung padamu.] "Kau tahu? Sebenarnya aku tidak semakin itu." Sela mengakuinya, dia sama sekali tidak memiliki kemampuan untuk menggunakan pistol, dia harus berlatih lagi, tapi jika tidak menggunakan itu, dia tidak bisa menyerang penyihir tanpa melewati pria bear ini. [Hah!] Augus berteriak kuat. [Apa kau bercanda?!] Tidak, Alea memang tidak memiliki kemampuan itu, tapi dengan status dirinya saat ini, dia yakin dirinya mampu, apalagi saat ini dia sudah berada di kondisi yang benar-benar terpojok. Alea merubah Augus menjadi sebuah pistol, sembari melompat untuk menghindari serangan tengker itu. "Oh, kemana pedang mu tadi? Apa kau mulai menyerah?" Tanya sang tengker yang mulai menyadari jika Alea menghilang pedangnya. "Jika kau ingin mati dengan mudah, maka datang lah, aku akan memberikan kematian yang menyenangkan untuk mu saat ini juga!" Tangker langsung menyerang kearah Alea, memberi terjangan yang membuat Alea harus terpaksa menyerang dirinya. Sepertinya skill milik pria besar itu sudah diaktifkan, dan membuat Alea tak bisa berkutik dan dipaksa untuk menyerang pria itu. Pertahanan uang kekal dari seorang tengker dan kekuatan yang sulit untuk dikalahkan. Dia memiliki waktu kurang lebih satu menit untuk bisa lepas dari pengaruh serangan itu. Alea merubah Augus menjadi pedang kembali, dengan pergerakan yang sesuai dia berusaha memberi serangan demi serangan, hanya dengan kondisi yang menurut ya cukup untuk menyerang. Dia lebih fokus bertahan, Karen dia yakin, menyerang seorang tengker dalam kondisi seperti ini hanyalah hal yang bodoh. "Kau cukup cerdik untuk seorang anak yang katanya lemah!" Alea tersenyum miring, pria itu belum tahu, di balik tubuhnya yang lemah, ada begitu banyak pengalaman di kepalanya. Dia sudah mengikuti banyak perburuan yang memaksa dirinya untuk bertahan di segala kemungkinan yang ada. Bahkan di sana juga Alea bisa melihat begitu banyak jenis kemampuan dan jangka waktu yang di gunakan setiap kemampuan itu, Alea bisa menebak apa saja yang akan di lakukan oleh tengker yang tengah dia lawan ini. Dia benar-benar berusaha menepis segala serangan yang tertuju kearahnya, dengan kemampuan itu, dia berhasil membuat tangker itu marah dan kesal. "Berhentilah mengelak, dan mati saja dengan tenang!" Alea tersenyum kecil, dia yakin tengker sudah kehabisan waktu skill pertahannya, tinggal sedikit lagi dan dirinya akan bisa mengendalikan permainan. Dia melirik kearah penyuhir yang terlihat tengah menyiapkan sebuah mantra. Dari yang Alea lihat, sepertinya penyihir itu berusaha menggunakan kemampuannya untuk mengakhiri pertarungan ini. Rapalan selesai, sebuah energi kuat tengah terkumpul di hadapan sang penyihir. Dan Alea sama sekali belum terlepas dari skill milik tengker sialan ini. Dia harus memutar otak, berpikir apa yang seharusnya dia lakukan agar bisa terbebas dari serangan itu. Dan tak lama setelahnya, penggaris skill milik tengker memudar, dia bisa merasakan saat dirinya tidak lagi dipaksa menyerang sang tengker. Saat itu juga, Alea merubah Augus menjadi bentuk pistol kembali, lalu dia melompat mundur saat sang tengker menyerang dirinya dengan pedang besar itu. Alea mengambil posisi, berusaha menunduk tubuh seperti penyihir dan setelahnya dia melepaskan sebuah tembakan yang cukup keras. Suaranya benar-benar memekikkan telinga hingga membuat tangker mundur beberapa langkah. Alea menunggu hasilnya, dia ingin melihat bagian mana yang berhasil dia kenai dari tubuh penyihir itu. Bukan hanya Alea, si tengker saja berusaha melihat kondisi rekaannya yang saat ini kehilangan kendali akan sihir besar yang ada di depannya. "Hey, Roy! Apa kau baik-baik saja." Roy, jadi itulah nama penyihir kurus itu. Alea tentu saja bisa mendengar dengan seksama, dia berusaha untuk melihat, apa yang sebenernya sudah terjadi pada penyihir itu. Dan saat dia bisa melihat dengan jelas tubuh si penyihir, Alea mendengkus kasar. "Sepertinya aku meleset!" [Kau terlalu ceroboh menggunakan Manaku!] Sentak Augus yang merasa kesal dengan tingkah Alea. "Aku akan menguasainya sebentar lagi?" [Terserah kau saja, setelah ini kau harus membayar semua yang sudah kau lakukan!] "Kau tenang saja." Jawab Alea enteng, dia tersenyum kecil, terlebih saat tengker terlihat cemas pada rekannya. "Kau!" Si pria besar itu menunjuk Alea dengan menggunakan pedangnya. "Apa yang sudah kau lakukan pada temanku?" "Aku?" Tanya Alea santai. "Hanya melakukan ini!" Lagi Alea membidik sang penyihir dan memberi satu tembakan di sana. Kali ini tubuh sang penyihir limbung, dan saat itu dia bisa melihat, jika kaki sang penyihir terkena tembakan dari Alea. "Sialan! Apa yang kau lakukan bodoh!" Si penyihir mulai berteriak, sedangkan tengker itu malah bergerak mendekatinya. "Lindungi aku saat sedang meralap mantra! Apa kau bodoh." "Aku tahu aku tahu, hanya saja apa kau tidak lihat itu, anak itu bisa menggunakan pistol!" "Lalu apa masalahnya?" Alea tersenyum tipis saat melihat dua orang Italia kembalikan berdebat. Dia menunduk sang penyihir, lalu memberi satu tembakan di bagian kaki yang satu lagi saat penyihir itu berusaha menyembuhkan lukanya. "Akh!" Dia memekik, lalu sihir yang sudah dia siapkan tadi perlahan hancur dan tak berbekas sedikitpun. Hal ini jelas membuktikan jika konstruksi sang penyihir mulai goyah. "Lindungi aku bodoh! Berapa kali harus ku bilang, lindungi aku saat sedang bekerja!" "Aku sudah berusaha melindungi mu! Hanya saja anak itu yang terlalu pintar menggunakan senjatanya!" "Kau saja yang terlalu bodoh!" Mereka terus saja berdebat, tanpa melihat posisi Alea yang sudah tidak lagi di tempatnya. Alea menggunakan kesempatan ini untuk mengambil keuntungan, dia bergerak cepat kearah belakang tubuh si penyihir. Tepat seperti dugaannya, penyihir memang memiliki kekuatan yang sangat dahsyat, tapi di sisi lain mereka harus merelakan pertahanan dirinya melemah, harga yang harus di bayar saat mereka mulai memfokuskan pada kekuatan. "Apa kalian sudah selesai?" Mereka terkejut, terlebih si penyihir yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Alea. Alea sudah mengacungkan senjatanya kearah si penyihir, dan sebelum si pria besar melindungi si penyihir. Alea sudah menghadiahi sebuah tembakan di tahun buah si penyihir. Sebuah tembakan sangat kuat berhasil mengenai si penyihir itu, mana yang sudah Alea kumpulkan berhasil membuat sang penyihir tumbang seketika. "Ka-kau!" Si penyihir tak bisa berkata-kata lagi, dia sama sekali tak menyangka jika Alea memiliki senjata dan kemampuan tersembunyi yang membuat dirinya benar-benar tak berdaya. Setelahnya pria itu ambruk ke depan, dan darah mulai keluar dari punggungnya. "Kau tahu?" Alea melangkah mundur, dia berusaha mengumpulkan mana untuk memberi tembakan yang kuat pada serangan berikutnya. "Aku tidak terlalu pandai menggunakan pistol, tapi dari jarak sedekat ini, aku bisa dengan mudah membidik kalian." "K-kau!" Teriak sang tengker dengan wajah marah. "Apa yang sudah kau lakukan pada rekanku?" "Tentu saja aku berusaha membunuh dia, kalian yang mulai menargetkan ku sebagai bahan buruan kalian, maka tidak ada salahnya aku melindungi diri dengan membunuh kalian terlebih dahulu." "Dasar kau b******n!" Alea terkekeh pelan, seperti itulah sifat manusia, disaat mereka sudah melakukan kesalahan, mereka tidak mau berpikir jika apa yang mereka lakukan tentu saja salah. Mereka hanya mementingkan tindakan mereka tanpa berpikir apa imbas dari yang mereka lakukan. Benar-benar, bodoh. Dari semua hal yang Alea benci, adalah manusia yang tidak mau menyadari kesalahannya, dan malah menyalahkan orang lain saat mereka terkena balasannya. "Kau harus membayar untuk semua ini!" "Kenapa harus aku? Aku hanya mencoba membela diri!" Alea bertindak tidak bersalah, dia harus melakukan apa yang sudah mereka lakukan padanya. Bersikap seolah tak bersalah walau jelas mereka bersalah. "Kau sudah membunuh temanku, maka kau harus mati di tangan ku." Alea menyeringai, "sepertinya ini akan sedikit lama. Apa kau sanggup?" [Tentu saja, aku ingin tahu sampai mana pria besar itu akan bertahan.] "Maka tunjukkan saja kemampuanmu pada pria itu." Alea merubah bentuk Augus menjadi pedang kembali. Dia harus menggunakan pedang untuk melawan pria yang memiliki tameng sebagai perisainya ini. Bertarung menggunakan pistol dengan jarak dekat sama saja mematikan langkahnya sendiri. Tanpa menunggu lagi, pria besar itu sudah menerjang dirinya, memberi beberapa serangan yang mampu dihindari oleh Alea, di harus bisa menyerang titik buta dari pria ini jika dirinya ingin memenangkan pertarungan ini. Tidak mungkin jika dia terus bertahan untuk menyerang bagian depan dari pria ini. Terlebih perisai dari pria ini mampu menangkis serangan jenis apapun dengan sangat mudah. Alea melompat mundur untuk menjaga jarak, dia harus bisa menghindari skill yang mengharuskan diri ya menyerang tengker itu dari depan. Lalu setelah berpikir sejenak, Alea langsung menyerang pria besar itu dengan kemampuannya. "Moon Blade dance!" Alea berlari lalu melompat cukup tinggi untuk mengeluarkan skill milik Augus yang bisa dia gunakan untuk saat ini. Dia mengayunkan Augus hingga membuat liga tebasan secara diagonal kearah pria besar itu. Skill yang sangat kuat hingga berhasil membuat sebuah ledakan saat pria itu mencoba menahannya dengan skill miliknya. Serangan Alea mampu di tepis dengan mudah, hanya saja Alea tidak berhenti sampai di sana. Dia langsung menukik kearah, tepat kearah si pria besar itu dan setelahnya dia mengeluarkan skill yang sudah dia tahan sejak tadi. [Typhoon crush!] Alea mengeluarkan sebuah pusaran hitam dari ujung pedang Augus, hingga membuat pria besar itu tidak mampu lagi menahannya. Dia terpental karena pusaran yang Alea ciptakan barusan. "Jangan anggap ini selesai begitu saja!" Alea menyeringai, dia langsung berlari kearah pria besar itu, menyerang dengan beberapa tebasan yang membuat sang tengker yang kokoh itu tak mampu lah bertahan selain menerima serangan Alea secara langsung, tebasan demi tebasan berhasil membuat pria itu terpojok dan tak berdaya. Tubuhnya tersungkur di atas tanah, membuat Alea bisa bernapas lega, dia sudah menggunakan hampir setengah kemampuannya untuk mengeluarkan skill tadi, kini stamina dan mana yang dia miliki hanya tinggal beberapa saja. Beruntung serangan tadi benar-benar berhasil membuat si pria besar itu tersungkur. [Kau terlalu payah, hanya menggunakan beberapa kemampuanku saja kau sudah kelelahan!] "Tidak semudah yang kau pikirkan, sialan! Aku harus menguras mana yang aku miliki hanya untuk mengeluarkan skill terakhir tadi!" [Ck! Kau harus lebih banyak berlatih lagi untuk mengembangkan kemampuanmu itu!] "Lebih baik bicarakan itu nanti. Aku memiliki urusan yang lebih penting sekarang ini." Alea berjalan mendekat, lalu berjongkok tepat di hadap pria itu. "Hey kau. Siapa sebenarnya yang menyuruhmu untuk membunuhku? Apa kau di bayar untuk semua pekerjaan mu ini?" Pria besar itu menarik sudut bibirnya, dia terkekeh pelan di tengah menahan rasa sakit atas serangan yang dia dapatkan tadi. "Kau bertanya pada ku?" "Tentu saja, jika bukan bertanya pada mu, laku dengan siapa aku berbicara? Dengan rekanmu yang sudah mati di sana?" "Ja-jangan ber ... Canda. Lebih baik, ka-kau bunuh saja a-aku!" "Mati? Kau ingin mati semudah itu setelah kau membuatku terpojok dan harus menggunakan kekuatanku agar bisa bertahan dari serangan kalian, dan sekarang kau ingin mati dengan mudah seperti rekan mu tadi?" Alea menggeleng tak percaya. "Sayangnya, kau bertemu dengan orang yang salah, aku tidak sebaik yang kau pikirkan, jika kau tidak mau menjawab, maka kau akan mati menjadi santapan para monster di hutan ini, tapi jika kau mau menjawab pertanyaan ku, maka kau akan mati dengan cepat, aku berjanji tidak akan ada rasa sakit yang kau rasakan di hembusan napas terakhir mu." Karen bagi Alea, sudah tidak ada tempat lagi untuk pria seperti dirinya. Dia memang sepantasnya untuk mati. Entah dengan cara cepat atau cara yang menyakitkan sekalipun. "Bu-bunuh sa ... Ja aku!" Seperti biasa, penjahat memang memiliki pendirian yang sangat tinggi, dia yakin, walau demikian Rinya menyiksa pria itu hingga kehabisan tenaga sekalipun, pria itu tidak akan pernah membuka mulutnya untuk mengatakan siapa yang sudah menyuruh mereka. Perbuatan yang sia-sia jika dia berpikir pria ini akan mengatakan semuanya. "Baiklah, seperti permintaan mu, kau akan mati sebagai santapan para monster di tempat ini." Alea berdiri, sebelum membawa pria besar itu dari tempat ini, dia harus mengamankan semua bukti yang sudah dia lakukan. "Hey, apa kau sudah pernah merasakan energi dari manusia?" [Apa yang kau maksud?] "Aku hanya bertanya, apakah kau pernah merasakan tubuh manusia?" [Lebih baik jangan, jika kau berpikir agar aku menyerap tubuh penyihir itu, lebih baik kau urungkan, jika tidak ingin te jadi hak yang buruk pada dirimu sendiri.] "Kau yakin?" [Tentu saja, aku hanya peduli pada dirimu, jika aku tidak peduli, maka aku akan meminta tubuh manusia itu untuk menjadikan santapanku, hanya saja ada harga yang harus dibayar setelah ego mulai berani menyantap para manusia.] "Apa itu?" [Kendali.] Augus menjawab dengan nada serius, [kau akan hilang kendali, dan berubah menjadi monster yang haus akan darah, aku yakin, aku akan berubah menjadi diriku yang lain, dan membuatmu menjadi monster itu sendiri.] Alea termenung sejenak, apakah ini seperti sebuah kutukan? Saat dirinya melanggar sebuah pantangan, maka dirinya akan menerima sebab dan akibat yang sudah dia lakukan. Sepertinya begitu. Sungguh sangat di sayangkan, padahal dia yakin, dengan menyerap energi dari si penyihir itu, Augus bisa berkembang lebih jauh lagi. Jika itu memang tidak bisa dia lakukan, maka Alea akan mengambil apa yang bisa dia ambil. Seperti weapon dan armor dari si penyihir, dan jangan lupakan cincin penyimpanan milik si penyihir. Alea yakin akan ada banyak barang yang bisa dia jadikan uang di dalam cincin penyimpanan pria ini. telah mendapatkan apa yang dia inginkan, Alea berjalan mendekati di tangker tadi, dia melakukan hal yang sama dengan si penyihir pada di tengker, mengambil weapon dan atribut lainnya yang bisa dia jadi kamu uang, lalu cincin penyimpanan pria itu juga menjadi sasarannya. Perlahan dia meraih kaki sang tengker untuk menyeretnya dari sana. Dia akan membuang pria yang masih dalam kondisi setengah sadar itu, dan memberikannya pada sekumpulan monster yang akan dia temui nanti. Jika dia sudah mengatakan tidak ingin memberi tahu siapa yang menurutnya, maka dia akan menjadi manusia paling keji yang menyiksa korbannya secara langsung. [Apa kau akan menyiksa pria ini?] "Tentu saja, di yang sudah mencari masalah dengan ku, maka jangan salahkan aku jaka dia harus merasakan rasa sakit yang sesungguhnya dari perbuatan yang sudah dia lakukan." [Ternyata kau memiliki sisi gelap yang mengerikan juga, ya? Aku kira kau terlalu polos dan hanya lemah mental, ternyata kau bisa menjadi seorang monster saat ketenangan mu diganggu.] Sebenarnya, Alea tidak ingin melakukan hal sekeji ini, sisi hatinya mengatakan jika apa yang dia lakukan benar-benar keterlaluan. Hanya saja melepaskan orang semacam ini sama saja membiarkan penjahat melakukan kejahatannya kembali. Mereka tidak akan pernah jera, sekali mereka berbuat hal jahat, maka selamanya mereka akan berbuat demikian. Kecanduan terhadap kekerasan memang lebih mengerikan dari semua hak yang pernah Alea temui. Dan untuk menyingkirkan manusia seperti itu, Alea harus membunuh sisi manusianya untuk mengendalikan, agar dirinya tidak termakan oleh sisi lemah yang membiarkan dirinya melepaskan pria jahat ini begitu saja. Manusia harus menjadi jahat untuk menyingkirkan mereka yang jahat. Memang benar, setiap orang berhak memiliki kesempatan kedua untuk berubah, tapi bagi Alea, pria seperti mereka sama sekali tidak akan pernah bisa sadar. Karena sejatinya, mereka adalah manusia yang hanya mengandalkan sisi jahat mereka untuk berkuasa. Jika mereka masih diberi kesempatan untuk bebas, maka yang akan mereka lakukan bukanlah bertobat, melainkan melakukan hal gila lainnya yang membuat kekacauan terjadi banyak orang yang tak bersalah menjadi korban kebiadaban mereka. "Hanya ingin memberi sedikit saja pelajaran kepada mereka yang berusaha mengusikku." [Bukankah, dengan ini sama saja kau kehilangan saksi yang bisa memberimu informasi, siapa pelaku di balik p*********n ini?] Alea terkekeh pelan. "Aku tidak butuh mereka untuk memberi tahukan siapa di balik semua ini, aku yakin, setelah ini, akan ada banyak orang yang datang untuk memburuku." [Dan akan banyak keseruan lain yang akan terjadi.] "Seperti yang kau harapkan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN