Dingon tower 14
Hutan larangan adalah tempat bersemayamnya banyak jenis monster, mulai berbahaya, hingga yang lemah sekalipun. Di sini adalah tempat di mana para monster berkumpul beberapa monster, tempat yang sesuai untuk menaikkan kemampuan dan kekuatan, hanya saja mereka para pemburu terlalu takut untuk masuk ke tempat ini selain berbahaya, di tempat ini juga tersimpan banyak makhluk yang benar-benar ganas, bahkan makhluk mitos sekalipun.
Sudah beberapa kali monster yang ditemui oleh Alea saat dirinya melangkah terlalu dalam ke tempat ini, seperti sekarang dirinya masih membiarkan Augus melahap mayat Desmosedici, salah satu monster yang ada di hutan ini, tubuhnya besar bagaikan beruang, hanya saja dia lebih ganas dengan level yang lebih tinggi dari para monster lainnya.
"Bagaimana?" Tanya Alea, dia baru saja meminum potion, ramuan penyembuh yang dibawakan oleh Brain sebelum dirinya datang ke tempat ini.
[Lumayan, walau tidak sehebat inti core, tapi lumayan, energinya masih bisa memberiku sedikit kekuatan dan menahan sedikit rasa lapar di dalam perut ku.]
"Kau yakin? Bahkan sudah begitu banyak monster yang kau lahap sejak kita menginjak tempat ini."
[Masih kurang.] Jawab Augus dengan santai.
[Semakin tinggi level yang aku dapatkan, maka semakin banyak energi yang harus aku konsumsi untuk bisa terus berkembang dan naik level.]
"Cih, kau hanya memikirkan kekuatanku saja. Tanpa peduli bagaimana cara agar aku bisa terbebas dari kutukan sialan ini."
[Kenapa tidak? Semakin aku kuat, semakin berguna juga aku untukmu.]
"Lagi-lagi kau mengatakan sesuatu yang benar, apakah kau tidak ingin memiliki tujuan lain?"
[Untuk apa? Aku di sini karena takdir, aku bisa bersamamu karena keinginanmu dan kegigihanmu yang benar-benar kuat, bahkan dari tempat ini aku bisa merasakan bagaimana kuatnya keinginanmu untuk memberikan sebuah tempat untuk orang-orang yang menurutmu penting.]
"Hanya itu?" Tanya Alea tak percaya, bahkan untuk seukuran makhluk yang tak memiliki wujud dan hanya mengikuti keinginannya untuk mendapatkan wujud itu.
[Tentu saja, jangan samakan aku seperti monster rendahan di sana, aku tidak sama seperti mereka, aku memiliki jiwa, jiwa seorang kesatria yang terkurung dalam sebuah kenangan dan ambisi yang membuatku masih bertahan di tempat ini.]
"Ambisi?" Alea terbengong seketika
[Ck, kau terlalu banyak bertanya, itu masalah pribadiku, dan kau tak seharusnya untuk tahu.]
"Terserah kau saja." Desis Alea pelan, dia beranjak dari sana dan mulai menyusuri hutan yang kian rindang dengan banyak tanaman serta pepohonan yang tumbang di sana. Beberapa saat dia berhenti untuk mengumpulkan tanaman yang bisa dijual dengan harga mahal, lalu mengumpulkan bahan material yang dia rasa bisa digunakan untuk membuat potion dan ramuan untuk penyembuhan diri serta penyembuh stamina yang terkuras tiap kali dirinya bertarung nanti.
Hingga dirinya sampai di sebuah lembah, tidak ada rerumputan yang tumbuh di sana, pohong pun tidak ada, hanya lembah safana dengan beberapa tumbuhan yang benar-benar berharga dengan semua ini.
"Tempat ini benar-benar luar biasa." Ucapnya dengan decak takjub saat melihat hamparan bunga yang benar-benar langka di pasaran.
[Kenapa?]
"Tidak, ada, aku hanya melihat ada banyak uang di tempat ini, seolah di tepat ini adalah ladang uang yang bisa membuatku kaya dan kuat di saat yang bersamaan."
[Uang?]
"Kau tidak perlu tahu, cukup diam dan terima saja hasilnya nanti." Ujarnya, lalu dia mulai memetik beberapa bunga dan tumbuhan yang ada di lembah itu, lalu mengumpulkan beberapa tumbuhan langka dan menyimpannya dengan rapih, seolah barang itu benar-benar harus dia lindungi dengan segenap hatinya.
"Ada begitu banyak sumber uang di tempat ini, dan saat kita kembali nanti, kau akan mendapatkan beberapa inti core yang kau sukai itu, dan setelah kau tumbuh kuat, maka kita akan segera berjalan dan menaklukkan lantai tiga yang belum pernah sekalipun berhasil di taklukan oleh siapapun di lantai ini."
[Kau terlalu besar dengan ambisi yang kau miliki itu.]
"Apa kau keberatan?" Tanya Lubis pelan.
[Tentu saja tidak, aku malah menyukainya, kau mengingatkanku pada seseorang yang memiliki ambisi yang sama sepertimu.]
"Itu lebih baik." Ucap, karena dia harus bisa menyelesaikan seluruh lantai yang ada menara ini jika dia ingin memiliki sebuah tempat yang layak untuk orang-orang yang membutuhkan.
Dunia di luar menara sama sekali tidak layak untuk dihuni lagi, ada begitu banyak tempat yang hancur dengan polusi yang sudah menumpuk selayaknya oksigen, bahkan polusi di luar menara lebih berbahaya dan lebih mematikan untuk banyak orang.
Tepat di saat dirinya tengah mengumpulkan tumbuhan dan bunga langka, Alea tidak menyadari jika dirinya tengah dipantau dan diawasi oleh sosok yang tak terlihat, bahkan keberadaanya saja tidak di sadari oleh mereka.
Sosok itu sudah mengawasi dirinya sejak Alea Menginjakkan kakinya di lembah ini, dan tepat saat itu kehadiran dirinya sudah menjadi target sasaran sosok itu.
Dan ketika Alea lengah saat sibuk mengumpulkan tumbuhan. Dia tidak menyadari jika ada monster yang menyerangnya secara tiba-tiba.
[AWAS!] pekik Augus yang merasakan bahaya dari belakang tubuh Alea. Spontan saja Alea melompat dan menggelindingkan tubuhnya kesamping untuk menghindari serangan dari monster itu.
Alea mengambil ancang-ancang dan segera melompat mundur beberapa langkah, dia mendongak, menatap monster di hadapannya yang terlibat dua kali lebih besar dari Monster tadi. Monster yang menyerupai tumbuhan yang memiliki kelopak bunga selayaknya mulut dan beberapa daun serta sulur yang menyerupai cambuk.
"Sialan!"
[Kau tidak apa-apa?] Tanya Augus seketika.
"Aku baik-baik saja." Ucap Alea pelan, dia memandang monster yang ada di hadapannya, lalu mengambil Augus dan merubah ke bentuk pedang, senjata andalannya selama ini.
"Kita akan sedikit bersenang-senang sebelum memanen uang sebanyak ini." Desis Alea pelan.
"Apa kau siap?"
[Tentu saja, aku juga sudah mulai lapar.]
"Perut saja yang kau pikirkan!" Dengkus Alea lalu setelahnya dia melesat, berlari dan menghindari setiap serangan cambuk tumbuhan dari monster di hadapannya.
[Di belakang!]
Seperti biasa, Augus selalu saja menjadi mata yang tak bisa dijangkau oleh Alea, bahkan saat serangan dari belakang mengarah kepadanya, dia bisa mengatasinya dengan mudah. Bahkan Alea mampu merubah Augus dengan reflek yang sangat cepat dan mampu menghalau serangan itu.
Alea mundur beberapa langkah, lalu melihat k adaan di sekitarnya dan mempelajari situasinya dengan tenang.
Suasana terlihat mencekam. Monster itu mulai menyerang dengan gerakan yang semakin cepat, membuat Alea kesulitan untuk menghindar.
Dia berusaha menggunakan kemampuan Augus untuk mendapatkan kekuatan, seperti biasa setiap kali dirinya mengaktifkan Augus, statistik kekuatannya bertambah berkali-kali lebih kuat, semakin kuat Augus maka dirinyapun akan semakin kuat untuk itu.
"Jangan meremehkanku, sialan!" Desis Alea, dia berlari lalu melompat untuk menghindari serangan cambuk yang tertuju kearahnya, berkali-kali seperti itu hingga membuat Alea tak bisa mendekati monster itu karenanya.
[Cobalah untuk lebih cepat, bodoh. Kau terlalu lambat.]
"Diamlah, aku sedang berusaha untuk itu!" Desis Alea seketika.
Dia mulai memperhatikan dan mempelajari pola serangan dari monster tumbuhan itu, melihat bagaimana cambuk itu menyerang dirinya. Dan apa saka kemampuan yang dimiliki oleh Monster sialan itu.
"Tidak ada cara lain, aku akan menggunakan itu."
[Lagi?] Tanya Augus seketika.
"Karena tidak ada celah lagi untuk kita masuk ke sana, aku hanya bisa menggunakanmu itu untuk bisa menyerang dari jarak sejauh ini."
[Tapi aku tidak yakin, pertahanan monster itu terlihat sangat kuat untuk seukuran monster seperti dirinya.]
Itu dia yang mengganjal pikiran Alea, dia berharap jika pertahanan monster itu tidak seperti yang ditakutkan oleh Alea, terlebih saat bagaimana dia berusaha memberi serangan demi serangan kepada monster sialan ini. Daun dan selur dari monster itu benar-benar bergerak sangat elastis dan sulit untuk di halau oleh dirinya. Terlebih pergerakan dari monster itu benar-benar sangat cepat, dan dia butuh mencari sedikit celah agar bisa menyerangnya.
"Tidak ada salahnya untuk mencoba."
[Dan aku tidak akan bertanggung jawab atas kegagalan yang terjadi jika kau lengah!]
"Aku tidak akan seceroboh itu, kau tenang saja."
Alea cukup yakin, jika hanya mengambil kesimpulan saja tanpa bertindak, maka dia hanya bisa menerka tanpa mengetahui hasil akhirnya, apapun hasilnya nanti, dia akan menerimanya.
"Bersiaplah." Alea merubah Augus menjadi bentuk pistol, setelahnya dia berlari, mencari celah sembari menghindari setiap serangan cambuk dari monster itu.
[Lebih cepat!]
"Aku tahu!" Desis Alea, dia berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya, berlari sembari menghindar dan mendidik untuk mencari celah benar-benar sangat sulit, dia harus berusaha dengan sekuat tenaga hanya untuk bisa melakukan itu.
Staminanya bahkan terkuras begitu cepat dan membuat dirinya harus mengkonsumsi ramuan penambah stamina lagi.
"Sial! Ini terlalu sulit!"
[Bisik saja dan tembak! Jika kau hanya berlari kau tidak akan tahu, kita sudah setengah jalan, dan cepatlah!]
"Aku sedang berusaha sialan, kau diam dan tunggu saja!" Desis Alea, dia berusaha untuk mencari kesempatan terbuka, dan mencari titik lemah, bahkan saat ada celah sedikit saja dari monster itu, Alea langsung mengangkat pistol di tangannya, membidik celah itu dan tak lama setelahnya dia menembak peluru mana itu dengan cepat.
"Keeakkk!" Teriak monster itu yang baru saja terkena tembakan dari Alea, tubuhnya limbung dan hampir saja ambruk. Alea tak tinggal diam, selagi monster itu berhenti menyerangnya, disitulah kesempatan untuk dirinya, dia harus memanfaatkan keadaan ini untuk memberi serangan balasan, sebelum sulur itu kembali aktif dan menyerang serta melindungi tubuh monster itu.
Alea berlari dengan cepat, merubah Augus menjadi pedang besar, lalu melompat tinggi dan mengeluarkan jurusnya untuk memberi serangan terkuatnya.
"Aku akhiri sekarang!" Teriak Alea dengan mempertaruhkan seluruh kekuatannya pada serangan itu.
"Moon Blade dance!"
Dan setelahnya tiga tebasan bayangan hitam membentuk horizontal keluar dan memberikan serangan yang sangat kuat, setengah mananya dia pertaruhkan di sini, dan saat itu juga ledakan yang cukup besar terjadi, dan membuat Alea bisa tersenyum senang.
"Apakah berhasil?" Tanya Alea pelan.
[Sepertinya begitu!]
"Tapi aku tidak terlalu yakin untuk itu!" Alea masih bisa merasakan hawa keberadaan dari monster itu, untuk berjaga-jaga dia mengeluarkan potion dari ruang penyimpanannya lalu lalu menenggaknya hingga tandas. Dan memulihkan kembali stamina serta health poin miliknya.
Setelahnya Alea melompat mundur memperhatikan monster itu hingga kabut adat itu menghilang, setelahnya dia bisa melihat bagaimana kondisi monster tumbuhan itu.
"Sepertinya monster itu terlalu lemah dengan serangan api."
[Terlalu mudah untuk mengalahkannya.]
"Mudah katamu?" Tanya Alea pelan. "Kau pikir harus berapa lama aku mengalahkannya, dan berapa potion yang harus ku minum agar aku bisa bertahan?"
[Itu karena kau terlalu lemah, andai saja kau bisa bertambah kuat sedikit saj-]
"Aku akan berusaha untuk itu, maaf saja jika seandainya aku memang lemah." Ucap Alea memotong kalimat Augus yang membuat dirinya selalu merasa rendah, padahal Alea sudah berusaha untuk tumbuh dan berkembang, walau tidak ada kemungkinan yang dia miliki, tapi setidaknnya dia sudah berusaha untuk itu.
Dia memang lemah, sangat lemah bahkan, sampai dirinya saja tak mau untuk memberi kontribusi lebih pada para pemburu lain, itulah alasan kenapa dia bisa bertahan sampai sekarang, dengan semangat dan harapan itu dia berusaha memegang janjinya untuk terus tumbuh dan berjuang.
[Oh ayolah ... ku hanya be canda tadi!] Ucap Augus yang merasa tidak enak karena ucapannya tadi.
Alea menggeleng pelan, dia melangkah dengan langkah tegap kearah monster tadi, seperti biasa, untuk bisa bertahan dan bertambah kuat, dia harus memangsa siapapun lawan yang sudah dia kalahkan, dengan itu dia bisa terus berkembang, walau sejatinya hanya Augus saja yang berkembang, sedangkan dirinya tidak.
"Kau lapar kan?" Tanya Alea pelan saat melihat monster di hadapannya.
Alea terlihat berbeda, tatapannya begitu dingin, bahkan saat dirinya menebas monster itu seolah tak memiliki emosi, dia harus segera menyelesaikannya dan menyerap tubuh monster itu agar bisa bertambah kuat.
"Krasak!"
"Splash!"
"Keak!" Monster itu berteriak kesakitan. Seperti hukum alam, yang kuat dialah yang mampu bertahan. Alea kuat dengan Augus di sisinya, maka dia berhak untuk untuk melahap monster buruannya.
Setelahnya Alea melompat keatas tubuh monster yang kini berusaha menyerang Alea dengan sisa kekuatannya, sayangnya serangan monster itu masih bisa di tangkis boleh Alea, dia berjalan dan melihat kepala monster itu, dengan tatapan dingin alea melarikan Augus dan menebas kelopak bunga dai monster itu, dan seketika itu juga monster itu mati.
"Sekarang kau akan kenyang untuk sementara, dan setelah ini kita akan mencari banyak monster agar kau bisa terus berkembang dan naik level, agar kau bertambah kuat dan aku akan mendapat keuntungan itu."
Augus tak menjawab, dia hanya diam karena aura dan detak dari Alea benar-benar berbeda dari biasanya. Dia jelas marah, mungkin Alea merasa terhina dengan ucapannya tadi, bahkan saat Alea menusuk pedangnya ke arah tubuh monster itu, Alea sama sekali tidak meminta izin atau berbasa-basi dulu, dia langsung pada intinya, bahkan proses penyerapan itu terjadi karena keinginan Alea sendiri, bukan keinginannya seperti biasanya.
Agus terdiam, bahkan Alea saja tidak peduli dengan itu, tepat setelah notifikasi sistem muncul dan memberi tahu juga Augus sudah naik level, dia mendengkus pelan, masih banyak yang harus dia lalui jika dia ingin bertambah kuat.
Tubuh monster itu sudah selesai diserap oleh Augus, dan meninggalkan inti kristal yang cukup besar di sana. Dia berjalan mendekat mengambil inti kristal itu dan menyimpannya, dia tidak minat lagi untuk mengumpulkan tumbuhan dan bunga langka, yang dia lakukan hanya menandai tempat ini untuk suatu saat dia bisa datang ke tempat ini dan mengambil bahan yang dia butuhkan.
Setelahnya, Alea mendongak, dia harus segera berburu, tidak ada waktu lagi untuk bersantai, dia akan menghabiskan waktunya untuk fokus menaikan level Augus dan membantai apapun yang dia temui nanti.