Setiap orang pasti memiliki sisi buruk dan pengalaman buruk mereka masing-masing, ada yang menjadikan pengalaman buruk itu sebagai pelajaran hidup, ada pula yang menjadikan sisi buruk itu sebagai ajang untuk menunjukkan betapa mengerikannya mereka.
Menunjukan betapa kuatnya kekuatan yang mereka dapat dan menggunakan kekuatan itu untuk menindas orang lain yang menurut mereka lemah.
Alea tidak jarang menjadi bahan tindasan mereka, menjadi bahan pijakan dan bulan-bulanan untuk melampiaskan sesuatu yang seharusnya tidak pantas, semua pernah dia alami, menjadi buruh tambang dan pembersih Raid sudah pernah dia alami. Bahkan menjadi umpan dan tumbal untuk keberhasilan sebuah p*********n bos monster pun sudah pernah dia alami.
Pahit manis dalam hidup, walau hampir 80% terisi dengan pengalaman pahit, menjadikan dirinya sosok yang tegar tangguh, dan memiliki daya tahan tubuh yang kuat.
Dia tidak memiliki skill ataupun kemampuan yang hebat seperti para pemburu lainnya, dia terjebak dalam sebuah level rendah yang menjadikan dirinya sebagai orang paling lemah dalam setiap kelompok p*********n.
Keberadaanya hanyalah sebagai bualan dan bahan tertawaan orang banyak, pemburu yang lemah sekalipun menjadikan dirinya sebagai bahan cemooh untuk menutupi kekurangan dan fakta jika dia memanglah lemah. Alea tak mengapa, karena dengan itu semua, dia mampu menempa mental dan fisik yang berguna dengan satu tujuan yang ingin dia capai.
Hanya saja, setiap kali ada orang yang terus menganggap dirinya lemah, Alea tetap memiliki sisi buruk dan lemah dalam dirinya, dia bisa terpuruk dan merasa minder dengan keadaan yang ada. Dia memang lemah, kenyataan itu tak pernah dia sangkal, tapi apakah dengan mencemooh dirinya lemah, bisa membuat dia bertambah kuat, yang ada malah membuat dirinya makin terpuruk dan seolah tak memiliki kesempatan untuk bertahan.
Mental menjadi bahan pertanyaan itu. Setiap orang tentu saja memiliki daya mental yang berbeda-beda, dan untuk Alea, dia sendiri beruntung karena dia tidak gila hanya karena mentalnya yang terus saja di hajar tanah ampun oleh banyak orang. Menertawakan atas lemahnya dirinya.
Padahal begitu banyak orang yang berkembang dengan kemampuan yang mereka miliki, mendapat hak atas kerja keras dan usaha mereka untuk membantu sebuah p*********n, sedangkan dirinya?
Jika bukan karena Felix yang begitu rendah hati dan memberi dirinya sedikit tunjangan dan uang lebih, sepertinya dia tidak akan bisa bertahan hingga saat ini.
Terlantar dan terlempar keluar dari menara ini mungkin menjadi salah satu jalan terakhirnya.
Untuk apa? Dirinya jelas saja lemah, bertarung melawan monster tingkat terendah dan untuk pemula saja dia tidak mampu, bahkan harus membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mengalahkan satu goblin saja.
Sungguh menyedihkan bukan?
Jika bukan karena Serikat flame red dragon sepertinya dia tidak akan digunakan oleh pemburu lain. Maka dari itu, saat dirinya mendapat sebuah kekuatan dan harapan baru, hanya Felix satu-satunya orang yang bisa dia percaya, hanya orang itulah dirinya bisa berlindung dan mengabdikan diri. Jika bukan karena jasa mereka, mungkin dirinya bukan apa-apa sekarang. Hanya orang bodoh yang selalu menjadi bahan umpan dan bahan cemooh banyak orang.
Begitulah hidup, terlebih saat dirinya hidup di menara yang berisi dengan hukum kekuatan, di mana yang kuat bisa berkuasa dan yang lemah hanya menjadi b***k.
Sungguh disayangkan, andai saja Alea memiliki kekuatan sejak awal, dia yakin jika dirinya mampu merubah keadaan ini. Namun sayangnya, dia bukanlah siapa-siapa, hanya kerikil kecil yang menjadi penghalang jalan mereka.
Dengan napas terengah, kilasan masa lalu itu kembali hadir di dalam kepalanya, dia menatap beberapa monster yang tergeletak di atas tanah tak berdaya, melihat satu persatu monster yang baru saja dia kalahkan.
Alea memang lemah, tapi dalam segi stamina dan pengalaman, dia adalah yang terbaik, dia sudah terlatih menjadi lemah sejak awal, membentuk tubuhnya menjadi kokoh dan tak mudah lelah walau harus menghadapi banyak monster sekalipun, walau kali ini jelas berbeda, kini dia memiliki Augus, dan berkah dewa yang benar-benar membuat dirinya menjadi seorang player yang luar biasa.
Dia berdiri tegap, lalu mendongak dan menatap langit-langit yang mulai menggelap, sebelum gerimis datang dan menerjang tubuhnya. Dia terdiam sejenak, merasakan terpaan air yang membasahi wajahnya. Rintik air yang seolah berhasil menghilangkan rasa lelah dalam dirinya setelah melawan puluhan lizardman yang memiliki kekuatan tiga kali lebih kuat dari para goblin.
Walau masih terbilang monster lemah, tapi tetap saja, melawan puluhan monster sama saja dengan melawan satu monster yang sangat kuat, bahkan lebih mudah melawan satu monster yang bisa dia atasi dengan mudah ketimbang puluhan monster itu.
Alea masih terdiam sejak tadi, pun dengan Augus, mereka hanya bertarung dengan mengikuti alur dan permainan dari Alea, bahkan saat Alea merubah Augus menjadi sebuah pisau belati saja, Augus tidak protes sama sekali, pun saat Alea merubah Augus menjadi pistol dan menggunakan mana Augus cukup banyak, dia tidak membuka suara sama sekali.
Terlebih setelah pertarungan Alea selalu saja memberi dirinya potion dan beberapa mayat monster yang mampu dia serap untuk menggantikan mana yang terbuang tadi.
Alea menghela napas pelan, dia melihat sekelilingnya dan masih berusaha untuk mengumpulkan tenaganya kembali, Augus masih dalam bentuk sebuah pedang besar yang dia seret saat dirinya berjalan, satu persatu dan dengan perlahan dia membiarkan Augus melahap semua mosnter yang sudah dia kalahkan, sembari mengumpulkan kristal inti dari para lizardman yang sudah dia kalahkan tadi.
Beberapa penyerapan monster membuat Augus naik level yang membuat statistiknya naik dengan drastis, Augus bertambah kuat, pun dengan dirinya, walau kekuatan itu sejatinya milik Augus, tapi dia bisa mendapatkan timbal balik dari keberadaan Augus itu.
[Maaf....] Ucap Augus dengan suara yang mampu memecahkan keheningan yang ada.
Alea tak menjawab, sedangkan Augus terlihat ragu untuk perkataan maafnya.
[Maaf karena sudah mengataimu lemah, aku tidak bermaksud untuk itu.] Suaranya pelan dan terbata, terlihat kaku dan tentu saja lucu, untuk sesosok Augus yang biasanya melontarkan kata-k********r dan congkak, bisa meminta maaf adalah sesuatu hal yang luar biasa.
Tentu saja, perkataan maaf memang terdengar sangat sederhana dan mudah untuk diucapkan, tapi untuk orang yang memiliki sejuta gengsi dan rasa congkak dalam dirinya, kata maaf adalah sebuah kata yang sangat sulit untuk mereka ucapkan. Dan Augus adalah salah satu dari sekian banyak orang dengan gaya gengsi saat meminta maaf.
[Kau tahu, aku akan menarik kata-kataku karena nyatanya kau sama sekali tidak lemah.]
"Aku tahu...." Jawab Alea pelan, sejak awal dia tidak marah, bahkan dia sama sekali tidak memikirkan perkataan Augus, dia hanya berkaca diri dan kembali merenung untuk bisa memacu semangatnya kembali. Merenung tentu saja berbeda dengan marah. Dia hanya perlu memutar kilasan dan bayangan pahit yang pernah dia alami untuk memompa semangat juang dalam dirinya.
"Aku memang lemah, tapi aku masih bisa berusaha untuk membuktikan diri jika aku bisa bertahan dan pantas untuk menjadi pemilikmu."
Augus terkekeh pelan saat mendengar kalimat Alea, yah... itulah Alea yang dia kenal, Alea yang sejatinya adalah orang yang memiliki semangat juang tinggi, walau ada sisi gelap dan buruk dalam dirinya. Namun itu tak membuat dirinya terlihat jahat, justru itu adalah pacuan dalam dirinya untuk bisa terus berkembang.
[Kau sudah lebih dari pantas untuk itu.] Ucap augus pelan. [Kau tahu, bahkan di saat level mu masih rendah seperti sekarang, kau mampu mengeluarkan setengah dari kemampuanku. Aku tak bisa membayangkan, jika kau bisa melampaui level yang kau miliki sekarang, sekuat apa dirimu saat menggunakan diriku?]
"Aku tidak terlalu berharap untuk itu, aku hanya akan fokus menaikan level dan kekuatanmu, aku akan memberikan semua yang kau inginkan agar kau bisa terus tumbuh dan mampu membantuku untuk menyelesaikan menara ini."
[Tentu saja, tanpa kau minta sekalipun aku akan memberikan seluruh kekuatanku, karena kita adalah partner yang sudah terikat sebuah kontrak.]
Alea mengangguk pelan, dirinya yang sekarang tentu saja sangat berbeda dengan dirinya yang dulu, dua sudah memiliki Augus sekarang, dan dengan kekuatan ini, dia akan mencapai titik balik yang luar biasa, menjadikan dirinya sebagai petualang yang benar-benar pantas untuk membuka jalan dan menjadi penyerang garis depan yang akan dia lalui seorang diri.
"Seharusnya aku berterima kasih, karena keberadaannya benar-benar sangat berguna untukku."
[Tidak usah terlalu formal, aku ada karena dewa yang memberi berkah padamu, maka berterima kasihlah padanya.]
"Aku tahu itu." Alea mengangguk pelan, tak urung dia berjalan meninggalkan lokasi itu saat dirinya telah selesai mengumpulkan inti kristal.
"Kita akan berburu sedikit lebih lama lagi, sampai kita benar-benar kehabisan potion dan sampai kau bisa naik beberapa level lagi."
[Terserah kau saja, aku akan ikut kemanapun kau membawaku.]
"Yosh! Baiklah mari kita berburu dan membuatmu semakin kuat, setelah itu kita akan mencoba masuk ke Raid boss lantai ini dan mencoba sesuatu yang baru."
[Apa kau memikirkan sebuah rencana?]
"Tidak, aku hanya ingin mencoba seberapa kuat dirimu sekarang."
[Aku sudah terlahir kuat, dan kau adalah orang yang pantas untuk menggunakan kekuatanku itu, bersama kita saling melengkapi.]
"Aku berharap banyak akan hal itu."
Alea begitu berharap jika dirinya bisa mendapatkan sebuah hasil dari perjalanan ini, setidaknya dia membutuhkan sebuah kekuatan dan bos tersembunyi untuk mendapatkan material langka serta perlengkapan dan persenjataan yang bagus, dia butuh sebuah keberuntungan lebih untuk menaklukkan tempat ini, setidaknya dia sudah berhasil mengalahkan dua orang pemburu dan mendapatkan senjata yang mereka miliki.
"Entah kenapa aku malah berharap bisa mendapatkan sesuatu yang berguna di tempat ini."
[Jangan terlalu berharap.]
"Setidaknya itu bisa membuatku lebih bersemangat untuk melakukan perjalanan ini."
[Nikmati saja apa yang ada, mungkin kau akan mendapatkannya nanti.]
Alea terdiam sejenak, Augus masih ada di genggamannya, sebelum akhirnya dia memilih untuk merubah bentuk Augus menjadi sebuah cincin karena itu lebih berguna, dia bisa membentuk Augus menjadi senjata apapun itu dengan sangat mudah nantinya.
"Kita akan melanjutkan."
Dia berpikir jika hanya diam tidak akan menghasilkan apa-apa, untuk itu walau berat dan lelah sudah dia rasakan. Alea harus bertahan lebih lama lagi dan harus berusaha menjadi kuat dalam waktu dekat, walau semua usahanya tidak akan membuahkan hasil, dia berpikir itu lebih baik dari pada tidak sama sekali.
Perjalanan kali ini adalah perjalanan awal untuk mengetahui seberapa jauh dia bisa bertahan. Apalagi tempat ini adalah hutan larangan yang belum pernah di sentuh oleh banyak pemburu.
Pepohonan yang memiliki ukuran yang sangat besar adalah sebuah halangan yang harus dia atasi, bahkan monster yang tidak terduga seperti lizardman dan juga beberapa monster kecil seperti goblin, orc dan banyak lagi harus menjadi penghambat perjalanan kali ini.
Krasss!
Hosh hosh hosh!
Napas terengah dengan pedang yang bergetar di tangannya menunjukkan jika dia sudah sampai di titik akhir hari ini, dia sudah kehabisan stamina, walau sudah mengonsumsi beberapa potion dan menyantap persediaan yang dia bawa, tetap saja Alea sudah mencapai batasnya.
Bahkan setelah dia berhasil mengalahkan orc yang terakhir dia langsung jatuh terduduk di atas tanah dengan napas yang terengah.
[Kita akhiri saja hari ini. Lebih baik cari tempat untuk beristirahat untuk malam ini.]
"Tidak, kita masih harus berjalan!"
[Dengarkan saja perkataan ku, kau hanya akan mati jika melanjutkan perjalanan ini.]
Sejenak Alea terdiam. Apa yang dikatakan Augus benar, jika dia melanjutkan perjalanan dengan kondisi seperti sekarang. Maka dia hanya akan menyerahkan nyawanya secara cuma-cuma.
Dia mengedarkan pandangannya, melihat seluruh hutan di sekitarnya, tapi sayangnya tempat ini sepertinya tidak cocok untuk menghabiskan malam di lokasi seperti sekarang, ada begitu banyak bahaya yang mengintai.
"Kita akan berjalan sedikit lagi. Di sini tidak ada tempat untuk kita beristirahat."
[Terserah padamu!]
Alea mengangguk. Lalu setelahnya dia mulai berjalan. Dengan tubuh lelah dan juga mana yang tersisa sedikit, dia tidak bisa berbuat banyak, hanya berharap jika di perjalanan ini dia tidak akan menemukan monster lainnya.
Hingga dua jam berlalu, dan kini Alea bisa melihat sebuah tempat yang sepertinya bisa dia gunakan untuk menjadi tempat berlindung, di ujung perjalanannya ini, dia bisa melihat sebuah gua yang cukup besar, tapi dia tidak yakin apa yang ada di dalam sana. Untuk itu, Alea memilih untuk membuat perapian tak jauh dari gua. Berharap pagi segera datang dan staminanya segera pulih, karena jika hal itu sudah cukup, maka Alea hanya tinggal menyusuri tempat itu dan melihat apa yang ada di dalamnya.
"Kita beristirahat di tempat ini, dan besok sepertinya kita akan masuk dan melihat sejauh apa gua yang ada di sana."
[Terserah, aku akan tidur. Karena aku sudah lelah.]
"Tidurlah aku akan berjaga."
Augus tak menjawab, dan itu berarti dia sudah benar-benar terlelap di sana, hari semakin larut. Dan letih membuat Alea terlelap tanpa sadar.