[Hey! Sampai kapan kau akan tertidur! Ini sudah pagi!]
Suara dan getaran yang ada di jarinya membuat Alea mengerjakan matanya pelan, dia berusaha mendapatkan kesadarannya ketika Augus membangunkan dirinya, hari sudah berganti. Walau pagi ini tertutup kabut yang cukup tebal, tapi Alea bisa merasakan jika di sekitarnya ada beberapa monster yang mengepung dirinya.
Walau dengan tidak kesiapannya, Alea segera merubah Augus menjadi sebuah pedang. Staminanya sudah pulih sekarang dan dia sudah mendapatkan tidur yang cukup. Maka tidak ada alasan lagi untuk dirinya kalah.
"Kenapa kau tidak membangunkan ku!" Dengkus Alea ketika dia sadar setidaknya ada lebih dari sepuluh monster yang mengepung dirinya.
[Mereka hanya serigala kecil yang tidak berbahaya, kau bisa menebas mereka dengan mudah.]
[Serigala tetaplah monster. Mereka bisa menyerangku kapan saja."
[Sudahlah! Setidaknya karena keberadaan mereka kau akan dari monster lainnya.]
Alea benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan boleh Augus, bisa-bisanya dia membiarkan Alea berada di ambang kematian dan membiarkan dirinya lengah walau hanya menghadap monster kecil seperti itu.
"Terserah kau saja!"
Alea masih berusaha untuk mendapatkan fokus dan konsentrasinya, sebelum akhirnya salah satu dari sekian banyak serigala itu menyerang dirinya, Alea dengan insting yang sudah terasa bisa dengan mudah melenyapkan monster itu dengan mudah, bahkan dengan sekali tebas saja dia bisa membelah tubuh serigala yang menyerang dirinya.
[Sudah ku katakan bukan, mereka terlalu lemah untuk kau hadapi.]
Mengabaikan ucapan Augus, Alea segera mengambil langkah, dia tidak ingin menjadi bahan. Santapan dari para serigala itu. Maka dengan sangat mudah dia mengambil langkah dan melakukan serangan yang cepat untuk menghabisi semua serigala yang ada.
Tapi sayangnya, satu serigala terakhir sepertinya memiliki kemampuan yang lebih hebat dari para serigala lainnya. Bahkan serigala itu mampu menangkap tebasan Alea dengan giginya dan menatapnya dengan tatapan tajam yang begitu berbahaya.
[Sialan! Aku tidak menyangka jika serigala terakhir memiliki kekuatan seperti ini!]
Alea tidak menjawab, dia masih berpikir untuk mencari cara membunuh serigala itu dengan tangannya sendiri, tapi sebanyak apapun dia melakukan serangan dengan tebasan, serigala itu mampu menghalau serangannya dan membatalkan kemampuan yang dia berikan.
[Ubah aku!]
Alea melompat mundur, mencari satu titik untuk menjaga jarak dari jangkauan serangan serigala. Dia memegang erat Augus, menatap sepasang mata nyalang milik serigala dengan senyum kecil.di wajahnya.
"Belum saatnya." Ucap Alea, dia segera mengangkat Augus, lalu sedetik kemudian dia mulai berlari dengan memanfaatkan pepohonan yang ada, dia berusaha mendapatkan peluang bagus untuk melancarkan serangannya.
"Kau terlalu terburu-buru jika menghadapi serigala sepeti itu saja harus membuang banyak mana mu."
Alea terus berlari, melompat dari satu pohon ke pohon berikutnya, lalu dia juga menggunakan pohon itu untuk menghalau serangan dari serigala yang lambat lain membuat sang serigala murka. Aura yang dipancarkan benar-benar kuat bahkan membuat sepasang kaki Alea bergetar di bawah sana.
[Tidak ada waktu lagi! Dia benar-benar ingin mengakhiri pertarungan ini!]
Mendengar itu Alea tersenyum, dia mengintip dari sudut batang pohon dan melihat bagaimana aura serigala itu. Tatapannya benar-benar tajam dan hal itu mampu memacu adrenalin dalam diri Alea.
"Jangan pikir aku takut jika hanya berhadapan dengan Monster sepeti itu." Alea mengeratkan genggamannya, sebelum dia melanjutkan kalimatnya. "Memang kau pikir berapa banyak pertarungan yang aku lalui sebelum ini?"
Kali ini Augus yang terdiam, dia melupakan hal penting dari setiap pertarungan yang ada. Alea adalah pria yang bisa dengan mudah berkembang dari setiap pertarungan yang dia lalui, semakin banyak pertarungan yang dia menangkan, maka akan semakin banyak pengalaman yang dia dapatkan, dan dari pengalaman itu, Alea mampu menempa keterampilannya dan karena hal itu juga Alea bisa berkembang seperti sekarang.
[Haha sialan kau! Aku bahkan sampai lupa kalau kau memiliki mental yang bukan hanya sebuah pajangan!]
"Jadi kau percaya padaku sekarang?"
[Aku selalu percaya padamu, partner!]
Alea tersenyum saat itu juga, bahkan ketika serigala yang kini berubah menjadi hitam dengan corak ungu menyerang dirinya dengan brutal, dia bisa mengambil kesempatan itu untuk bertahan, dia segera menghindar, memanfaatkan pohon tempatnya bersembunyi tadi, dan setelah lengah, dia segera menebaskan Augus dan membuat serigala terluka di bagian punggungnya.
Sekali lagi Alea tersenyum melihat hal itu. Ini bukanlah sebuah akhir, melainkan permulaan dari permainan yang akan dia mainkan.
Dia segera mengambil posisi, memanfaatkan keuntungan dari bonus yang dia dapatkan saat menggunakan Augus, lalu dengan kecepatan yang bertambah, dia segera melesat, dan melakukan sebuah serangan cepat dengan dua tebasan yang kini mampu memotong serigala itu menjadi empat bagian.
Pertarungan berakhir dengan kemenangan sepihak, Alea mengakhiri pertarungan dengan gaya.
[Kau benar-benar sulit untuk ditebak.]
"Aku tahu, aku kuat!"
[Cih, kau kuat karena memiliki aku!]
Seketika itu juga Alea tertawa, Augus benar-benar tidak mau mengalah, bahkan untuk menyenangkan Alea saja dia tidak ingin.
"Tentu saja, jika bukan karena kau, aku tidak akan bisa sampai di titik ini."
Alea merubah wujud Augus menjadi sebuah cincin, sebelum akhirnya dia berjalan mendekat tubuh serigala yang kini tergeletak tak bernyawa di sana.
Sejenak dia terdiam, sebelum akhirnya dia melihat sebuah benda menyala dari dalam mulut serigala.
Alea segera mengambil benda itu
Sistem : kalung gigi serigala. Efek : mampu menetralkan segala jenis racun. Menambah stamina +300, meningkatkan mana +450 dan menambah daya serang +150% saat HP berada di 20%. Batas pengguna, tidak ada.
Alea membaca dengan seksama item yang dia dapatkan, item itu memiliki warna ungu yang mana tingkat dari item itu ada rare, dan itu sangatlah menguntungkan, apalagi saat efek penambahan data serang itu dia dapatkan, menambah kekuatan sebanyak 150% jika dirinya menggunakan Augus maka secara tidak langsung, dia akan meningkatkan kekuatan mereka berdua, dan itu setara dengan kekuatan para pemburu tingkat tinggi. Siap sangka jika dia akan mendapatkan item yang sangat bagus hanya dengan mengalahkan ketua serigala sepeti itu.
Tapi syarat dan ketentuan tentu sedikit berbahaya, karena keadaan itu adalah ambang antara kematian dan titik akhir sebuah kekalahan, tapi sekarang, dengan kekuatan yang baru saja dia dapatkan itu. Dia bisa mengatasi kondisi krisis dengan mudah.
"Kita benar-benar beruntung." Ucap Alea dengan senyum merekah di wajahnya, di segera mengenakan kalung itu dan segera mendapatkan keuntungan dari item baru itu. "Kau merasakannya?" Tanya Alea lagi, dia yakin jika apa yang dia gunakan akan berpengaruh pada Augus, karena mereka adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dan karena hal itu juga apa yang didapat oleh Alea, maka Augus akan mendapatkannya juga.
[Kekuatan ini? Apa kau bercanda?]
"Tidak, maka kenapa aku bilang, kita beruntung hari ini."
Siapa yang menyangka jika bangun tidur saja Alea akan mendapatkan hasil yang begitu bagus kali ini. Dia bahkan seperti bermimpi kali ini, apa yang dia dapatkan adalah sebuah hal yang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
"Sebaiknya kita bersiap, karena sebentar lagi kita akan menjelajahi goa itu."
[Terserah kau saja, dasar anak beruntung!]
Alea tertawa mendengar suara dengkusan dari Augus. Sepertinya dia kesal saat melihat Alea yang mendapatkan keuntungan sebagus itu. Namun secara tidak langsung, bukankah dia juga mendapatkannya.
"Dari sekian banyak pertarungan, baru kali ini aku mendapatkan sebuah keberuntungan yang sangat langka, dan ...." Alea menatap tubuh beberapa serigala yang masih utuh di sana sebelum akhirnya dia berjalan mendekati serigala hitam dengan corak ungu yang memberikan dirinya item tadi. "kau akan sarapan dengan kenyang pagi ini."
[Sial, kau selalu tahu apa yang aku inginkan.]
"Tentu saja, karena aku sudah paham akan sifat mu itu."
Alea dengan santainya membiarkan Augus melahap semua energi yang bisa dia dapatkan dan menambah exp dalam dirinya untuk menaikkan level yang dia miliki, setidaknya itu akan berguna untuk di dalam goa nanti. Alea berdiri sejenak, menatap mulut goa yang sebentar lagi akan dia masuki.
Entah apa yang akan ada di dalam nantinya, tapi dia sangat tidak sabar untuk menjelajahi seluruh goa dihadapannya itu.
[Tenang saja, kita masih memiliki banyak waktu untuk itu. Lebih baik kau pulihkan dulu stamina mu itu sebelum kita menjelajah.]
"Aku sudah selesai, dan sudah tidak sabar untuk segera masuk ke dalam sana."
Karena semakin cepat dia menyelesaikan perjalanan ini. Maka Felix tidak akan menyusul dirinya, dan dia tidak akan membuat pria itu cemas akan kepergian dirinya.
Alea sudah siap. Pun dengan. Augus, mereka sudah suap untuk melanjutkan penjelajahan, tapi sebelum itu Alea masih berdiri dan menatap mulut goa dengan tatapan kosong. Seolah dia ingin berkenalan dengan apa yang ada di dalam sana.
Aura yang begitu kuat, lalu hawa keberadaan yang membuat bulu halusnya berdiri saat itu juga. Alea sangat yakin, jika apa yang ada di dalam sana sangatlah berbahaya, dan perjalanan kali ini tentu akan memakan waktu yang sangat banyak, dia harus mempersiapkan mentalnya. Untuk itu dengan sangat pelan dia mulai melangkah. Memantapkan hatinya dan siap untuk menghadapi apapun yang ada dia temui nantinya.
[Aku merasakannya.] Ucap Augus tiba-tiba hingga membuat langkah Alea terhenti.
"Apa yang kau maksud?"
[Aura ini. Aku bisa mengenalinya, di dalam sana, aku yakin ada sesuatu yang sangat penting untuk kita kedepannya.]
Alea benar-benar bingung dengan perkataan Augus, dua hanya terdiam dengan tatapan tak percaya di sana. "Katakan dengan jelas, aku tidak mengerti apa yang kau maksud."
[Rekan, aku bisa merasakan salah satu rekan lama tersegel di dalam goa ini. Aku sangat yakin jika itu dia.]
"Apa yang kau maksud dengan rekan?"
[Dia yang akan membantu perjalanan kita nantinya!]
"Apa itu ...."
[Lebih baik kita bergegas! Aku merasakan aura yang perlahan memudar di dalam sana!]
Alea masih tidak terlalu mengerti apa yang dikatakan oleh Augus, dia hanya bergerak sesuai naluri dan segera berlari masuk ke dalam goa. Sepanjang perjalanan dia melihat beberapa kristal buang menyala di sepanjang lorong goa, terlihat seperti lampu yang menerangi langkah kakinya.
Walau sebenarnya perjalanan yang dia lakukan tidaklah mudah. Karena beberapa langkah dia berlalu, di sudah berhenti ketika melihat beberapa monster yang menghadang dirinya, itu adalah sekumpulan laba-laba hitam dan slime yang siap menyerang dirinya kapan saja.
"Sepertinya kita akan terlambat!"
[Gunakan aku! Jangan sampai kita terlambat sedetik saja!]
Mendengar itu Alea tersenyum, ini adalah kesempatan yang bagus untuk mencoba satu hal
"Maka jangan salahkan aku setelah ini!"
Alea merubah Augus menjadi sebuah pistol, dan setelahnya, sembari berlari dia mengangkat Augus. Mengincar kepala laba-laba dan segera menembak mereka dengan cepat.
Itu adalah serangan terbaik Alea, walau harus menghabiskan banyak mana Augus, tapi serangan itu sangat berguna.
Contohnya saja sekarang. Di mampu membunuh dua laba-laba hanya dengan satu kali tembakan, dan membuat slime tergeletak hanya karena tendangannya. Lalu dengan mudah dia langsung mengincar core slime dan membuatnya hancur saat itulah juga.
[Kau benar-benar memanfaatkan keadaan ini sialan!]
Alea tidak menjawab. Karena baginya hanya ini satu-satunya cara agar dia bisa dengan cepat menyelesaikan pertarungan ini dan melangkah lebih dalam lagi. Sembari mendengarkan Augus yang marah. Alea menggunakan kesempatan itu untuk menyerap inti kekuatan para laba-laba dan memulihkan mana Augus yang sudah dia gunakan tadi.
"Tahan saja. Sebentar lagi kita akan sampai!"
[Sial! Aku akan membalas perbuatan mu ini. Awas saja!]
"Jangan terlalu menyimpan dendam, itu tidak akan baik!" Alea dengan santai memungut inti core yang dijatuhkan para monster itu dan setelahnya dia langsung melanjutkan perjalanan dengan Augus yang masih berupa pistol di sana.
Dia membutuhkan senjata jarak jauh untuk mengurangi serangan yang datang secara tiba-tiba, dan ketika dia terpojok, maka Alea akan dengan mudah merubah bentuk Augus menjadi sebuah pedang panjang yang dia gunakan untuk melakukan pertarungan jarak dekat.
Semua kondisi bisa dia minimalisir dengan sangat mudah jika dia bisa membaca dan melihat kondisi yang ada.
Kembali lagi. Semua itu berkat pengalaman, dan pengalaman Alea selama ini adalah berperan menjadi pemburu yang lemah. Itu adalah pengalaman yang paling berharga untuk dirinya. Karena dia harus bertahan dari segala bahaya dan kematian yang menyambut dirinya saat itu.
Dan dari semua pengalaman itu. Alea membentuk mental dan kekuatannya secara alami. Itulah pentingnya sebuah pengalaman dari pada kemampuan yang tidak diimbangi dengan pengalaman yang memadai.
[Cih! Kau benar-benar lolos kali ini!]
Alea tak mejawab, dia hanya terkekeh dan membayangkan betapa sepinya dunia ini jika dia masih seorang diri, beruntung dia bisa melanjutkan perjalanan ini bersama dengan Augus. Dan membuat perjalanannya semakin menyenangkan lagi.