Bab 26 Mengapa Cemburu?

1178 Kata
Sepasang sepatu hitam putih menghalangi pandangan Sadina yang tertunduk melihat lantai. Ia mendongak perlahan, melihat orang di hadapannya dari ujung kaki hingga pada senyuman lebar di sana. “Ngapain di sini?” Tris bertanya dengan gaya andalannya memasukan satu tangan ke dalam saku celana sekolah. Tris memang keren dan misterius, harus Sadina akui. Tidak heran juga mungkin karena dia masuk ke dalam pergaulan orang-orang populer di sekolah ini. Tris dan Sajaka memiliki aura yang hampir mirip, yaitu bersinar. Akan mudah menemukan mereka jika dalam keramaian. “Mm ... lagi nunggu Sajaka. Dia ke ruang organisasi dulu.” Mulut Tris sedikit membulat. Cukup paham bahwa mereka akan pulang bersama. Akhir-akhir ini Sajaka terlihat lebih dekat dengan Sadina. Terkadang Sajaka mangkir dari jadwal latihan band. Bukan lagi karena persiapan olimpiade alasannya, melainkan harus menemani Sadina ke suatu tempat. Sajaka jadi lebih sering menyebut nama Sadina dalam obrolan bersama teman-temannya. Membuat mereka takjub, ternyata Sajaka bisa bucin juga. “Udah lama nunggu Sajaka?” Tris duduk di samping Sadina. “Eh, boleh duduk di sini, kan?” “Tinggal duduk aja, kursinya masih cukup. Aku belum lama nunggu Sajaka. Tadinya kita mau langsung pulang, terus ada seseorang yang nyegat Sajaka, minta ke ruang OSIS dulu. Mungkin ada masalah penting.” Sadina mengendikkan bahu. “Biasanya kalau udah ke ruang organisasi, Sajaka lama keluarnya lagi. Pengalaman. Dia gitu beberapa kali.” “Di sekolah ini kayaknya Sajaka orang yang paling sibuk. Kamu kenal sama Sajaka udah lama ya, Tris?” Kalau Tris tidak salah ingat, baru kali ini ia mendengar Sadina menyebut namanya. Ia kemana saja selama ini? “Tris?” Sadina menyadarkan Tris dari ketertegunan. Raut linglung Tris membuat Sadina tak ayal kesulitan menahan tawa. “Kenapa?” Tris heran dengan bagian mana dalam dirinya yang bisa ditertawakan cewek di depannya. Sadina menggeleng. Takut Tris marah kalau ia jujur gemas saat Tris begong tadi. Sadina berdeham berusaha menghilangkan tawa. “Aku denger kamu dan Sajaka berteman dekat dari kecil.” “Iya. Dari SD. Pokoknya dari awal Sajaka pindah sekolah. Dia anak ngeselin yang berhasil nyingkirin posisi gue sebagai murid juara satu setiap semester.” Satu lagi yang menjadikan Tris keren. Cowok ini tidak banyak bicara dengan kata, tetapi dengan banyak prestasi. Di kelasnya, Tris selalu ranking satu. Memang bukan sembarang teman main Sajaka ini. Namun bagi Sadina, mereka sangat menakutkan. “Kalian dulu saingan?” “Nggak juga. Gue ngalah sama dia aja sih. Makanya sekarang gue ngambil IPS dan dia IPA. Biar gue nggak ngalah lagi. Lo juga kan?” “Apanya?” “Temen kecilnya Sajaka. Dari dulu dia sering banget ceritain teman kecil dia yang namanya Sadina. Bukan cuma gue, teman-teman Sajaka yang dari lama sampai sekarang masih bareng pasti nggak akan asing denger nama lo.” “Kenapa Sajaka nyeritain aku ke teman-temannya?” Punggung Sadina menegak seketika. Benar kata Kevin, beratnya jadi Sajaka adalah menyukai cewek yang sulit peka. Biasanya—seperti teman seperkumpulan teman Tris—cewek gampang baper. Ternyata nggak semua orang perlakuannya sama. Sadina contohnya, jangan berharap kalau kamu sedang bercanda akan langsung dibalas tawa olehnya. Jangan pula berharap ketika memberinya gombalan, dia akan tersipu malu sambil memukul pelan lengan cowoknya. Semuanya harus dijelaskan apa adanya pada Sadina. Tris paham sekarang, mengapa Sajaka bisa sesuka ini pada Sadina. Salah satunya karena Sadina orangnya sangat tulus. Siapa pun akan langsung merasa sayang dan iba—kadang-kadang—kalau melihat sorot mata polos itu. Pernah juga Tris punya perasaan ingin mengusap kelompak mata sendu Sadina. “Ya ... mungkin karena kalian sangat dekat sebagai sahabat kecil?” Tris balik bertanya. Bahu Sadina turun, bingung sendiri apa mereka bisa disebut sebagai sahabat waktu kecil atau tidak sebab Sadina hampir lupa sama semua itu. “Aku sama dia temanannya nggak lama kayaknya. Aku nggak terlalu ingat juga kan dia keburu pindah rumah.” “Tapi buat Sajaka, lo tuh nggak terlupakan.” Sadina terkekeh. “Nggak lah ....” Malu-malunya Sadina paling lucu. Pipinya berubah jadi merah merambat sampai telinga. Apalagi ditambah cara ia menyelipkan rambut ke belakang telinga. Tris merasa Sadina sengaja melakukan itu khusus agar Tris kehilangan detakan jantung. Kalau boleh jujur dulu beberapa kali tipe cewek Sajaka dan Tris sama. Sempat pula mantan pacaranya Tris pacaran dengan Sajaka, begitu sebaliknya. Maka kali ini, harus Tris akui lagi. Selera mereka masih sama. “Itu karena Sajaka baik aja orangnya.” “Tapi serius, gue jadi kepikiran sama sesuatu. Soal kemeja yang gue pinjemin itu. Sajaka yang anterin ke gue, waktu itu mukanya asem banget. Kalian nggak berantem, kan?” “Nggak kok ....” Terpaksa Sadina berbohong. “Tapi kamu nggak bilang kalau aku habis dijailin sama Davia dan teman-temannya, kan?” “Soal itu gue nggak bilang. Emangnya lo belum cerita masalah itu ke Sajaka?” Gelengan kepala Sadina membuat Tris menepuk dahi. “Ya ampun. Masalah sepenting ini harusnya diceritain ke orang terdekat. Gimana kalau Davia ngerjain lagi tanpa sepengetahuan gue atau siapa pun?” Dan hal itu sudah sering terjadi. Sadina tersenyum miris. Kasihan pada diri sendiri tidak bisa membela diri. “Davia juga sahabat gue dari kecil. Kami bertiga udah bareng-bareng dari lama. Sedikitnya gue tahu gimana sifat Davia. Dia nggak bisa didiemin. Waktu itu bukan yang pertama kalinya, kan? Udah gue duga, dia sekalinya nggak suka sama seseorang selalu keterlaluan. Gue bakal bilang ke Sajaka. Cuma dia yang bisa nanganin Davi—“ “Tris.” sela Sadina menyentuh bahu Tris. “Jangan cerita apa-apa sama Sajaka.” *** Tidak jauh dari situ Sajaka diam memerhatikan di balik tembok. Dia buru-buru pamit dari rapat dadakan danmenyerahkan jalannya rapat pada wakil OSIS hanya agar tidak membuat seseorang menunggu lama. Tetapi apa yang dia dapatkan? Malah pemandangan yang membuat sekujur tubuh panas. Entah sudah berapa lama dua orang itu duduk bicara berdua. Sejak tadi banyak sekali ragam ekpresi yang tampil dari keduanya. Tampak mereka membicarakan hal serius. Tangan Sajaka menggepal kuat melihat adegan Sadina menyentuh bahu Tris. Mengapa harus disentuh? Hati Sajaka meradang. Ia menahan kedua kakinya agar tidak berlari menerjang Tris dan mengabisinya di sana. Sajaka harus tetap berpikiran baik meski apa yang terlihat tidak mendukung niatnya. Menarik dan mengembuskan napas dalam-dalam sedikit menurunkan emosi dalam diri. Sajaka kemudian mengambil langkah keluar dari balik tembok. Berupaya terlihat baru saja keluar dari sebuah ruangan dan tidak pernah menyaksikan pemandangan menyakitkan perasaan. “Di sini lo, Tris?” Suara Sajaka membubarkan aksi saling tatap mereka. Mereka kompak menghindar, terutama Sadina yang langsung mengalihkan perhatian ke lingkungan sekitar. “Ngga sengaja lewat sini, lihat Sadina duduk sendirian. Ternyata lagi nungguin lo. Abis rapat lo, Ka? Tumben cepet amat.” Tris berdiri. Sajaka bergerak cepat pindah ke posisi paling dekat dengan Sadina, menghalangi Tris, lalu duduk di sana. “Sengaja dicepetin. Lo nggak pulang?” “Ini gue mau pulang sekarang.” “Ya udah sana, ngapain masih di sini?” Sajaka mengusir. Tris hanya merotasi bola mata. Sajaka sedang mode menyebalkan begini pasti ada apa-apanya. Lebih baik Tris tidak meladeni perkataan Sajaka. Ia pergi tanpa pamitan, meski sudut matanya melirik Sadina. Kalau saja Sajaka tidak ada, mungkin Tris akan sedikit berbasa-basi pamitan. “
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN