Bab 25 Yang Nyata

1398 Kata
Tidak ada keberanian dalam diri Sajaka mengiyakan janjinya pada Selin untuk menjauhi Sadina. Ini terlalu rumit, mungkin lebih tepatnya tidak masuk akal. Bagaimana bisa ia menjauhi seseorang tanpa alasan jelas? Sedangkan tiap ia bertanya mengapa harus menjauhi Sadina saat dirasa tidak ada yang salah dengan semua itu, pasti Selin dan Deka enggan memberi jawaban. Kedua orang Sajaka menyembunyikan banyak hal dari putra mereka sendiri. Sajaka agak kecewa dengan sikap kedua orang tuanya. Sebab mereka hanya akan terbuka pada anak sulung mereka saja. Seakan pikiran dan pendapat Sajaka tidak dibutuhkan dalam keluarga sendiri.   “Kenapa, Ma? Kenapa Mama selalu minta Sajaka buat menjaga jarak dari Sadina?”   Selin mengusap lelehan air mata di pipinya. “Kamu hanya perlu melakukan semua yang Mama dan Papa minta. Ini juga demi kebaikan kamu, Sayang.”   “Iya, Sajaka tahu kalian akan melakukan apa aja untuk kebaikan Sajaka dan Abang. Tapi Sajaka juga pengen tahu kenapa tanpa alasan kalian ingin menjauhkan seseorang dari Sajaka, dan di saat bersamaan kalian membuat orang itu berada di sekitar Sajaka.”   Sajaka bingung keluarganya maunya apa.   “Sajaka. Sekarang kami nggak bisa menceritakan semua hal. Kamu cuma harus nurut. Akan ada saatnya kamu paham apa maksud kami ini.”   “Tapi kapan saatnya itu, Ma—“   “Nanti.” Selin menangkup rahang tegas Sajaka. “Mama belum bisa memastikan waktunya kapan. Yang jelas pada akhirnya kamu akan tahu semua ini demi kebaikan kita. Seorang ibu selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Kamu percaya itu, ‘kan?”   Lewat netra coklat itu, Sajaka mencari sebuah kejujuran dari ibunya. Yang didapatkan Sajaka adalah kekhawatiran teramat besar. Sajaka dibuat semakin bingung. Seperti sedang memecahkan sebuah teka-teki tanpa bantuan petunjuk.   “Sajaka berangkat ke sekolah dulu,” katanya memutus pandangan. Sajaka mengambil kunci motor di atas meja makan dan tas sekolah. Sadar diri, meski dengan memohon sekali pun, Selin akan tetap merahasiakan semuanya sampai Sajaka mengetahuinya sendiri.   ***     Percakapannya dan Selin kini selalu terngiang setiap ia melihat Sadina. Ditambah ia duduk sebangku dengan cewek itu. Setiap ia menoleh pasti pemandangannya langsung Sadina. Sajaka dibuat gila oleh kebimbangan dalam diri. Harusnya ia tidak mengalami masa muda yang begini berat. Sudah cukup ia mengorbankan waktu bermain, dan terus belajar sampai memenangkan banyak olimpiade akademik. Sekarang malah ditambah beban perasaan.   “Sajaka?”   Masih terekam jelas hari di mana Sadina berdiri di rumahnya pertama kali. Setelah sekian lama tidak bertemu, akhirnya Sajaka dibuat bingung pemandangan di hadapannya hanya mimpi, atau ilusi yang kerap dibuat-buat. Kehadiran Sadina benar-benar memberi  warna berbeda. Jangan tanya warna apa. Sajaka sendiri kesulitan menjabarkan warna apa yang bisa membuatnya merasakan banyak hal baru, penuh debaran, terkadang bisa terasa sedih, tapi jika dipikir-pikir itu sangat menyenangkan. Sajaka tidak mengerti hal-hal semacam itu disebut apa.   “Sajaka?”   Sentuhan di punggung tangan menarik cepat kesadaran Sajaka ke bumi. Matanya mengerjap terkejut mendapati raut muka bingung Sadina di samping. Kedua alis Sadina kontan naik, bertanya keadaan Sajaka tanpa bersuara. Sajaka memberi jawaban gelengan kepala. Tidak mungkin juga ia bilang barusan habis memikirkan soal pertemuan pertama mereka di rumah setelah bertahun-tahun.   “Ada apa nih ribut-ribut? Sajaka celingukan.   Keadaan kelas sangat ramai. Orang-orang kelihatan senang, dan banyak tertawa.   “Guru Matematika berhalangan hadir. Jadi ngasih tugas halaman 146, terus dikumpulkan di meja guru. Kevin yang dapat kabar dari guru piket barusan. Kamu sih ngelamun dari tadi. Mikirin apa?”   Pantas saja mereka bahagia sampai ada yang jingkrak-jingkrak kegirangan. Soalnya jam ini merupakan waktu paling tidak diinginkan oleh semua anak di kelas. Kalau bisa mereka ingin langsung loncat ke jam berikutnya saja. Terlebih pertemuan sekarang ada banyak tugas. Banyak yang belum selesai mengerjakan tugas dan mereka terselamatkan.   “Oh, nggak. Bukan hal penting kok. Cuma ada beberapa masalah di organisasi sama ... em ... latihan olimpiade?” kilah Sajaka.   Sadina mengangguk-angguk mengerti. Wajar Sajaka banyak pikiran karena terlibat dalam banyak kegiatan. Sadina sangat salut Sajaka bisa menangani semuanya tanpa mengeluh. Malah selalu kelihatan ceria dan hangat. Padahal belum tentu hati dan pikirannya baik-baik saja.   “Kok bisa sih kamu kuat banget?” Sadina yang sedang membuka halaman demi halaman buku mendadak berhenti. Tangan mungilnya dijadikan penyangga kepala. Sadina menoleh pada Sajaka seutuhnya, mengabaikan delikan mata yang menyaksikan mereka.   “Kuat banget gimana?” Sajaka ikut menyanggap kepala dan menghadap pada Sadina.   Mereka saling hadap-hadapan dan terperangkap dalam tatapan garis lurus. Sajaka lebih pada mengagumi mata jernih Sadina yang berkilau indah. Ia bisa melihat dari pantulan mata Sadina ada dirinya. Hal sederhana yang menyenangkan. Makin berat saja ia memenuhi janji pada ibunya untuk mejaga jarak dengan Sadina. Mereka boleh meminta apa pun, tapi Sajaka tidak sanggup kalau harus menjauhi gadis ini.   “Kamu mengerjakan banyak hal. Selalu paling sibuk setiap ada acara di sekolah. Tapi nggak pernah kedengaran ngeluh. Kamu selalu kelihatan bahagia.”   Sadina iri. Bukan iri dengan kepopuleran Sajaka di seluruh SMA Deltaepsilon, melainkan pada mental Sajaka. Sadina akui juga mungkin salah satu Sajaka tidak pernah terlihat punya beban adalah karena dia banyak yang membantu. Di dunia ini jika kamu punya penampilan menarik atau punya kekayaan, jalanmu akan dipermudah. Dan Sajaka selain punya penampilan menarik, juga terlahir dari keluarga berada. Jangan ketinggalan juga Sajaka punya banyak prestasi membanggakan sekolah. Terkadang Sadina bingung apa orang seperti Sajaka punya kekurangan? Mengapa yang tampil bernilai baik semua?   “Aku aneh, ya?” Sajaka balik bertanya.   Padahal Sajaka cuma bercanda, tapi Sadina malah panik. “Enggak .... Maksud aku kamu keren, nggak kayak aku yang kalau punya masalah mood langsung down. Aku nggak bisa nyembunyiin masalah dari mukaku.”   “Iya, berarti aku aneh. Nggak ngerti juga kenapa begitu. Mungkin karena setiap orang menghadapi setiap masalah dengan perasaan berbeda? Aku nggak begitu memikirkan permasalahan organisasi waktu lagi dikelas. Nggak melibatkan pusingnya soal-soal latihan olimpiade waktu di kelas. Aku juga menganggap semua masalahku di sekolah biar dipikirin di waktu-waktu tertentu aja. Mungkin aku kayak gitu?”   “Kamu punya sistem yang misahin masalah satu sama masalah lain gitu di otak kamu?”   Sajaka terkekeh, malah membayangkan banyak sekat yang memisahkan banyak masalah dalam rumitnya sel otak. “Lebih tepatnya nggak aku memikirkan sesuatu sesuai sama waktu dan tempatnya. Nggak bawa-bawa masalah lain ke tempat yang nggak saharusnya, sederhananya gitu. Kalau kamu gimana? Perasaan aku juga nggak pernah denger kamu ngeluh. Malah kamu lebih tertutup.”   Sadina meringis, “Aku nggak suka cerita aja. Padahal banyak banget yang dipikirin.”   Penglihatan Sajaka kembali menangkap sesuatu. Gelang kayu yang Sadina kenakan bertuliskan inisial R. Kening Sajaka mengerut dalam. Huruf itu sialnya malah langsung tersambung dengan nama Tris Rahadian.   “R?”   Kontan Sadina ikut melihat ke arah pandangan Sajaka. Ia segera menutupi gelang di tangan kirinya itu. Gerak-gerik Sadina tambah mencurigakan lagi. Kenapa juga harus ditutupi kalau hanya gelang biasa?   “Siapa ‘R’? tanya Sajaka lagi.   “Ini ... gelang couple. Mmm ... maksudnya persahabatan. Aku sengaja bikin gelang kayak gini buat aku satu, buat Rico satu.”   “Rico?” beo Sajaka terkejut.   Sadina mengangguk polos. “Iya, teman online yang waktu itu aku ceritain. Aku mengirim gelang inisial nama aku juga ke dia. Tapi dia nggak tahu kayaknya nama asli aku siapa. Aku pakai nama samaran di grup itu soalnya.”   “Tapi kenapa harus pake gelang inisial nama segala?”   Sadina tidak sadar ekspresi Sajaka menyuarakan ketidaksukaan. Cewek itu malah bercerita dengan semangatnya tentang teman online bernama Rico itu. Sajaka menghela napas. R-nya memang bukan seseorang yang ia kenal, tetapi ini lebih parah ternyata. Sekarang Sadina kelihatan seperti orang yang menceritakan pasangannya.   “Ya ..., senang aja sih. Buat seru-seruan juga. Aku belum pernah kan bikin gelang persahabatan sama seseorang.” Sadina berakhir murung. Ingat, dari kecil belum pernah merasakan punya sahabat. Jadi waktu ada seseorang yang obrolan mereka satu frekuensi, rasanya seperti telah menemukan belahan jiwa.   “Kan nggak harus sama teman online yang nggak jelas, sedangkan yang ada orang yang lebih nyata di depan kamu.”   Senyuman Sadina seketika luntur mendengar penilaian Sajaka terhadap teman-temannya di dunia online. Sadina akui pertemanan online itu bagai kepura-puraan yang dianggap nyata. Tapi meski fana, bukannya yang terpenti mereka juga hidup di dunia yang sama ya? Selagi mereka manusia, sepertinya tidak ada salahnya bergaul dengan manusia.   “Ma-maksud aku ... kamu belum terlalu kenal mereka, kan? Ketemu mereka aja pasti belum, kan? Ya ..., aku cuma takut aja kamu kenapa-napa. Aku nggak ada maksud buat melarang atau apa pun yang mungkin menyinggung kamu.”   “Bagi aku mereka lebih baik dari orang-orang yang nyata di sekitar aku.” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN