Waktu yang mereka habiskan bersama kemari itu membawa perubahan besar. Sering kali mereka saling tersenyum tanpa sebab saat bertemu. Namun tidak satu pun di antara mereka berinisiatif bicara lebih dulu. Kecanggungan yang menyenangkan sebenarnya. Hanya saja mengingat situasi mereka berada dalam satu rumah terlalu aneh bagi orang-orang sekitar.
Yang pertama mencurigai ada sesuatu dengan mereka ialah Selin. Ibu dari Sajaka ini menyadari kegugupan Sajaka dan Sadina di meja makan. Biasanya memang dua anak itu jarang terlihat bercengkerama. Namun kali ia merasa berbeda pagi itu. Mereka kedapatan senyum malu-malu. Keduanya sama-sama tidak menyadari sedang diperhatikan Selin.
"Apa sih, Ma?" Deka berhenti membaca artikel berita bola di tablet gara-gara cubitan Selin di pinggangnya.
Selin mengabaikan pelototan sang suami, malah balik melotot tak kalah kejam. Bapak-bapak selalu tidak peka pada keadaan sekitar. Dari tadi Deka terus sibuk sendiri.
"Lihat tuh, anak kamu aneh banget dari kemarin malam," bisik Selin, matanya tetap tertuju pada interaksi Sajaka dan Sadina di meja makan.
Deka mengikuti arah yang ditunjuk dan kemudian merotasi bola matanya hiperbola. Dikira Deka ada apa, ternyata hanya soal dua anak manusia yang tengah kasmaran. Decakan Deka mengundang kernyitan dahi Selin.
"Kenapa?"
"Namanya juga anak muda." Deka menghela napas, lalu kembali menyalakan layar tablet di atas meja.
"Maksudnya?"
"Kamu ini kayak belum pernah muda aja. Jelas banget antara mata anak kamu sama mata gadis di depannya ada yang terbang."
Seketika Selin menyipit, tapi tidak menemukan hal aneh. "Apa yang terbang?"
Deka tidak habis pikir hal sesederhana ini harus ia jelaskan. "Perasaan sayang."
Deka mengaduh lagi, kali ini cukup keras sehingga atensi dua manusia lainnya teralih. "Sakit, Lin!"
"Itu akibatnya kalau ngomong ke mana aja!" judes Selin beranjak meninggalkan meja makan lanjut mempersiapkan sarapan.
"Kemana-mana gimana?" Deka meringis sambil mengusap pinggang bekas cubitan. Makin ke sini cubitan Selin makin ganas saja.
"Ya, barusan ngomong apaan? Inget ya mereka tuh masih kecil. Nggak mengurus hal begitu!" Selin berbisik.
Sementara di sisi lai Sajaka geleng-geleng melihat kelakuan kedua orang tuanya. Mereka selalu tidak tahu tempat tiap mau bermesraan.
***
"Maaf, nggak sengaja."
Isi tas Sadina berantakan di lantai. Sajaka yang baru keluar dari rumah tidak menyadari keberadaan Sadina di depan pintu teras.
"Ini--" Perhatian Sajaka tertuju pada sebuah benda dibalut kertas. Yang menarik penglihatannya adalah lambang tak asing di kertas itu. Akhir-akhir ini ia sering melihatnya. Kalau tidak salah ingat kemarin juga ia melihat lambang itu di ponsel Sadina.
"Oh itu hadiah buat teman."
Jawaban Sadina membuat Sajaka makin heran. Mengapa Sajaka baru mengetahui Sadina mempunyai teman? Ya, memang bisa saja. Sadina kan manusia, pasti bersosialisasi. Hanya saja Sajaka belum pernah melihat Sadina dengan temannya.
"Teman?" Sajaka menoleh. Ditatapnya Sadina dengan serius.
"Iya, teman. Kami kenal di forum online. Bisa dibilang udah jadi teman dekat. Rencananya pulang sekolah nanti aku mau ngirim itu ke rumahnya."
Di sisi lain benda kotak itu ada kertas putih tertempel. Sajaka tercenung lama. Sangat mengherankan karena alamat rumah lamanya tertulis di sana. Sadina mengetahui alamat rumah lama Sajaka? Namun nama penerima dari paket itu bukan Sajaka atau salah satu dari orang tua Sajaka. Nama yang tertera di sana malah membangunkan bulu kuduknya.
"Namanya Ri ... co?"
"Iya, namanya Rico," jawab Sadina berdiri selesai memasukan kembali semua barang di lantai ke dalam tas. Sadina mengambil benda kotak itu dari tangan Sajaka. "Iya, Rico. Kamu kenal?"
Sajaka menggeleng.
"Hehe, iya sih. Pasti nggak kenal. Katanya dia tinggal di daerah Bandung juga, tapi rumahnya agak jauh dari sini. Orangnya nyenengin. Nanti kalau kita ketemuan aku bakal ngenalin kamu ke dia."
"Yuk, Sadina udah siap?" Deka keluar dari rumah menginterupsi. Mereka berangkat bersama seperti biasa.
Sementara Sajaka masih tertegun di teras rumah. Tangannya yang semula mengambang di udara perlahan jatuh begitu keberadaan Sadina dan Deka hilang dari halaman rumah. Pikirannya masih mencerna semua.
Bagaimana bisa seseorang mengakuinalamat rumah lama Sajaka sebagai rumahnya? Mengapa orang ini secara kebetulan sekali menjadi teman Sadina?
"Sajaka?"
Seakan habis dihisap dari dimensi lain, Sajaka tersentak mendapati ibunya berdiri dengan pandangan bertanya-tanya. Suara itu menyentak kesadaran Sajaka kembali ke permukaan bumi.
"Ada apa?"
Sajaka menjawab gugup, "Ng-nggak, Ma."
"Kirain ada apa. Muka kamu pucet tuh."
"Ini cuma kedinginan aja, Ma," kilah Sajaka sembari menangkup pipi sendiri.
"Kalau gitu kita perlu bicara. Masih ada waktu, kan?"
Sajaka mengikuti ibunya masuk ke dalam rumah. Dari cara Selin bicara sambil melipat tangan, ini diartika sebagai rambu-rambu hal serius.
"Aku harus pergi ke sekolah, Ma. Mepet waktunya, sebentar lagi bel masuk." Sajaka melihat jam ditangan.
Selin menggeleng tegas. "Mama yang anter kamu sekolah hari ini. Nggak usah khawatir soal guru kedisiplinan. Mereka mana berani menghukum anak berprestasi yang udah memboyong puluhan piala ke sekolah. Apalagi kalau Mama yang ngomong, mereka tambah segan."
"Ma, pleace," mohon Sajaka. Raut mukanya perpaduan antara khawatir dan jengah. Sajaka rasa sudah cukup ibunya memengaruhi wali kelas dan guru-guru di sekolah agar membebaskan Sajaka dari hukuman karena alasan prestasi. Bagaimana pun Sajaka tidak pernah senang diperlakukan berbeda. Hal semacam itu sering kali membuat teman-teman di sekolahnya salah paham. Sayang, permohonan Sajaka tak berpengaruh kali ini. Selin tetap menggeleng tegas.
"Enggak, Sajaka. Kota beneran harus bicara. Ada hal penting dan darurat banget."
"Emangnya apa yang lebih penting dari sekolah Sajaka, Ma?" Sajaka menyerah, sekalinya ada keinginan Selin harus dituruti. Biasanya Selin paling disiplin kalau soal belajar dan sekolah.
"Ini tentang Sadina."
"Sadina?" Bola mata Sajaka seketika melebar. "Ada apa sama Sadina?"
Pikiran Sajaka sudah kacau saja menebak-nebak kalau ibunya sudah mengetahui tentang kebohongan Sajaka mengajaka jalan-jalan kemarin. Sampai kini Sajaka diharusnya jangan terlalu dekat dengan Sadina.
"Mama perhatikan akhir-akhir ini kalian terlihat dekat. Apa kamu udah lupa sama perjanjian kita?"
"Itu ... masa sih, Ma? Perasaan Sajaka sama dia biasa aja." Mendadak kegugupan menyerang.
"Gitu?" Selin menyipit tajam. Sebagai orang yang telah melahirkan anak ini, ia tentu hapal bagaimana gelagat mencurigakan anaknya. Hanya dari membaca gerak-gerik saja, Selin cukup tahu kalau Sajaka berbohong. Selin menghela napas panjang. Dipangkaslah jarak di antara mereka. Begitu ia merapikan kemeja putih di bahu tegap putranya, kegugupan Sajaka semakin terasa.
"Kamu tahu tujuan Mama melarang kamu berinteraksi terlalu banyak dengan Sadina bukan kesalahan. Ini demi kebaikan dan keselamatan kalian berdua juga. Mama nggak tahu apa aja yang udah terjadi antara kalian di sekolah, karena kami hanya bisa mengawasi kalian di rumah saja. Pesan Mama cuma satu : jangan melewati batas. Kamu paham, 'kan?"
Sudah sangat lama tak melihat air mata Selin meluncur dari ujung mata. Cukup menyakitkan bagi Sajaka melihat ibunya begini. Apalagi ia menjadi alasan dari air mata Selin itu.
"Mama begini karena sayang sama Sajaka." Tangis ibunya pecah tanpa bisa dicegah. Sajaka menenggelamkan wajah Selin ke atas kemeja yang ia kenakan.
Padahal Sajaka sudah percaya diri tidak akan takut lagi mendekati Sadina. Ia lupa punya ibu yang selalu serba tahu tentangnya. Menjadi tantangan baru ketika ia malah dihadapkan pada pilihan.
"Janji nggak akan dekat-dekat Sadina lagi?" Selin mendongak. Mata sembabnya memohon pada Sajaka.