Bab 10 Kejutan

1185 Kata
Bohong besar Sajaka bilang penampilan Sadina malam itu biasa saja. Posisinya, Sajaka masih kesal sama Sadina. Jadi, ia melengos begitu saja keluar rumah. Sajaka bahkan sengaja duduk di kursi depan, tempat Selin seharusnya duduk di samping Deka. “Kalian lagi ada masalah, ya?” “E-enggak kok, Tante.” Sadina menjawab tergagap. Melihat kelakuan anaknya, Selin dengan cepat menyadari ada permasalahan antara dua remaja ini. Selin menggandeng Sadina masuk ke dalam mobil. Mereka duduk berdua di kursi belakang. Sebelum menyalakan mesin, Deka menoleh ke samping, Sajaka tengah menatap ke arah jendela. Entah memikirkan apa, kelihatannya hal serius. Selama perjalanan sesekali Sadina melirik kursi depan di mana Sajaka duduk. Biasanya dia akan protes jika Deka dan Selin mulai menyanyikan lagu zaman kuliah mereka. Kali ini Sajaka sibuk dengan pikirannya sendiri sampai tak menyadari mereka telah tiba di tempat tujuan. “Mau ikut ke dalam apa lanjut ngelamun di sini?” Seperti habis terhisap dari dunia lain dan baru saja kembali, Sajaka menegakkan punggung. “Udah sampai?” “Jaka ..., Jaka ....” Deka berdecak. “Mikirin apa sih? Nyesel ya bilang Sadina biasa aja padahal cantik banget?” Selain karena masalah Sadina ingkar janji, iya Sajaka juga menyesal sebelum berangkat tadi komentarnya kurang bagus. Raut muka Sadina sampai berubah. Pasti dia mendengar perkataan Sajaka. Kalau Sajaka berkomentar dalam kondisi marah memang begitu. Bahaya. Bisa menyakiti siapa saja. “Yang lain mana?” Sajaka menoleh ke belakang, mengabaikan pertanyaan ayahnya. Di kursi belakang, Selin dan Sadina tidak ada. “Duluan. Kelamaan nunggu yang ngelamun nggak kelar-kelar. Yuk, masuk. Nggak enak udah ditungguin sama yang punya rumah dari tadi.” Ini pertama kalinya Deka mengajak keluarga menghadiri undangan makan malam di rumah teman. Mengikuti acara bersama kedua orang tua di usianya kini agak gimana bagi Sajaka. Terakhir ikut-ikut kedua orangnya itu waktu kelas 6 SD. Sebenarnya malas, tapi kasihan Sadina kalau sendirian. Takutnya di acara itu tidak ada anak seumuran mereka. Ya ..., meski ia dan Sadina sedang tidak baik, mata Sajaka selalu mengawasi dari kejauhan. “Jadi anaknya teman papa menyelesaikan studinya di luar negeri. Mereka mengundang kita buat merayakan kelulusan anaknya itu. Anaknya cantik, pinter lagi. Bisa masuk kampus ternama, susah banget masuk sana—“ Sajaka langsung berhenti. Menatap ayahnya dengan kedua alis mengkerut. Ini Deka tidak sedang mencoba menjodohkannya seperti di film-film, kan? Tidak tahu kenapa Sajaka merasa familiar dengan jalan cerita begini. “Kenapa?” “Perayaan kelulusan itu biasanya keluarga inti atau teman-teman dekat dari anak itu, kan? Kenapa ngundang keluarga kita? Yang temenan kan Papa sama papanya bukan sama anaknya.” Deka merangkul bahu lebar Sajaka, sedikit mendorong supaya kembali mengayunkan langkah. “Papa sama Bara temenannya deket banget, udah kayak keluarga. Makanya mereka pengen kita merasakan kebahagiaan mereka juga.” Agak tidak masuk akal sih. Sajaka tidak banyak tanya habis itu. *** Sadina belum memperkenalkan diri, tetapi tampaknya orang-orang itu telah mengetahui namanya. “Ini Tante Harin, Om Bara, dan putri mereka Haradisa.” Selin memperkenalkan ketiga orang yang menyambut mereka. “Nah, Kak Haradisa ini baru lulus dari kuliahnya di luar negeri. Pinter banget anaknya. Hebat bisa masuk universitas ternama di luar negeri.” “Ah, Tante Selin bisa aja. Aku masih kalah sama pretasi Sajaka yang sering menang lomba sana-sini.” Sadina mengangguk-angguk, mungkin nasibnya dikelilingi orang-orang berprestasi. Lalu ia menyalami tuan rumah dengan canggung. Tiba pada putri keluarga itu, Sadina malah dipeluk erat. Haradisa tersenyum lebar, “Akhirnya kita ketemu juga.” Seolah mereka sudah lama tidak bertemu. Sadina yakin ini pertemuan pertama mereka. Pelan-pelan ia melepas pelukan. “Apa kabar?” “B-baik, Kak.” Sementara Selin dan yang lain sudah menghilang dari sana pindah ke ruangan berdinding kaca yang mengarah ke sebuah taman. Lampu-lampu bersinar lembut bergelantungan melintang di langit taman. Acaranya ada di dalam ruangan, tetapi suasana alam bisa terasa. Tak lama Deka dan Sajaka datang. Suasana bertambah hangat karena candaan para orang tua. Sadina yang ditarik Haradisa untuk duduk di dekatnya hanya bisa menoleh sekilas. Tatapan mereka sempat beradu. Di luar dugaan kursi di sampingnya bergeser. Saat menoleh ternyata Sajaka duduk di sana. Sadina kira cowok ini akan terus menghindarinya. “Aku suka ini, kamu juga coba deh.” Haradisa menaruh sepotong daging iga panggang yang menggiurkan di atas piring Sadina. Kerjaan Haradisa dari tadi memperkenalkan segala makanan di meja. Membuat Sadina menyicipi semua. “Enak, kan?” Sadina mengangguk. Semua makanan di sana enak, tapi daging iga panggang paling enak. Senyuman Haradisa semakin lebar, ia bisa tahu Sadina sangat menikmati hidangan daging itu, maka diambilnya lagi daging panggang ke piring Sadina. “Makan yang banyak.” Interaksi mereka diam-diam diperhatikan semua orang. Para orang tua saling melempar senyum, tahu apa yang harus mereka katakan nanti. “Haradisa ini anak tunggal, setiap ada sepupu yang ke rumah pasti senengnya kebangetan.” “Sekarang Haradisa bukan anak tunggal lagi, Mbak. Kan ada Sadina, mereka saudara. Lihat kan hubungan adik-kakak ini bisa mengalir secara natural seperti sekarang,” timpal Selin yang kontan menghentikan kunyahan di mulut Sadina. “Maksud Tante Selin apa?” Selin balas menatap teduh putri sahabat dekatnya itu. Berusaha memberi pengertian dengan cara paling halus. “Haradisa ini sebenarnya kakaknya Sadina, kakak satu ayah. Karena Sadina belum tahu, kami sengaja mengadakan makan malam ini untuk mempertemukan kalian berdua—“ “Tapi aku nggak punya kakak lain selain Kak Dei,” sanggah Sadina bingung. Ia tak pernah mendengar ayahnya punya anak lain. Tatap Sadina teralih pada wanita yang menyambutnya tadi. Terlebih anak ayahnya ini dari wanita lain. Sadina tak tahu soal ini. Di meja makan itu, hangatnya percakapan teman lama seketika berubah menjadi dingin secara perlahan. Alat makan dalam genggaman  kompak di taruh kembali di atas piring. “Dei siapa—“ Pertanyaan Haradisa dipotong penjelasan Selin. “Dei kakak sepupunya Sadina. Sayang, Sadina, Tante tidak sedang membohongi kamu. Inilah kenyataannya. Sadina memiliki kakak perempuan dari ayah Sadina.” Sadina menunduk, awan mendung tiba-tiba mengelilinginya. Dengan kecewa ia berkata, “Ibu nggak pernah cerita soal ini.” Kesedihan gadis itu mengundang tatapan iba semua orang. Haradisa diserang rasa bersalah, tak menyangka hal ini bisa menyakiti perasaan Sadina. Harusnya ia memberitahu soal hubungan saudara mereka secara bertahap. "Ibunya Sadina yang minta Tante mempermukan ka--" "Ma, kita bahas ini lagi nanti." Sajaka menghela napas. Waktu Deka menjelaskan tentang keluarga siapa yang mereka kunjungi, Sajaka sudah menduga Sadina akan terluka. Sadina kesulitan menerima hal baru. Kedua orang tuanya masih juga belum paham bagaimana memperlakukan gadis ini meski telah tinggal bersama dalam beberapa waktu. "Semakin cepat Sadina tahu akan semakin baik. Haradisa sudah pulang, mereka bisa sering bertemu dan akan cepat dekat." Tak tahan lagi dengan atmosfer dalam ruangan itu, Sajaka meraih jemari Sadina kedalam genggamannya. Derit kursi bergeser membangunkan semua orang dari keterdiaman. Mereka terbelalak ketika Sajaka dengan enteng meninggalkan meja makan sembari menarik tangan Sadina. “Kami duluan,” katanya sebelum pergi. Sadina menatap punggung tegap Sajaka yang begitu percaya diri membawanya pergi. Perasaan Sadina diliputi kehangatan karena genggaman tangan mereka. Mungkin tindakan Sajaka ini hanya karena iba, tetapi Sadina merasa setelah ini ia tidak perlu khawatir selama Sajaka di sisinya. Maka malam itu walau risau dan ragu Sadina membalas genggaman tangan Sajaka. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN