Bab 11 Bicara Berdua

1142 Kata
Turun dari taksi online, Sadina buru-buru mengikuti langkah lebar Sajaka memasuki halaman rumah. Sajaka terus berjalan ke teras rumah dan mengangkat salah satu pot bunga kesayangan Selin. Entah apa yang sedang dicarinya. Ternyata ada kunci rumah di salah satu pot. Selama di rumah keluarga Arganata tak menyangka di bawah pot itu tersimpan kunci. Mereka membuka pintu menggunakan kunci itu. Mereka masuk ke dalam rumah. Sajaka begitu saja berjalan ke arah dapur. Sajaka mengambil minuman dingin dari lemari pendingin. Sadina hanya memerhatikan Sajaka mondar-mandir, agak ragu ia pergi ke kamarnya di lantai atas. Ia berdiri canggung. Sepertinya ada yang harus mereka bicarakan sebelum berpisah malam ini. Sajaka mengambil minuman lain dari lemari pendingin dan mengulurkannya. Sadina menggelengkan kepala, "Aku nggak haus." Bahu Sajaka mengendik. Dikembalikan minuman itu ke dalam lemari pendingin. “Lain kali kalau Mama atau Papa ngajak ke suatu tempat, tanya dulu itu acara apa.” Sajaka berjalan mengitari mini bar setelah menutup lemari pendingin. Ia berhenti di depan Sadina yang menunduk. Sontak Sadina menghindari tatapan Sajaka. Melihat cara Sadina menghindarinya, Sajaka tersenyum tersenyum kecil. Baginya tingkah canggung Sadina selalu menggemaskan. “Kenapa tadi diem aja? Perlakuan mereka salah, kan?” Sejenak Sadina terdiam, meski begitu matanya bergerak tak tenang. Ia mengakui perlakuan orang tua Sajaka dan temannya terkesan menganggap ini bukan masalah besar. Mereka begitu enteng mengatakan sambil tertawa bahwa Sadina memiliki seorang kakak seayah. Bahkan selama belasan tahun Sadina tidak pernah merasakan kehadiran seorang ayah. Sadina sangat terkejut mengetahui ayahnya memiliki seorang anak dari wanita lain. Ibunya belum pernah menceritakan soal ini. “Jangan dulu mikirin soal Mama dan Papa. Mereka orang tua gue, Din. Gue yang harus minta maaf. Gara-gara mereka Lo sedih. Mereka orang lain yang nggak tahu gimana perasaan lo sebenarnya. Mungkin mereka mengira ini bakal jadi kabar bahagia, tapi yang gue lihat lo nggak sebahagia dalam bayangan mereka. Lain kali kalau diajak sama orang siapapun itu, tanya dulu mau diajak kemana, ke tempat apa, mau ngapain.” Beruntung malam ini Sajaka ikut. Kalau tidak mungkin Sadina akan diam di acara makan malam itu sampai selesai. Perlahan Sadina mendongak, ingin bilang, “Jaka ..., aku tinggal di rumah orang tua kamu. Kebaikan mereka sama aku selama ini sangat besar. Dengan menyenangkan perasaan mereka dan menuruti perkataan mereka, aku pikir bisa membalas kebaikan mereka sedikit-sedikit.”. Entah kenapa setiap berhadapan dengan Sajaka, perkataan panjang seperti itu selalu tertelan kembali. Sadina selalu tanpa kata, terlalu hati-hati, seolah ucapannya bisa tidak terkontrol dan menyakiti orang lain. Sajaka menghela napas, lagi-lagi merasakan kegundahan cewek di hadapannya. Kebingungan dan segala kesedihan yang terlalu sulit diungkapkan terlalu jelas terpampang di kedua bola mata Sadina yang berair. Sajaka menyerah, mana tega mengintimidasi makhluk rapuh ini lebih jauh. Dari pada melihat Sadina nangis, Sajaka mengusap pelan pucuk kepala Sadina dan berkata dengan selembut mungkin, “Masuk kamar, jangan mikir kejadian tadi, dan istirahat.” Mereka terperangkap dalam waktu yang membeku beberapa saat. Keduanya saling berpandangan dalam jarak dekat. Tanpa disadari tangan Sajaka dari atas puncak kepala Sadina perlahan turun menyisipkan sejumput rambut ke belakang telinga. Sadina juga seolah membeku ditempat kala Sajaka menyisirkan jemarinya hingga belakang kepala Sadina dengan lembut. Meski degup jantung seakan memberontak ingin melepaskan diri dari tulang-tulang kerangkanya. Sadina hanya bisa diam, tidak bisa bergerak. Sementara jarak di antara wajah mereka semakin dipangkas habis. Sadina mencengkeram kemeja yang dikenakan Sajaka. Matanya yang sendu perlahan menutup. Sajaka tersenyum kecil dan menunduk. Tangan lainnya terangkat memegang tengkuk gadis di hadapannya. Jarak di antara mereka terus dipangkas. Getaran ponsel di atas meja kemudian mengembalikan kesadaran mereka ke bumi. Keduanya kompak membuka mata. Sadina yang pertama mendorong Sajaka menjauh. Keduanya sama-sama gugup. "A-aku ke--" Sadina kehabisan kata menunjuk lantai dua. Sajaka mengangguk cepat mengerti. Keadaannya jadi canggung, mereka saling salah tingkah. Sambil menggigit kecil bibirnya, Sadina berbalik ke arah tangga. Sedangkan Sajaka terdiam di tempat memandangi pinggu kecil itu terus menjauh. Ia menelan saliva, entah kemana pikirannya barusan. Sajaka menggeleng, coba mengusir hal-hal aneh dalam benaknya. Tiba di kamar, Sadina bersandar di balik pintu, memeluk diri sendiri. Debaran jantungnya semakin menggila seiring terus berkeliarannya ingatan kejadian di lantai bawah barusan. Sajaka benar-benar membuat jantungnya hampir copot. Namun dalam beberapa saat kemudian sebuah pemikiran terlintas. Bagaimana bisa Sajaka sepengertian ini padahal mereka belum lama mengenal? Sadina merasa tidak ada yang mengenal Sadina sebaik Sajaka *** Kemarin sebelum pergi tidur, Sajaka sempat bertanya mengapa ponsel Sadina tidak aktif akhir-akhir ini. Beruntung Sadina bisa memberi alasan yang cukup masuk diakal kalau ia sedang fokus dengan Ujian Tengah Semester jadi sering mematikan ponsel. Sajaka tidak bertanya apa-apa lain. "Aku lagi berusaha fokus ke ulangan tengah semester. Pelajaran di semester ini lumayan sulit buat aku, jadi mau berhenti dulu main handphone." "Mau belajar bareng aja? Kayaknya belajar bareng bisa saling bantu," saran Sajaka. Sadina gelagapan, "Hn ..., nggak usah. Belajar sendiri-sendiri aja. Kamu juga lagi banyak tugas diluar tugas sekolah, 'kan?" Sadina sadar tidak mungkin ia memakai alasan yang sama seterusnya. Besok-besok pasti Selin dan Deka juga menanyakan hal yang sama. Kalau sampai mereka tahu, besar kemungkinan Sadina akan dibelikan ponsel baru. Sudah terlalu banyak hal yang diberikan keluarga ini. Sadina takut tak bisa membalasnya. Selain itu setiap hari Deral menghubunginya mungkin akan mulai curiga beberapa hari pesan dan teleponnya tidak dijawab. Kakaknya ini panikan. Apa-apa selalu dipikirkan berlebihan. Meski sebenarnya Sadina tidak keberatan dengan sikap berlebihan Deral, malah senang. Sedang memikirkan alasan agar tidak Deral marah karena tidak ada kabar, Sadina jadi teringat sesuatu. Apa Deral mengetahui tentang Haradisa? Tidak seperti biasanya mendadak Sadina ingin buru-buru ponselnya cepat diperbaiki. Ia ingin menghubungi Deral. Sore itu guru mata pelajaran matematika menjebak semua murid di kelas lebih lama. Mereka boleh pulang jika sudah menjawab seluruh soal latihan. Otomatis Sadina harus menunda sedikit lebih lama untuk mengambil ponselnya di tempat servis. Berbeda dari kebanyakan orang di kelas yang menganggap soal-soal itu sangat sulit. Sajaka jadi orang pertama yang mengumpulkan lembar jawaban. Sebenarnya ia ingin membantu Sadina. Tempat duduk mereka berdekatan, tapi masalah besar akan timbul nanti jika Sajaka memberi jawaban. Teman-temannya yang lain akan memintanya juga. Sajaka malas kalau sampai mereka ketagihan di ulangan-ulangan lainnya meminta jawaban Sajaka. Anehnya Sajaka merasa kegelisahan Sadina bukan karena soal ulangan. Seperti ada hal lain sedang mengganggu. Maka usai keluar kelas, ia tak langsung pulang. Sajaka menunggu Sadina di depan kelas. Ketika Sadina keluar dari kelas, langkah kakinya tampak terburu-buru sampai tak menyadari kehadiran Sajaka di sana. Sajaka mengikuti ke mana Sadina pergi. Begitu terheran ternyata Sadina pergi ke tempat servis ponsel di dekat sekolah. Dari kejauhan Sajaka melihat Sadina menerima ponsel dari pegawai di sana. Mereka melakukan sebuah transaksi. Seperti yang Sajaka curigai selama ini, Sadina menyembunyikan sesuatu. "Apa yang kamu sembunyiin dari aku, Din?" Sajaka bicara sendiri. Ingin sekali Sajaka memergoki Sadina di sana. Sekuat mungkin ia menahan diri sampai Sadina pergi meninggalkan tempat itu. Barulah Sajaka keluar dari tempat persembunyian. “Ada yang bisa dibantu?” Pegawai tadi tersenyum ramah menyambut Sajaka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN