Bab 12 Salah Paham

1205 Kata
“Kamu bohong lagi, Din.” Pergelangan tangan Sadina dicekal sebelum mendorong pintu. Sajaka berdiri di sampingnya dengan raut wajah sulit dijelaskan. Sadina tidak menyadari kedatangan teman satu rumahnya ini. Mungkin pikirannya terlalu penuh hingga abai pada keadaan sekitar. “Apa maksud kamu—“ “Berhari-hari ponsel kamu mati, Din. Bukan hanya aku, mama dan papaku juga khawatir. Kenapa kamu nggak mau jujur sebenarnya apa yang terjadi?” “Aku kan udah bilang sebentar lagi ulangan jadi aku mau fokus belajar nggak main dulu—“ Sadina gagal melanjutkan ucapan, terjeda oleh decakan kesal Sajaka. “Bohong lagi. Kamu selalu gini. Dikerjain sama Davia waktu itu juga kalau aku nggak cari tahu sendiri sampai sekarang kamu enggak akan cerita." "Jaka nggak gitu." "Kamu bisa pulang diantar Tris, terus pakai kemeja Tris juga belum cerita. Aku benaran nggak bisa dipercaya ya sampai kamu nggak mau jujur?” Masih bingung ia di mata Sadina bagaimana. Terkadang Sajaka merasa ada yang lebih di antara mereka. Namun sesekali ia menyadari Sadina tidak terlalu terbuka padanya. Uneg-uneg yang ingin Sajaka luapkan tertumpuk dalam kepala. Sajaka sampai bingung mau mengeluarkan yang mana lebih dulu. “Jaka, ada apa?” Sadina mulai berkaca-kaca. Ia takut dengan sorot mata Sajaka yang menyuarakan kekecewaan begitu besar. Sajaka mengatur napas, meski kekesalan berkobar, ia harus bisa mengendalikan diri. Jangan sampai Sadina terluka karena perkataannya. Ia tahu betul, Sadina ini bila dibentak sedikit saja bisa langsung menangis. Sekarang baru dipaksa bicara serius saja, matanya sudah siap menumpahkan air mata. Sesensitif itu perasaan Sadina. “Ponsel kamu kenapa sampai harus diservis?” Sajaka berusaha bicara pelan. Namun perkataan Sajaka itu mengejutkan Sadina. “Iya, aku tadi ngikutin kamu. Maaf, tapi aku terpaksa melakukan ini. Aku menyadari ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kami. Kamu juga sikapnya selalu menyimpan masalah sendirian. Jadi soal alasan kamu nggak aktif beberapa hari ini karena ulangan itu bohong, kan? Kamu nggak bisa dihubungi karena ponselnya rusak. Ada apa, Din? Kenapa bisa rusak? Aku denger rusaknya parah. Kenapa nggak bilang yang sebenarnya?” Sedikit tercekat mendengar Sajaka diam-diam mengikutinya ke tempat perbaikan elektronik. Sadina pasti sangat mencurigakan hingga Sajaka tidak mempercayainya. Memang berbohong itu sangat sulit. Namun agak lega juga Sajaka tidak mengetahui alasan di balik rusaknya ponsel karena Davia. Sadina tidak tahu akan semarah apa lagi kalau Sajaka tahu Sadina Bali dijahili oleh teman terdekatnya, Davia. “Aku ..., aku nggak mau ngerepotin keluarga kalian. Lagian masih bisa diperbaiki kok.” Sajaka merotasi bola matanya dramatis. Tak habis pikir dengan jalan pikiran Sadina tidak mau meminta tolong karena takut merepotkan. “Kamu sadar nggak sih kalau terjadi sesuatu sama kamu dan kita kesusahan ngehubungi kamu, itu lebih ngerepotin. Lagian kedua orang tua aku tuh sayang banget sama kamu. Sadina, mereka udah menganggap kamu kayak anak sendiri. Aku juga nggak akan biarin terjadi apa-apa sama kamu. Kenapa sih masih sungkan aja?” “Maaf,” lirih Sadina menyesal, tetapi sesaat kemudian ia tersentak. Sajaka malah menarik pergelangan tangan Sadina sehingga mereka berdiri dengan jarak sangat dekat. Bola mata Sadina melebar Sajaka mendekatkan wajahnya. Tatapan tajam Sajaka juga heningnya keadaan sekitar membuat gugup tak karuan. Sadina berusaha melepaskan diri, tetapi cengkeraman tangan Sajaka malah semakin mengerat. Kemudian entah dari mana asalnya sebuah suara mengunterupsi mereka. “Sadina!” Suara itu begitu jelas. Dua anak manusia di teras rumah sontak menoleh. Dari arah gerbang rumah berdiri seseorang yang tampak marah. Mendadak Sadina punya kekuatan besar untuk melepaskan diri dari Sajaka. Sesaat Sajaka dibuat merasakan kehilangan. Sajaka menyadari ketakutan Sadina. Ia tidak mengerti mengapa Sadina setakut itu melihat orang ini. Baru saja Sajaka hendak bertanya siapa orang itu. Sadina malah diseret pergi dari hadapannya. “Kak Dei—“ Terdengar suara Sadina yang bergetar seperti sedang memohon sambil mengikuti langkah orang itu membawanya pergi. Sadina berupaya menghentikan langkah lelaki yang menyeretnya dari halaman rumah. Melihat itu Sajaka juga berupaya mengejar. Sadina tampak kesakitan. “Pulang!” kata lelaki yang dipanggil "kakak" oleh Sadina dengan nada dalam sembari menghentikan langkah. Tatapan tajamnya beralih pada Sajaka dengan penuh kebencian. Sajaka ikut berhenti selangkah di belakang Sadina. "Kak Dei ...." Suara Sadina semakin bergetar. Genggaman di tangannya bertambah erat. Di situlah Sajaka mengerti. Lelaki itu adalah kakaknya Sadina. Langkah Sadina kembali diseret kakaknya. Sambil bercucuran air mata dan dikuasai rasa takut, Sadina menoleh ke belakang. Ia memberi Sajaka gelengan kepala. Isyarat agar Sajaka berhenti mengikuti mereka. Walau berat Sajaka menuruti keinginan Sadina. Berhenti di tengah halaman rumah memandangi kepergian mereka hingga menghilang di balik gerbang. Ketika itu pikiran Sajaka menjadi penuh. Ia khawatir dan kepikiran. Ada kemungkinan Deral salah paham padanya. Tadi pasti Deral melihat bagaimana Sajaka membuat Sadina menangis. Mengingat cerita Sadina tentang bagaimana Deral sangat menyayanginya, pasti Sajaka telah membuat seorang kakak marah. Sajaka mengusak kasar rambutnya. Ketakutan menguasai dirinya. Bagaimana jika kemarahan Deral membuat Sadina tidak lagi kembali ke rumah ini? Di teras rumah Sajaka uring-uringan sendiri. Ia ingin menyusul, tapi takut kesalahpahaman antar adik-kakak itu bertambah besar. *** Sementara Sadina menatap punggung kakaknya dengan sedih. Deral terus saja berjalan, menggenggam tangannya tapi tanpa bicara sedikitpun. Dari pada didiamkan begini, akan lebih baik dimarahi. “Kak Dei. Kakak harus dengar dulu. Dina bisa jelasin semuanya. Ini nggak seperti yang Kakak pikirkan. Yang tadi itu cuma, cuma, cuma salah paham.” Sadina terus mencoba menghentikan Deral. Kali ini langkah Deral tak terhentikan, bahkan tidak menoleh sekali pun. Seolah suara Sadina hanya angin lalu yang biasa diabaikan. Sangat menyakitkan diabaikan oleh seseorang yang kita sayangi. Lantas air mata Sadina terus berjatuhan. Sangat sakit menghadapi Deral yang tidak lagi peduli. Beberapa pejalan kaki menoleh ke arah mereka, tetapi Deral terus memimpi jalan, menggenggam tangan adiknya. Sedangkan Sadina hanya bisa menunduk lesu. Ia pasrah mau dibawa ke mana saja. Keinginannya hanya bicara dengan Deral. Sebenarnya jika bisa Deral ungkapkan. Sekarang ini ia tidak menoleh bukan karena tega. Ia paling tidak bisa mendengar tangisan adiknya. Deral akan cepat luluh dan berujung tidak jadi marah. Kali ini Deral harus memberi adiknya pelajaran. Deral tidak ingin orang tua mereka kecewa di surga sana. Ia telah berjanji akan menjaga Sadina. Di ujung jalan tiba-tiba sebuah mobil berhenti. Kaca depannya turun menampilkan seorang gadis seumuran Sadina. “Masuk, Kak Dei!” seru gadis itu. Senyuman lebarnya begitu hangat. Sepertinya mereka teman Deral, karena tanpa berkata apa-apa Deral membuka pintu belakang. Sadina sedikit didorong masuk ke salam mobil, diikuti Deral yang duduk di sampingnya. Sepanjang perjalanan keduanya saling diam. Masing-masing menoleh ke arah jendela. Sesekali Sadina melirik kakaknya. Nihil, Deral tetap bergeming. Hanya gadis di kursi depan yang berisik di mobil itu. Diladeni lelaki bertopi hitam sambil mengendalikan stir. Berkali-kali mereka mengajak Deral bercanda, tetapi hanya berakhir sunyi. Jadinya Sadina tidak enak. Karena marah padanya, orang-orang itu ikut mendapat akibat dari Deral. Mood Deral kelihatan tidak baik. "Mau kemana dulu nih kita?" tanya gadis di kursi depan saat mereka berhenti di perempatan lampu merah. "Ke tempat makan dulu." Deral akhirnya bersuara tanpa mengalihkan perhatian dari jendela. Tak lama hujan turun. Tetesan air menghalangi pemandangan pinggir jalan. Sepanjang perjalanan yang entah akan kemana, Sadina merasakan hampa. Musik yang diputar juga sangat mendukung. Hujan turun begitu deras, perasaan Sadina bertambah sendu. Tanpa disadari Deral melirik keberadaan adiknya. Perasaan bersalah seketika menyeruak melihat Sadina bersandar sambil memandangi tetesan hujan di jendela. Baginya juga sangat berat mendiamkan adiknya begini. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN