Bab 13 Diminta Penjelasan

1285 Kata
Di perjalanan Deral meminta temannya mampir ke tempat makan dulu. Semarah apa pun dia, tidak akan tega melihat adiknya kelaparan pulang sekolah. Apalagi di rumah sedang tidak ada makanan. Tinggal sendiri membuat Deral jarang masak. Seringnya ia membeli makanan di luar. Gadis yang terus menggandeng tangan Deral banyak tersenyum pada Sadina. Namanya Kirana, cerewet orangnya. Kirana terus mengajak Deral bicara meski tidak mendapatkan tanggapan. Ditambah dengan keadaan Deral sedang marah. Muka Deral nggak ada ramah-ramahnya. Namun, Kirana seolah terbiasa menghadapi perubahan emosi Deral ini. Galih, teman sekampus Deral yang menyetir mobil tadi juga ikut menggoda Deral agar mau bicara, tapi tidak berhasil. Mereka bisa menghadapi sikap Deral yang begini sepertinya sudah kenal dari lama. Sadina jadi tidak enak gara-gara dirinya, mereka harus bekerja lebih keras agar Deral bicara. “Tenang, jangan dipikirin. Kak Deral nggak bisa ngambek lama-lama. Kamu tahu, ‘kan?” Kirana mencondongkan badannya. Dari dekat menatap Sadina lumayan lama. “Aku pernah dengar Kak Dei cerita adik kesayangannya. Sadina beruntung banget bisa disayang Kak Dei. Dari dulu aku berusaha disayang, malah kayaknya bagi dia nganggep aku makhluk nggak kasat mata.” Mau tidak mau Sadina tersenyum geli mendengar perkataan Kirana. Selain cerewet, cara bicara gadis ini terlalu menggemaskan. Mata Kirana memancarkan kelembutan. Sadina dibuat nyaman pada perkenalan pertama mereka. Jarang-jarang ia bisa bertahan di dekat orang yang baru dikenal. Kirana terasa memperlakukannya sebagai teman lama. Meski cara bicaranya seperti tidak punya tanda titik, Kirana selalu memancing Sadina agar menanggapi perkataannya. Deral melihat itu interaksi adiknya dan Kirana. Bagaimana Sadina tersenyum karena ocehan Kirana, lalu Sadina yang berusaha menanggapi pembicaraan orang asing meski dengan sedikit tergagap. Perasaan bersalah telah membuat adiknya menangis membuatnya refleks mengusap pelan rambut Sadina. “Makan yang bener jangan ngobrol terus.” Sadina mengerjap kaget, tak mengira di balik perkataan datar Deral itu terdengar sangat perhatian. Menyadari keterkejutan adiknya, Deral menarik kembali tangannya sambil berdeham, “Mau tambah lagi makanannya?” “E-enggak, Kak.” Sadina menggeleng. Kirana tersenyum melihat perlakuan manis kakak pada adiknya ini. Ia lalu mendekat lagi dan berbisik, “Sweet banget ya kan love language-nya Kak Deral.” Kontan saja Sadina menggigit bibir. Malu sendiri dibilang perlakuan Deral barusan adalah bahasa sayang dari Deral. Memang dari dulu diam-diam Deral tipe orang perhatian, jarang marah, sekalinya marah juga tidak pernah lama. Setiap orang punya cara sendiri menyampaikan kasih sayang. Habis dari tempat makan mereka lanjut pulang ke rumah Deral. Lokasinya lumayan dekat dari tempat makan tadi. Sekitar sepuluh menit sudah sampai. Ketika Deral dan Sadina turun, Kirana juga ikut turun. “Rumahku di sebelah.” Seolah menjawab kebingungan Sadina, Kirana menunjuk rumah di samping rumah Deral. Mulut Sadina membulat. Jadi selain dekat, Deral dan Kirana juga bertetangga. Katanya Kirana tinggal terpisah dari orang tuanya. Kalau dipikir-pikir lagi masih mending Deral dan Kirana, bersama tapi beda rumah. Sadina dan Sajaka bersama di satu atap, satu sekolah juga. Namun hanya bisa bicara leluasa saat di rumah saja. Sedangkan di sekolah seperti tidak saling mengenal. Sebelum pergi ke rumahnya sendiri Kirana memeluk Deral. Kelihatan sekali Deral kaget. Matanya melotot lebar sambil menengok ke arah Sadina. Mungkin takut Sadina salah paham. Dari mukanya yang memerah, jelas Deral malu. Sadina tersenyum saja melihatnya. Baru kali ini ia melihat Deral salah tingkah. “Sadina, kalau ada apa-apa jangan sungkan suruh Kak Dei hubungi aku. Kamu juga bisa langsung ke rumah aku. Eh, tapi teriak dari samping rumah juga kedengaran kok, aku bakal langsung datang.” Kirana berjalan mundur sambil memberi flying kiss. Deral menanggapinya dengan merotasi bola mata. Sampai Kirana benar-benar masuk ke dalam rumahnya, mereka berdiri di depan pagar. Jika boleh menebak pasti ini kebiasaan Deral. “Masuk." Suara Deral menginterupsi. "Sekarang giliran kamu menjelaskan semuanya.” Perubahan sikapnya barusan ke mode dingin terlalu cepat hingga Sadina lengah dan beranggapan kalau Deral sudah tidak marah. Sadina kira kakaknya telah melupakan permasalahan tadi. Akhirnya ia tertunduk lesu memasuki rumah. *** "Kak Dei salah paham. Yang tadi itu nggak seperti yang Kakak pikirkan. Aku dan Jaka cuma lagi ngobrol biasa." "Jadi udah biasa kamu ngobrol sama dia sampai dia pegang tangan kamu kenceng banget gitu?" "Kak, nggak gitu ...." "Aku lihatnya kamu kesakitan." Walau Sadina menjelaskan soal kejadian di teras rumah Keluarga Argajaya bukan sebuah perundungan, Deral tetap belum mempercayai Sajaka orang baik. Deral menduga kalau yang dilakukan Sajaka bicara sambil mengintimidasi itu sudah jadi kebiasaan. Keinginan Deral tetap sama, Sadina tinggal bersamanya saja. Kalau bukan situasinya sudah malam dan besok mereka sama-sama harus pergi pagi, bukan tidak mungkin Deral mengajak bicara sampai subuh. Deral terlalu detail menghadapi masalah, sangat sulit meyakinkannya kalau Sadina baik-baik saja tinggal di rumah Sajaka. “Pokoknya ini belum selesai. Besok kita lanjut bahas lagi. Sekarang istirahat dulu.” Sadina akhirnya bisa beristirahat mendekati pukul 11 malam. Ia tidur di kamar Driandra, kakak perempuan Deral. Driandra sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Pergi tanpa persiapan jadinya Sadina hanya membawa tas sekolah dan seragam saja. Sadina mencari pakaian yang pas dari lemari milik Driandra. Waktu kecil Sadina cukup sering menginap di rumah Deral saat libur sekolah. Rumahnya tidak berubah banyak. Selesai berganti pakaian Sadina membuka ponsel. Ribuan pesan menyerbu begitu data internetnya menyala. Ini akibat tidak aktif selama beberapa hari. Pesan mereka tertimbun banyak. Deral, Sajaka, Selin, Deka, sebagian besar dari grup kelas. Hal serupa terjadi pula pada akun mysfit miliknya. Setelah login notifikasi pesan langsung menyerang. Di jam-jam mendekati tengah malam biasanya mereka masih online. Sadina lumayan terkejut di grup secret mereka banyak sekali percakapan. Penasaran Sadina membukanya tanpa berniat menanggapi terlebih dahulu. Terlalu banyak hal yang ia lewatkan selama masa hibernasi kemarin. dearJ : Sekolahku lagi musim UTS. Vianara : 2 QueenD : 3 Ricoo : Apaan 2 3 QueenD : Menghitung waktu @Ricoo QueenD : Bentar lagi meledak. Vianara : Tambah masalah sama ketos belum beres juga. dearJ : Besok ulangan matematika huhu cry cry noname : Belajar @dearJ noname : Lah perasaan nggak beres-beres masalah kalian @Vianara Ricoo : Lebih enak ngalong ya daripada ngapalin rumus @dearJ noname : @Ricoo sesat! Vianara : Gak akan beres sampai ada yang mati duluan kayaknya @noname Vianara : Dia cari gara-gara mulu Ricoo : Heh @noname kayak lo lagi belajar aja, dari tadi on terus juga. Ricoo : Lagi ngapain woy sampai ga akan beres kalau belum ada yang mati @Vianara? Ricoo : Dari awal masuk grup secret perasaan pada psikopat semua. noname : Kan moto grup secret “Anggap tempat ini tong sampah” Ricoo : Wooo iya baiklah, para sampah silakan bercengkerama. dearJ : Wkwk. Ricoo : Nyengir lu @dearJ QueenD : Aku melipir dulu gaesss mau bobo Vianara : @QueenD Bukannya besok ulangan? QueenD : Hehe, iya ngapalin kok. QueenD : Dalam mimpi. Ricoo : Btw  @Redzzona adem aja. Akunnya di-tag kontan Sadina mengerucut bibir. Inilah mengapa Sadina betah berteman dengan orang-orang dunia online. Mereka lebih mengerti bisa diajak bicara. Rico juga selalu menariknya ke dalam obrolan. Meski seseringnya Sadina hanya menyaksikan percakapan mereka, tapi lewat percakapan grup secret ini ia jadi merasa punya teman. Sadina merasa mereka sungguhan ada meski belum mengetahui satu sama lain di kehidupan nyata. Redzzona : Hai, maaf baru nimbrung. Redzzona : Lagi bahas apa? Chat-nya banyak banget. Ricoo : Kalau nggak kuat nanjak-nanjak, kita bahas yang lain aja. Redzzona : Bahas apa? Ricoo : Masa depan kita @Redzzona noname : Sudah kuduga. QueenD : Uwu Vianara : Bukannya tadi ijin tidur @QueenD? QueenD : Ga mau melewatikan Kapal ReRi lagi berlayar haha. Redzzona : Kapal ReRi apa? QueenD : Redzzona Ricoo. noname : Bukannya Zoco ya? dearJ : Zona Rico? Sadina menangkup kedua pipinya yang memanas. Tak menunggu lama ia keluar dari percakapan di web itu. Membiarkan teman-teman online melanjutkan obrolan. Candaan Rico selalu bikin perasaan Sadina aneh. Harusnya Rico tahu gara-garanya malam itu Sadina tidak bisa tidur. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN