Bab 14 Tidak Terduga

1169 Kata
Sadina tertegun menatap dua orang yang menyambutnya di depan gerbang sekolah. Kelas baru saja berakhir. Karena tidak ada kegiatan lain jadi Sadina memilih pulang. Namun bukan Deral yang dia temukan. Malah kedua orangtuanya Sajaka. Sadina sempat mengedarkan pandangan ke sekitar mencari keberadaan Sajaka. Cowok itu tidak terlihat di mana-mana. Senyuman mereka mengembang lebar begitu melihat kedatangannya. Jadi ia balas menghampiri mereka.   Mereka tampak senang melihat Sadina. Entahlah, terasa seperti sesuai harapan Sadina datang pada mereka? Padahal dalam benak Sadina bertanya-tanya, mereka datang ke sini untuk menemuinya atau untuk Sajaka. "Tante--" Belum rampung perkataannya, Sadina dengan cepat diraih ke dalam pelukan erat. "Sadina, Tante kangen ...." Cukup lama Selin memeluk Sadina sampai suara Deka menginterupsi. "Sayang, kasihan Sadina nggak bisa napas." "Eh, iya, iya, Sadina maaf. Tante terlalu seneng lihat kamu lagi setelah beberapa hari. Kabar kamu baik, kan?" "Aku baik, Tante. Maaf nggak ngasih kabar waktu aku diajak pulang ke rumah Kak Dei. Mungkin besok atau lusa aku bawa barang-barangku dari rumah Tante. Kak Dei minta aku tinggal di rumahnya aja. Rumahnya cukup besar, kasihan Kak Dei tinggal di sana sendirian." "Loh, kok gitu sih? Nggak usah diambil barang-barangnya. Kamu tinggal di rumah kami aja." "Tapi, Tante--" "Udah ..., Sadina tinggal sama Tante aja. Kalau kasihan lihat kakak kamu tinggal sendirian, minta aja Dei tinggal di rumah kami juga. Masih ada kamar kosong kok. Dei bisa tinggal di sana. Iya, kan, Pa?" "Iya, kamar kakaknya Sajaka jarang dipakai. Yang punyanya jarang pulang. Sajaka juga pasti seneng ada pengganti kakaknya bisa diajak main." Sadina cuma senyum aja, soalnya nggak yakin Deral bisa diajak main Sajaka. Pertemuan pertama mereka aja udah ribut. Kelihatan jelas Deral tidak menyukai Sajaka. "Aku harus bilang dulu ke Kak Dei." Selin tampak kecewa. Dielusnya rambut Sadina pelan. "Dua hari nggak ada kamu di rumah sepi banget." "Om juga kepikiran belum menepati janji ajak Sadina jalan-jalan ke wisata alam sekitaran Dago," tambah Deka. "Weekend ini mau?"  "Boleh tuh sekalian kita piknik. Udah lama kita nggak piknik ke tempat alam-alam gitu."  Oh, ini pembicaraan yang waktu pertama kali Sadina menginjakan kaki di rumah Argajaya. Deka pernah menjelaskan dekat dari perumahan ada hutan lindung yang sebagian wilayahnya jadi objek wisata. Sadina sempat surfing juga di internet apa saja tempat wisatanya. Ternyata bagus-bagus. Apalagi kalau tujuan utama mengambil foto. Hangatnya percapakan keluarga ini yang membuat Sadina betah tinggal di rumah keluarga Sajaka. Ia bisa mendapatkan kasih sayang orang tua lengkap, meski bukan dari orangtua kandung. Mereka betul-betul menyayangi Sadina layaknya anak kandung. Bedanya setiap Sajaka berbuat kesalahan pasti mama dan papanya marah dan ngomel panjang. Sedangkan Sadina hanya dibantu menyelesaikan masalah itu, tapi tidakk pernah kena marah. Selin dan Deka memperlakukan Sadina sangat lembut dan hati-hati. Mungkin agak gimana juga memarahi anak orang. Jadi mereka tidak seleluasa pada Sajaka.  "Sadina!" Suara familiar terdengar tidak lama kemudian. Deral baru tiba dengan motor vespanya. Dilihat dari setela yang dikenakan Deral baru pulang kuliah. Kampus tempat Deral kuliah agak jauh dari sekolah Sadina. Makanya tadi Sadina menolak dijemput Deral, kasihan. Tapi tetap saja, Deralnya memaksa. Muka Deral langsung menunjukkan ketidaksukaan menyadari Sadina ditemani Selin dan Deka. Deral berjalan sedikit angkuh. Bagaimanapun ia harus mempertahankan Sadina di sisinya. "Deral, apa kabar?" Selin menyapa. Deral sedikit mengangguk. "Baik, Tante." Lalu menoleh pada Sadina yang takut kakaknya kembali terlibat dalam keributan.  "Udah lama?" tanyanya pada Sadina.  "B-baru aja." Sadina mengangguk sambil memelintir ujung tali tas. "Yuk, pulang." Deral meraih jemari Sadina, menggenggamnya erat. Sadina sempat membagi pandangan antara Deral yang menariknya pergi dan Selin yang bergeming. "Tante, aku duluan." Walau terlihat jelas Selin kurang ikhlas melepas Sadina pergi. Selin berusaha tersenyum lembut. Mereka masih berdiri di tempat itu hingga keberadaan Sadina hilang dari pandangan dibawa Deral. Dika meraih tangan istrinya yang tergepal kuat. "Nanti kita bawa Sadina pulang lagi." *** “Kak Dei masih marah?” Sadina bertanya setelah mereka tiba di rumah bergaya klasik itu. Deral melepas helm dan mendorong motor vespa-nya ke dalam garasi, tidak langsung membalas pertanyaan Sadina. Sementara Sadina diam saja memerhatikan kakaknya. “Kuncinya di bawa keset,” kata Deral menunjuk dengan ujung mata, menyuruh adiknya masuk ke dalam rumah lebih dulu. Sadina menebak kalau Deral memang tambah marah akibat melihat kedua orang tua Sajaka di depan sekolah tadi. Sebenarnya Sadina juga tidak kalah kaget mereka tiba-tiba ada di sana dan mengajaknya pulang ke rumah mereka pula. “Aku nggak minta mereka jemput aku kok. Serius. Tiba-tiba aja mereka udah nunggu di sana pas aku keluar gerbang,” jelas Sadina begitu Deral ikut masuk ke rumah. Sadina mengikuti langkah kakaknya ke dapur sambil terus menjelaskan apa yang terjadi. Tujuannya supaya Deral tidak salah paham. Soalnya Sadina hapal betul kakaknya ini suka menyimpulkan sesuatu lewat apa yang dia lihat. Padahal kan belum tentu yang terlihat itu adalah kebenaran. “Aku bilang mau ambil semua barang-barangku, tapi mereka minta aku tinggal di sana lagi, terus aku nolak. Aku bilang Kak Dei minta aku tinggal di rumahnya aja.” “Jadi kamu terpaksa mau tinggal di sini karena aku yang minta bukan karena keinginan kamu, Dina?” Deral memicing. Tuh, ‘kan? Deral selalu cepat menyimpulkan sehingga semuanya tambah runyam. “Bukan gitu, Kak .... Aku menolak karena memang udah benar aku tinggal dengan kakak sendiri daripada tinggal sama orang lain.” “Tapi kamu kayaknya lebih nyaman tinggal sama mereka daripada tinggal di sini.” Deral membuka lemari pendingin dengan kasar. Ia mengambil sebotol air putih dingin dan menuangkannya ke dalam gelas kosong. Perhatian Sadina sempat terdiktrasi melihat segernya air yang Deral minum. Selama perjalanan pulang tadi Sadina haus. Cuma karena melihat kakaknya marah saja ia jadi lupa soal haus itu. “Kata siapa?” Pantat gelas dan permukaan meja beradu, bersamaan dengan itu Deral menjawab, “ Nggak usah cerita juga udah kelihatan. Kamu udah nyaman sama mereka. Cuma karena nggak enak sama aku aja jadi mau tinggal di sini.” Bahkan Deral masih mengingat jelas dulu Sadina mengatakan akan tinggal di rumah Selin di depan mukanya. Sadina menolak tinggal bersama Deral dan lebih memilih tinggal dengan orang lain. Bahkan kemarin kalau bukan karena Deral menyeret paksa Sadina pergi dari sana, sekarang Sadina tidak akan berdiri di rumahnya. Mengapa jadi seperti Deral-lah orang lain itu? “Nggak heran sih, di sana ada figur keluarga lengkap. Yang kamu butuhkan dan mau dari dulu.” Deral tersenyum sinis. “Kak Dei ngomong apaan sih?” Sadina tidak menampik tinggal di keluarga Argajaya membuatnya merasakan utuhnya sebuah keluarga. Hal itu bukan berarti tinggal besama Deral tidak nyaman. “Aku lagi ngomong soal kenyataan,” balas Deral menatap langsung netra Sadina. “Di sini kamu nggak akan mendapatkan apa pun. Aku juga nggak yakin bisa ngasih semua perhatian seperti yang kamu dapatkan di sana. Jadi aku nggak akan memaksa kamu untuk memilih, karena aku tahu itu nggak akan membuat kamu bahagia.” “Kak.” Sadina tercekat. Ada getar kesedihan yang dalamnya tidak bisa Sadina perkirakan di kedua mata Deral. Rasanya seperti Deral sedang meminta tolong dan menyuruh siapapun pergi dari sisinya secara bersamaan. Ini terlalu membingungkan. Dari sana Sadina menyadari ada yang tidak benar pada Deral.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN