Bab 15 Mencari Cara

1227 Kata
Deral tidak keluar kamar usai percakapan sore tadi. Pintunya menyisakan sebuah celah kecil yang memperlihatkan lampu kamarnya menyala. Namun Sadina tidak berani membuka pintu itu untuk kembali mengajak Deral bicara. Meluruskan permasalahan mereka misalnya? Saat ini Deral harus dibiarkan sendiri dulu. Takutnya bila terus diajak bicara saat pikirannya kalut, bukan menyelesaikan masalah malah menciptakan masalah baru. Makanya Sadina hanya bisa mengintip kakaknya dari celah pintu. Deral berada di atas tempat tidur dengan laptop di pangkuannya. Entah sedang mengerjakan pekerjaan apa. Kala itu Sadina masuk ke dalam kamar. Pikirannya terus terngganggu sampai tidak bisa tidur. Sadina bingung bagaimana agar komunikasi antara ia dan Deral berlangsung baik. Salahnya juga dulu mengabaikan permintaan Deral agar mereka tinggal bersama. Sadina malah memilih tinggal bersama orang lain. Namun di balik pilihan Sadina juga karena ada alasan. Ibunya yang meminta Sadina tinggal bersama Selin. Deral juga tahu tentang wasiat itu. Bagaimanapun Sadina mengerti sikap Deral sekarang adalah wujud kepeduliannya. Sadina sangat berterima kasih untuk itu. Karena di dunia ini tinggal Deral keluarga yang Sadina punya. Getar ponsel di atas tempat tidur membuyarkan lamunan. Pada layar ponsel muncul nama Sajaka. Sadina menggeser ikon gagal telepon warna hijau. "Halo?" Helaan napas panjang terdengar dari seberang telepon. "Aku menelepon kamu dari tadi. Kenapa nggak diangkat-angkat?" Sadina meringis, sedikit merasa bersalah. Situasi tadi agak membuatnya ragu untuk menjawab telepon Sajaka. Ia tahu cowok itu menghubunginya. Namun demi menghindari kekesalan Deral, Sadina harus mengabaikan panggilan dari Sajaka. "Maaf, Jaka. Aku lagi nggak bisa menjawab telepon kamu. Di sini situasinya lagi nggak baik." "Nggak baik gimana? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan, Din?" Sajaka terdengar panik. "Aku nggak apa-apa. Cuma Kak Dei marah. Aku sedih." "Karena tadi orang tua aku ke sekolah jemput kamu?" tebak Sajaka setelah diam sebentar. "Aku tadi lihat dari jauh, mereka ngobrol sama kamu di depan gerbang. Apa pun yang mereka bilang, jangan sampai dibikin pusing. Aku mau minta maaf juga atas nama mereka." Sadina menggeleng. "Enggak. Aku yang harusnya minta maaf. Kamu, Tante Selin, Om Deka baik banget sama aku. Tapi aku malah gini, bikin masalah." "Sebenarnya aku mau ketemu sama Kak Deral." "Mau apa?" Kening Sadina berkerut. Sudah terbayang saja banyak ketakutan kalau dua orang ini bertemu. Mengingat Deral tempo hari kentara mengobarkan bendera permusuhan. "Kakak kamu kayaknya salah paham sama kejadian waktu itu. Aku juga salah sih udah kasar ke kamu. Maaf ya Dina, waktu itu aku beneran kesel kamu nyembunyiin hal sepenting itu. Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa aja." "Kamu bersikap begitu juga karena aku yang salah. Jadi maafin aku juga. Dan soal Kak Dei, aku rasa buat sekarang ini kamu nggak akan bisa ngobrol sama dia." "Marah banget ya?" Nada bicara Sajaka terdengar sedih. "Iya sih pasti." "Aku lagi berusaha ngejelasin semuanya. Kamu tenang aja." Selama mereka kenal, baru kali ini mengobrol di telepon cukup lama. Sadina cukup senang bisa bicara dengan Sajaka. menghadapi kemarahan kakaknya, Habis mondar-mandir sambil memikirkan cara supaya amarah Deral reda, tidak sengaja perhatiannya tertuju pada pemandangan di jendela kamar. Rumah di samping lampunya masih menyala. Sadina berpikir apa Kirana masih terjaga? Sadina jadi teringat perkataan Kirana kalau ada apa-apa bisa meminta bantuannya. Sebentar Sadina termenung, kemungkinan Kirana bisa membantu dalam masalah ini. Ditambah Kirana dan Deral tampaknya cukup dekat, pasti mengerti bagaimana mengatasi amarah Deral. Diam-diam Sadina nekat keluar rumah malam itu. Ia tahu tidak sopan bertamu di waktu istirahat. Seluruh lampu rumah Kirana masih menyala. Tandanya masih terjaga. Kalau rumah sebelah menampakan penghuninya telah beristirahat juga Sadina tidak akan berani mengganggu. "Loh, Sadina?" Seseorang memakai piyama bermotif boneka beruang dan mengenakan sendal karakter kartun beruang berwarna kuning membuka pintu. Kirana--gadis itu-- terkejut mendapati Sadina berdiri di depan pintu rumahnya dengan senyuman canggung. Kirana melongokan kepala keluar rumah, melirik kanan-kiri. "Sendirian?" Kirana bertanya agak kecewa. Sadina tahu maksud pembicaraan Kirana ke mana. "Kak Dei di kamar terus dari tadi sore. Nggak turun-turun. Makanya aku ke sini, mau ngobrol sesuatu. Ganggu, nggak?" "Ganggu banget," balas Kirana sinis. Dengan cepat wajah cemberutnya berubah drastur. "Bercanda .... Nggak ganggulah. Ayo, sini, masuk." Pintu rumah dibuka lebar. Sadina melangkah masuk ke dalam rumah Kirana. "Kamu tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Sadina melihat-lihat sekeliling. Kalau Deral kan cowok jadi masih bisa dimaklumi tinggal sendiri di rumah yang cukup besar. Sedangkan Kirana selain cewek juga masih SMA. Rumahnya Kirana juga besarnya tidak jauh dengan rumah milik Deral. Bagaimana rasanya tinggal sendirian di tempat sebesar ini? Sadina mengusap lengan. "Iya, sendirian." Kirana menjatuhkan diri ke atas sofa besar di ruang tengah. "Orang tua kamu ngebolehin? Kan masih SMA." "Orang tua aku nggak masalah kok. Asal bisa ngurus diri sama rumahnya aja. Lagian ini kayak latihan hidup mandiri. Sesekali juga aku pulang ke rumah. Rumah orang tuaku lumayan deket dari sini. Eh, kalau mau minum atau cemilan ambil aja ya di dapur." Kirana memakan snack kentang. "Temen-temennya Kak Dei juga biasa aja masuk sini ambil makanan sendiri. Nggak usah sungkan." "Temennya Kak Dei?" "Iya, dingin-dingin gitu juga Kak Dei punya temen. Aku sering gabung sama mereka, karena aku baru kan di lingkungan ini jadi belum punya temen." Sadina mengangguk-angguk, tanpa sadar bilang, "Aku juga." Meski matanya fokus pada tayangan film luar di televisi, Kirana mendengar suasa Sadina. Saat menoleh, di sampingnya Sadina tengah melamun. "Aku juga apa?" "Enggak punya temen," jawab Sadina dalam hati. Apa yang diucapkan sering berbeda dengan perkataan dalam hati. Sadina menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Kirana. "Kamu sekolah di SMA Deltaepsilon, kan?" "Iya, Kak Dei juga bilang kamu sekolah di sana." "Apa? Kak Dei ngegibahin aku?" Kedua mata Kirana membulat. "Gimana, gimana? Apa aja yang diceritain Kak Dei tentang aku?" "Hng ..., banyak sih." "Banyak?" Kali ini Kirana memekik diikuti senyuman lebar. "Iya ..., tapi aku ke sini bukan mau ngobrolin itu." *** Harapan Sadina berada pada Kirana sekarang. Katanya dia akan mencoba bicara pada Deral. Pasalnya Sadina benar-benar bingung bagaimana bicara pada Deral, tetapi tidak menyebabkan kakaknya itu menyalahkan diri sendiri. Sama seperti dirinya, Deral punya karakter sensitif. Mudah terpengaruh oleh perasaan-perasaan yang bisa jadi hanya dugaan. Jika orang-orang seperti ini disatukan akan seperti Sadina dan Deral. Komunikasinya sulit terhubung. Keinginan Sadina juga bisa betah tinggal bersama kakak sendiri daripada di rumah orang lain. Kalau baru tiga hari saja mereka begini, Sadina sulit membayangkan caranya bagaimana bertahan tinggal bersama Deral. Dan pagi ini Deral kembali mengantar Sadina ke sekolah. Masih dalam keadaan diam sepanjang jalan. Kalau saja Deral tahu tenggorokannya selalu sakit tiap berdekatan dengan seseorang tapi mereka tidak bicara apa-apa. Rasanya Sadina lebih baik berangkat sekolah sendirian. Sayang, Sadina sulit menolak keputusan kakaknya mengantar-jemput ke sekolah. "Kak Dei, dengerin Dina dulu!" Sadina mencekal tangan Deral sebelum menyalakan starter motor. Malas-malasan Deral membalas, "Apa?" "Kak, kalau Kak Dei nggak percaya aku mau tinggal di rumah Kakak. Nanti pulang sekolah antar aku ke rumah Sajaka. Aku mau ambil barang-barang aku di sana pindahin ke rumah Kak Dei--" "Nggak usah repot-repot." Deral menyela. "Kak Dei ...." Rajukan adiknya tidak memengaruhi sikap Deral. Deral malah menghela napas panjang. "Emang mending kamu tinggal di sana aja dulu. Tinggal sama aku untuk sekarang nggak baik." "Nggak baik gimana?" Deral menggeleng, yang ia maksud "nggak baik" itu adalah mentalnya sendiri. Ia tidak ingin kesehatannya menyakiti orang terdekat. Kalau bisa jangan sampai Sadina tahu kondisi Deral sebenarnya. "Kak?" "Udah sana, udah bel tuh. Pulang jam segitu lagi, kan? Nanti aku antar pulang ke rumah Tante Selin." "Maksud Kak Dei ap--Kak!" Deral pergi tanpa menjelaskan maksud perkataannya. Pulang ke rumah Selin? Sadina semakin yakin Deral menyembunyikan sesuatu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN