“Harusnya kalian nggak melakukan ini pada Sadina.” Perkataan Sajaka membuat dua orang yang duduk di meja makan bersamanya mendongak. Keduanya saling berpandangan sesaat.
Sajaka menghela napas, melanjutkan perkataannya. “Sajaka selalu menuruti permintaan Mama dan Papa untuk nggak dekat dengan Sadina meski di antara kami nggak pernah ada masalah. Sajaka nurut. Tapi kalau kenapa kalian juga melakukan ini pada Sadina?”
“Apa maksud perkataan kamu ini, Sajaka? Mama nggak ngerti.”
“Ma, jangan paksa Sadina memilih untuk bersama kalian atau bersama kakaknya. Kita nggak ada hubungan keluarga sama Sadina. Jangan menekan dia sampai bikin dia bingung.”
Sarapan pagi itu resmi berhenti karena sebuah perdebatan telah dimulai. Deka menaruh kembali cangkir kopi yang mengambang di udara ke atas meja. Selera makannya mendadak hilang.
“Kamu nggak lupa kan kalau Mama dan Papa sudah menganggap Sadia seperti putri kami sendiri. Oh, Mama tahu kamu ngomong gini karena cemburu ya perhatian kami sekarang nggak sepenuhnya ke kamu. Harus dibagi dengan Sadina juga. Sajaka ..., kamu itu tetap anak kesayangan kami.” Selin mengusap rambut putranya dengan gemas.
Sajaka menyingkirkan tangan ibunya pelan. Mendapat sikap begitu, lantas kening Selin mengkerut dalam. Ia tidak tahu kalau Sajaka bisa sesensitif ini. Sementara jauh dari dugaan Selin, Sajaka malah berpikir mengapa bisa-bisanya Selin mengira ia cemburu.
“Ma, bukan hal itu yang Sajaka maksud. Ini bukan kasih sayang kalian pada Sadina dan kasih sayang kalian sama aku. Ini soal sikap Mama dan Papa yang sepertinya lupa kalau Sadina putri orang lain. Sadina bukan Kak Renada, Ma.”
“Sajaka!” Deka membentak. Suaranya menggema keseisi rumah sehingga atmosfer di sekitar mereka berubah menjadi sangat dingin. Deka menatap nyalang Sajaka di kursi paling ujung. Sedari tadi ia menaha diri untuk tidak menyela perkataan putranya, sebab ia telah mengerti kemana pembicaraan ini akan bermuara. “Jaga ucapan kamu.”
“Pa, Sajaka bicara soal kenyataan. Selama ini Sajaka diam aja melihat kalian memperlakukan Sadina. Kasih sayang kalian ini ngingetin aku sama apa yang terjadi di masa lalu saat Kak Renada masih ada. Kalian udah mengekang Kak Renada, dan sekarang terjadi lagi sama Sadina—“
“Sajaka!” Bentakan Deka menyela ucapan Sajaka lagi. Kali ini dibarengi dengan pukulan keras di meja, menyebabkan kopi di hadapannya sedikit tumpah dari cangkir. “Sadar apa yang sudah kamu katakan barusan? Kamu mengungkit mendiang kakakmu dan membandingkannya dengan Sadina?”
Sementara itu, Selin hanya diam di tempat. Perkataan-perkataan Sajaka terus masuk ke dalam telinga, tetapi ia seperti telah dikutuk menjadi batu. Lidahnya kelu untuk menyanggah semuanya.
“Karena itu yang Sajaka rasakan dari awal Sadina tinggal dengan kita. Bahkan kalian seolah sengaja menjauhkan Sadina dari keluarganya. Setiap Kak Deral mengajak Sadina bertemu di akhir pekan selalu saja ada alasan yang kalian buat agar Sadina tetap di rumah atau ikut dengan kalian ke suatu tempat. Kemarin kalian memperkenalkan Sadina pada seseorang yang—apa kata kalian? Kakak seayah Sadina? Ma, Pa, Sadina nggak pernah tahu kalau dia punya kakak perempuan dari ayahnya. Dia bahkan udah lupa ayahnya itu gimana.” Sajaka membuang napas kasar. Bukan lelah memberikan penjelasan agar kedua orang tuanya mengerti kalau tindakan mereka pada Sadina itu salah, tapi Sajaka lelah melihat kesedihan di mata mata Selin dan Deka saat mendengarkannya bicara. “Mama sama Papa pasti lebih mengerti gimana situasi Sadina. Aku cuma dekat dengan Sadina waktu kecil dan itu masih nggak ngerti apa-apa. Kalau dia nggak cerita soal keadaan keluarganya, aku juga nggak akan tahu dia melewati banyak hal sulit.”
“Sudah bicaranya?” Deka bersuara. “Biar Papa jelaskan. Kami nggak pernah menghalangi Sadina bertemu siapapun. Cuma kebetulan saja setiap Sadina janjian bertemu dengan kakaknya, kita juga ada acara. Sadina ikut bersama kami semuanya atas keinginan dia, kami tidak pernah memaksa. Dan apa tadi? Tentang kakak perempuannya Sadina, Haradisa? Papa sama Mama punya alasan mempertemukan mereka malam itu. Ini amanat dari mendiang ibunya Sadina untuk mempertemukan Sadina dengan kakaknya.”
“Tapi kalian bisa kan ngasih tahu Sadina dulu soal keadaannya? Mungkin bagi kalian ini sebuah kejutan dan Sadina bakal seneng. Nyatanya kalian nggak tahu gimana perasaan dia karena nggak pernah peduli. Ini yang kalian lakukan pada Kak Rena dulu. Penyesalan udah kehilangan Kak Rena bikin Mama dan Papa mengulang masa lalu dan menganggap orang lain sebagai Renada.”
Kursi paling ujung bergerak mundur dengan kasar. Di sana Deka telah berdiri hampir menampar Sajaka. Namun suara Selin mengalihkan perhatian anak dan ayah itu.
“Sajaka benar. Mama belum bisa memaafkan diri sendiri karena gagal menjaga putri keluarga ini. Makanya setiap bersama Sadina, Mama ngerasa sesuatu yang sempat hilang keisi lagi. Dia mirip dengan mendiang kakak kamu. Mama melihat Renada dalam diri Sadina.”
“Ma?” Deka mencoba menghentikan ucapan istrinya.
Selin menggeleng, tidak menggubris perintah Deka. Ia kembali melanjutkan perkataannya. “Tapi ucapan Sajaka nggak ada salahnya, Pa. Harus kita akui kalau selama ini kita merindukan Renada. Dari awal melihat Sadina kita merasa Renada masih hidup.”
Sedih sebenarnya Sajaka harus mendengar ibunya menceritakan ini. Namun ia tidak ingin keluarganya menyakiti orang lain. “Aku juga melihat sosok Kak Rena dalam diri Sadina, tapi aku selalu menahan diri. Mama dan Papa juga seharusnya tahu batasan kalau Sadina bukan Kak Rena. Kita nggak bisa memperlakukan dia seperti seseorang yang kita kenal.”
Helaan napas Selin terdengar berat. Sein beranjak dari tempat duduknya, berjalan mengitari meja makan untuk memeluk Sajaka dari belakang. Selin menumpu dagu di atas puncak kepala putranya. “Maafkan kesalahan kami ya. Mama dan Papa seharusnya mengerti gimana perasaan Sadina sebelum berbuat sesuatu. Tapi jujur, kami nggak ada maksud jahat. Mama dan Papa cuma ingin Sadina bahagia. Kamu tahu kan dia udah kayak putri keluarga ini?”
“Harusnya kalian meinta maaf ke Sadina. Sajaka percaya Mama dan Papa sayang banget sama Sadina. Yang Sajaka takut kejadian di keluarga kita bertahun-tahun lalu keulang lagi.” Sajaka menyentuh tangan Selin yang tengah memeluknya, lalu mendongakan kepala. “Ma, Mama bisa janji satu hal?”
Terdengar gumaman Selin. Deka kembali duduk, raut wajahnya berangsur tenang. Walau tetap saja ia begitu hati-hati mendengar pembicaraan anak dan istrinya. Bukan apa-apa, hanya ia takut perkataan Sajaka akan menyakiti perasaan Selin.
“Janji apa?”
“Janji, kalau Mama nggak akan bikin Sadina milih antara keluarganya atau keluarga kita.”
“Mama nggak pernah bikin Sadina milih—“
Sajaka memohon, “Ma ..., please?”
Sebentar Selin membalas tatapan Deka. Mereka seperti tengah bicara lewat tatap mata dan tanpa bersuara. Sajaka menanti jawaban dari ibunya dengan perasaan berdebar.
“Oke. Mama nggak akan ikut campur sama urusan keluarga Sadina. Dia boleh tinggal di mana aja dan itu nggak akan mengurangi sayangnya Mama ke Sadina.”
Segaris senyuman lantas menjadi lebar menampilkan deret gigi yang rapih. Sajaka berdiri dari duduknya dan balas memeluk Selin sembari menggumamkan banyak terima kasih. Satu beban terasa terangkat dari kepala Sajaka. Kini ia hanya perlu meluruskan kesalahpahaman antara dirinya dan Deral, kakaknya Sadina. Untuk bagian ini tampak akan lebih sulit.
Entah bagaimana keadaan Sadina di sana, apa sudah berhasil bicara dengan kakaknya atau tidak. Sajaka harus mencari cara agar bisa bicara dengan Sadina di sekolah nanti. Bersandiwara tidak mengenal Sadina di sekolah sangat sulit baginya. Namun harus tetap ia lakukan demi kebaikan mereka juga.
***
Usai mendapat kecupan di punggung tangan. Sekali lagi selin mengusap sisi kepala putranya dengan sayang. Sajaka memeluknya sebelum beranjak dari teras rumah mengendarai motornya ke sekolah.
Seperti biasa keadaan rumah berubah sepi setelah semua orang pergi menjalani aktivitas hari-hari. Hanya ia dan asisten rumah tangga—yang datang paling pulang sore—ada di rumah. Kegiatan Selin selanjutnya hanya mengurus tanaman dan berdiam diri di dalam rumah. Selin tengah menyiram tanaman hias yang baru datang kemarin sore ketika ponsel miliknya berdering.
Agak terkejut ia saat melihat sebuah nama di layar ponselnya muncul. Firasatnya mengatakan akan ada kabar baik.
“Iya, halo?”
“Halo, Tante. Ini Deral.”
Mendengar suara itu, Selin tersenyum sembari mematikan alat pernyiram tanaman. “Iya, Dei? Gimana?”
“Aku udah memikirkan apa yang Tante bilang tadi malam. Nanti, Deral akan mengantar Sadina ke rumah Tante pulang sekolah.”