Bab 17 Mereka Berbaikan

1220 Kata
Pulang sekolah betulan Deral mengantarkan Sadina ke Dago. Deral tidak mendengarkan Sadina agar mereka pulang ke rumah Deral saja. Sepanjang jalan Sadina murung, sedih dengan kemarahan kakaknya ini. Ia bahkam tidak berani berpegangan pada jaket yang dipakai Deral saat diminta. Begitu sampai di rumah keluarga Argajaya, Selin seperti sudah mengetahui akan kedatangan mereka. Selin keluar rumah dengan senyum semeringah sesaat setelah motor Deral masuk ke halaman rumahnya. "Sadina ...." Senyum Selin sangat cerah. Wanita itu lebih dulu melangkah ke arah Sadina, dan memeluknya erat. Lewat bahu Selin, Sadina menatap Deral yang bergeming. Deral tidak bereaksi apa-apa membuat Sadina makin bimbang tentang apa yang sedang terjadi. Pikirnya masih bertanya-tanya mengapa Deral mengantar ke sini. Padahal sebelum-sebelumnya Deral selalu membujuknya agar pergi dari rumah keluarga ini. Sangat sering Deral meminta mereka tinggal bersama saja meski sekarang kedua orang tua mereka telah tiada. Sadina selalu menolak dengan halus. Maka sekarang ketika Deral tanpa paksaan mengantar pulang ke tempat ini rasanya seperti ... dibuang? Apa Deral akan setega ini melupakan ikatan persaudaraan? Sadina terus menatap ke arah Deral. "Akhirnya Sadinanya kami pulang juga." Selin menangkup wajah Sadina. "Kok kamu kurusan sih, Sayang? Pasti makannya nggak teratur lagi, ya?" Raut muka Deral makin muram mendengar perkataan Selin. Tangannya tergepal di kedua sisi. Namun ia tidak bisa berbuat banyak selain menahan emosi. "Eh iya, Deral terima kasih ya sudah antar Sadina ke sini. Ayo, kita masuk dulu. Tante udah menyiapkan banyak makanan khusus untuk kalian. Yuk, kita makan dulu, terus nanti ngobrol lagi--" "Maaf, Tante. Aku mau langsung pulang aja. Kebetulan harus ke rumah teman untuk tugas kuliah." Deral menyela cepat. Urusannya hanya mengantar Sadina, dan itu telah selesai. "Loh, kok buru-buru, Deral? Kan, baru nyampe." "Kak Dei." Sadina langsung memegang ujung jaket Deral. Sikap dingin Deral ini terlalu menakutkan. Terasa seperti Deral sedang menyerahkan Sadina pada orang lain. Bagaimana Sadina tidak berpikir begitu, terlebih Deral tidak menjelaskan apa pun mengapa bisa berubah pikiran dalam satu malam. Jelas-jelas mereka meributkan masalah ini kemarin sore. Deral juga belum mendengar pendapat Sadina masih mau atau tidak tinggal di rumah keluarganya Selin. Andai saja Deral percaya Sadina sungguhan ingin tinggal di rumahnya. Sangat sulit menyakinkan Deral. "Tante, saya titip Sadina di sini, ya? Maaf kami ngerepotin Tante sekeluarga." "Kami tidak pernah merasa direpotkan dengan adanya Sadina di sini, Deral. Tante malah seneng banget ada temen ceweknya di rumah. Kamu juga bisa menemani adiknya di sini. Tinggal juga bersama kami. Kamu tinggal sendiri kan di rumah? Sadina selalu khawatir kamu tinggal sendirian. Tinggal aja di sini. Masih ada kamar kosong. Makin banyak orang kan makin ramai suasananya." Sesaat Deral menunduk sebentar, senyumannya tipis. "Terima kasih sudah menyayangi Sadina setulus hati, Tante. Maaf saya harus jaga rumah peninggalan orang tua, jadi harus terbiasa di sana." "Kamu ini. Eh, sebentar kalo gitu Tante bungkusin makanannya dulu ya, biar kamu makan di rumah." "Jangan, Tante. Nggak usah. Habis dari sini Deral mau ke rumah teman dulu." "Nggak apa-apa .... Cuma sebentar kok. Tante udah masak banyak biar Dei makan di sini. Sebentar ya!" Setengah berlari Selin memasuki rumah. "Nggak usah, Tan--" Perkataan Deral menggantung di udara. Selin keburu hilang di balik pintu. Perlahan Deral melepaskan genggaman Sadina di ujung jaketnya. Ia beralih mengusap kepala Sadina pelan. Menatap lembut adik kesayangan. "Jaga sikap di sini baik-baik. Ingat, sebaik-baiknya mereka sama kamu, tetap aja ini rumah orang lain. Jangan nyusahin yang punya rumah. Kalau ada apa-apa hubungi aku. Ngerti?" Sadina mengangguk patuh. "Kak. Kak Dei nggak lagi ngebuang aku, kan?" Suara Sadina goyah menahan tangis. "Jangan aneh-aneh ngomongnya." Deral terkekeh. "Mana ada aku buang adik sendiri. Kenapa bisa mikir gitu?" "Habisnya sekaenag Kakak kayak lagi ngelepas aku ke keluarga lain. Kedengarannya kayak lagi nyuruh aku jauh-jauh dari kakak. Kenapa sih Kak Dei nggak percaya kalau aku maunya tinggal sama kakak aja? Aku ambil baju-baju aku di rumah Tante Selin aja ya sekarang? Kita pulang." Elusan lembut Deral berubah jadi jitakan keras. Sontak Sadina mengeluh sakit. "Ngebiarin kamu tinggal di sini bukan berarti aku lepas tanggung jawab sebagai kakak. Untuk sekarang memang lebih baik kamu tinggal di sini." "Iya, kenapa?" Bendungan air dipelupuk mata siap tumpah. "Aku lagi banyak tugas di kampus. Kemungkinan bakal jarang di rumah. Kamu bakal sendirian di rumah dan pasti itu bakal bikin aku nggak tenang." "Kan ada Kirana. Rumahnya tetanggaan, aku bisa nyamperin dia kalau Kak Dei lagi nggak ada." "Dia jarang di rumah juga, Dina. Udah lah, di sini dulu. Tiap weekend atau kapan aja kamu bisa kan pulang. Kamu udah tahu dimana aku naruh kunci rumah. Nggak apa-apa mau dikatain posesif juga, pokoknya minimal setiap hari ngehubungin. Terus di hari libur kamu harus ke rumahku nginep di sana. Aku ngerasa kita nggak sedekat dulu lagi, iya, 'kan?" "Dulu waktu kecil kita deket banget." Sadina mengusap pipinya yang basah. Ingatan tentang masa kecil mereka sedikit terlintas. "Makanya, aku pengen kita ada waktu bareng supaya deket lagi. Orang tua kita sama-sama udah nggak ada. Seenggaknya kita harus punya rasa saling memiliki." Perkataan Deral membuat atmosfer di sekitar mereka semakin haru. Sadina mendadak teringat seseorang. Dari kemarin ia ingin menanyakan hal ini pada Deral, tetapi waktunya selalu tidak tepat. "Aku tahu Kak Dei bohong soal harus ngambil tugas di rumah temen itu. Cuma alasan buat nolak ajakan makan, kan?" Deral memutar bola mata. Satu kesulitan Deral dalam hidup itu sulit berbohong. "Aku mau nanya hal ini dari kemarin tapi nggak sempet terus." Sambil duduk di atas motor, Deral siap mendengarkan adiknya. Sadina tampak akan membicarakan hal serius. "Ngomongin apa?" "Kemarin-kemarin aku diajak sama Tante Selin ke rumah temannya. Di sana aku dikenalkan ke sebuah keluarga. Mereka punya anak perempuan yang baru lulus dari universitas di luar negeri." "Bisa langsung ke intinya aja, nggak?" Keantusiasan Sadina bercerita jadi hilang karena dipotong pertanyaan nyelekit Deral. Kakaknya ini memang paling anti sama budaya berbasa-basi. Sadina menghela napas sabar. "Intinya kata mereka, anak perempuan yang baru lulus kuliah itu kakak aku dari Ayah. Emang aku punya saudara seayah, Kak?" Kening Deral mengernyit. Sama-sama bingung sebab ia juga baru mendengar Sadina punya saudara. Selama ini yang ia tahu Sadina anak tunggal dan keluarga yang tersisa setelah ibunya tiada hanya Deral dan Driandra. "Siapa namanya?" "Haradisa." Sebenarnya nama itu agak familiar di telinga Deral. Entah di mana ia pernah mendengarnya. Namun, Deral pikir lebih baik tidak mengatakan apa-apa dulu sebelum mencari tahu. "Kak Dei tahu sesuatu tentang ayah aku?" Sadina harap-harap cemas menunggu jawaban Deral. "Aku belum pernah ketemu ayah kamu, tapi nggak tahu kenapa nama itu kayak nggak asing." "Siapa? Haradisa?" "Iya, kayak pernah denger. Nggak tahu di mana. Anehnya kalau dia kakak seayah kamu kenapa kita nggak tahu dan kenapa Tante Selin yang ngenalin?" "Itu dia yang aku heran kenapa semasa hidup Ibu nggak pernah bahas ini. Katanya Ibu minta Tante Selin nyari keberadaan Haradisa sebelum meninggal." Sadina mengendikkan bahu. Tidak lama Selin keluar rumah menjinjing tas makanan mengisterupsi obrolan serius mereka. Sadina dan Deral segera merubah raut tegang mereka. Kompak berpura-pura seakan pembicaraan barusan tidak pernah ada. Selin memaksa Deral agar membawa tas makanan itu. Perkataan Selin tidak bisa dibantah pula. "Nanti telepon," titah Deral sebelum motornya melaju keluar dari halaman rumah. Sadina mengiyakan perintah kakaknya. Walau sambil lirik-lirik ke arah Selin takut gelagat mereka dicurigai. Ia berdiri di halaman rumah hingga Deral hilang dari jarak pandang. Hanya berselang beberapa saat seseorang muncul dari gerbang rumah. Sadina tersenyum menyambutnya. Begitupun dia. Mereka saling melempar senyum. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN