Sajaka memperlambat laju kendaraannya ketika melihat seseorang yang terasa familiar keluar dari gerbang komplek perumahannya. Orang itu Deral. Namun entah sudah dari mana hingga keluar dari perumahannya.
Seketika Sajaka menduga-duga apa Deral habis dari rumahnya? Tapi untuk apa? Setelah kejadian beberapa hari lalu di mana Deral memergoki Sajaka berlaku tidak baik pada Sadina, hari itu Sajaka yakin Deral tidak akan mau kembali ke sana lagi. Apa jangan-jangan kali ini alasan Deral ke rumahnya untuk mengambil barang-barag Sadina dan memutuskan untuk membawa adiknya tidak lagi tinggal di rumah Argajaya?
Detik itu pula Sajaka memacu kendaraannya memasuki gerbang komplek sampai lupa membalas sapaan dari petugas keamanan di sana. Mereka pun terheran-heran melihat Sajaka seperti terburu-buru.
Gerbang rumahnya semakin dekat. Sajaka makin tidak sabar saja melihat pagarnya sedikit terbuka seperti baru saja ada seseorang yang masuk atau keluar. Sudah pasti seseorang itu ialah Deral. Di saat mendebarkan itu, dugaan Sajaka dibenarkan oleh keberadaan seseorang yang termenung di depan teras rumah sendirian. Sajaka memelankan laju kendaraannya lagi ketika pandang mereka bertemu.
Dia tersenyum begitu menyadari kedatangan Sajaka. Begitupun Sajaka yang merasa waktu di dunia ini diperlambat khusus untuk mereka berdua. Ia menghentikan motornya di dekat gadis itu. Dengan lega, tenang, bercampur bahagia melihat kahadiran Sadina dihadapannya, Sajaka melepaskan helm perlahan-lahan.
Senyuman Sadina masih ia jumpai. Gadis manis ini terlihat malu-malu dengan tangan saling bertautan di depan.
“Kamu di sini?” tanya Sajaka lebih dulu. Ia juga tidak bisa menghentikan urat-urat di mukanya agar berhenti tersenyum konyol.
Sadina mengangguk pelan. Di situ Sajaka baru menyadari poni Sadina sedikit lebih panjang dari terakhir ia menyadari kalau Sadina memang cocok dengan potongan rambut berponi. Kira-kira waktu itu saat meraka pulang dari makan malam bersama teman Selin dan Deka. Ketika kedua orang tuanya memberi kabar mendadak tentang keberadaan kakak perempuan Sadina setelah tujuh belas tahun Sadina hidup di dunia. Sajaka yang mencoba mengurangi kesedihan Sadina malah tak kuasa menahan diri. Dalam sekilas ia merasakan ranumnya bibir tipis Sadina. Ingatan itu terekam jelas, mungkin akan terus ada sebagai kenangan tak terlupakan.
“Berasa udah lama nggak ketemu ya kita?” Sajaka terkekeh pelan sembari turun dari jok motor.
“Kita ketemu terus di sekolah.” Sadina berdiri canggung di hadapan Sajaka. Sangat besar keinginannya untuk segera masuk ke dalam rumah. Menghindari kekikukan yang tengah ia alami.
“Hehe. Iya, ya? Kenapa bisa berasa lama nggak ketemu padahal setiap hari ada di ruangan yang sama. Kamu udah lama di sini?”
“Belum lama. Aku dianterin Kak Dei ke sini.”
“Aku lihat Kak Dei tadi keluar dari gerbang komplek. Bener aja kakak kamu habis dari sini. Aku kira dia mau ambil barang-barang kamu—“ Sajaka tidak melanjutkan perkataannya menyadari ketidaknyamanan Sadina membahas hal itu.
“Aku juga masih nggak tahu kenapa tiba-tiba Kak Dei berubah pikiran. Padahal sebelum-sebelumnya Kak Dei paling menentang aku tinggal di sini. Kali ini aku takut marahnya Kak Dei bakal sampai lama.”
“Kalian nggak ngobrol lagi?” Sajaka jadi ikut sedih melihat raut sendu Sadina. Ingin ia membawanya ke dalam pelukan, tetapi ia kemudian sadar mereka sedang berada di mana dan Selin ada di rumah hari ini. Sajaka menghela napas, hanya bisa memasukan kedua tangan ke dalam saku hoodie.
“Kak Dei nggak percaya sama apa penjelasan aku. Nggak tahu lagi aku harus gimana.”
“Ya udah, nanti aku yang jelasin ke kakak kamu soal kesalahpahaman itu. Marahnya dia ke kamu karena aku, kan?”
“Tapi, Jaka. Kak Dei—“
“Aku nggak mau kamu sedih sama apa pun alasannya. Jadi jangan larang aku ketemu kakak kamu. Mungkin bakal sulit karena dia udah nggak suka duluan sama aku. Tapi nggak apa-apa, aku bakalan tetap nyoba ngejelasin semuanya, ngebuktiin aku nggak bermaksud nyakitin adiknya ini,” jelas Sajaka di akhiri dengan mengusap pucuk kepala Sadina.
Perkataan Sajaka membuatnya terharu. Sadina merasa seperti sangat berarti bagi seseorang sehingga diperjuangkan. Ia bertanya-tanya mengapa Sajaka mau melakukan hal sejauh ini?
***
Ricoo : Mungkin kakak kamu emang nggak marah lagi.
Ricoo : Atau ada alasan lain dia ngirim kamu ke rumah keluarga itu lagi.
Sadina menatap lama pesan dari Rico. Ia kembali menceritakan situasi yang tengah dihadapinya kini setelah menerima kabar jika Rico sudah menerima hadiah darinya. Rico sangat senang sampai berencana mengirim hadiah balasan. Namun ruang obrolan mereka berubah kala Sadina menceritakan permasalahannya dengan Deral.
Belum selesai Sadina mengetik pesan balasan, pesan baru dari Rico lebih dulu muncul di ruang obrolan. Sadina tertegun membaca pesannya.
Ricoo : Kamu nyamannya tinggal sama siapa?
Pertanyaan ini pernah dibahas Sadina di rumah Deral. Meski Sadina bersumpah berkata lebih nyama tinggal bersama Deral, tetap saja tidak dipercaya. Mungkin ucapan Sadina dan gelagatnya terlalu mencolok perbedaannya.
Sadina menghapus pesan yang hendak ia kirim dan mengetikkan pesan lain. Dengan perasaan berat ia menekan tombol kirim. Tak lama pesan darinya dibaca Rico. Seperti biasa, Rico dan sebagian besar teman online di website itu aktif di malam hari. Rico sedang online, sesekali namanya muncul di pop up menimpali obrolan orang lain dalam grup. Sejak awal kenal Ricoo, dia memang penghidup suasana. Setiap ada dia di grup, pasti obrolannya menyenangkan. Di saat bersamaan Rico membalas pesan Sadina tak kalah cepat juga. Suasana hati tak menentu, membuat Sadina hanya jadi pemerhati dalam grup.
Redzzona : Jujur aku udah nyaman tinggal di rumah teman ibuku ini. Kebaikan mereka dan suasana keluarga di sini bikin aku merasa punya keluarga lain.
Redzzona : Tapi tiap aku inget kakakku, kayaknya aku berdosa banget udah ninggalin dia tinggal sendiri. Sedangkan aku bahagia di sini.
Redzzona : Gimana pun dia keluarga aku satu-satunya sekarang.
Redzzona : Apa aku pergi aja dari sini? Tinggal sama kakak?
Ricoo : Tapi aku ngerasa kakak kamu juga ingin adiknya bahagia.
Ricoo : Maksudnya nggak kepaksa melakukan sesuatu. Contohnya tinggal sama dia, padahal perasaan kamu lagi di tempat lain.
Ricoo : Aku nggak tahu, ya. Tapi kalau denger cerita kamu sesayang apa dia sama kamu, kayaknya pemikirannya begitu.
Perkataan Rico memang percis apa yang pernah Deral terangkan. Deral tidak mau Sadina berbohong ingin tinggal bersamanya. Namun yang disedihkan, perkataan Deral terdengar kecewa. Padahal yang salah adalah Sadina. Sebab Deral selalu berusaha agar mereka dekat, tetapi Sadina seakan tidak punya keinginan agar mereka dekat lagi seperti saat kecil dulu.
Apa mungkin Deral menyerah karena ini?
Redzzona : Aku harus gimana sekarang?
Redzzona : Gimana supaya kakak aku nggak kesel?
Ricoo : Tadi kamu bilang kakak kamu minta dikasih kabar tiap hari sama tiap weekend kamu ke rumahnya main, kan?
Redzzona : Iya.
Ricoo : Turutin permintaannya. Mungkin dengan seringnya ngobrol, kalian jadi akrab.
Ricoo : Kamu juga jadi nyaman tinggal sama kakak.
Redzzona : Jadi menurut kamu lebih baik tinggal sama kakak ya?
Pertanyaan Sadina konyol sih. Sudah pasti siapapun akan menjawab “iya”. Deral adalah kakaknya, sudah seharusnya keluarga tinggal bersama, bukannya tinggal dengan orang lain.
Ricoo : Itu tergantung kenyamanan kamu, Red.
Sadina menghela napas. Padahal kakaknya bilang tidak lagi masalah Sadina tinggal di mana, anehnya persaan mengganjal masih tetap ada. Terutama tentang alasan Deral mengirimnya kembali ke rumah keluarga Argajaya. Mengapa?
Getar panggilan masuk menyentak Sadina dari lamunan. Sadina terduduk tegak kala melihat siapa yang yang melakukan panggilan. Deral menepati perkatannya menghubungi malam ini. Sadina menggeser ikon hijau. Detik berikutnya suara lain menyapa.
“Gimana tentang tadi? Mau lanjutin cerita?” Seperti biasa, Deral tanpa basa-basi mengatakan sesuatu dengan jelas.
Sadina turun dahulu dari tempat tidur untuk memastikan pintu kamar tertutup rapat. Hanya mengantisipasi jika ada seseorang datang tanpa disadari. Lebih bahayanya obrolannya di telepon terdengar. Ini hal serius.
“Iya, Kak? Tentang Haradisa itu?” Sadina duduk di ujung tempat tidur usai memastikan semua aman.