Masa Lalu Papa ini akan menjadi cerita baru dari Damaisland.
Nantikan jabwal publish ya ... Ceritanya dibikin pakai POV 1, dari sudut pandang Paris.
Enak nggak sih bacaanya? Hehe makasiii dukungannya ya
*
*
Masa Lalu Papa
BAB 4
Ada hal yang tidak bisa kamu jelaskan rasanya pada dunia. Begitu pun gue mengalaminya, saat bersitatap sekian detik dengan cewek di dekat mading itu. Dia seperti punya sihir yang ditularkan lewat mata. Lingkar hitam mengeliling irisnya lebih tebal dari manusia biasa, sekilas terlihat sedang memakai lensa kontak. Tapi menurut gue itu terlalu alami untuk disebut sepasang lensa kontak.
Saking terpesonanya sama mata belonya, gue sampai nggak sadar ada dua tanda kecoklatan di kedua pipi dia. Seperti bekas luka bakar belum lama mengering. Benak gue langsung terbang pada satu animasi lucu, Pikachu.
Siapa sih dia? Gue terus teringat-ingat tatapan kosongnya yang membius. Seperti ... minta tolong? Ah entahlah. Dia buru-buru pergi diseret temannya.
“Ngelamun wae. Masih mikirin si Syanti? Terakhir apdetannya, dia jalan sama cowoknya ke—“
“Sttttth!” Gue menyilangkan telunjuk di depan mulut. “Nang, kelompok ospek lo ada cewek yang pipinya kayak ada bekas kebakar gitu nggak?”
Nanang perlahan duduk, dia kembali mengunyah opor ayam dan ketupat sembari mengerutkan kening. “Siapa emang?”
“Makanya gue nanya, ada nggak?”
“Seinget gue kagak ada.”
Di kelompok gue juga nggak ada. Gue nggak sempat lihat papan nama yang menggantung di lehernya warna apa. Kemungkinan bukan kelompok Nanang apalagi gue.
“Kenapa sih? Lo lagi naksir?” candanya menyikut.
Gue menggeleng lesu. Ini beda. Jatuh cinta ke Syanti atau ke cewek-cewek lain beda rasanya. Sebagai informasi, gue sudah beberapa kali pacaran.
“Entar gue cariin deh, sini cerita ciri-ciri ceweknya lebih spesifik. Perkiraan gue tuh cewek biasa aja soalnya nggak muncul ke permukaan. Betul?”
“Apa sih lo? Kagak, gue kagak lagi naksir siapa-siapa cuma penasaran sama cewek yang waktu gue tangkap di depan mading.”
“Ooh itu!” Nanang tertawa, makanannya muncrat ke baju lebaran gue. “Yang kecil, kurus itu, kan? Nanti gue bantu cari tahu. Btw lo dipanggil sama Aki tuh.”
Dari teras, gue mencari Aki ke ruang tengah, tapi nggak ada di sana. Nanang yang mau mencoba rendang buatan Mama tanpa ragu mengisi piringnya lagi. Anak ini bukan keluarga gue. Terbiasa main di rumah gue dari kecil lama-lama dianggap keluarga.
Lebaran kali ini agak beda. Di ruang tengah keluarga berkumpul makan menu andalan lebaran, Nanang bergabung di sana, tetapi kursi santai Aki tidak diduduki oleh pemiliknya. Cucu-cucu Aki yang masih kecil menjadikannya mainan.
“Eh Gulmeeeeeeeeer,” langkah gue menuju belakang rumah otomatis terhenti dicegat adiknya Mama yang baru keluar dari dapur membawa es jeruk. “Keponakan paling gulmernya Om kemana aja dari tadi, hm?”
Kepala gue dikusak kasar. Kebiasaan! Ini nih, salah satu alasan gue menghindari Om Ripan tiap kumpul keluarga. Om Ripan hobi ngacak-ngacak rambut gue.
"Mengkilat abis tuh rambut. Jangan bilang pake minyak bekas goreng ikan asin?" Om Ripan terkekeh merangkul paksa leher gue.
"Enak aja!" Rangkulannya sempat terlepas. Om Ripan tertawa menyeret gue ruang tengah. Duduk bersama keluarga Mama.
Bareng mereka selalu bikin terdiskriminasi. Mama keturunan kulit putih. Buyut mereka entah generasi ke berapa ada yang berasal dari Jepang. Gue satu-satunya anak berkulit paling gelap di antara garis gen mereka. Entah sebuah anugerah atau kutukan. Untung Bapak kulitnya gelap juga, gue nggak jadi khawatir bukan anaknya Mama.
Nggak apa-apa kali hitam, kan manis. Haha. Suka geli sendiri kalau muji-muji diri sendiri.
Karena ketimpangan warna kulit itu dari kecil mereka manggil Gulmer alias Gula Merah. Gue senang-senang aja dipanggil begitu.
Gula kan manis, hampir semua orang suka yang manis-manis.
Akhirnya terpaksa gue duduk di antara sepupu-sepupu. Menyicipi guyonan receh mereka. Tertawa lepas padahal pikiran gue melenggang pergi ke halaman belakang.
“Aki manggil Aris?” Gue berhasil lepas dari cengkrama keluarga.
Pria berambut kelabu itu menoleh disertai senyuman hangat. Tangan keriputnya melambai lemah menyuruh gue mendekat.
“Kenapa Ki?”
“Sudah delapan lebaran, Nenek pergi," katanya menunduk, mengamati gemulainya ekor-ekor ikan hias menyentuh permukaan air. "Sebelum Aki bertemu Nenekmu waktu muda dulu. Aki suka seorang gadis. Sampai sekarang Aki masih mengingatnya. Kemarin di rumah sakit, Aki bertemu dia ...“
Aki tersenyum, sorot rindu itu bicara. Sulit dijelaskan. Antara rindu pada Nenek, atau seseorang yang nggak jadi pasangan Aki itu.
"Dia berubah, nggak secantik dulu. Keriput, rambutnya putih, jalannya pelan dibantu putrinya. Ternyata kita sudah tua, tapi nggak pernah saling melupakan."
Gue berdeham, menempatkan diri sebagai pendengar. Aki sedang kesepian. Nggak biasanya Aki milih menyendiri, daripada dikelilingi cucu-cucunya.
"Nenek itu masih mengenali Aki?"
"Masih. Aki juga masih."
Sayup tawa orang-orang dewasa mencandai Hagia--adik gue yang baru tiga belas bulan--berbanding terbalik suasana tenang halaman belakang. Gemericik air kolam, cericit burung dalam sangkar, seledri, tomat, dan bawang daun menghuni polibag. Lumayan bikin udara sejuk.
Gue menatap wajah Aki dari samping. Mencari tahu Aki lagi mikir apa. Apapun itu nggak masalah, asal bukan Aki berniat ngasih Nenek baru. Nggak.
***
Sejak percakapan di belakang rumah, gue nggak mendengar suara Aki lagi, selain lenguhan sakitnya.
Aki terbaring tak berdaya. Setiap gue ke kamarnya, pasti lagi tidur. Gue selalu memperhatikan pergerakan naik-turun dadanya. Memastikan masih ada kehidupan di sana. Gue merasa nggak tenang tiap Aki tidur, takut nggak bangun-bangun lagi. Mungkin karena dari kecil kami dekat banget. Orang yang bakal paling berat melepas Aki pergi adalah gue.
Meja makan pun jadi lebih sepi. Biasanya Aki yang paling perhatian, karena perhatian Mama dan Bapak hanya untuk Rhyne dan Hagia. Mereka masih kecil, gue pantas mengalah.
Aki bakal nanya mau makan apa, meski menu hari itu cuma tempe-tahu. Aki bakal menambahkan nasi ke piring gue. Nambah uang jajan juga tanpa sepengetahuan Mama.
"Mau aku ambilin apa Ris?" Teh Nur menatap lembut.
Mama dan Bapak yang lagi asik meladeni ocehan Rhyne sontak menoleh.
Sebenarnya gue nggak semanja itu. Gue hanya terbiasa diperlakukan seperti anak kecil hanya oleh Aki.
Saat kakak perempuan gue menaruh nasi dan tempe oseng di atas piring. Rasanya aneh, dan agak terharu.
"Ambil makan sendiri dong, Ris." tegur Mama.
"Ya nggak apa-apa dong, Ma. Aris tuh terbiasa dapat perhatian Aki. Mama urus aja Rhyne sama Hagia," kata Teh Nur bikin Mama dan Bapak saling berpandangan.
*
*
BAB 5
Ezra ngasih tau kalo gue masuk kelas X-7 bareng dia. Ruangannya di lantai dua pojok sekolah.
Sekolah gue bentuknya memanjang. Banyak tangga, terutama menuju kelas paling ujung. Kalau sepi pastinya menyeramkan. Gue curiga dulunya bangunan di sini bekas rumah sakit.
Kayaknya sebagian besar anak masuk sini menghujat lapangan upacara yang juga dipakai lapangan voli, basket dan sepak bola. Yang kalau main bola, lalu bolanya terlempar ke sisi lapangan pasti masuk selokan atau bahkan tebing. Kebetulan lapangan serba guna itu dekat dari kelas gue.
Waktu upacara, kita menghormat bendera sekaligus matahari terbit. Pemandangannya lumayan bikin seger. Hamparan sawah yang menghijau juga jembatan klasik bekas rel kereta api peninggalan Belanda. Kata orang-orang itu jembatan angker, udah pernah masuk ke acara uji nyali di tivi juga.
Daerah pesawahan masih terhampar luas, entah kapan pastinya bakal berubah jadi gedung tinggi apartemen. Sebab kecamatan gue ini semakin maju, tiap tahun banyak pendatang baru yang sebagian besar anak kuliahan.
Di samping lapangan serba guna ada kebun bambu, nggak terlalu luas, lumayan buat ngadem mengalihkan perhatian dari rumah-rumah warga yang berjejer di sebelah atas bikin suasana kumuh.
Warga dekat sekolah membuka warung. Anak-anak kelas pojok biasanya jajan ke sana. Pertama karena kalau pergi ke kantin, waktu istirahat bakal habis di jalan. Kedua, sebelum bel istirahat pun murid bebas keluar masuk sana karena nggak ada pager apalagi benteng. Mereka menyebutnya warung tukang alias warung belakang.
Bukannya guru tidak melarang jajan di luar area sekolah, tapi larangan lebih enak kalau dilanggar.
Haha.
Nggak aneh lagi pemandangan anak pakai seragam putih-abu ngerokok sambil makan basreng diselingi umpat-mengumpat. Di dalam warung cewek-cewek meracik micin, cabe bubuk dan bubuk keju pada basreng mereka sambil ketawa-ketiwi dekat penggorengan. Ternyata gini ya SMA tuh.
"Pesona anak cakep sih gini." Ezra menaruh selembar kertas. "Daftar kontak sama pin BB cewek-cewek kelas ini, mau nggak bro?"
Gila si Ezra gerak cepat soal cewek. Tadi aja datang-datang langsung berdiri di ambang pintu. Udah kayak penyambut tamu hotel.
"Entaran deh." Gue masih dalam masa berputus.
Biar nggak dikira murahan sama Syanti. Bahkan habis diselingkuhin aja gue masih mikirin pandangan Syanti terhadap gue. Harusnya gue marah! Nunjukin ke si Syanti, gue juga bisa dapet cewek yang lebih cakep dari dia.
Emang Syanti cewek paling cakep yang pernah gue pacarin. Kejadian langka gue dapet cewek modelan Syanti.
Ngomong-ngomong soal cewek. Gue jadi kepikiran cewek itu. Si Pikachu. Kelas mana ya dia? Lucu kali kalau ternyata kita satu kelas.
Berhari-hari terlewati. Minggu pertama perkenalan diri. Sebagian udah gue kenal karena keseringan kenalan, tapi belum ada yang nyangkut di hati.
Gue duduk bareng Ibay. Nama lengkapnya Rizal Lesmana, pernah ganti nama sampai tiga kali karena sakit-sakitan. Dia satu tipe sama si Ezra, nggak bisa dibilang anak teladan kayak si Setya, dan nggak sebengal Bian. Gue, Ibay, Ezra, Gaha duduk di barisan paling belakang dekat jendela.
Nggak butuh waktu lama buat Wali kelas dan guru-guru tahu nama gue di minggu kedua pertemuan. Gue orangnya nggak bisa diem. Nyeletuk aja kerjaannya. Sadar sih itu nggak sopan, tapi gue jamin diri sendiri tahu batasan. Setidaknya gue dikenal guru meski kemungkinan nilai-nilai gue jeblok kayak waktu SMP.
"Kita quis ya ..."
Seorang guru berhijab syar'i datang ke kelas. Katanya sih wali kelas kelas sebelah, namanya Bu Aulia guru matematika.
"Quis-quis berhadiah, Bu?" Ezra nyeletuk.
"Berhadiah kok, siapa yang nilainya paling tinggi bakal ibu kasih hadiah."
Semua anak senyum-senyum lucu sama cara bicara guru mungil itu. Tapi kami tahu, ada kesadisan di balik senyuman guru matematika.
"Nggak kenalan dulu, Bu?" Seseorang menawar.
"Masa langsung ulangan Bu, kan belajarnya juga belum."
"Matematika, Bu?"
Minggu lalu Bu Aulia nggak masuk, jadi belum perkenalan. Kami tahu namanya aja dari jadwal pelajaran. Eh, datang-datang nyuruh ngerjain soal, matematika lagi. Essay pula!
"Kalian kan udah pinter, sembilan tahun sekolah loh. SD enam tahun, SMP tiga tahun. Harusnya soal kayak gini mah kecil."
Bukan cuma ukuran angkanya aja Bu yang kecil. Otak kami juga kecil. Pelajaran SMP? Itu udah sekitar dua bulan lalu. Pelajaran yang kemarin aja besoknya nggak tahu ngumpet di sel otak bagian mana.
"Matematika dasar kok, gampil. Kerjain sebisanya aja, biar Ibu tahu matematika kalian sampai mana."
Dasar ya...
Memang nggak sesulit soal Ujian Nasional Matematika SMP sih dan soal dasar ini lumayan bikin lapar. Kalau boleh, gue makan deh itu kertas soal. Kesel amat, nggak tahu apa orang belum sarapan?!
"SUDAH SELESAI?"
Mereka maju menyerahkan kertas ke meja guru. Dua kemungkinan, mereka emang pinter atau mereka nyerah sama cobaan sepagi ini
Gue ikut bangkit dari kursi sebab Ezra ngeledek gue sok mikir. Sebenarnya nggak yakin juga sama kerjaan sendiri, tapi kali ini gue rada mikir emang. Ya ... sedikit penasaran. Gue kan guoblok ya, orang-orang juga bilang gue guoblok. Dapet nilai kursi kebalik aja sebuah prestasi. Gue penasaran udah sampai mana keguoblokan itu.
Waktu bangkit dari kursi, seorang cewek malah nubruk. Ini gara-gara Bu Aulia pakai acara hitung mundur segala. Orang-orang jadi panik nggak jelas lari ke meja guru. Akibatnya kertas ujian kami sama-sama jatuh ke lantai. Dia agak berdecak kesal. Gue mengernyit, kayaknya gue yang harusnya kesel di sini.
Keselnya lagi kepala gue malah kebentur kepala dia pas ngambil kertas.
"Maaf," kata dia hampir nggak terdengar, dia melihat gue sekilas lalu pergi menembus kerumunan orang di meja guru.
Sedangkan gue ternganga melihat punggung cewek itu menjauh.
"Pikachu?"
****
*
*
BAB 6
Pertemuan kita rusuh mulu, nggak bisa santai sedikit. Dua kali ketemu, dua kali tabrakan. Sakitnya sih nggak seberapa, perasaan gue yang nggak baik-baik aja. Terutama sejak quis matematika Bu Aulia, gue sering lihat si Pikachu di kelas.
Iya, kita sekelas.
Gue sempat ngira ini mimpi. Lucu aja mirip film. Gue bilang begitu karena semua ini terasa sureal. Agak kecewanya dia nggak mengenali gue.
Waktu itu gue nggak langsung tahu nama dia. Masih gue sebut dia Pikachu. Pikir gue, yang penting dia nggak akan jauh-jauh. Gue bakal tahu nama dia suatu saat nanti. Terlebih gue punya informan sejenis Ezra. Dia punya koneksi luas di antara cewek-cewek kelas maupun luar kelas. Gue mau memupuk rasa penasaran itu hingga tumbuh menjadi sesuatu yang nggak pernah diduga-duga.
Menunggu hal itu terjadi, gue perlu menahan rasa ketidaksabaran. Biar kita dipertemukan lagi secara alami.
Entah kenapa kehadiran si Pikachu mendadak jadi penting. Gue merasa harus menyampaikan sesuatu pada dia, dan sesuatu itu masih gue pikirkan. Aneh juga.
Sementara itu konsentrasi gue teralihkan sama permasalahan rumah. Kesehatan Aki kian hari kian menurun. Mama bilang, Aki tinggal nunggu waktu.
"Kita semua juga nunggu waktu, Ma," kata gue kesel. Ya memang iya, semua makhluk hidup akan mati, bukan cuma orang tua aja.
Mama cuma tersenyum masam. Nggak ngasih kata-kata penyemangat seperti biasa. Mendadak gue kesel sama Mama. Kemana jiwa keras dan optimis Mama?!
Bukan hanya itu, gue juga baru menyadari ada yang beda dari rumah. Ada canggung yang entah disebabkan oleh apa.
Teh Nurwigea sepertinya tahu sesuatu. Gue dan Rhyne nggak diizinkan mengetahui rahasia orang dewasa dan polemik mereka.
"Baik-baik aja kok, perasaan kamu aja mungkin," jawab Teh Nurwi saat gue cegat dia di ambang pintu pulang kerja. Perkataan Teh Nurwi bukan sebuah penenang, malah semakin meyakinkan gue tentang keanehan suasana rumah.
Gue mencoba berpikiran baik ketika Bapak tidur di ruang tengah, sementara Mama menutup pintu kamarnya rapat-rapat. Padahal malam itu nggak ada tanding bola klub bola kesayangan Bapak, Manchester. Mungkin biar Bapak gerak cepat kalau Aki butuh sesuatu tengah malam.
Berhari-hari kemudian terasa semakin parah, Mama dan Bapak nggak terlihat bicara. Mama sering kepergok melamun mengabaikan tangisan Hagya yang kehausan. Mungkin kondisi Aki bikin Mama kelelahan. Namun ketika Bapak nggak pulang berhari-hari, gue mulai mempertanyakan kemungkinan-kemungkinan tadi, ada apa sebenarnya sama keluarga gue?
Klimaksnya pada jam istirahat Teh Nurwi kirim sms, kalau Aki dibawa ke rumah sakit. Gue langsung menyambar tas keluar sekolah lewat belakang. Itu adalah hari pertama gue mengingkari janji sama Aki buat nggak bolos-bolos sekolah lagi.
"Kemane lo?"
Bian muncul dengan sebatang rokok terselip di kedua jarinya. Si Orang Arab ini memakai seragam sekolah, tapi dari pagi tidak terlihat di dalam kelas.
"Lo bolos?" tanya gue tanpa jawab pertanyaan dia.
"Lo sendiri kabur?"
"Hm."
Tanpa mengacuhkan kehadiran Bian lagi, gue memacu kendaraan pergi dari sana. Motor gue diparkir di dekat rumah warga mempermudah aksi bolos itu. Nggak perlu melewati penjaga gerbang atau guru piket karena kelas gue berada di pojok bangunan dekat gerbang belakang yang nggak dikunci. Warga sekitar juga sepertinya terbiasa melihat fenomena anak sekolahan mabal. Mereka tutup mulut, sebagian penghasilan mereka berasal dari warung dan tempat parkir anak-anak tukang bolos.
Mama sedang tertunduk lesu di depan sebuah ruangan begiru gue sampai di rumah sakit. Meski gue nggak dicerca sama pertanyaan-pertanyaan kenapa jam segitu gue sudah pulang. Mama hanya menggeleng banyak arti. Antara lelah mengurus segalanya sendiri dan bosan melihat gue bolos.
"Gimana Aki, Ma?"
Bahu gue ditepuk. Mama menyampaikan pesan tanpa suara, bahwa ada saatnya kita perlu merelakan.
Gue menghela napas lesu mengetahui Aki harus menjalani rawat inap. Penyakitnya terlalu parah. Mama benar, Aki sekarat, Aki hanya tinggal menunggu waktu. Pertanyaannya, apa gue bisa merelakan?
Selama di rumah sakit, berkali-kali gue mabal di jam istirahat, terkadang sama sekali nggak masuk sekolah. Kalau aja Aki lihat kelakuan gue ini, pasti betis gue bakal kena jepretan sapu lidi. Seandainya bisa memilih, mending gue dihukum Aki daripada menunggu Aki di ranjang pesakitan. Mengingat kerasnya didikan Aki, gue tersenyum pedih melihatnya diam menutup mata, hanya bunyi pendeteksi jantung yang menandakan Aki masih mendiami raganya. Sampai bunyi pendeteksi jantung itu berdengung panjang pada dua dini hari. Seminggu sudah kami memperjuangkan Aki.
Dokter bilang, "Maaf, kami telah melakukan yang terbaik."
Mama rangkul gue ke dalam dekapannya. Hanya ada kami berdua di lorong rumah sakit. Gue merasa kesedihan Mama melebihi dugaan gue selama ini. Tangis Mama sebab hal lain bukan cuma kepergian Aki. Keabsenan Bapak cukup memberi jawaban, hubungan keduanya sedang di ambang kehancuran.
"Bro."
Ezra menonjok pelan lengan gue. Dia datang bersama Ibay, Gaha dan anak kelas usai pemakaman. Tiba-tiba gue berharap seseorang ikut mereka. Dari kemarin gue nggak lihat Pikachu.
"Sabar ya Bro."
Bergantian mereka memberi kata-kata penyemangat. Membuat gue merasa semakin menyedihkan sebenarnya. Gue hanya membalas dengan anggukan sekilas. Jujur, gue mau ngurung diri di kamar. Menghindar dari banyak orang. Meratapi kemungkinan hidup gue bakal berubah mulai besok.
Tanpa Aki, tanpa Bapak.