0.1 Masa Lalu Papa

2127 Kata
Masa Lalu Papa ini akan menjadi cerita baru dari Damaisland. Nantikan jabwal publish ya ... Ceritanya dibikin pakai POV 1, dari sudut pandang Paris. Enak nggak sih bacaanya? Hehe makasiii dukungannya ya * * Masa Lalu Papa BAB 2 Katanya waktu hamil gue, Mama ngidam poto di depan menara Eiffel. Sebuah monumen revolusi berbentuk A di pinggiran sungai Seine, Prancis. Negara ini identik dengan cinta. Makanya disebut The City of Love. Sampai pernikahan dengan jenazah dilegalkan oleh pemerintahnya. Tapi gue nggak heran juga kalau di sana angka depresi lumayan tinggi. Sebuah ekspektasi terkadang menyesatkan pikiran manusia. Mirip dengan kecintaan Mama sama dunia traveler, bisa dilihat dari banyaknya kronik masa lalu bertema alam dan kebebasan di dinding ruang tamu atau lemari kaca. Dulunya, Mama hobi mendaki gunung dan yang paling jauh pernah ke Semeru. Menikah sama bapak yang cuma buruh pabrik tekstil nggak memberi keuntungan banyak buat masa depannya kecuali cinta, makan aja susah. Lewat buku-buku perjalanan orang keliling dunia, Mama seolah pernah melakukan hal sama. Jadilah mereka memberi nama anak kedua mereka Paris sebagai alternatif. Paris Dwikalana. Anak kedua yang hidupnya beruntung soal cinta dan banyak berkelana. Sebenarnya berat juga pundak gue nanggung nama yang indah itu seumur hidup. Takut mengecewakan mereka. Lalu gue menjeda cerita menggebu-gebu Mama tentang asal-usul nama gue yang ada hubungannya sama sejarah pembangunan pintu masuk Exposition Universelle, "Kenapa Paris, sih? Nggak Napoleon?" Saking seringnya mendengar cerita Mama tentang Paris dan tek-tek bengeknya, gue hapal di luar kepala tentang sejarah negara itu. Kalau dipikir-pikir, gue lebih tahu sejarah Napoleon menguasai dunia dibanding Kerajaan Sriwijaya yang pernah menguasai lautan Nusantara sampai Negeri Gajah Putih. "Napoleon Bonaparte, kan pahlawan Revolusi Perancis," kata gue lagi sambil membayangkan teman-teman manggil gue Nap, Pol, Leo, atau Yon. Karena Ris itu pasaran. "Ne convient pas," jawab Mama (Nggak cocok). "Pourquoi?" (Kenapa?) Terkadang gue sama Mama begini. Sama seperti anak dan ibu di luaran sana yang punya ikatan batin, gue dan Mama juga punya cara komunikasi sendiri yang jarang dimengerti orang lain. Di saat-saat tertentu kami bicara pakai Bahasa Prancis. Beberapa kosakata mudah empat W satu H dan kalimat pendek lainnya. Nggak sampai bisa dijadikan satu naskah film Le Fabuleux Destin d'Amelie Poulain. Film berbahasa Prancis pertama yang Mama kenalin ke gue. "Di Paris, orang yang namain babi pake nama Napoleon dihukum berat loh," Maksudnya? Gue babi gitu? "Tadinya mau Mama kasih kamu nama Gondola. Tapi masa iya anak Mama dipanggil Dol, Gondol." tambah Mama diselingi tawa kecil mengelus kepala gue yang terbaring di pangkuannya. Kan bisa Gon, ya? Harus Gondol banget? Batin gue nggak bisa terucap nyata. Waktu itu gue masih Sekolah Dasar akhir, otaknya belum tumbuh. Jadi gue iya-iya aja. Percakapan antara gue sama Mama sudah nggak sesering dulu sejak gue dapat adik. Sebab gue mulai senang main di luar main futsal atau renang bareng teman. Cekokan Mama mengenai negara list bucket-nya pindah haluan ke adik gue--Rhine. Nama adik gue terinspirasi dari sungai di Belanda. Terkadang Mama sama Rhine ngobrol pakai bahasa Belanda yang gue sendiri nggak mengerti. Nah, itu namanya bahasa ibu dan anak. Hanya mereka yang paham. Sampai rumah, perasaan gue sulit dijelaskan. Bawa motor juga tadi kebut-kebutan. Motor ninja merah mentereng di belakang truk itu betulan Syanti dan pacar barunya. Gue termenung beberapa lama natap hampa mantan pacar dari batas motor gue yang lebih pendek, sampai nggak sadar truk depan bergerak dan menghembuskan asap hitam pekat. Rasanya hangat. Mama terbatuk-batuk. Sedangkan gue ingin guling-guling di tengah jalan raya lihat Syanti memeluk punggung cowok lain. Baju belakangnya digeber-geber angin. Dulu Syanti begitu sama gue! Ingin kuberteriak begitu. SYANTIIII OH SYANTI Percuma gue kejar. Kekuatannya nggak sebanding. Gue sadar diri, sambil elus-elus sayang si Hylos--motor Bapak--gue belok ke gang perkampungan. Dua tahun, Hylos jadi saksi kisah cinta remaja gue. Kemana-mana Hylos siap mengantar, nggak pernah mogok meski gue sama Syanti pantatin. Sekarang Hylos sama sedihnya. Lampu depan Hylos meredup kayak Herbie 53 yang galau nggak dipakai balap sama Maggie. Gue langsung parkir motor di teras. Masuk rumah tanpa lihat belakang dulu, Mama nggak boleh lihat anak cowok satu-satunya matanya merah ingin nangis. Samar-samar percakapan dalam televisi semakin jelas, di ruang tengah lagi tayang film horor. Gue lirik jam dinding, dan menghela napas. Sesiang ini sudah horor. Gue tahu siapa pelakunya. "Abang!" bentak adik gue berdiri. "Apa?!" Gue balas bentak gak terima. "Ine, kan lagi nonton!" "Iya tahu!" "Kenapa tivinya dimatiin?!" Rhine mendongak marah. Anak ini sangat penakut. Terutama dengar musik latar film horor, tapi selalu ngotot nonton film horor. Sepanjang film tayang, dia akan tutup mata lalu bernapas lega giliran ada iklan. "Lo juga kenapa nutup mata biarin tivi nyala? Kalo nggak ditonton ya matiin!" Nggak tahu kenapa ngomong sama Rhine bawaannya bentak-bentak. Tangisan dia, deru motor ninja, bayangan Syanti pergi jadi kumparan benang hitam rumit di otak gue. Gue melempar kasar remot tv ke tembok. Memejam sebentar menahan kesal. Hidung Rhine kembang kempis menatap sendu remot tv yang terbelah dua. Rasa-rasanya gue terlalu hatam sama kebiasaan seluruh penghuni rumah kecil berlantai dua ini. "Tapi kan, Rhine takut lihat hantunya..." Suaranya mulai nggak stabil. Rhine ini masuk ke dalam daftar manusia paling malas gue hadapi. Sayangnya, wajah dia mirip gue--kata mereka. Gue jadi nggak bisa marah lama-lama sama dia. Gue sadar kenapa mereka nggak bisa marah sama anak ini, karena selain gampang nangis, dia polosnya kelewatan. Dulu gue seneng banget menyambut kelahiran Rhine. Setiap hari gue ajak dia main, pamer ke tetangga. Seiring bertambahnya umur dia berubah jadi gadis kecil menyebalkan. Cengeng, manja, selalu aja dibela sama keluarga. Satu lagi, sakit-sakitan. Dia merebut perhatian semua orang di sekeliling gue dan jadi diutamakan. Kalau dia salah, gue yang kena marah. Nggak adil! "Cengeng." desis gue menyentil kening Rhine. Pelan padahal, efeknya cukup mengundang letusan gempa vulkanik menyemburkan cairan magma panas dari dalam perut bumi diikuti jeritan berlebihan. Rhine nangis bertepatan dengan datangnya Mama. Seperti biasa dia akan ngadu. Gue nggak peduli. Kali ini Rhine diam. Penasaran apa yang terjadi, gue balik badan. "Quoi?" (Apa?) Muka kusut Mama berubah heran. Gue menggeleng. Daripada jawaban gue berujung dosa, gue lari ke lantai dua karena nggak bisa nahan tawa. Sedangkan Rhine masih ketawa di lantai bawah. Merci, Ma. Karena kerudung Mama miring ke kiri, Faris tertawa hari ini. Gue sama Rhine memang anak-anak durhaka. *** BAB 3 Ruangan tiga kali empat meter ini biru muda. Tembok yang berhadapan dengan jendela warnanya hitam. Ada siluet putih Eiffel Tower karya Resti Embara. Di rumah ini tidak ada yang luput dari campur tangan Mama. Selain pandai berbagai bahasa, lukisan Mama juga keren. Gue sering termenung kalau Mama lagi sibuk sendiri, apa sih yang nggak bisa Mama  lakukan? Bapak beruntung banget dapet cewek kayak Mama. Waktu gue protes bentukan kamar gue lebih cocok dihuni anak cewek, Mama menggeleng tegas sambil nyeka dahinya yang terkena cat putih. "Siluet ini ada supaya tiap kamu mau tidur, bangun tidur, langsung melihat cita-cita." Alias keliling dunia mewujudkan visi misi Mama mengarungi benua biru. Mama melupakan satu hal. "Di ujung kaki Aris, kan jendela, Ma. Waktu mau atau bangun tidur otomatis mata Aris lihatnya gorden bukan Eiffel." kata gue membuat Mama mengerjap sadar. "Ya udah sih, yang penting 'kan Eiffel-nya deket kepala kamu." Iya sih. Gue patuh aja. Gambarnya keren juga kok. Nggak jarang background kamar gue jadi tempat selfie Rhine. Padahal di kamar dia juga ada siluet ikonik Belanda, menara kincir dan bunga-bunga tulip. Daripada Eiffel Tower, sebenarnya gue lebih suka Louvre, tempat tinggal Mona Lisa yang sohor itu. Gue suka pada bangunan modern piramida kaca yang terlihat nyentrik di antara keklasikan sisa-sisa benteng abad ke-12, juga kepakan sayap puluhan burung merpati berbaur dengan pengunjung. Seolah melengkapi simponi Louvre sebagai penyambung antara lampau, kini dan masa-masa yang akan datang. Gue menghela napas. Kapan ya gue ke sana? Kehidupan gue terlalu bersinggungan dengan khayalan tingkat tinggi. Dicekok dari kecil soal negeri orang, membuat gue nggak sadar diri. Merasa harus pergi ke sana suatu saat nanti. Bukan hanya karena keinginan Mama aja, tapi gue juga ingin. Walaupun begitu, gue nggak kehilangan nasionalisme. Ada banyak hal yang gue suka dari Indonesia, terutama kota tempat lahir gue, Bandung. Keuntungan jadi orang Indonesia itu banyak, bisa terdengar biasa saja bicara bahasa asing. Meski punya banyak aksen daerah, Bahasa Indonesia cenderung datar dan jelas. Contohnya, kita  nggak cadel kayak orang Jepang, karena mereka nggak punya kata yang konsonannya huruf L. Dering ponsel menghentikan pengelanaan pikiran gue. “Haro?” Tuh jadi kebawa cadelnya orang Jepang. Setelah berdeham, gue ulang, “Halo?” “Lo nggak akan ke bengkel? Barudak ngajak ngaliwet.” Suara si Nanang agak gerasak-gerusuk. “Males.” “Yeu...bukannya lo mau modif motor jadi bentuk ninja?” Ledek Nanang tertawa puas. Gue memutar mata, putusnya gue sama Syanti jadi bahan candaan teman-teman. “Gimana entar deh.” “Kalo jadi bawa makanan ya, beras ditanggung sama yang punya bengkel.” “Iya.” Panggilan berakhir. Layar yang menghitam kembali menyala. Menampilkan wajah-wajah berseri menghadap kamera. Satu kenangan gue sama Syanti waktu pacaran yang masih tersisa. Dengan menghela napas berat gue loncat ke pengaturan. Mengganti wallpaper layar jadi logo PERSIB. Mungkin cara ini bakal mengurangi sakit hati gue pada kenyataan bahwa kita benar-benar putus, bukan lagi break. Saya sedang mendengarkan lagu Di balik Awan-Peterpan Lagu dari band favorit gue mengalun rendah. Gak lupa gue menghubungkannya dengan BBM biar muncul di timeline. Lalu tubuh terhempas ke atas kasur, mengabaikan pesan masuk orang-orang yang komen status. Gue emang terkenal. Kelopak mata terpejam rapat, menghanyutkan jiwa di aliran musik. Sore itu gue membuka mata sejenak, seketika senyuman memabukan Syanti berkeliaran. Dia bersembunyi di balik tirai putih yang diterbangkan angin pelan-pelan. Seolah sedang mengejek gue. Sialan. ** Kalau keliling Benua Eropa adalah tujuan muluk yang pernah terpikirkan selain jadi astronot atau berubah jadi robot transformer melawan alien. Selebihnya gue nggak punya bayangan masa depan. Yang pasti nggak akan sewarna-warni goresan krayon waktu TK. Semakin ke sini, sepesimis itu gue terhadap mimpi. Teman sepergaulan gue juga nggak ada semangat-semangatnya buat jadi orang besar. Jadi kepala desa, misalnya. Kami lebih suka nongkrong di bengkel, nyanyi lagu-lagu Iwan Fals. Saling mengajarkan kunci gitar dan tatalu. Di sana gue mengenal banyak isi kepala manusia memandang suatu hal. Di sana pula gue terbatuk-batuk menghirup asap rokok untuk pertama kali. Lalu jadi bahan tertawaan orang-orang dewasa karena gue satu-satunya anak yang belum nyoba minum. Katanya gue anak paling soleh. Tapi mereka nggak masalah. Dan di sana gue menemukan tempat gue. Bengkel Bang Key berubah jadi basecamp anak-anak muda pada malam hari. Bang Key itu anak orang kaya di perkampungan gue. Sarjana ekonomi yang memilih buka bengkel. Garasi samping bengkelnya sering dipakai kumpul. Terkadang dijadikan tempat rapat Karang Taruna. Gue juga anggota Karang Taruna, hampir semua anak yang nongkrong di bengkel Bang Key itu anggota Karang Taruna. Minggu-minggu ini para pericuh malam sibuk sama urusan ospek. Kayak gue dan Nanang yang kebetulan satu sekolah nyari bahan-bahan buat dibawa ospek. Basecamp otomatis hanya dihuni teman-teman Bang Key yang sudah berumah tangga. Bapak-bapak muda. Ospek tahun ini bertepatan sama awal bulan Ramadan. Bahan-bahan yang harus dikumpulkan setiap paginya nggak jauh dari beras, ikan kaleng, gula, dan makanan ringan. Semuanya bakal disumbangkan ke panti-panti asuhan. Sedangkan untuk suasana bisa dibayangkan betapa Islaminya. Setiap hari panitia-panitia ospek menggiring casis keluar-masuk aula. Mendengar ceramah guru agama dan petinggi sekolah. Waktu ospek diperpendek dari pukul delapan sampai ba'da Ashar. Hukuman lari keliling lapangan, jalan kodok, push up seratus kali kalau casis melakukan kesalahan ditiadakan. Gue menguatkan diri buat gak kabur. Itu ospek paling membosankan seumur hidup. Serius. Kayaknya anggota OSIS kekurangan ide sebab terlalu memikirkan menu takjil. Sempat gue sengaja nggak bawa bahan lengkap. Gue cuma disuruh minta maaf ke seluruh kelas, sendirian. Malu, nggak. Senang aja, sekalian mengenalkan wajah hitam manis gue ini  ke semua orang. Mungkin salah satu cewek yang lihat gue bakal jadi cewek gue di masa depan. Siapa tahu, kan? Masa-masa itu pun terlewati sekitar satu minggu. Ospek di tutup dengan acara pengenalan ekstrakuliler, gue nggak minat ikutan apa pun. Dan memang nggak ada yang menarik. Gue ingin menikmati masa SMA ini dengan cara sendiri. Terutama bermusik. "Masuk kelas apa lo?" Nanang nepuk keras bahu gue. Gue menggeleng. Di mading masih penuh orang-orang yang ingin tahu habis liburan hari raya, mereka masuk kelas mana. "Elu?" "Gue X-3." "Nyok balik." Gue melengos melewati kerumunan. "Eh! Lo gak mau lihat masuk kelas mana dulu?" "Entar juga bakal tau." jawab gue santai. "Si anjir..." Nanang tertawa mengalungkan tangannya ke pundak gue. Kerumunan itu ricuh oleh pekik kegirangan mereka yang ternyata satu kelas dengam teman yang mulai dekat dari ospek, hanya sebagian kecil mendesah kecewa. Gue melirik mereka sambil jalan. Kira-kira gue di kelas mana ya... Oknum pericuh lain datang, mereka dorong-dorongan sampai refleks tangan gue nangkap satu orang hampir terperosok ke selokan. Mata kami berada di satu garis lurus. Keributan di sekeliling seolah dijeda sang pencipta. Seketika gue lupa ritme bernapas yang benar bagaimana. Jantung gue kenapa ya Tuhan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN