Masa Lalu Papa ini akan menjadi cerita baru dari Damaisland.
Nantikan jabwal publish ya ... Ceritanya dibikin pakai POV 1, dari sudut pandang Paris.
Enak nggak sih bacaanya? Hehe makasiii dukungannya yaa
PROLOG
Manusia yang hidup di muka bumi punya momen unik sendiri-sendiri.
Belum pernah terbayangkan oleh gue tampil di sebuah panggung ditonton ratusan manusia. Saat itu gue sadar ini momen paling langka dalam hidup, terutama buat lihat seseorang untuk terakhir kalinya. Kata ragu terlupakan begitu saja.
Gue menghitung ketukan dalam hati. Seraya menatap ke depan pelan-pelan. Suara yang tertahan di pangkal tenggorokan mengalir ikuti irama. Gak tahu kenapa mata gue memanas. Wajah-wajah asing, teman sekelas, teman nongkrong warung belakang sekolah, teman bolos di masa-masa bodoh, pengiring band Alakadar yang baru terbentuk seminggu lalu. Mereka berkumpul, tersenyum, dan saling rangkul.
Ternyata tiga tahun terakhir hari-hari gue habis sama begitu banyak orang asing. Gak kerasa. Gak sempat kenal mereka semua. Yang jelas kita pernah sama-sama menghadapi kesusahan dan berteman.
Saatnya aku berkata.
Mungkin yang terakhir kalinya.
Sudahlah lepaskan semua.
Kuyakin inilah waktunya.
Mungkin saja kau bukan yang dulu lagi.
Mungkin saja rasa itu telah pergi.
Tapi gue gak mau momen ini cepat-cepat berakhir. Gue belum melihat dia. Cewek mungil yang sering duduk sendirian memangku buku tebal. Meski gue yakin manusia kayak dia gak akan betah lama-lama berada di keramaian. Gue harap dia dengar suara hati gue di suatu tempat.
Dan mungkin bila nanti.
Kita kan bertemu lagi.
Sebuah keajaiban dia datang entah dari mana seperti habis berlari melawan arus. Kedatangannya mengirim kelegaan luar biasa, lebih-lebih dari mendapatkan tepukan penonton satu aula.
Dia ada. Mungkin dia menggagalkan niatannya pulang lebih awal dari pesta ini karena mendengar suara gue.
Di paling belakang dekat pintu terhalang beberapa orang, dia berdiri menghadap panggung. Tapi gue tahu, itu Raya. Cantiknya sederhana seperti biasa.
Raya...lagu ini memang untuk kamu, batin gue bilang begitu.
Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali.
Rasa yang kutinggal mati.
Seperti hari kemarin saat semua di sini.
Seolah mengerti pesan gue lewat tatapan kita. Dia sedikit menunduk mengusap sudut matanya.
Lalu berusaha tersenyum menatap gue dari jauh. Seperti gue saat ini. Mengucapkan terimakasih pada semesta telah menciptakan momen gue dan Raya meski hanya sesaat.
****
BAB 1
Gue penyuka betina. Betina betulan dalam ras manusia. Mungkin karena gue cowok dan perasaan menyukai betina itu hal lumrah bagi kaum kami. Apalagi yang cantik, putih, dan wangi.
Kemarin terakhir gue diapelin betina, kucing persia punya tetangga. Sering banget dia nongol di loteng kamar. Gak tahu kenapa. Bisa jadi karena kegantengan gue ini. Meski bukan manusia gue ajak ngobrol aja, lucu sih dia, warnanya putih, bulunya panjang kayak boneka.
Satu yang penting, kucing persia punya tetangga gue itu gak memicing benci kayak rombongan betina manusia. Gak jarang mereka pada jutek, dikiranya gue omes—otak m***m. Padahal ya enggak gitu juga. Gue punya kakak cewek kok, adik gue juga cewek, Mama apalagi. Gue sayang mereka.
Kayak sekarang ini, lagi duduk di motor di bawah pohon rindang tiba-tiba rombongan cewek lewat. Dari awalnya ketawa-ketiwi, mereka langsung natap gue sambil bisik-bisik. Gue jadi meriksa badan sendiri, apa ada yang salah sama outfit gue hari ini.
Celana dongker selutut sama kemeja putih lambang osis kuning ditutup jaket. Gue gak pakai dasi, karena bukan hari Senin. Hari ini gue antar Mama daftar ulang sekolah. Ceritanya gue bakal menjalani satu loncatan baru dalam kehidupan yaitu Sekolah Menengah Atas.
Masih segar di ingatan gue bulan lalu Ujian Nasional di SMP di tengah kegalauan diminta break sama pacar karena orang tuanya melarang dia pacaran gara-gara UN.
Alhasil gue menjawab semua pertanyaan ujian asal-asalan.
Asli. Kepikiran kisah cinta terus.
Tapi gue lulus dan diterima di sekolah negeri. Bukan karena otak gue superior, lagi beruntung aja. Ada kali nem gue di peringkat terakhir.
Eh seminggu setelah Ujian Nasional si Syanti ubah status BBM-nya jadi Rifaldi pake love ditusuk panah.
Kampret! Siapa sih Rifaldi? Pacarnya Syanti?
Padahal dia cuma minta break yang setahu gue arti Bahasa Indonesianya itu is-ti-ra-hat. Bukan cari pacar lagi.
Saking gak terimanya gue langsung stalkerin medsosnya si Syanti. Semua ada nama Rifaldi pake love ditusuk panah. Di f*******:, Twitter, i********: (waktu itu belum pada pakai), poto-poto dia yang ada guenya dihapus. Duh, itu poto-poto keren padahal. Kenangan sewaktu kami pacaran, jalan-jalan ke TS Bandung, Floating Market, poto bersama kambing di Farm House, sampai poto bareng badut malam-malam di jalan Asia-Afrika juga dihapus.
Ingin kuberkata, “Alay lo!” Tapi gue juga pernah begitu. Menghapus poto mantan.
“Anak polisi, bro. Motornya ninja merah,” kata teman gue sepuluh hari setelah putus. Gue rela teraktir dia KFC demi ngorek informasi si Syanti sama pacar barunya. Terakhir gue baru sadar, gue ngapain coba.
Gue lirik motor mio tahun lama punya Bapak. Apa daya, Bapak gue cuma buruh pabrik tekstil. Dikhianati gara-gara harta tuh sesedih ini ternyata. Akhirnya gue milih duduk di sisi gerbang, mencabut satu batang rokok dari saku jaket.
Cuaca gak terlalu panas, angin sepoi-sepoi terjun bebas dari pohon nerpa wajah. Mendukung kehampaan hati gue. Bapak-bapak yang jaga gerbang memperhatikan gue lama.
“Pak, nyesep?” tawar gue.
Bapak itu ngangguk, gue kira bakal marah-marah, tahunya diambil juga. Gue jadi punya temen ngerokok pertama di sekolah itu. Udah kayak preman penjaga gerbang aja kita. Bedanya di depan gue gak ada kopi hitam kayak si bapak ini.
Beliau cerita sudah mengabdi sama sekolah lama banget, mungkin dari awal-awal SMA ini berdiri. Karena kata orang tua gue yang pernah sekolah di sini juga, nama sekolahnya sudah berapa kali diubah dan netap jadi nama sekarang.
Dari kejauhan, perawakan seorang wanita yang gak asing keluar lorong. Nenteng map merah di tangan kiri. Bahu kanannya menggantung tas kulit sintetis putih. Itu Mama. Jarang-jarang gue lihat penampilan Mama begini, biasanya tiap ketemu pakai daster.
Di pertengahan jalan Mama ngobrol dulu sama ibu-ibu, mungkin mengantar anaknya juga daftar ulang. Di belakang mereka ada dua cewek pakai seragam putih dongker kayak gue. Yang satu mungil kerempeng, satunya lagi gendut. Bukan betina tipe gue.
“Ris?!” Pelototan Mama tiba-tiba sudah ada di depan.
Itu pelototan kode, supaya mematikan rokok. Padahal di rumah juga Mama ngerokok. Ibu-ibu suka gitu ya, pencitraan di muka umum. Kalau ada tamu ke rumah ngomongnya lemah-lembut. Giliran nyuruh-nyuruh gue aja, cemprengnya ngalahin satu kampung ngejar maling kotak masjid.
Di rumah yang ngerokok tuh gue sama Mama. Gue sih emang kebawa pergaulan. Mungkin Mama ngerokok biar gak ngantuk kalau jaga warung depan rumah. Bapak gak ngerokok tapi pernah katanya waktu muda sebelum masuk rumah sakit kena radang paru. Bapak juga gak berani melarang Mama ngerokok, nah, kalau gue yang dilarang,
“Mama juga ngerokok tuh.”
Bapak cuma bisa usap d**a.
Karena pria paling sabar ini gue sama Mama bikin kesepakatan gak akan ngerokok di depan Bapak. Nanti radang parunya kambuh. Ribet urusan.
“Assalamualaikum, Bah!” pamit gue setengah teriak melewati gerbang ngebonceng Mama. Gue juga manggil Abah, biar akrab.
“Tadi ada orang tua yang mau daftar ulang. Mereka rumahnya jauh, di pegunungan gitu. Pada gak bawa uang. Mama jadi kasihan,” kata Mama condong ke depan.
Salah dari pihak sekolah juga sih. Gak memberi keterangan waktu daftar ulang harus bawa berapa uang. Tadi juga gue balik lagi ke rumah buat ngambil uang simpanan. Untung cukup, meski telinga harus sabar dengar misuh-misuh Mama sepanjang jalan.
Jalanan macet waktu gue keluar gang sekolah. Jadi SMA gue nanti meski negeri letaknya gak percis di pinggir jalan raya. Orang-orang pada gak tahu SMA gue dimana, soalnya nyungsep di tengah pemukiman warga.
Gangnya lumayan besar, masuk dua mobil. Sepanjang sisi barat sekolah semua, dibatasi selokan. Dari yang paling depan SMP Negeri, lalu SMP Swasta, SMA dan SMK Swasta dan yang paling ujung SMA gue nanti. Sedangkan sisi timurnya jajaran kosan mahasiswa sama pedagang rumahan. Di sana juga bakal jadi tempat gue sama rombongan nongkrong kayak geng motor di belakang bangunan tempat privat Bahasa Inggris.
Asap truk lumayan bikin nambah panas siang itu. Jalur Bandung-Palimanan terbiasa seperti ini. Banyak hilir mudik kendaraan besar ke daerah Cirebon maupun sebaliknya dan bikin jalanan cepat rusak.
Di tengah antrean kendaraan, ada deru motor yang kontras sama suara motor lainnya. Dalam hati gue ketar-ketir, ini ninja, ini ninja. Dari rumah gue berdoa semoga gak dipertemukan sama si mantan. Mantan cewek yang gue sayang sudah bikin gue parno sama jenis motor itu.
Deru motor sport makin deket dan berhenti di sisi gue. Entah kenapa perasaan gue makin gak enak.
“Eh itu bukannya pacar kamu si Syanti?”