"Kamu belum tahu apa-apa, Sadina. Kamu baru mengenal sebagian kepribadian mereka saja. Gimana bisa kamu lebih percaya teman online daripada orang yang jelas-jelas kamu temui setiap hari?"
"Memangnya ada satu aja di antara orang-orang yang aku temui mau jadi teman aku? Ada?"
Sesingkat sebuah kalimat balasan yang berhasil membungkam Sajaka.
Detik selanjutnya kekehan pedih terdengar. Sajaka menggeleng tak percaya. "Kalian benar-benar mirip."
Perkataan ambigu itu cukup membuat kening Sadina mengernyit.
"Renada, mendiang kakak perempuan aku. Di kamarnya juga ada gambar yang mirip lambang yang kamu tempel di kotak itu. Kalian sama-sama masuk dalam web itu, dan kalian sama-sama keras kepala. Bukan nggak ada alasan aku bilang web itu bahaya, karena sebelum meninggal, di kamar Kak Rena ada lambang web tempat teman-teman kamu itu."
Sajaka mengusap wajahnya kasar. Dalam keadaan kacau begini ia harus tetap sadar. Maka dari itu Sajaka pergi membawa kekecewaannya dari sana. Pintu kamar sebelah tertutup rapat. Sajaka telah meninggalkan Sadina dalam keadaan mematung di tempat. Ia baru mengetahui bahwa Sajaka mempunyai kakak perempuan dan sudah berpulang.
***
Pagi ini Sadina tidak ingin bertemu Sajaka, kalau bisa. Sayangnya mereka tinggal satu atap. Dan Sadina tidak bisa berbuat sesuakanya dalam rumah orang. Mau tidak mau Sadina harus bertemu Sajaka. Walau hati sangat tidak ingin.
Ia masih sangat marah mendapat tuduhan bahwa lingkungan pertemanannya adalah kriminal. Belum tahu saja dia bagaimana baiknya orang-orang dalam web itu. Terutama untuk seseorang yang kesulitan bersosialisasi, susah mendapatkan teman. Sadina kira pemikiran Sajaka tidak sedangka itu menilai suatu hal.
Apalagi dia bilang punya seorang kakak perempuan. Yang bahkan namanya saja baru Sadina dengar selama tinggal di rumahnya. Mengapa juga mereka menyembunyikan anggota keluarga mereka, meski sudah tiada, tetap saja keluarga tetap keluarga.
Selin perhatikan dari awal Sadina turun lantai dua kemudian duduk di ruang makan, gadis itu tampak sedang memikirkan banyak hal rumit. Raut mukanya kusut. Biasanya sebelum sarapan atau makan malam, Sadina akan membantu Selin di dapur. Ya minimal menata makanan di meja. Bukannya Selin berharap hari ini juga ia dibantu. Ini sudah menjadi tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga selama hampir seperempat abad. Selin hanya khawatir dengan mendung di sekitar Sadina.
Deka yang duduk di dekat Sadina juga tidak bisa diharapkan. Bapak dua anak itu sibuk dengan ipad-nya, membaca koran digital di pagi hari. Mungkin pria di muka bumi memang kurang peka semua. Mereka bukan tipe makhluk yang ambil inisiatif terlebih dahulu. Kalau dipikir-pikir, ketidakpekaan Deka masih sama dengan waktu mereka belum menikah.
Selin menghela napas. Mambawa roti gandum tiga lapis isi selai coklat ke depan Sadina. Gadis itu agak tersentak dengan sentuhan di bahunya. Begitu menoleh, ia mendapati pertanyaan Selin yang tanpa suara. Sadina memaksakan senyum sambil menggeleng pelan.
Tak lama suara hentakan langkah kaki menuruni tangga terdengar. Sebelum suara Selin menyapa orang itu untuk segera sarapan sebelum berangkat sekolah, Sadina sudah tahu siapa yang turun dari lantai dua. Perasaan Sadina benar-benar berdebar. Kali ini bukan jenis berdebar karena seseorang yang disukai, melainkan debaran kacau karena rasa penasaran. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan perkataan Sajaka. Sadina ingin meminta penjelasan lebih, tetapi Sajaka seolah sengaja menggantung semuanya. Sajaka mengunci kamar, juga mematikan ponsel. Itu membuat Sadina frustrasi sendiri.
Sampai akhirnya pagi ini tiba. Rasanya Sadina ingin cepat menghabiskan sarapan, lalu bicara dengan Sajaka. Walau sebentar saja, tidak apa-apa. Asal ada sedikit kejelasan dari mulut Sajaka.
Kursi di seberang Sadina berderit. Sajaka duduk di sana, hanya saja tidak seperti biasa cowok itu menghindari bersitatal dengan Sadina. Walau begitu Sadina tak patah semangat, sesekali melirik Sajaka yang memakan roti dengan lambat. Sadina yakin ini hanya akal-akalan Sajaka agar bisa menghindarinya.
"Sadina, sarapannya sudah selesai?" Deka berdiri merapikan kemeja. Papanya Sajaka ini selalu paling cepat menghabiskan makanan. Selin keluar dari kamar membawa tas kerja Deka di tangan.
"Sudah, Om. Berangkat sekarang?"
Sadina berdiri dengan berat hati. Tandanya ia tidak punya kesempatan bicara dengan Sajaka hari ini. Mereka tidak bicara selain ketika di dalam rumah. Di luar rumah benar-benar seperti dua orang asing.
Sengaja Sadina mendorong mundur kursi dengan pelan-pelan . Berharap Sajaka menghentikannya dan mengajak bicara. Melanjutkan pembicaraan mereka tadi malam misalnya? Sadina yakin mereka belum betul-betul selesai. Sebab menurut Sadina, masih banyak hal yang belum Sajaka katakan. Sadina juga heran dari mana Sajaka bisa tahu tentang lambang dan website pertemanan online yang Sadina masuki. Selama ini Sadina tidak pernah mengatakan apa-apa pada siapa pun. Ya ..., selain memang karena tidak punya tempat bercerita. Ia pikir bisa berteman dengan siapa saja. Namanya juga makhluk hidup, membutuhkan support sistem. Jika tidak didapatkan dari sekitar, sudah seharusnya mencari ke tempat lain. Dan Sadina telah menemukannya. Dalam web itu ia mendapatkan teman.
Ternyata yang ia pikir sudah benar, belum tentu bagi orang lain. Sadina tidak akan mempermasalahkan dan memikirkan pendapat orang lain terlalu jauh kalau bukan karena orang itu adalah Sajaka. Bagaimana pun sekarang Sajaka menjadi satu-satunya teman di sekolah maupun rumah. Sadina takut jika hubungan mereka renggang.
Sebelum resmi keluar dari rumah, di ambang pintu sekali lagi Sadina menoleh ke belakang. Sajaka masih saja pura-pura sibuk memakan sarapan. Tumben sekali dia lama memakan sesuatu. Malah Sadina lihat tadi gigitannya kecil-kecil.
Suara Deka meminta Sadina segera masuk ke dalam mobil menginterupsi. Sadina berlari kecil melintasi teras rumah, "Iya, Om!"
***
Begitu Sadina hilang dari ambang pintu, lalu deru mobil bergerak meninggalkan halaman rumah. Saat itu Sajaka menghela napas. Sungguh berat baginya mengabaikan Sadina yang duduk di dahapannya. Sangat terlihat Sadina ingin mereka bicara lagi. Namun bagaimana lagi, Sajaka belum siap menjelaskan semuanya.
Jarak yang tercipta antara mereka sekarang ini akibat salah Sajaka juga. Kalau saja tadi malam ia bisa mengendalikan diri, tidak membawa-bawa mendiang kakak perempuannya dalam pembicaraan mereka, pasti kerenggangan mereka tidak seperti ini. Sajaka telah membawa sesuatu yang seharusnya tidak pernah dikatakan pada bukan anggota keluarga.
Sekali lagi Sajaka menghela napas. Dia berdiri menyangklungkan tali tas di bahu kanan. Bertepatan dengan kembalinya Selin dari depan rumah, Sajaka meminum segelas air sebelum pergi.
"Sajaka berangkat dulu, Ma." Sajaka pamit mencium tangan ibunya.
Selin balas mengusap rambut putra kesayangan. "Sajaka?"
Sajaka mendongak, tepat menatap netra Selin yang di balik kelembutannya itu terasa misteri. Sepertinya akan ada pembahasan sesuatu.
"Kan kamu mulai dekat dengan Sadina. Mama cuma mau memastikan sesuatu. Kamu nggak menceritakan hal aneh pada Sadina, kan?"
Apa semua ibu selalu mengetahui pikiran anak-anak mereka? Kenapa Selin selalu mengetahui lebih dulu bagaimana perasaan Sajaka bahkan sebelum didiceritakan permasalahannya apa. Entah ini yang disebut ikatan batin atau sebenarnya ia punya ibu yang diam-diam punya bakat paranormal. Sajaka dibuat tidak bisa berbohong.
“Aneh-aneh gimana maksud, Mama?”
“Tentang keluarga kita? Cerita tentang keluarga kita, masa lalu dan masa sekarang. Mama yakin sebenarnya Sadina penasaran. Hanya saja anak itu nggak mau ikut campur dengan urusan orang lain.”
“Kalau Sajaka nggak sengaja cerita? Keceplosan?”
“Diusahakan jangan sampai. Kalau pun udah waktunya dia tahu, dia tahunya dari Mama dan Papa.”
“Memangnya kenapa kalau tahunya dari Sajaka?” Sajaka heran. Sedikit tersinggung, selalu saja dianggap anak kecil oleh kedua orang tuanya.
“Nggak ada alasan khusus. Yang pertama, kamu masih kecil.”
Sajaka merotasi bola matanya. Mereka selalu memakai alasannya yang sama. “Lagian kenapa nggak cerita aja dari dulu atau sekarang, nggak nunggu nanti. Kalau udah tinggal bareng lama kan udah kayak keluarga juga.”
Selin tersenyum lembut. “Udah Mama anggap dia putri kesayangan. Makanya Mama nggak mau karena masa lalu keluarga kita dia salah paham dan memilih pergi dari sini. Mama nggak bisa kehilangan dia—“
“Ma,” sela Sajaka memotong ucapan Selin. “Sadina bukan Kak Rena.”
Hati Selin mencelus. Senyuman hangat ketika membicara Sadina berubah sendu. Kesedihan tergambar jelas dari pantulan matanya yang berair. Sajaka telah berdosa membuat ibunya bersedih karena mengingat hal-hal yang telah melukainya sangat dalam.
Sajaka hanya tidak ingin ibunya melampiaskan obsesi karena kehilangan seseorang sangat berharga dalam hidupnya pada orang lain. Ia tahu kasih sayang Selin pada Sadina layaknya pada anak sendiri. Yang Sajaka takutnya bagaimana jika Sadina tertekan. Awalnya Sajaka membiarkan perilaku berlebihan ibunya pada Sadina karena merasa senang ketika melihat ibunya senang dan seperti hidup kembali. Lama-kelamaan Sajaka sadar, ibunya telah melewati batas.