Bab 34 Yang Tersembunyi

1606 Kata
Sajaka memejam, kepalanya sangat sakit.  Mengapa kedua orang yang begitu ia sayangi ada hubungannya dengan lambang itu? Apa arti dari lambang ini masih menjadi misteri. Sajaka berpegangan pada meja agar tetap berdiri, karena hampir tidak merasakan kakinya. Dari pantulan cermin di atas meja itu ia menatap pantulan dirinya. Di saat bersamaan entah itu permainan halusinasi ketika pikiran berada dalam tekanan berat atau memang betul adanya kalau ia melihat pantulan dirinya di cermin itu berseringai. Seakan yang dilihat Sajaka bukan dirinya sendiri. Sontak Sajaka melangkah mundur. Pantulan dirinya di cermin itu malah tertawa lebar. Dengan kekuatan penuh Sajaka meninju cermin itu dengan tangan kosong begitu keras. Cerminnya retak parah. Remukan berada di pusatnya bersama noda merah darah. Sementara habis itu Sajaka terengah-engah menatap pantulan dirinya pada pecahan-pecahan cermin. Pantulan dirinya tertawa berkebalikan dengan apa yang terjadi, sudah menghilang. Namun tawa itu masih terdengar, sangat dekat dengan telinga. Sajaka menutup kedua telinga. Tetesan darah yang meluncur dari gepalan tangan membentuk genangan kecil di atas lantai. Kini cairan merah itu juga menyentuh satu sisi wajah tampannya. “Diam!” jerit Sajaka tidak kuasa. Percuma saja, suara tawa semakin menggema dan terdengar banyak. Sajaka terduduk di lantai sembari menutupi telingan dengan kedua tangan. Lama-lama suara yang berlomba menerobos lubang telinganya meningkatkan sakit di kepala. Sajaka tertunduk ke lantai. Sakit tidak tertahankan perlahan membuatnya kehilangan kesadaran.   ***   "Dari mana saja kamu?" Bariton suara seseorang yag ia pikirkan sepanjang perjalanan pulang menghentikan langkah lesu Sajaka. Sampai rumah semua lampu telah padam, pikiran kedua orang tuanya telah pergi tidur. Baru saja beberapa langkah ia lewati ruang tengah yang dikira sepi. Ternyata sang ayah yakni Deka menunggu di sana. Sajaka bergeming di tempat, menunggu Deka berjalan mendekat. Pria itu berdiri di hadapan Sajaka memerhatikan penampilan putra bungsunya dengan seksama. "Apa yang kamu kerjakan di luar sampai baru pulang jam segini?" tanya Deka lagi dengan nada kelewat dingin. Belum pernah Sajaka melihat ayahnya semarah ini. Pandangan Sajaka masih belum sepenuhnya tertuju pada Deka. Sorot matanya kosong menatap ubin lantai. Seakan suara Deka tidak terdengar. "Sajaka, Papa bertanya sama kamu." Tetap saja tidak didapatkan jawaban. Sajaka hanya mendongak perlahan, menatap langsung netra Deka. Namun dari tatapan sayu itu, Deka cukup mengetahui putranya kelihatan sangat lelah. Jam dinding menunjukan angka 10 ketika Deka menoleh. Jika ada Selin di situ, pasti masalah ini akan panjang lebar sampai besok subuh. Biasanya Selin baru akan berhenti mengintrogasi kalau sudah mendapatkan jawaban jujur. Tadi Deka berbohong pada Selin kalau anak mereka sudah meminta izin akan pulang malam karena acara sekolah. Padahal Deka tidak tahu menahu kemana perginya Sajaka sampai ada kabar bolos sekolah. Deka berani membela karena punya keyakinan Sajaka akan menjelaskannya nanti. Ia tentu sangat mengenal putranya. "Dari mana?” Deka menuntut jawaban. Sebab hanya tatapan kosong yang ia dapat, Deka menghela napas lelah. “Mandi, terus istirahat sana. Mamamu sudah tidur duluan, kamu nggak akan marah-marah sekarang. Paling besok kalau dia tahu sesuatu tentang kamu—Papa nggak bisa bantu." Deka mengusap bahu Sajaka, lalu memberi sedikit tepukan. "Kita bicara besok. Ini bukan berarti Papa nggak marah kamu bolos sekolah dan pulang malam tanpa ngasih kabar. Buat ngedengerin ceramahan kedua orang tua, anaknya juga harus punya tenaga. Sana, istirahat—tunggu." Deka meraih tangan kanan Sajaka. Baru menyadari darah yang menghitam melumuri tangan putranya. Luka di sana sudah mengering, tetapi masih mengerikan. Pasti darahnya sangat banyak.  "Sajaka? Apa ini, Nak?" Deka terbelalak. Kali ini nada bicaranya dipenuhi tekanan. "Sajaka, jawab Papa." Sajaka diam saja, makin menambah bingung ayahnya. Deka sudah menggoyangkan bahu Sajaka dengan kasar agar mendapat atensi. Sajaka seperti kehilangan jiwa. Hanya matanya saja yang berkedip. Sejauh itu tatapan Sajaka kosong. "Sajaka, lihat Papa, jawab. Hei, Sajaka!" Deka menangkup wajah putra bungsunya. Memaksakan agar mereka bersitatap. Setidaknya supaya Deka bisa menebak-nebak apa yang sudah terjadi. "Ada apa, Sajaka? Bilang ada apa? Kamu habis ngapain? Kenapa tangannya sampai kayak gini? Berantem? Ha?" Tuntutan jawaban Deka tetap tidak bersambut jawaban. Tanpa mengatakan apa-apa Sajaka melengos pergi menaiki tangga menuju lantai dua. Melepaskan diri dari cekalan tangan Deka. Dari langkahnya yang lunglai dan tatapan datar itu, Sajaka seperti habis mengalami kejadian yang membuatnya hampir kehilangan nyawa. Deka bergeming di tempat. Menatap punggung putranya menjauh. Hatinya sangat gusar memikirkan apa yang sudah terjadi. Ia sangat ingin memaksa Sajaka agar bicara, tetapi melihat kondisinya begitu mengkhawatirkan, Deka jadi ragu akan mendapatkan jawaban. Maka Deka putuskan membiarkan Sajaka untuk malam ini. Apa pun yang sudah terjadi, ia akan mengetahuinya besok bagaimana. Jika masih sama saja, sudah kewajiban Deka mencari tahu akar permasalahan anak itu apa. Deka percaya jika pun putranya berkelahi pasti ada alasan. Yang Deka takutnya putranya disakiti orang lain tanpa bisa melawan. Itu saja. “Ada apa sama kamu, Sajaka?” Deka bergumam. Setelah Sajaka hilang di titian tanggga terakhir, Deka mengusap wajahnya kasar. Ia kembali ke kamar tanpa mengatakan apa-apa pada Selin.   *** Dalam temaram, sepasang mata bulat berkedip-kedip lucu. Pemilik mata bulan berkilau dalam kegelapan itu kesulitan tidur. Kantuk tidak kunjung datang padahal malam terus beranjak menuju dini hari. Sebagai gantinya dalam benak diganggu oleh secuil ingatan kejadian tadi pagi. Tentang Sajaka dan ketidakhadiran Sajaka tanpa keterangan. Satu kelas riuh membicarakan kemana perginya Sajaka. Sungguh Sadina juga sangat penasaran kemana perginya Sajaka sampai tidak masuk sekolah sehari penuh. Semua orang terkejut mengetahui anak teladan kesayangan semua guru untuk pertama kalinya bolos. Makin malam benang kusut dalam kepala semakin semerawut. Telah Sadina coba berbagai posisi berbaring, menyamankan diri, hanya saja sulit jika yang tidak nyaman bukan fisik melainkan perasaan. Sadina berbaring tanpa kantuk berlangsung cukup lama sampai lehernya pegal. Mungkin Sadina hampir memasuki lubang hisap menuju alam bawah sadar ketika terdengar ketukan di pintu. Lama-lama ketukan itu semakin nyata dan terdengar jelas. Yang biasa mengetuk pintu kamarnya adalah Sajaka. Bola mata bulat itu seketika langsung terbuka terang. Seraya bangkit dari posisi berbaring, Sadina menatap pintu kamar. Mendengarkan ketukan lainnya. “Sajaka ....” Ketika ketukan itu terdengar lagi. Sadina tidak bisa menyembunyikan senyuman. Buru-buru ia menyibak selimut, turun dari tempat tidur. Sadina menapaki lantai dengan dengan jalan berjinjit menuju pintu. Begitu pintu dibuka, cowo jangkung berdiri di hadapannya. Benar dugaannya, ornag uang memenuhi pikirannya seharian ini berdiri di hadapannya sekarang. Sajaka membelakangi lampu lorong, tetapi siluet wajahnya masih bisa terlihat. Dari auranya, Sadina agak merasa kurang baik. Ditambah Sajaka hanya diam saja dalam beberapa lama. "Sajaka?" Sadina akhirnya memulai. Dari mana saja dia? Kenapa baru pulang hampir tengah malam masih mengenakan seragam sekolah? Sadina ingin menanyakan itu semua. "Sajaka, kamu—“ "Kita perlu bicara hal penting, Din." Suara bernada rendah itu memotong perkataan Sadina. Terdengar sedingin angin malam di musim kemarau. Begitu mencekam dan memaksa lawan bicara agar diam mendengarkan dia bicara sampai tuntas. Di tempatnya, Sadina sampai hilang kata. Ia hanya berani menelan salivanya kasar, tanpa mengalihkan perhatian dari manik gelap di hadapannya. Mereka saling bertukar tatap, walau karena perbedaan tinggi mereka, ia harus mendongak. "Kali ini jujur bisa, kan? Jangan ada lagi yang ditutupi.” Sadina menoleh ke samping sekilas, bingung pada arah pembicaraan Sajaka mau kemana. Setelah masalah mereka yang terakhir itu, Sadina mencoba lebih terbuka dan tidak ada rahasia-rahasia lagi. “Nggak akan ada yang ganggu kita ngobrol. Kalau pun mereka datang, jangan peduliin mereka.” Perkataa Sajaka memaksa Sadina agar tetap menatap matanya. “Lambang di kotak hadiah yang kamu kirim ke teman online itu adalah lambang sebuah web yang kami temukan di ponsel Slavina, kan?" "Slavina?" beo Sadina. Sajaka menjawab cepat. "Anak kelas 11 yang mengakhiri hidupnya di toilet gedung D. Link web itu tanpa segaja tersebar ke seluruh grup kelas di Deltaepsilon. Meski broadcastnya udah ditarik dan ada larangan supaya nggak masuk ke link itu, nyatanya masih ada beberapa orang yang mengakses web itu diam-diam. Kamu juga, Sadina?" "Ma-maksud ka—“ "Kami sudah menemukan data siapa saja anak Deltaepsilon yang masuk ke web itu. Nama kamu ada di sana, Sadina. Kenapa?" Sajaka kembali mengambil giliran Sadina bicara. "Apa yang kamu lakukan di sana? Padahal jelas-jelas tempat itu berbahaya. Kita nggak pernah tahu itu sebenarnya tempat apa. Yang jelas membawa pengaruh buruk." “Gimana bisa kamu menilai tempat itu buruk sedangkan kamu nggak tahu tempat itu tempat apa?” “Karena udah jelas, dan udah ada korbannya. Teman satu sekolah kita.” “Itu cuma kebetulan, Jaka.” “Kematian yang cara begitu bukan kebetulan, Din. Ada alasannya. Dan alasannya web itu.” "Kalau gini kamu nuduh tempat di mana aku dapat teman sebagai para kriminal yang menghilangkan nyawa orang." Sadina mengangkat tangan agar Sajaka berhenti memberi tuduhan tanpa tahu yang sebenarnya. "Tempat yang kamu sebut berbahaya itu udah memberikan akan teman-teman yang baik. Yang mau menerima aku, isi pikiran aku, apa adanya diri aku. Mereka nggak sejahat dalam pikiran kamu, Sajaka—“ "Kamu belum tahu apa-apa, Sadina. Kamu baru mengenal sebagian kepribadian mereka saja. Gimana bisa kamu lebih percaya teman online daripada orang yang jelas-jelas kamu temui setiap hari?" "Memangnya ada satu aja di antara orang-orang yang aku temui mau jadi teman aku? Ada?" Sesingkat sebuah kalimat balasan yang berhasil membungkam Sajaka. Detik selanjutnya kekehan pedih terdengar. Sajaka menggeleng tak percaya. "Kalian benar-benar mirip." Perkataan ambigu itu cukup membuat kening Sadina mengernyit. "Renada, mendiang kakak perempuan aku. Di kamarnya juga ada gambar yang mirip lambang yang kamu tempel di kotak itu. Kalian sama-sama masuk dalam web itu, dan kalian sama-sama keras kepala. Bukan nggak ada alasan aku bilang web itu bahaya, karena sebelum meninggal, di kamar Kak Rena ada lambang web tempat teman-teman kamu itu." Sajaka mengusap wajahnya kasar. Dalam keadaan kacau begini ia harus tetap sadar. Maka dari itu Sajaka pergi membawa kekecewaannya dari sana. Pintu kamar sebelah tertutup rapat. Sajaka telah meninggalkan Sadina dalam keadaan mematung di tempat. Ia baru mengetahui bahwa Sajaka mempunyai kakak perempuan dan sudah berpulang.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN