Sajaka mengembuskan napas panjang. Di pandanginya lama rumah di depan. Bangunan dan semua yang ada di sekitarnya tidak banyak berubah. Hanya taman buatan yang awalnya asri menyisakan sedikit tanaman.
“Udah nyampe sini. Jangan sampai nggak dapet hasil apa-apa.” Sajaka menyemangati diri sendiri. Jujur saja debaran jantungnya terdengar sampai luar.
Pelan, Sajaka membuka gembok pagar yang ia curi dari laci kamar Selin. Pagar rumah terbuka bersamaan dengan derit eng sel bergesekan.
Bahkan Sajaka baru membuka pintu pagar, belum melangkah jau melintasi halaman rumah. Akan tetapi udara yang ia hirup terasa berbeda. Lebih berat dan menyesakkan. Jemarinya senantiasa menggepal kuat di balik saku hoodie. Langkah pertama setelah sekian lama menginjakan kaki menyusuri susunan batu melintasi halaman rumah, mampu membawa ingatan Sajaka berlari pada tahun-tahun ke belakang. Saat kebahagiaan belum terenggut dalam keluarganya.
Rumput tanam tumbuh terawat memenuhi halaman rumah. Menyembunyikan tanah dari permukaan. Walau daun-daun kering di beberapa sudut berserakan, tetapi sepertinya terakhir disapu satu hari yang lalu. Tidak terlihat bahwa sebenarnya rumah itu tanpa penghuni selama bertahun-tahun. Iya, sudah sangat lama dari terakhir rumah ini ditempati. Hanya sesekali saja Deka datang untuk memastikan rumah dalam keadaan baik. Keluarga tidak ada niat kembali menghuni, atau menjual pada orang lain. Sayang dengan kenangan yang sangat banyak kalau dijual. Makanya rumah ini dibiarkan tanpa penghuni.
Suasana di tempat itu begitu kuat menarik mundur ingatan Sajaka kembali ke masa kecil penuh tawa. Menerobos pertahanan Sajaka yang tidak ingin terpengaruh pada hal-hal semacam itu. Dulu ia sering berlarian bersama kakak laki-lakinya di halaman rumah. Bermain bola sampai setiap pulang sekolah. Pernah juga mereka bermain sampai memecahkan salah satu jendela dan berakhir mendapatkan omelan panjang ibu mereka. Masa-masa menyenangkan itu telah lama berlalu. Sajaka sendiri masih tidak menyangka dulu dia dan kakaknya begitu dekat, sedangkan sekarang dipisahkan benteng tinggi bernama kecanggungan. Namun begitu, Sajaka tahu mereka saling menyayangi, walau tanpa saling mengungkapkan.
Bibir Sajaka berkedut kecil. Senyum tipisnya menandakan bahwa itu semua tinggal kenangan. Tidak banyak kenangan yang menyenangkan. Sajaka masih ingat bagaimana pada akhirnya sebuah tragedi menghancurkan kehangatan rumah itu sehingga mereka terpaksa pindah ke suatu tempat. Sejak itu tidak ada lagi hal menyenangkan di dunia. Sekarang ia malah berdiri lagi di tempat ini.
“Den Sajaka sudah sampai?” Suara Pak Anto membuyarkan lamunan Sajaka.
Penjaga rumah ini tergopoh-gopoh mencapai arah gerbang. Pria kerempeng ini sudah lama mengabdi pada keluarga Sajaka, bahkan sejak Selin mengandung Sajaka katanya.
Sebelum ke rumah lama Sajaka menghubungi Pak Anto akan ke sana. Namun Sajaka tidak mengatakan apa pun soal paket yang di kirim ke alamat rumah itu. Sajaka mewanti-wanti Pak Anto agar hangan sampai kedatangan Sajaka diketahui Selin maupun Deka.
“Den, kenapa ke sini mendadak baru ngabarin tadi malam atuh? Kan Mamang jadi nggak bisa siap-siap di rumah.”
“Sajaka nggak akan nginep kok, Mang. Cuma sebentar ngambil barang yang ketinggalan,” jawab Sajaka mengikuti langkah Pak Anto ke teras rumah.
“Oh, iya. Kemarin ada kurir ke sini. Ada yang kirim paket ke alamat ini tapi atas nama Rico. Mamang udah bilang di sini nggak ada yang namanya Rico, orang rumahnya juga kosong. Yang punya rumah juga bukan Rico namanya, tapi kata tukang kurirnya nggak ada urusan. Beruntung bukan barang COD, jadi ya Mamang terima aja.”
Kunci rumah terbuka. Begitu pintunya dibuka juga, hawanya langsung berbeda. Sajaka melongokan kepala sebelum masuk.
“Rumahnya selalu bersih, Mama sama istri sering bersih-bersih sesuai kata Pak Deka rumah ini harus seperti ada orang yang huni.”
Sajaka mengikuti langkah Pak Anto lagi masuk ke dalam rumah. Entah suhu dalam rumah yang dingin, atau perasaan Sajaka yang campur aduk melihat foto keluarga yang menggantung di ruang tengah.
“Emm ..., tadi Pak Anto bilang soal paket ya? Ada di mana sekarang paketnya?”
Pak Anto diam sebentar. “Itu paket punya Aden?”
“Sebenarnya iya, Pak.” Sajaka mengusap belakang telinga. “Beli sesuatu, tapi takut dimarahi Mama. Jadi dikirimnya ke sini.”
“Oalah .... Sebentar, Den. Bapak nggak berani buka, takut isinya macem-macem kayak bom. Makanya Mamang taruh di bekas kandang burung.”
Pak Anto keluar mengambil barang yang disimpat di sebuah saung kecil depan rumah. Dulu, saung itu dipakai Deka untuk menjemur burung peliharaan.
“Ini, Den. Maaf, Mamang nggak tahu ini paket punya Aden. Habis namanya bukan nama Aden. Agak basah sedikit. Kemarin malem gerimis.”
“Iya, Mang. Nggak apa-apa. Makasih udah disimpenin paketnya. Sengaja Sajaka nggak kasih tahu soal paket, takut ketahuan Mama.”
“Kalau begitu Mamang ke belakang lagi ya, Den? Masih ada kerjaan di belakang. Kalau ada apa-apa langsung panggil saja.”
“Iya, makasih, Pak Anto. Tapi Pak Anto—“
“Iya, Den?” Pak Anto tidak jadi balik badang.
“Soal kedatangan saya hari ini ke sini jangan bilang-bilang ke Mama atau Papa, ya?”
Pak Anto tersenyum ramah, “Siap, Den. Sesuai permintaan Den Sajaka, ini harus jadi rahasia antara Den Sajaka dan saya saja. Sebenarnya saya takut kalau ketahuan Bu Selin marah. Di depan Ibu, saya nggak bisa bohong, Den.”
“Pak Anto nggak perlu khawatir, kalau nanti ketahuan Mama, Sajaka janji marahnya cuma ke saya aja. Nggak akan bawa-bawa Pak Anto. Yang penting sekarang kalau Mama dan Papa ada nanya ke Pak Anto, saya ke sini apa atau nggak, jawab aja nggak ada.”
“Iya, Den. Mamang bakal tutup mulut,” ucap Pak Anto meragakan mengunci mulut.
“Oke, Pak. Makasih.” Sajaka mengacungi jempol.
Usai percakapan itu Pak Anto kembali bekerja meninggalkan anak pemilik rumah di ruang tengah. Sajaka duduk di sofa membuka paket kiriman Sadina untuk Rico. Dari perkataan Pak Anto, Sajaka rasa nggak ada yang namanya Rico di daerah ini. Lalu siapa yang mengaku punya nama itu dan mengarahkan ke alamat ini? Sajaka menggeleng, makin menjadi saja kekhawatiran bahwa sekarang Sadina dalam bahaya.
Suara gergaji dan kapak memotong kayu yang tumbang di belakang rumah menjadi latar suara. Sajaka lumayan tak sabar sekaligus berdebar saat berhasil membuka kardus paket itu.
Ia lalu menyobekkan bubble wrap hitam pelindung paket bagian dalam. Isinya percis kotak hadiah yang Sajaka lihat tempo hari saat Sadina menceritakan kalau ia akan mengirim sebuah hadiah pada teman online-nya.
Perekat kotak itu dilepasnya satu per satu. Penutup kotak kemudian terbuka. Dan di situ Sajaka tertegun cukup lama memandangi isi dalam kotak.
Hadiahnya adalah sebuah gelang alumniium dengan ukiran inisial huruf S. Yang jika boleh Sajaka tebak adalah inisial nama “Sadina”. Waktu itu juga cewek itu memakai gelang percis seperti gelang ini, tetapi berinisial “R”. Saat Sajaka tanya arti huruf “R” itu apa, katanya inisial nama Rico. Sudah sedekat itu hubungan mereka tanpa sepengetahuan Sajaka.
Sadina juga menambahkan sebuah pesan singkat dalam secarik kertas kecil. Sajaka membacanya dalam diam. Hanya sebuah kalimat ucapan ulang tahun yang membuatnya kembali tercenung lama. Dalam kertas itu, lebih tepatnya di bagian bawah surat ada sebuah gambar. Gambar yang sama pada tutup kotak hadiah. Sajaka mengusap gambar di permukaan kertas dengan perasaan mengenali sekaligus asing.
Dimana ia pernah melihat ini? Mengapa sekarang begitu sering muncul. Anehnya seakan sebelumnya juga pernah tahu.
Tidak berapa lama sesuatu terlintas dalam benak Sajaka. Sontak ia berdiri tegak, lalu bergegas menaiki tangga menuju lantai dua.
Entahlah, ia hanya mengikuti kata hati. Firasatnya bilang akan menemukan sesuatu di salah satu ruangan di lantai dua. Sajaka membuka ruangan paling ujung di lantai itu. Ruangan yang paling di hindari dari dulu.
Tangannya dirasa berkeringat, ketika mendorong gagang pintu. Sajaka tanpa sadar menahan napas selama derit pintu terdengar. Pintunya terbuka bersamaan dengan menyeruaknya aroma ruangan yang lama tidak ditempati. Sajaka agak merinding. Dirinya lupa kapan terakhir menginjakkan kaki di kamar itu. Ruangan yang semua sudut mengingatkan pada mendiang kakak perempuannya.
Ia berdiri di ambang pintu. Haru dan sedih menyerang secara mendadak. Ia memaksakan diri berjalan lebih dalam. Langkahnya menuntun sendiri ke arah meja meja belajar. Sajaka berdiri agak lama di sana. Memperhatikan setiap barang peninggalan mendiang kakak. Lalu seperti sesuatu dengan sengaja tengah mengarahkan Sajaka ke sana. Sajaka menemukan yang sedari tadi ia cari. Sesuatu itu sekaligus membuat dia merasakan sesak luar biasa.
Di kamar mendiang kakaknya sendiri ia menemukan gambar yang sama dengan stiker di kotak hadiah dari Sadina. Ini terlalu ganjil untuk disebut hanya kebetulan. Mereka adalah dua orang yang tidak saling mengenal dan bisa pastikan bahwa Sadina belum mengetahui perihal Sajaka punya seorang kakak perempuan. Selama ini Sadina hanya tahu Sajaka hanya punya satu kakak laki-laki dan sedang berada di luar kota.
Sajaka memejam, kepalanya sangat sakit. Mengapa kedua orang yang begitu ia sayangi ada hubungannya dengan lambang itu? Apa arti dari lambang ini masih menjadi misteri.
Sajaka berpegangan pada meja agar tetap berdiri, karena hampir tidak merasakan kakinya. Dari pantulan cermin di atas meja itu ia menatap pantulan dirinya. Di saat bersamaan entah itu permainan halusinasi ketika pikiran berada dalam tekanan berat atau memang betul adanya kalau ia melihat pantulan dirinya di cermin itu berseringai. Seakan yang dilihat Sajaka bukan dirinya sendiri.
Sontak Sajaka melangkah mundur. Pantulan dirinya di cermin itu malah tertawa lebar. Dengan kekuatan penuh Sajaka meninju cermin itu dengan tangan kosong begitu keras.
Cerminnya retak parah. Remukan berada di pusatnya bersama noda merah darah. Sementara habis itu Sajaka terengah-engah menatap pantulan dirinya pada pecahan-pecahan cermin. Pantulan dirinya tertawa berkebalikan dengan apa yang terjadi, sudah menghilang. Namun tawa itu masih terdengar, sangat dekat dengan telinga. Sajaka menutup kedua telinga. Tetesan darah yang meluncur dari gepalan tangan membentuk genangan kecil di atas lantai. Kini cairan merah itu juga menyentuh satu sisi wajah tampannya.
“Diam!” jerit Sajaka tidak kuasa.