Bab 32 Dia Kemana?

1453 Kata
"Sampai nanti di kelas." Sadina melambaikan tangan sembari berjalan mundur. Ia berusaha menekan pertanyaan yang masih ada untuk Sajaka. Karena tidak memerhatikan jalan Sadina hampir tersandung. Untungnya ia bisa menjaga keseimbangan. Sajaka agak tersentak, tetapi detik selanjutnya bernapas lega karena Sadina tidak jadi jatuh. Sadina kelihatan malu, jadinya Sajaka terkekeh geli. Cewek itu ada-ada saja tingkah lucunya. Banyak kecil mengenai Sadina kerap mengundang senyuman. Mungkin bagi orang lain akan biasa saja, tetapi Sajaka selalu merasa bahagia hanya dengan melihat Sadina di dekatnya. Senyuman Sajaka tetap bertahan hingga Sadina yang berangkat bersama Deka hilang dari pandangan setelah pagar rumah. Semalaman ia sudah memikirkan ini. Memang benar ternyata Sadina ada dalam daftar orang yang diam-diam bergabung ke dalam web rahasia itu, dan akan mencari tahu lebih lagi rasanya ia harus pergi ke suatu tempat. Rumah lama keluarganya. Tempat yang menjadi tujuan pengiriman hadiah dari Sadina untuk seseorang bernama Rico. Sajaka ingin tahu seperti apa teman online Sadina itu. Ini keputusan yang sangat berat. Dengan kembali ke tempat yang memberi Sajaka dan keluarga kepedihan hidup sama dengan membuka luka lama yang belum sembuh. Kenangan pahit nyatanya tidak cukup disembuhkan dengan berjalannya waktu. Ini perihal kenangan yang terus menempel. Susah hilangnya, atau mungkin akan tetap ada hingga akhir hayat. Walau yang akan ia hadapi bisa memperparah rasa sakit lebih dari sebelumnya, Sajaka harus melawan itu semua. Jika ditanya bisa atau tidak, sebenarnya dirinya sendiri belum tahu apa bisa bertahan atau tidak. Namun jika terus berdiam diri, apalagi menyangkut Sadina. Ini masalah besar. Ia harus turun tangan. Soal paket yang dikirimkan Sadina ke alamat rumah lama, menurut perhitungan kemungkinan paketnya sudah sampai di tempat. Entah di sana ada yang menerima atau tidak. Dan entah paketnya sampai di tempat tujuan atau tidak. Sajaka hanya ingin memastikan apa ada orang yang diam-diam tinggal di sana dan mengaku bernama Rico? Seperti apa Rico temannya Sadina itu? Dengan tekad yang bulat. Sajaka tanpa berpikir panjang lagi membelokan arah tujuan perjalannya pagi itu. Waktu keluar rumah melihat Selin, kebimbangan sempat membuat Sajaka ragu. Seumur hidup ia tidak pernah mangkir dari sekolah tanpa keterangan. Sepertinya hari ini akan menjadi catatan sejarah baru bagi kehidupan Sajaka. Sajaka mengalihkan arah perjalanan saat lampu lalu lintas di perempatan jalurnya berwarna merah. Sajaka tidak akan menyesal dengan apa yang ia lakukan. Bukannya tidak takut apabila kabar bolosnya Sajaka hari ini sampai di telinga kedua orang tuanya. Kemungkinan besar mereka akan mengetahui ini dengan cepat. Sajaka mengakui dirinya lebih diperhatikan oleh guru-guru, maka dari itu setiap kabar baik atau buruk akan lebih cepat sampai para orang tuanya. Berbeda dengan teman-temannya yang lain bila melakukan pelanggaran, sebelum pengulangan tiga atau empat kali belum diberi surat panggilang orang tua. Beginilah hidup dimonitori semua orang. Kota tempat tinggalnya dulu jaraknya cukup jauh. Bila bukan karena mengetahui sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, Sajaka tidak akan mencari tahu lebih. Sajaka menekan gas lebih dalam lagi. Mempercepat laju kendaraan di atas aspal. Ia menyalip banyak kedaraan dengan cukup ringan. Niatnya mencari jawaban semakin mantap. Apalagi ketika tiba-tiba teringat senyuman dan tawa Sadina. Ia tidak akan rela jika senyuman itu hilang dari wajah seseorang tersayang. Tidak akan pernah Sajaka biarkan.   ***   “Sajaka?” Sadina bergumam pelan. Pagi di perempatan lampu merah selalu menjadi tempat paling ramai. Tempat di mana kehidupan manusia ditentukan oleh aba-aba tiga warna lampu. Mobil yang Sadina tumpangi dan puluhan kendaraan lainnya terjebak dalam situasi menunggu aba-aba lampu merah. Hitungan waktunya tidak terlalu lama, tapi entah mengapa menurut perasaan sangat lama. Tak banyak hal bisa dilakukan sambil menunggu lampu lalu lintas berubah warna hijau lagi. Selain melalum, memandang sekitar karena hanya itu ya ada di depan mata mereka lakukan. Sama seperti Sadina ketika melihat-lihat padatnya ratusan puluhan kendaraan yang menunggu lampu lalu lintas berwarna hijau. Tanpa sengaja penglihatannya menangkap keberadaan seseorang. Sadina sampai duduk tegak untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Ia yakin betul motor, jaket, tas ransel, dan helm yang dikenakan orang itu sama dengan milik Sajaka. Namun mengapa Sajaka mengambil jalan belok? Harusnya ke arah sekolah terus lurus dari perempatan ini. Apa Sajaka buru-buru dan takut terlambat jadi mencari jalan pintas? Sadina bertanya-tanya. Raut kebingungan Sadina kemudian disadari Deka. Lampu lalu lintas baru saja berubah hijau, pria itu melajukan kendaraan lagi mengikuti arus. "Ada apa, Sadina?" tanya Deka, pasalnya anak itu waktu mobil melaju masih melihat ke jendela tepatnya ke arah belakang. Seakan baru melihat hal mengagetkan. Deka juga sempat melihat ke baik belakang dari cermin rear view, dan biasa saja. Ia tidak melihat seseuatu yang aneh. Sadina menoleh, “E-enggak, Om.” "Yakin?" Deka sedikit menelengkan kepala. “Kok kayak habis lihat mantan boncengan sama pacar barunya gitu?” "Apa sih, Om. Enggak, aku apa-apa." “Jadi bukan karena kaget lihat mantan jalan sama pacarnya?” goda Deka masih. Sadina terkekeh, “Bukan, Om ....” “Bagus deh.” “Kenapa bagus, Om?” Deka mengedikkan bahu. “Enggak .... Cuma kepikiran Sajaka aja.” Sadina juga sedang kepikiran tentang Sajaka. Yang barusan itu sangat familiar. Semoga saja yang ia bertemu Sajaka di sekolah, dan kesalahpahaman penglihatannya ini bisa terbantahkan. Sadina cukup yakin Sajaka sudah berada di sekolah sekarang, kalau tidak diam di dalam kelas, biasanya ada di ruang organisasi. Anak-anak organisasi selalu menjadikan ruang tempat mereka kumpul sebagai rumah kedua di sekolah. Sebuah keberuntungan mendaraan di depan satu per satu telah melaju. Atensi Deka jadi teralihkan. Sadina menghela napas pelan. Dilirik lagi arah perginya orang itu, tapi sekarang hilang. Sisi lain hatinya membuat perasaan gusar dengan meyakini bahwa dia Sajaka. Kendaraan, perawakan si pengendara, dan jaket yang dipakai pengendara, semuanya terlalu percis Sajaka. Sadina belum bisa mengatakan ini pada ayahnya Sajaka. Lagi pula sangat mustahil seorang Sajaka tidak datang ke sekolah tanpa keterangan apalagi tanpa mengatakan apa-apa pada orang tuanya. Sadina berusaha menciptakan pikiran-pikiran positif, meski pemandangan orang itu muncul dalam benaknya. Apalagi setelah ia tiba di kelas. Senyuman tipisnya seketika hilang. Meja belakang kosong. Tidak ada Sajaka di sana. Hanya ada kehampaan. Meski begitu Sadina tetap berusaha berpikiran baik, "Dia mungkin belum sampai. Tadi aku dan Om Deka berangkat duluan, 'kan? Iya, pasti Sajaka masih di jalan kejebak di lampu merah."   *** Satu jam perjalanan. Akhirnya Sajaka berhasil menempuhnya dengan bermodal nekat. Sudah lama ia tidak menyetir sendiri dalam jarak lumayan jauh. Yang terus mengganjal pikirannya hanya untuk pertama kali juga selam hidup ia bolos sekolah. Rasanya seperti melakukan kesalahan besar. Sajaka bertanya-tanya, apa mereka yang sering bolos lewat benteng belakang sekolah juga merasakan ketakutan ini? Jika diingat lagi mereka tidak pernah terlihat takut, malah mengulanginya lagi dan lagi. Sepertinya Sajaka terlalu gugup karena baru pertama kali. Takut bercampur antusias merupakan hal biasa untuk seorang pemula dalam bidang apa pun. Sajaka menggelengkan kepala, menertawakan pemikirannya sendiri. Cukup sekali ini saja ia pergi dari kewajiban. Bukan menyenangkan, malah kehilangan ketenangan. Rasanya mengerjakan soal-soal olimpiade akan lebih menenangkan dari pada bolos sekolah baginya. Ponsel yang berada dalam saku jaket mengalihkan perhatian Sajaka sesaat. Sadina mengirim pesan singkat. Menanyakan keberadaan Sajaka pastinya. Sebentar lagi pasti kabar Sajaka membolos sampai ke telinga Selin dan Deka. Sudah terbayang bagaimana Selin akan marah besar, mengomeli Sajaka sampai berbusa, dan mendiamkan Sajaka sampai tiga hari. Sajaka angkat tangan kalau menghadapi acara ngambek ibunya. Kedua orang tuanya selalu mendengar hal baik-baik saja tentang Sajaka. Kalau tahu anak kebanggaan mereka tidak masuk sekolah tanpa keterangan bisa-bisa serangan jantung. Bukan hanya omelan Selin saja, pasti Deka yang biasa bersikap santai akan ikut turun tangan. "Maafin Sajaka, Ma." Sajaka menekan lama tombol power ponsel. Tidak menunggu lama benda itu benar-benar mati. Ia terpaksa melakukan ini sebab yakin sebentar lagi orang-orang akan menanyakan keberadaannya. Saat ini Sajaka tidak ingin diganggu siapa pun. Berkecimpung di dunia anak teladan membuat Sajaka memikul beban berat. Ia hanya boleh menampilkan sisi baik saja. Mereka tidak akan memaklumi hal yang melenceng dari imej yang mereka ingin lihat dari Sajaka. Kalau dipikir-pikir Sajaka kehilangan kebebasan berekspresi. Ia selalu iri dengan mereka yang bisa melakukan banyak hal tanpa banyak batasan. Keinginan terbesarnya adalah bebas. Namun baru bolos sekali saja, berasa telah melakukan kesalahan berat. Sajaka mengembuskan napas panjang. Di pandanginya lama rumah di depan. Bangunan dan semua yang ada di sekitarnya tidak banyak berubah. Hanya taman buatan yang awalnya asri menyisakan sedikit tanaman. “Udah nyampe sini. Jangan sampai nggak dapet hasil apa-apa.” Sajaka menyemangati diri sendiri. Jujur saja debaran jantungnya terdengar sampai luar. Pelan, Sajaka membuka gembok pagar yang ia curi dari laci kamar Selin. Pagar rumah terbuka bersamaan dengan derit eng sel bergesekan. Bahkan Sajaka baru membuka pintu pagar, belum melangkah jau melintasi halaman rumah. Akan tetapi udara yang ia hirup terasa berbeda. Lebih berat dan menyesakkan. Jemarinya senantiasa menggepal kuat di balik saku hoodie. Langkah pertama setelah sekian lama menginjakan kaki menyusuri susunan batu melintasi halaman rumah, mampu membawa ingatan Sajaka berlari pada tahun-tahun ke belakang. Saat kebahagiaan belum terenggut dalam keluarganya.  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN