Bab 31 Keanehan Dia

1240 Kata
"Katanya Sajaka pulang lebih dulu dari kita, tapi sampai sekarang nggak turun-turun dari kamar," keluh Selin setelah lima jam kembali ke rumah habis menjemput Sadina. Padahal sebelum pulang mampir dulu membeli makanan dan cukup lama berada di luar. Akan tetapi Sajaka masih berada di dalam kamarnya. Entah apa yang sedang dikerjakan. Sesibuk-sibuknya Sajaka bila dipanggil Selin pasti akan meluangkan waktu datang ke hadapan ibunya itu. Kali ini pintu kamarnya saja dikunci. Selin telah memanggilnya dari lantai bawah, hingga langsung naik ke depan kamar sambil menggedor-gedor pintu. Sajaka hanya menjawab, "Iya, nanti, Ma!" "Lagi ngerjain apa sih itu anak? Awas aja kalo macem-macem. Emangnya ada tugas apa di sekolah, Dina?" Di tengah kegiatan mengomel, Selin bertanya pada Sadina yang duduk di sampingnya. Mungkin Selin bingung Sajaka sibuknya sampai tidak bisa diganggu, padahal Sadina yang juga sekelas dengan putranya malah menemani ia menonton Drama Korea. "Tugas sekolah hari ini cuma sedikit kok, Tan. Kayaknya Sajaka lagi ngerjain tugas organisasi. Akhir-akhir ini Sajaka sama temannya kelihatan lebih sibuk," jawab Sadina meski tidak begitu yakin dengan jawaban sendiri. Ia pun penasaran apa yang membuat Sajaka sesibuk itu. Sekilas Sadina menengadah ke lantai dua. Berharap ada tanda-tanda pintu kamar Sajaka terbuka. Tetap saja nihil, suara langkah kaki menuruni tangga tidak kunjung terdengar sampai dua episode Drama Korea yang mereka tonton di ruang tengah selesai. Kalau saja bukan karena pulangnya Deka dari kantor, kemungkinan Sadina harus menemani Selin menonton dua episode lagi. "Sajaka belum pulang?" Deka bertanya, heran sejak ia pulang tidak melihat keberadaan si bungsu. Tapi masa iya Sajaka pulang lebih malam Deka. Ini melanggar peraturan mereka. "Udah pulang dari tadi siang, tapi nggak keluar kamar sampai sekarang." "Kenapa?" "Nggak tahu Mama juga. Sibuknya ngalahin pejabat aja dia." Selin berkata dalam kesal. Sadina mendengarkan percakapan mereka dalam diam. Teringat selama seharian tadi Sajaka begitu berbeda. Waktu Sajaka pamit pulang lebih dulu, Sadina kira pulangnya itu maksudnya ke tempat organisasi atau ruang latihan olimpiade, ternyata ke rumah. Padahal waktu pamit dengan buru-buru itu Sajaka bilang mau mengurus sesuatu yang penting. Ternyata urusan pentingnya ada di rumah. Makin menjadi saja rasa penasaran dalam dirinya. Sajaka yang ia kenal tidak penuh teka-teki seperti ini. "Olimpiadenya bentar lagi ya?" Selin bergumam, "Biasanya dia biasa aja setiap mau ikut lomba. Kata Sadina kemungkinan lagi sibuk ngerjain tugas organisasi." "Oh, akan ada acara besar ya di sekolah, Sadina?" tanya bertanya pada Sadina. Sadina meringis, dirinya tidak pernah up date pada kegiatan-kegiatan sekolah. "Dina kurang tahu, Om. Kayaknya sih iya, soalnya Sajaka sering bolak-balik ruang OSIS." Sekali lagi Sadina menengadah ke lantai dua. Batinnya bersuara, sedang apa kamu, Sajaka? *** Di dalam ruangannya Sajaka merentangkan tangan. Melakukan perenggangan tangan dan bahu. Duduk lama-lama di depan layar laptop sangat melelahkan. Ia tidak sadar sudah menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan lupa mengganti pakaian sekolah terlebih dulu. Sajaka baru beranjak ketika menyadari deru mobil memasuki halaman rumah. Ayahnya sudah pulang. Ia lalu memandangi kegelapan dari jendela kamar. Malam semakin pekat, dan hanya ada kegelapan tanpa bintang di luar sana. Kemudian mata yang terlihat lelah itu kembali melihat layar laptop. Sajaka menghela napas, pekerjaannya masih banyak. Ia terus memastikan bahwa data yang ia baca dengan teliti. Tidak akan ia biarkan keselahan kecil lolos dari sepengetahuannya. Berat menerima semua ini hingga tanpa sadar kesedihan menggiringnya tertidur. Sajaka tertidur karena lelah dengan kejutan dalam hidup. Terlalu banyak plotwist sehingga energinya sangat mudah hilang. Nyatanya Sajaka masih harus menghadapi hari esok. Ketika membuka mata, hal pertama dalam benaknya hanya ada satu hal. Mengapa ia bisa seceroboh ini? Mengapa hal bisa ada hal kecil terlewat dari pengawasannya? Ia kecewa pada diri sendiri. Sangat ingin ia meringkuk di balik selimut lebih lama. Untuk menyesali semua kekacauan ini bahkan tidak akan cukup.  Dalam ruangan temaram itu kelopak mata Sajaka berkedip lambat. Pikirannya jauh melayang menembus atap rumah. Cericit burung di dahan pohon serta ketukan pintu menarik kembali kesadaran Sajaka. Sudah dua kali Selin membangunkannya. Langit yang awalnya gelap kini telah menyorot kamar Sajaka dari celah-celah gorden jendela. Sajaka menghela napas panjang, memaksakan diri bangun dari tempat tidur. Tanpa semangat ia menyibak selimut. Turun dari tempat tidur menuju kamar mandi. *** Selama sarapan Sadina memerhatikan Sajaka. Sebagian jiwa cowok itu seperti sudah dicambut. Sajaka tampak lesu dan tidak b*******h. Sikapnya semakin membuat Sadina heran. "Rotinya dimakan bukan dipotong-potong doang," tegur Selin melihat kelakuan Sajaka. Sajaka setengah tidak mengabaikan suara ibunya, lanjut memotong roti sambil bengong. Tidak tahan dengan pemandangan aneh itu akhirnya Sadina menendang tulang kering Sajaka. Alhasil ringisan kesakitan Sajaka menghentikan kegiatan sarapan di meja itu. Sajaka mengelus kakinya sembari melempar pelototan. "Ada apa?" Selin kaget. Masih meringis pelan sembari mengusapi kaki Sajaka menjawab, "Enggak apa-apa, Ma. Lututnya kepentok." "Hati-hati dong .... Kan makannya sambil duduk, kok bisa kakinya kepentok lagi diem." Sadina puas hasil kerjanya dan membuat Sajaka balik menatapnya. Sadina mengendikkan bahu. Sementara helaan napas Sajaka terdengar menahan kesal. Saking kesalnya Sajaka begitu saja meninggalkan meja makan. Padahal belum satu suap pun makanan masuk ke dalam mulutnya. "Sajaka udah selesai. Berangkat dulu Ma, Pa." Derit kursi bergerak mundur. Sajaka menyalami punggung tangan kedua orang tuanya. "Loh, kan sarapannya belum dimakan," protes Selin. "Sajaka, sarapan dulu. Kemarin malam kamu nggak makan juga kan. Sarapan dulu nggak?" "Iya, Ma. Nanti di sekolah Sajaka pasti sarapan kok. Nanti Sajaka jajan di kantin." "Kenapa harus sarapan di kantin? Mama kan sengaja masak pagi-pagi buat kamu." "Sajaka buru-buru, Ma .... Udah, ya? Sajaka pamit." "Sajaka--" Selin hampir berdiri mengejar putranya kalau Deka tidak menghentikan. "Udah, biarin. Kita udah ngasih uang jajan juga. Biar dia makan yang dia mau." "Tapi Sajaka kegiatan di sekolah Sajaka udah berlebihan banget. Apa aku ngobrol aja sama gurunya, ya?" Deka berdecak, "Itu bakal bikin Sajaka malu. Bukan ngurangin beban dia, orang tuanya malah nambah-nambahin pikiran dia. Udah, perhatikan dia dulu." Apa dia marah karena ditendang barusan? Sadina hanya bisa memandangi Sajaka meninggalkan ruang makan. Ketika pergi Sajaka sama sekali tidak melihat ke arahnya. Pasti Sajaka marah. Bukan maksudnya membuat cowok itu kesal. Sadina hanya bercanda saja agar raut muka Sajaka tidak tegang. Melihat kepergian Sajaka menuju pintu rumah, Sadina menyesal sudah bercanda di waktu tidak tepat. Harusnya ia lebih bisa membaca situasi. *** "Sajaka!" Sadina mengejar langkah lebar cowok itu di belakang. Sajaka hendak memakai helm ketika Sadina muncul di hadapannya. Ia cukup terkejut Sadina mengejar. "Ada apa?" tanya Sajaka malas kembali menaruh helm di atas motor kesayangan. "Maaf, tadi aku nendang kaki kamu. Becanda aku keterlaluan. Habisnya kamu kayak banyak pikiran. Maaf, ya?" "Oh, itu. He'em." "Dimaafin?" "Iya, nggak apa-apa. Gue nggak marah." Pasti cewek ini mikir kepergian Sajaka dari meja makan karena abis ditendang. Pemikiran Sadina selalu sesederhana itu tiap menghadapi sesuatu. "Tapi kok kamu nggak lanjut sarapan, malah pergi kayak marah ke aku?" Tuh, kan. Pemikiran Sadina ke arah sana. "Enggak. Serius nggak marah kok. Lagi males sarapan aja. Udah, ya? Takut gerbang keburu ditutup. Tuh Papa juga udah keluar rumah." Deka keluar rumah di antar istrinya. Kendaraan yang biasa dipakai ke kantor sudah siap di depan teras. Deka memanggil Sadina, "Dina, ayo!" "Gih, sana. Entar telat lagi." Masih ada pertanyaan penting untuk Sajaka. Di tengah kebimbangan itu Sadina menyerah. Ia menjawab seruan Deka agar cepat masuk mobil. "Sampai nanti di kelas." Sadina melambaikan tangan. Karena tidak memerhatikan jalan sampai hampir tersandung. Untungnya Sadina bisa menjaga keseimbangan. Sajaka terkekeh geli. Hal kecil mengenai Sadina kerap mengundang senyuman. Namun kali ini senyuman itu tak bertahan lama setelah kendaraan yang membawa papanya dan Sadina hilang dari halaman rumah. Semalaman Sajaka memikirkan ini. Ia akan mencari tahu sesuatu di rumah lama. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN