“Oke,” Kevin mengendikkan bahu. Perkataan Sajaka ada benarnya juga. Sajaka sangat teliti dalam menganalisis masalah, jadi itu akan tambah baik.
Setelah mendapat persetujuan barulah perasaan Sajaka sedikit lebih tenang. Ia hanya akan menunggu surel dari Kevin dan secepatnya pulang sekolah akan ia periksa.
Lima belas menit kemudian kegiatan belajar dan mengajar di setiap kelas telah dimulai. Ponsel di atas meja layarnya menyala. Ada notifikasi surel masuk dari Kevin. Bersamaan dengan itu seorang guru memasuki kelas. Sajaka gagal membuka surel dari Kevin. Rasanya menjadi sangat tidak sabar menanti jam pulang. Ingin segera membuka file di surel itu.
Sungguh, kali ini hanya dengan melirik notifikasi masuk di layar ponsel menyala saja mampu mengombang-ambing perasaan Sajaka. Ia menjadi sangat gelisah, lebih tepatnya cemas. Ditambah pelajar pagi itu adalah pelajaran matematika yang menguras logika. Biasanya Sajaka paling cepat belajar dan mengerjakan soal. Tidak dengan pagi itu. Sajaka seorang kehilangan jiwa Einstein-nya. Setengah dari pikirannya terlanjur kalut oleh benda kotak di atas meja.
Sadina juga terheran-heran melihat keanehan teman sebangkunya. Tidak biasanya Sajaka tampak begitu cemas. Dari pelipis muncul keringat dingin. Sadina jadi khawatir terjadi sesuatu pada Sajaka pasalnya sejak tadi dia bertingkah seakan ingin lari dari kelas tetapi tertahan karena tuntutan jam pelajaran belum usai.
"Kamu nggak enak badan?" Sadina berbisik. Namun fokus cowok di sampingnya sama sekali tidak terganggu. Sajaka hanya menatap lurus buku paket di atas meja dengan pandangan kosong.
"Sajaka?" panggil Sadina lagi sembari menyentuh pelan lengan Sajaka.
Detik dimana Sajaka agak tersentak juga raut mukanya yang kebingungan waktu balas menoleh, Sadina menyadari memang sesuatu telah terjadi sehingga Sajaka seperti ini. Sekarang saja ketika mereka berhadapan saling menatap, Sadina tidak dapat merasakan kehadiran Sajaka seutuhnya. Itu karena hati dan pikiran Sajaka tidak bersama dengan raganya di satu tempat.
"Ada apa?" Sajaka bertanya.
"Kamu sakit?"
"Ha? O-oh nggak. Kenapa? Ada sesuatu?"
Sadina menggeleng. "Dari tadi kamu kayak nggak fokus. Kamu juga agak pucet sih hari ini. Sajaka baik-baik aja, kan? Mau istirahat di ruang kesehatan aja?"
Sesaat mereka saling bertatapan tanpa kata. Sayup-sayup suara bu guru menjelaskan materi di depan kelas menjadi latar belakang mereka. Sajaka makin menatap dalam, hingga pipi Sadina perlahan merona. Gadis itu menunduk malu, memutus tatapan mereka.
Ujung bibir Sajaka berkedut kecil. Meski kepalanya terasa penuh oleh sangkaan-sangkaan belum tentu terjadi, ia bersyukur masih mendapatkan tingkah manis Sadina sebagai penghibur. "Aku baik-baik aja. Makasih udah khawatir." Sajaka kembali menghadap depan.
Sadina juga melakukan hal yang sama duduk tegak menghadap ke depan. Hanya suasana di sekitar mereka saja yang berubah canggung. Sesekali Sadina melirik Sajaka lewat ujung mata. Sajaka membiarkan kegiatan yang baru-baru ini gadis di sampingnya lakukan.
***
Jam pulang yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga. Baru kali ini Sajaka menantikan bubaran sekolah. Biasanya ia adalah salah satu orang yang akan berlama-lama tinggal di sekolah melakukan banyak hal terutama yang berkaitan dengan organisasi dan kegiatan club. Kali ini ada hal lebih penting dari semua itu.
Sebenarnya Sajaka tidak baik-baik saja dan ia sangat ingin mengatakan itu pada Sadina waktu bertanya tadi. Sekolah hari itu rasanya berkali-kali lipat lebih lama dari biasa. Bukan fisik yang kurang sehat, melainkan pikirannya merontak ingin pergi ke rumah. Ia ingin segera membuka berkas dalam surel itu. Dengan harapan besar orang yang dia sangat khawatirkan tidak ada dalam daftar.
Mudah saja bagi Sajaka pulang lebih awal. Mungkin dengan pura-pura sakit, baik petugas maupun guru akan percaya pada Sajaka. Namun hal selicik itu tidak Sajaka gunakan sebagai alasan. Walau harus menahan diri untuk tidak pura-pura sakit dan berunjung diperbolehkan pulang lebih dulu, akhirnya tanda bel pulang berbunyi nyaring juga. Sajaka seketika berdiri dari tempat duduknya mengagetkan Sadina.
Sajaka selalu santai setiap mendengar jam pulang sekolah. Berbeda dengan hari ini, segala peralatan belajar dikemas Sajaka ke dalam tas dengan gerakan cepat. Kali ini ia lebih buru-buru dari mereka yang selalu rusuh dan berlomba keluar dari kelas.
"Aku ada urusan, lagi buru-buru banget. Nggak apa-apa kan aku nggak nemenin kamu nunggu jemputan depan halte hari ini?"
Sadina mengangguk. "Enggak apa-apa kok."
"Mama udah dikasih tahu kamu bakal pulang jam berapa?" Sajaka menggendong tas.
"Udah. Mungkin sebentar lagi Tante Selin berangkat dari rumah. Kamu nggak usah khawatir."
Sebelum pergi Sajaka memberikan senyuman disertai usapan lembut pada pucuk kepala Sadina. Ia agak berat harus meninggalkan Sadina sendirian.
"Sampai ketemu di rumah," ucap Sajaka sebelum pergi lalu keberadaannya hilang dari balik pintu kelas.
Kelakuan Sajaka hari ini lumayan membuat Sadina tertegun lama. Selama kelas Sajaka seperti banyak pikiran. Tidak terlihat bara semangat sedikitpun. Padahal ia dikenal sebagai murid teladan yang aktif di setiap pelajaran. Hari ini Sajaka diam saja. Bahkan buku catatannya bersih. Sajaka hanya memegang alat tulis tetapi hanya memainkannya.
Sadina penasaran apa urusan buru-buru itu Sajaka jadi berbeda. Lumayan lama ia menatap pintu kelas, di mana Sajaka terakhir terlihat. Memperkirakan kemana Sajaka akan pergi.
***
Di sisi lain Sajaka tiba di rumah. Keadaan rumah tidak ada orang. Selin kemungkinan besar sedang menjemput Sadina di sekolah, atau kemungkinan masih dalam perjalanan ke sekolah.
Sajaka gila-gilaan mengendarai motornya secepat mungkin. Selama perjalanan pikirannya kacau. Terlalu banyak hal berseliweran sehingga beberapa kali fokus mengendarnya terganggu. Sajaka sempat terlibat kecelakaan juga. Beruntung dirinya punya refleks bagus sehingga bisa menghindari tabrakan.
Kalau saja ia terlambat menarik rem satu detik saja. Mungkin sekarang ia tidak sedang terlentang menatap langit-langit kamarnya, melainkan langit-langit rumah sakit. Tadi ia situasinya cukup serius Hampir saja ia dan malaikat maut berjabat tangan.
Keterkejutan lolos dari tabrakan menambah kacau perasaan Sajaka.
Ia tak henti menarik dan mengembuskan napas dalam. Semata-mata hanya untuk mengurangi segala sesak dalam hati. Ia duduk kembali meski dalam kondisi belum siap akan apa yang akan terjadi nanti.
Kakinya terasa lemas bak jeli. Namun ia paksakan berjalan mencapai meja belajar. Sajaka menyalakan laptop. Selama ia menunggu layarnyar menyala, kemudian tersambung dengan jaringan internet.
Sajaka terus menyakinkan diri bahwa dirinya harus lebih kuat sekarang. Sudah saatnya ia menghadapi ini. Tidak lagi bersembunyi. Jangan sampai kesalahan yang pernah ia perbuat dulu terulang kembali.
Mesin pencarian telah Sajaka klik. Ia menuju login pada alamat surelnya sendiri. Makin berdebar ketika ia melihat surel dari Kevin terpampang di layar laptop.
Sajak membuka file itu. Menanti proses loading yang berputar-putat saat pengunduhan data adalah hal paling berdebar selanjutnya. Hanya butuh waktu sebentar proses pengunduhan selesai. Debaran jantung meningkat waktu halaman utama file muncul. Halaman yang sempat ditunjukan Kevin tadi pagi. Sajaka menggulir layar, memeriksa satu per satu nama dalam tabel yang jumlahnya ratusan barisan itu.
Kedua matanya fokus mencari satu nama. Ia hanya harus memastikan bahwa identitas Sadina tidak berada dalam berkas itu.
Pada satu baris matanya berhenti mencari. Pandangannya terpaku pada nama itu. Sajaka tidak ingin terlalu cepat percaya, maka ia mengulang pemeriksaan dari awal hingga berkali-kali. Sayangnya, tetap sama. Manusia memang tidak bisa menghindari kenyataan. Dan Sajaka menyesali tentang kenyataan itu.