Bab 29 Kabar Baru

1080 Kata
Berapa kali pun dipikirkan mengenai Sadina mengirim sebuah paket ke alamat rumah lama keluarga Sajaka masih misteri. Apalagi orang dituju bernama Rico. Sejak keluarganya pindah ke kota lain, rumah itu tidak ditempati siapapu . Hanya ada petugas yang menjaga dan membersihkan rumah supaya tetap terawat jika sewaktu-waktu mereka kembali ke sana. Namun mereka berkunjung ke sana mungkin hanya satu tahun sekali. Lagi pula Rico? Entah dari mana Sadina mengenal pembohong yang mengaku rumah orang lain sebagai miliknya itu. Sajaka tidak habis pikir bisa Sadina percaya begitu saja pada orang baru. Sekarang ini banyak kasus penipuan berasal dari online. Dari cara dia menceritakan teman-teman online-nya, tentu kelihatan sangat bangga. Seakan sudah pernah bertemu langsung dan mengenal baik kepribadian asli. “Woi!” Seseorang menepuk tangan dengan keras tepat di depan muka. Seketika awan-awan lamunan di atas kepala Sajaka berhamburan bagai kembang kapas ditiup angin. Sajaka mendengus kesal. Kedatangan Kevin selalu tidak tepat. Bukan hanya mengagetkan, tapi  temannya ini juga menghancurkan analisis sebuah masalah penting. Padahal barusan itu Sajaka sudah mencapai k*****s. Meski belum menemukan jawaban, Sajaka yakin jika dipikirkan terus hingga bertemu titik masalahnya, pada akhirnya akan menemukan jawaban. Sementara pelaku di balik perubahan raut kesal Sajaka tersenyum menampilkan barisan gigi. Sadar diri telah mengganggu Sajaka. Kevin menarik salah satu kursi mendekat, dan duduk di dekat Sajaka. “Udah berapa kali gue manggil nggak nengok-nengok. Ngelamunin apaan sih?” “Ada apa ke sini segala?” Sajaka balik tanya masih mempertahankan raut muka kesal. Ia pura-pura sibuk mencatat sesuatu di buku. Padahal hanya corat-coret tanpa arti. “Gue punya info baru tentang web itu,” bisik Kevin agak mencondongkan badan, lalu ia melirik kanan-kiri sebelum melanjutkan bicara. “Sebenarnya baru dapat tadi malam, tadinya mau langsung kirim ke elu. Dipikir lagi gue kayaknya bakal lebih enak kalo ngomongin ini secara langsung. Siapa yang tahu kan lo buka surel baru bangun tidur banget terus kaget." Sajaka hanya menoleh, balas menatap sahabatnya tidak kalah serius. Mencoba menebak arah pembicaraan Kevin. Benar saja ... “Gue sign up ke web itu.” Barulah bola mata Sajaka membulat, tanpa sadar bentakannya mengundang lirikan orang-orang dalam ruangan, “Lo gila?” Orang-orang di ruangan itu sontak menoleh ke bangku paling belakang di mana Sajaka menempati bangkunya sekarang. Sajaka agak canggung karena tiba-tiba menarik perhatian. Ia berdeham, berusaha mengubah intonasi bicara, “Lo gila, ha? Ngapain masuk ke sana segala? Kita baru mulai menyelediki ini, ‘kan? Kenapa juga lo ambil keputusaan tanpa ngomong dulu?” Kevin merotasi bola mata dengan jengah. Selalu saja Sajaka bereaksi berlebihan begini. Dia terlalu berpikiran jauh ke depan seperti biasa. “Justru itu, Ka. Kita lagi menyelediki hubungan antara kasus bunuh diri yang terjadi di sekolah ini sama web itu. Kita tahu sendiri selama ini selalu aja penyelidikannya mentok. Sedangkan kepolisian juga  udah menganggap kematian Slavina karena depresi dan nggak ada hubungannya sama web itu. Makanya salah satu dari kita harus nyari tahu lebih dalam ke sana. Anggap aja gue intel sih.” Sajaka bersandar lemas pada punggung kursi. Kepalanya menggeleng tidak habis pikir sahabatnya bisa seenteng ini menghadapi sesuatu. “Ini bukan main-main, Kev. Ada nyawa yang udah hilang di sini.” “Iya, tahu ....” “Ya, terus? Ngapain masuk ke tempat berbahaya? Keluar nggak sekarang?” Kevin berdecak, “Berkat gabung ke sana, gue jadi dapat beberapa identitas murid Deltaepsilon mana aja yang ikut. Lo nggak tahu ini berguna banget. Sebenarnya gue udah masuk dari waktu kasus kematian Slavina di gedung ujung itu sih—“ “Apa?” Sudah Kevin duga Sajaka akan sekaget ini. Makanya waktu pertama kali gabung ia tidak berani bilang. “Cuma penasaran doang, Ka .... Nggak aneh-aneh kok gue. Berkat masuk diem-diem itu gue jadi dapat banyak data penting. Di antaranya gue sempat kenalan sama seseorang yang lumayan dekat sama Slavina di pertemanan online itu. Di grup yang gue masukin aja, gue udah mempelajari banyak hal. Terutama soal pergaulan dan orang-orang di sana. Kayaknya data yang gue punya sekarang cukup buat kita ajukan ke pembimbing OSIS. Gue juga siap jadi saksi atas pengalaman gabung di web itu.” Dari penjelasan Kevin barusan entah angin dari mana menyentuh kepala Sajaka hingga muncul sebuah pemikiran mengenai Sadina. Sajaka mendadak membenak bagaimana jika dalam data yang Kevin dapat itu terselip identitas Sadina? Atau yang lebih parah .... Lantas Sajaka menggeleng keras. Jangan terlalu cepat percaya pada dugaan sebelum membuktikan kebenarannya. Terutama jika berkaitan dengan Sadina. Hubungan mereka dalam kondisi sangat baik. Mereka sudah mulai dekat dan saling percaya membagi cerita. Sajaka percaya Sadina akan menceritakan semua. Namun sebelum itu ia harus melakukan sesuatu. Akan benar-benar kacau kalau data-data yang Kevin dapat langsung diberikan ke pihak lain tanpa Sajaka selidiki dulu. Ia memang percaya pada Sadina, tetapi sisi lain hatinya bilang ini hanya untuk memastikan sesuatu saja. Mengingat tadi pagi ia baru dikagetkan dengan nama taman online Sadina bernama Rico. Semoga saja dugaannya salah besar. Sebab jika dihubungkan dengan beberapa hal, Sajaka merasa kemungkinan besar Sadina juga diam-diam bergabung pada web misterius itu. Jika dugaannya benar, maka Sajaka dalam masalah besar. Ia harus segera menemukan solusinya. Tugas utamanya adalah melindungi Sadina. “Kev, Kev!” Tahan Sajaka mencekat pergelangan tangan Kevin. Kevin yang berdiri karena mendengar bunyi bel tanda masuk hendak kembali ke kelas sebelah jadi diam sebentar. Sebelah alisnya menukik, kemudian beralih pada tangannya yang dicekal. Segera Sajaka melepaskan cengkeramannya. Sajaka tampak kebingungan dan gelisah. “Sebelum diserahkan ke pembimbing gimana kalai gue lihat dulu isi berkasnya?” Kevin terheran-heran mendengar perkataan Sajaka yang mendadak. Bukannya sejak dulu tugas memeriksa data banyak adalah bagian Kevin? Sajaka hanya akan mendengar review darinya saja. Setelah itu Sajaka yang akan memutuskan. Sebab Kevin paham Sajaka punya banyak kegiatan di sekolah, jadi waktunya terbatas. Namun kali ini apa yang terjadi? "Tumben lo." “Cuma buat mastiin aja. Gue pikir kasus yang menyangkut nyawa banyak orang apalagi di lingkungan gue sendiri sangat penting buat gue pahami. Ini menyangkut nyawa orang soalnya.” “Oke,” Kevin mengendikkan bahu. Perkataan Sajaka ada benarnya juga. Sajaka sangat teliti dalam menganalisis masalah, jadi itu akan tambah baik. Setelah mendapat persetujuan barulah perasaan Sajaka sedikit lebih tenang. Ia hanya akan menunggu surel dari Kevin dan secepatnya pulang sekolah akan ia periksa. Lima belas menit kemudian kegiatan belajar dan mengajar di setiap kelas telah dimulai. Ponsel di atas meja layarnya menyala. Ada notifikasi surel masuk dari Kevin. Bersamaan dengan itu seorang guru memasuki kelas. Sajaka gagal membuka surel dari Kevin. Rasanya menjadi sangat tidak sabar menanti jam pulang. Ingin segera membuka file.di surel itu.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN