Secara terang-terangan Sajaka mengirim pesan. Kobaran api dalam dirinya semakin membesar seiring memperhatikan kedekatan dua orang itu. Ia mengetikan pesan di layar ponsel. Sudah pesan ke tiga tetapi si penerima pesan tidak juga membukanya. Sadina malah sibuk memerhatikan percakapan di meja mereka, sambil sesekali ikut tertawa setelah Tris bicara. Entah apa yang ditertawakan Sadina. Rasanya Sajaka ingin keluar dari acara sembunyi-sembunyi ini dan menarik Sadina pergi dari sana. Ia harus menahan diri lebih lama lagi. Tidak bisa ia menunjukkan diri sebelum Sadina menyetujui. Bukan meringankan beban di hati, kemungkinan malah menambah masalah. Sadina bisa marah karena aksi gegabahnya ini. Sajaka : Dina, kenapa Tris di situ? Itu pesan ke empat yang sama. Tetap saja Sadina tidak

