Sadina pamit, menciup punggung tangan Selin. Sebelum meninggalkan rumah tatapnya bertubrukan dengan seseorang di tangga. Sajaka berdiri di atas tangga tanpa reaksi apa-apa. Wajahnya lebih segar, tidak sekuyu baru bangun tidur tadi. Tatapan Sajaka masih bisa dirasakan hingga Sadina hilang dari balik pintu. Bahka sampai Sadina dibawa pergi oleh mobil merah dari halaman rumah. Tatapan Sajaka masih mengikuti. Sajaka seakan tertahan. Jiwanya ingin mencegar pergi, tetapi terhalang oleh keputusan bulat Sadina. Akhirnya Sajaka hanya bisa memandangi ekor mobil itu hingga hilang dari pandangan. Sadina benar-benar menjalankan rencana hanya demi menyelematkan Sajaka. Padahal Sajaka akan baik-baik saja dengan atau tanpa bantuan orang lain. Namun Sadina selalu terlalu peduli, sampai tidak masalah bi

