“Ma, Sadina bukan Kak Renada.” Suara Sajaka kembali terngiang-ngiang. Helaan napas panjang telah berulang kali tanpa sadar Selin lakukan. Tetap saja belum bisa mengalihkan percakapan dengan putranya. Selin menyesap kopi yang hampir mendingin karena didiamkan lumayan lama. Ia perhatikan lagi alat pemanggang kue di depannya, masih tersisa 6 menit lagi. Jika pikiran kacau biasa Selin melampiaskannya dengan membuat kue dan semacamnya. Perkataaan Sajaka punya pengaruh besar ternyata. Selin ingin menentang semua perkataannya tapi di sisi lain ia juga mengakui yang dibilang Sajaka itu benar. Selin melihat putri satu-satunya yang telah meninggal itu dalam diri Sadina. Ia telah mengenal Sadina sejak kecil, tetapi setelah kehilangan putri, Selin tidak terlalu kehilangan setiap bertemu Sa

