Panggilan singkat itu berakhir. Tris sengaja mematikan panggilan secara sepihak tanpa memberi kesempatan orang di seberang telepon bicara. Tris memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Ia kembali duduk di atas meja. Sorot mata Sajaka terlalu tajam sampai terasa akan menerjang Tris bagai hewan buas. Tris bisa terluka bila tindakannya nekat terus-menerus. Namun apa peduli Tris pada hal tersebut? Tris balas tersenyum smirk. Tetap santai seakan tidak melakukan hal paling serius. “Lu ngapain panggil dia ke sini segala?”Nada bicara Sajaka yang pelan terdengar mengintimidasi. Sajaka masih mempertahankan tatapan elangnya. “Biar semuanya selesai malam ini juga. Kayak anak kecil aja kalian ribut gara-gara hal sepele sampai berhari-hari. Itulah kenapa gue nggak mau satu organisasi sam

