“Soal kemarin itu, kenapa kamu nggak mau jawab telepon aku?” Dari kaca spion terlihat Sadina termenung. Itu membuat Sajaka bertanya-tanya mengapa Sadina lama menjawab pertanyaan sederhana itu. Kecuali jika jawabannya akan sulit diterima, sepertinya Sajaka mengerti bila alasannya begitu. “Kalau nggak mau jawab juga nggak apa-apa.” Sajaka tersenyum kecut. Daripada Sadina tertekan, akan lebih baik bila ia tidak mendapat jawaban. Kenyamanan Sadina lebih penting dari pada perasaannya sendiri. Sakit hati akan hilang dengan sendirinya. Akan lupa seiring berjalannya waktu. Perasaan Sajaka akan cepat pulih apalagi kalau ada Sadina. “Nanti kamu ngambek lagi.” Sadina berujar murung. Sajaka kontan tertawa. “Kenapa ngambek? Emang jawabannya bakal nyakitin aku ya?” Dari kaca spi

