01 - Terbangun di Pagi Hari
Saat Salsa membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah sesosok pria asing yang ada di sampingnya. Salsa mengamati wajah itu lamat-lamat. Tampak tidak asing, tetapi ia tidak bisa ingat, siapa dia.
Namun, napasnya memburu begitu ia menyadari ini adalah hal yang salah. Ia belum menikah. Namun, ada pria asing yang tertidur di sampingmya saat ia membuka mata di pagi hari.
"Aaaaaa!" Teriakan itu akhirnya membangunkan sesosok pria yang tidur di samping Salsa.
Pria itu menatap Salsa dengan tajam.
"K-kamu siapa?"
Lelaki itu bangkit tanpa mengenakan atasan. Salsa semakin terkejut. Ia menatap tubuhnya di balik selimut yang hanya berbalut baju tidur yang sangat tipis.
Mungkinkah semalam mereka...
Laki-laki itu mengenakan kaus putihnya. Lalu berbalik menatap Salsa yang tampak ketakutan.
"Kamu pasti sengaja memasukkan sesuatu ke minumanku!" tuding pria itu.
Salsa merasa tidak terima. "Apa? Aku bahkan tidak... tunggu!" Perhatian Salsa tertuju ke cermin besar yang menampakkan wajahnya.
Tidak! Ini bahkan bukan wajahnya.
"Kak Sella..." gumamnya lirih. Cairan matanya berkumpul di ujung kelopak ketika ia melihat wajah ini. Ini bukan wajahnya... melainkan wajah Sella - kakaknya yang telah tiada.
Lalu, sebuah bayangan kilat muncul di kepalanya. Percakapan ia dan ibu tiri Sella, di sebuah rumah sambil menunjukkan beberapa foto. Salsa ingat, ada wajah lelaki itu.
Salsa menatap nyalang sosok yang terbangun di sisinya itu. "Jadi dia... Dimas? Suami Kak Sella? Orang yang menjadi dalang segala penderitaan Kak Sella hingga akhirnya Kak Sella meregang nyawa? Tapi... kenapa aku bisa berada di sini sekarang? Di raga Kak Sella..."
Salsa mendengar suara seperti lonceng keras yang membuat kepalanya sakit. Kesadarannya perlahan menghilang. Ia jatuh pingsan.
***
Suara tangis pilu seorang wanita terdengar dari luar sebuah kamar. Pintu kamar itu sedikit terbuka. Seorang pelayan baru saja keluar dari sana dengan raut wajah kebingungan saat mendapati hal-hal aneh pada majikannya, begitu dia bangun pagi.
"Tuan..."
Adimas Mahawira - lelaki yang dipanggil "Tuan" itu menghetikan langkahnya. "Nyonya bersikap aneh, Tuan. Setelah bangun tadi, dia tiba-tiba berteriak histeris dan sekarang dia masih menangis di kamarnya."
"Apa itu urusanku?" Dimas berkata dengan dingin, seolah wanita yang sedang dibicarakan oleh asisten rumah tangganya itu adalah orang lain baginya.
"Tuan..." ucap Bi Marsih memelas. "Saya takut, Nyonya akan melukai dirinya sendiri lagi jika Anda tidak menemuinya."
Setelah menimbang cukup lama, Dimas menghela napas pasrah. Langkah beratnya membawa pria itu menuju salah satu kamar di kediamannya. Ia membuka pintu dengan kasar. Menatap malas wanita yang menangis tersedu di atas lantai sembari memandangi cermin itu.
"Sekarang apa lagi maumu?"
***
Salsabila Ardani. Pagi ini, ia menemukan dirinya masuk ke raga wanita lain. Wanita yang sangat ia rindukan, tetapi saat ia mencari keberadaannya, ternyata sosok itu sudah meninggal dunia.
Namanya Sella Arvanty. Kakak kandung Salsa, yang terpisah darinya pasca perceraian orang tua mereka belasan tahun silam. Saat perceraian itu, Salsa tinggal bersama ibunya lalu pindah ke luar kota. Ia tak pernah lagi bertemu dengan Sella. Hingga ketika ia lulus kuliah, akhirnya ia memiliki keberanian untuk mencari ayah dan kakak kandungnya. Namun, sayang. Keduanya sudah meninggal dunia.
Pagi ini diwarnai tangis menyesakkan yang terdengar dari kamar Sella, akibat Salsa yang mendapati jiwanya masuk ke raga sang kakak, tepat setahun sebelum ia meninggal. Ia menatap pantulan dirinya dalam cermin, menyayangkan waktu belasan tahun yang telah memisahkan mereka.
"Andai saja saat itu kita tidak berpisah, aku pasti punya kesempatan untuk merasakan kasih sayang Kakak lagi."
"Kak... aku kangen. Bukan pertemuan seperti ini yang aku harapkan," rintihnya.
Jiwa Salsa yang bersemayam di raga Sella tersentak saat mendengar suara pintu dibanting dengan kasar.
"Sekarang apa lagi maumu?"
Tubuh Sella membeku. Kepalanya mendongak menatap pantulan sesosok pria berpakaian formal yang ada di belakangnya. Pria itu memiliki paras yang rupawan. Namun, di mata Sella, dia adalah sosok yang paling mengerikan.
Sella berusaha untuk meredam tangisnya. Tangannya mengepal kuat. "Dia... dia yang sudah membunuh Kak Sella," bantin gadis malang itu.
Melihat tatapan penuh kebencian di mata Sella, membuat Dimas turut terdiam. Ia tidak mengerti ke mana perginya tatapan memuja istri kontraknya itu. Karena Sella yang biasanya, akan selalu memuja Dimas, apapun yang Dimas lakukan. Segala yang ia lakukan tak lepas dari usahanya untuk mendapatkan hati Dimas yang selalu tertutup rapat untuknya.
Namun, tatapan Sella pagi ini tampak sangat berbeda.
"Ada apa dengannya?" pikir Dimas. Pria itu membuang muka. Ia merasa terganggu karena tatapan yang Sella berikan padanya.
"Bi Marsih akan menyiapkan segala sesuatu yang kamu butuhkan. Jatah bulananmu, harusnya masih, kan? Kalau habis, aku akan minta Hadi untuk mengirimnya lagi," ucap Dimas ketus.
Pria itu memutar tubuhnya. Ia berjalan keluar dari kamar Sella. Namun, ketika ia sampai di dekat tangga, sebuah suara menginterupsinya.
"Tunggu dulu!" Itu suara Sella. Terdengar gemetar, berbeda dari biasanya yang terkesan centil dan sensual.
"Boleh aku tahu, berapa lama lagi kontrak pernikahan kita akan berakhir?"
Dimas menoleh ke samping, menatap Sella dengan ekor matanya. Tidak biasanya Sella menanyakan hal terkait perceraian mereka. Bahkan, setiap kali Dimas yang lebih dulu membuka percakapan tentang hal itu, Sella akan berusaha menghindar.
"Sebenarnya apa yang salah dengan otak wanita itu pagi ini? Kenapa sikapnya aneh sekali?" batin Dimas.
"Dimas!"
"Satu tahun lagi. Tepatnya satu tahun sembilan hari lagi."
Sella menelan salivanya dengan kasar. Tangannya mengepal erat di samping tubuhnya. Bibirnya mengulas senyum tipis. Dan jangan lupakan tatapan tajamnya yang menghunus tepat ke balakang kepala pria bernama lengkap Adimas Mahawira itu.
"Baik. Terima kasih," ungkapnya.
Dimas tidak mengerti. Namun, bukankah selama ini ia tidak pernah ingin tahu apapun soal Sella? Maka dari itu, ia tetap melanjutkan langkahnya. Ia harus ke kantor pagi ini. Dan seperti biasa, ia akan pergi tanpa sarapan. Karena ia tidak sudi berada di meja makan yang sama dengan wanita yang sejak tiga tahun lalu resmi menjadi istrinya tersebut.
"Bagus... itu artinya aku masih punya cukup banyak waktu untuk membuatmu hancur," gumam Sella.
"Kamu yang sudah membunuh Kak Sella... kamu yang sudah membuatku tak bisa lagi bertemu Kak Sella dan mengucapkan selamat tinggal padanya."
"Kamu... kamu telah membuat Kakak yang sangat aku sayangi hidup dalam penderitaan selama empat tahun terakhirnya."
"Bahkan, kematianmu pun tidak akan pernah sebanding dengan semua rasa sakit yang telah Kak Sella rasakan."
"Aku akan membalaskan dendam Kakakku. Aku akan menghancurkanmu... sampai sehancur-hancurnya, Adimas Mahawira."