08 - Dingin Dibalas Dingin

1136 Kata
Dimas berjalan dengan langkah tenang menuruni tangga. Ia sudah mengenakan pakaian rapi dengan jas hitam yang ia letakkan di lengannya. Dengan ekor matanya, ia bisa melihat Sella duduk di meja makan, rambutnya dikuncir asal, memakai piyama satin warna pastel. “Dimas, mau sarapan dulu?” tanyanya tanpa menoleh, nada suaranya datar, tapi cukup jelas terdengar dari arah meja. Dimas sempat menatapnya sekilas. Perempuan itu tampak berbeda pagi ini. Biasanya, Sella akan menghampirinya sambil tersenyum manis, menawarkan kopi atau sekadar mencoba memulai percakapan di antara mereka. Namun, hari ini dia tampak acuh. “Tidak,” jawab Dimas singkat sambil merapikan dasinya. “Oh? Oke,” balas Sella ringan. Ia tidak memaksakan lagi. Tidak mencoba membujuk. Hanya melanjutkan sarapannya seolah tak ada yang istimewa. Melanjutkan suara clink dari sendok yang menyentuh piring terdengar ritmis. Dimas mematung sebentar. Biasanya, Sella akan memohon. Bahkan baru kemarin wanita itu berhasil membujuknya. Ia pikir, kali ini akan sama. Namun ternyata sekarang ia justru tampak tidak peduli. Ia berjalan ke arah meja, menatap punggung Sella yang membungkuk sedikit saat menyendok omelet ke piringnya sendiri. “Kamu tidak perlu repot masak segala karena aku tidak akan memakan masakanmu,” ucapnya datar, mencoba memancing reaksi. Sella tersenyum tipis tanpa menoleh. “Ya udah, nggak papa. Toh bisa aku makan sendiri. Kan aku juga butuh makan.” Dimas menatapnya lama, tapi Sella tidak menoleh sama sekali. Tatapan kosong di wajahnya membuat Dimas merasa aneh. Sella begitu dingin pagi ini, tidak seperti biasanya. Ia membuka mulut hendak bicara lagi, tetapi memilih diam. “Kamu sendiri yang minta aku tidak ikut campur urusanmu, Dimas,” batin Sella pelan. “Sekarang, aku sedang belajar menuruti keinginanmu.” Sella menyuapkan makanan ke mulutnya, mengunyah pelan. “Kamu bukannya mau buru-buru ke kantor? Udah siap juga, kan?" tanyanya setelah beberapa saat. Nada bicaranya bukan seperti dia peduli. Namun, justru terdengar seperti sebuah usiran ringan. Dimas membuang muka. Ia berdecih lirih menyadari maksud dari ucapan Sella. “Aku pergi,” ucapnya akhirnya. “Ya,” balas Sella tenang, masih tidak menoleh. Dimas berdiri beberapa detik, menatap punggung perempuan itu yang tetap sibuk dengan sarapannya. “Apa dia benar-benar tidak peduli lagi?” pikirnya. Rahangnya menegang. Ia melangkah keluar rumah tanpa menoleh. Namun, langkahnya terasa sedikit lebih berat dari biasanya. Ia seperti tidak rela pergi begitu saja - seperti ada rasa yang tertinggal. Begitu suara pintu tertutup, sendok di tangan Sella berhenti bergerak. Ia menatap pintu yang baru saja ditutup Dimas. Keheningan menggantung. Lalu, napasnya terhembus pelan. “Lihat saja, Dimas. Aku ingin tahu, sampai kapan kamu akan bersikap dingin seperti itu.” Bibirnya membentuk senyum samar, entah getir atau menantang. Ia meletakkan sendoknya di piring, bersandar sejenak di kursi. Pandangannya menatap kosong ke meja makan yang kini hanya menyisakan satu piring setengah habis. “Aku tidak mau repot-repot cari perhatianmu lagi. Kalau kamu mau bersikap dingin, maka aku akan lakukan hal yang sama. Aku akan cari cara lain untuk menghancurkanmu.” Kilasan ucapan Tari beberapa hari lalu terngiang di kepalanya. Tentang bagaimana Dimas memperlakukannya selama ini. Dan Sella yang sekarang, bukanlah orang yang sudi mengemis hanya untuk sebuah perhatian. Tangannya menggenggam ujung meja, jemarinya sedikit bergetar, tapi matanya kini menatap tegas ke arah pintu yang baru saja ditutup Dimas. “Aku bukan Sella yang dulu, Dim. Aku bukan lagi Sella yang akan mengemis cintamu." *** Pagi Dimas terasa berbeda hari ini. Jika biasanya setelah tiba di kantor ia bisa langsung fokus bekerja, tapi kali ini tidak. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Seolah pikirannya tidak sedang bersamanya di sini. Ucapan Sella tadi masih terngiang di kepala. “Oh? Oke.” Begitu singkat. Nada datarnya, sikap acuhnya — sangat berbeda dari biasanya. Dan Dimas tidak mengerti kenapa ia harus merasa terganggu karena hal tersebut. Biasanya perempuan itu tidak akan berhenti berbicara sebelum ia benar-benar pergi. Ia selalu punya cara untuk mengusik Dimas. Namun pagi ini, dia dengan mudahnya membiarkan Dimas pergi begitu saja. “Selamat pagi, Pak,” sapa beberapa karyawan yang ia lewati di lobi. Dimas hanya membalas dengan anggukan kecil, matanya lurus ke depan, tapi pikirannya berkelana jauh ke rumah. Begitu masuk ruang kerjanya, Dimas langsung melempar jas ke sandaran kursi dan duduk. Ia membuka laptop, tapi pandangannya kosong. Ia mencoba fokus pada laporan yang sudah disusun sejak kemarin malam. Namun, setiap kali membaca baris pertama, pikirannya kembali terlempar ke memori di ruang makan pagi tadi. "Sebenarnya dia kenapa? Apa dia marah? Tapi alih-alih marah, dia justru tampak tidak peduli," batin Dimas. “Pagi, Pak.” Suara Hana, sekretarisnya, membuat Dimas mendongak. Perempuan itu berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa berkas dan sebuah map berwarna abu-abu. “Ini laporan keuangan bulan ini, Pak. Sama jadwal meeting dengan klien jam sebelas.” Dimas mengangguk pelan. “Taruh saja di meja.” “Baik, Pak.” Hana melangkah masuk, meletakkan berkas di hadapan Dimas. Namun, belum sempat ia mundur, Dimas malah memandangi map itu lama, seolah tidak tahu apa yang harus dilakukan dengannya. “Pak?” panggil Hana pelan. “Hm?” Dimas terlonjak kecil, menatapnya seperti baru sadar keberadaan seseorang di ruangan itu. “Laporannya, Pak. Mau saya bantu jelaskan dulu poin-poin utamanya?” “Oh.” Dimas menatap map itu lagi, kali ini benar-benar fokus. “Tidak usah, aku baca sendiri nanti.” Hana mengangguk, tapi sempat memerhatikan ekspresi aneh di wajah atasannya. Dimas tampak tidak seperti biasanya. Tatapannya kosong, tangannya menggenggam pena tanpa menulis apa pun. “Kalau begitu saya keluar dulu, Pak.” Dimas hanya memberi isyarat singkat. Ia menunggu sampai suara langkah Hana menghilang dari balik pintu, lalu menyandarkan tubuhnya di kursi. Ia mengusap wajah dengan kedua tangan, menatap langit-langit ruangan seolah mencari jawaban di sana. “Kenapa aku harus memikirkan hal tidak penting seperti ini?" desisnya lirih. Tangannya bergerak membuka map di depannya, tapi matanya malah menatap kosong ke tulisan-tulisan di halaman pertama. Tidak ada satu pun angka yang benar-benar ia baca. Semakin ia ingin lupa, justru wajah dan nada dingin Sella terus muncul di pikirannya. “Kenapa aku peduli, sih?” Ia benar-benar tidak fokus. Bahkan sampai tidak sadar saat Hana kembali masuk dengan membawa kopi. “Pak, ini—” “Letakkan di sana,” potong Dimas kaget. Namun, begitu Hana keluar lagi, Dimas malah memandangi cangkir itu lama. Biasanya, aroma kopi hitam seperti itu bisa membuat pikirannya jernih. Ia mengembuskan napas panjang. “Kau kenapa, Dimas?” gumamnya pelan. “Hanya karena dia bersikap dingin, kamu jadi begini?” Mungkin memang benar. Selama ini ia terbiasa melihat Sella yang aktif mengejar. Terbiasa dengan segala rengekan, rayuan, dan senyum manis yang ia anggap menjengkelkan. Namun, saat semua itu hilang, ia justru merasa ada sesuatu yang juga ikut pergi darinya. Ia memijat pelipisnya yang terasa pening. Ia benar-benar gelisah hanya karena perubahan sikap Sella pagi ini. “Kenapa aku ngerasa aneh?” bisiknya lirih. “Kenapa aku justru… nggak nyaman dengan sikapnya yang seperti ini?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN