Sella duduk bersandar di tempat tidur, selimut masih menutupi sebagian tubuhnya. Perutnya terasa lebih baik daripada semalam, meski nyerinya belum sepenuhnya hilang. Ketika suara ketukan terdengar di pintu, ia menoleh pelan. “Nyonya, saya boleh masuk?” suara Bi Marsih terdengar lembut dari luar. “Iya, Bi. Masuk aja,” jawab Sella pelan. Bi Marsih masuk sambil membawa nampan berisi mangkuk bubur hangat. Uapnya mengepul tipis, menyebarkan aroma gurih kaldu dan daging giling yang langsung menusuk hidung. “Ini bubur buat Nyonya. Kalau Nyonya belum siap makan nasi, setidaknya, tekstur bubur ini akan lebih mudah dicerna,” katanya dengan senyum lembut. Sella menatap bubur itu sejenak. Entah kenapa, meski aromanya wangi, selera makannya belum juga muncul. “Aku kayaknya belum pengin makan, Bi…”

