Setelah menyelesaikan urusan bisnisnya, Kean pergi untuk merayakannya dengan rekan bisnis. Di sana dia menemukan Hasna Renata, wanita yang seharusnya sedang berbulan madu karena tadi di pesawat dia membanggakan cincinnya. Bahkan dengan bangga menyatakan status pengantin barunya.
Namun, Hasna yang dia lihat sekarang seperti wanita yang hancur. Wajahnya merah seperti orang yang marah, tetapi sekaligus acak-acakan penampilannya. Jika dilihat dari kondisi dan aroma minuman yang kuat, Kean yakin Hasna sudah lama ada di sini.
Di mana suaminya?
Perhatian Kean goyah saat dia melihat beberapa pria mendekat. Dia berharap salah satu dari mereka adalah suaminya, tetapi Hasna dengan cepat mengabaikan. Semua pria yang mendekat dia tolak mentah-mentah dan Hasna hanya bisa diam. Sampai akhirnya dia terjatuh saat berjalan dan Kean langsung berlari menghampiri.
Dia meraih tubuh Hasna dan membantunya berdiri. Pusing, Hasna berpegangan erat pada lengannya agar tidak jatuh. Dia meletakkan kepalanya di d**a Kean hingga aroma tubuh Kean terhirup olehnya.
"Minumlah denganku, Kean atau aku akan melakukannya dengan orang asing yang tidak aku kenal. Aku akan menerima ajakan mereka kalau kamu tidak mau!” kata Hasna.
Kean menatap mata wanita itu dan bisa merasakan kesedihannya. "Sudah cukup minumnya, Hasna!" kata Kean dengan lembut.
Dia hendak bertanya tentang suaminya tetapi dia urungkan karena sepertinya bukan waktu yang tepat. "Mau aku antar ke kamar lagi? Hotelnya cukup jauh dari sini.”
"Aku mau minum lagi!" seru Hasna membalas. Dia mencengkeram wajah Kean dan mendekat hingga membuat Kean menahan napasnya.
Dia menatap pria itu sebentar sebelum menempelkan bibirnya ke bibir pria di dekatnya. "Persetan dengan mata biru! Aku lebih suka yang hijau sekarang!"
Dia mencium Kean. Lalu, dia memegang tangan Kean dan menariknya ke bar. "Ayo minum!"
Kean tidak mengerti mengapa dia bisa setuju sampai harus meninggalkan teman-temannya. Mungkin karena Hasna dalam keadaan yang menyedihkan? Apalagi dia tidak bisa membawa ke hotel karena masih ada pengaruh minuman juga tadi.
Percakapan mereka beralih dari masa lalu ke keluarga, pekerjaan, dan yang lainnya, kecuali masalah Hasna malam ini. Mereka sama sekali tidak membicarakannya.
***
Keesokan paginya, Hasna terbangun di ranjang yang dia yakin ini bukan kamarnya. Di sebelah Hasna, Kean tertidur dengan kondisi tanpa busana, hanya ditutupi oleh selimut.
Wanita itu langsung berjingkat dan melihat ke cermin. Tubuhnya masih berbusana dan semuanya tampak tidak ada yang terbuka. Aman? Entah, Hasna lupa. Namun, satu hal yang memantik emosinya, ada bekas di lehernya dan Hasna tahu apa penyebabnya.
“Astaga!” umpatnya setengah berbisik.
Tanpa banyak waktu lagi, Hasna langsung membereskan barang-barangnya termasuk koper yang ada di sana. Entah bagaimana bisa koper itu di kamarnya juga, Hasna tidak mengingat apa yang terjadi.
Dia keluar dari kamar itu dan menuju lift dalam beberapa detik. Beruntung lift turun, Hasna tidak memerlukan kartu akses untuk menggunakannya. Dia menekan tombol untuk menuju lantai utama.
Sayangnya, lift yang terbuka adalah lift yang paling suram. Ada Arya di dalamnya. Mau tidak mau, Hasna masuk dalam keadaan berat hati dan mengabaikan kehadiran orang yang pernah menyandang status sebagai suaminya.
“Hasna?!” Arya tertegun melihat Hasna dalam kondisi seperti semalam, hanya rambutnya saja yang sedikit berantakan. “Kamu masih di sini rupanya?”
Arya hendak mendekat, tetapi Hasna langsung menjauh dan menyodorkan tangannya. “Jangan mendekat!”
“Kita masih suami-istri kalau kamu lupa,” kata Arya menyahut. Pria itu langsung terfokus pada tanda merah di leher istrinya. “Kamu tidak sendirian malam ini.”
Hasna pun langsung menutupi tanda itu dengan satu tangannya. Matanya dialihkan dan menatap pintu lift yang belum kunjung terbuka.
“Kamu bersama pria lain semalam,” kata Arya dengan nada seolah-olah kecewa.
Hasna pun berbalik dan langsung menatap tajam suaminya. “Kamu bersama adikku selama delapan bulan bahkan lebih!”
Tiba-tiba, Arya mendekat dan menampar Hasna, lagi. Wanita itu terdiam di sana dengan mata yang mulai berair.
“Wanita jalang!” umpat Arya. Matanya menatap tajam wanita di depannya.
Dia langsung mencengkeram tangan Hasna, tetapi wanita itu langsung menolaknya. Hasna berusaha melepaskan cengkeraman itu, tetapi sayang sekali begitu kuat.
Hingga pintu lift terbuka dan Hasna masih di tempatnya. Arya menekan tombol lantai kamarnya dan seketika pintu ingin menutup. Arya mulai melepaskan pakaian di tubuh Hasna dengan kasar, beberapa kancingnya sampai lepas dibuatnya.
“TOLONG!” pekik Hasna yang ketakutan.
Hasna tendang koper yang ada di dekatnya sampai pintu berhasil tertahan.
“Kurang ajar!” Arya menampar Hasna sekali lagi.
Kejadian itu dilihat seorang wanita di luar lift. Wanita tua itu berteriak nyaring sampai orang-orang yang sedang sarapan di sana berhamburan menghampiri. “Diam kalian semua! Ini urusan kami!”
“Pak Arya, sepertinya sekarang hotel ini bukan tempat untuk menyiksa orang lain,” kata pria yang berpakaian resepsionis di sana. “Tolong lepaskan Bu Hasna sekarang!”
“Diam!!!” Arya kembali memekik tanpa sadar semua orang mulai geram kepadanya.
“Hei! Lepaskan wanita itu atau aku telepon polisi! Aku lihat saat kamu menampar wanita itu! Coba kalian lihat wajah dan lehernya! Bekas merah itu ulah si pria b******n ini!” Wanita tua tadi mulai membuka suara.
Mendapatkan tekanan dari semua orang membuat Arya menyerah. Dia melepaskan lengan Hasna dengan kasar dan menunjuknya di wajah. “Surat ceraimu itu tidak berguna! Aku tidak akan tanda tangan. Aku akan membongkarnya. Aku akan tetap menjadikanmu istri dan adikmu sebagai simpanan. Aku akan punya tiga anak yang cantik dan bermata biru seperti matamu, Hasna! Aku tidak akan menceraikanmu. Juga, aku akan mencari pria yang tidur denganmu malam ini. Aku akan mencari dari setiap kamar sampai ketemu!”
Setelah mengucapkan ancamannya, Rick mengeluarkan Hasna dari lift, pintu lift tertutup di belakangnya, memberinya sedikit kelegaan.
Hasna akhirnya keluar dari lift, sementara Arya berhasil naik ke lantai kamarnya.
"Kamu baik-baik saja?" Beberapa wanita yang khawatir mendekat. Mereka bisa merasakan kesusahannya.
"Saya baik-baik saja, terima kasih atas bantuan Anda. Saya mau naik taksi ke bandara sekarang," jawab Hasna masih bergetar suaranya.
Salah satu wanita itu menawarkan untuk mengantarnya. Dengan demikian, Hasna lolos dari kekacauan hotel.
Dia tiba di bandara tepat waktu, tetapi kekhawatiran yang berat menggerogotinya. Arya adalah suaminya dan sekarang Arya tampak berniat untuk menyiksanya daripada menceraikannya. Bagaimana dia bisa tinggal bersama Arya atau memiliki anak dalam kondisi seperti ini?
Terus bagaimana bisa Hasna dimanipulasi oleh adiknya sendiri?
Dia pun membuka perjanjian pernikahannya di HP. Hasna pun baru sadar kalau dia akan sangat dirugikan jika dia mengajukan cerai dan Arya menolak untuk mematuhi ketentuannya. Beberapa klausul tidak memberinya apa pun jika ia secara otomatis meminta cerai dan salah satu pihak menolaknya.
Klausul pertama menetapkan bahwa jika pernikahan berakhir dalam tahun pertama, pihak yang meminta cerai harus memberikan kompensasi kepada pihak lainnya jika pihak tersebut tidak ingin mengakhiri pernikahan.
Klausul kedua menyatakan bahwa jika salah satu pihak terbukti tidak setia selama pernikahan, pihak yang dirugikan berhak atas setengah dari aset pihak lainnya.
Klausul ketiga mengamanatkan bahwa kedua belah pihak harus menghadiri terapi setidaknya sepuluh kali sebelum perceraian dapat dikabulkan.
Saat ini, kontrak tersebut tampaknya hanya merugikan Hasna. Arya juga sudah tahu perselingkuhannya dan tidak mungkin saudara perempuannya akan mengakui perselingkuhannya sendiri dengan Arya selama ini.
Namun, sebagai seorang profesional berpengalaman, Hasna tahu bahwa ia memiliki tali penyelamat yang terpendam dalam dokumen tersebut. Hasna yakin ini berpotensi menyelamatkannya.
Klausul keempat menetapkan bahwa jika kedua belah pihak berpisah tetapi tidak sepakat untuk bercerai, pihak yang menjalin hubungan yang stabil dan nyata dalam waktu satu tahun setelah perpisahan dapat memperoleh perceraian tanpa kompensasi.
Perjanjian pranikah ini merupakan kehancuran sekaligus keselamatannya.
Arya perlu memahami implikasi penuh dari kontrak tersebut dan mengambil tindakan cepat untuk mengganggu kehidupan Hasna. Tadi Arya sama sekali tidak senang saat tahu Hasna menghabiskan malam dengan pria lain hanya beberapa jam setelah mengetahui perselingkuhannya sendiri.
Apakah Hasna telah menggantikannya dengan begitu mudah?