Di kamar Kean, pria itu baru saja terbangun. Pikirannya masih linglung dengan kondisi yang masih telanjang di balik selimut. Dia mencoba mengingat kejadian semalam saat Hasna menarik dirinya untuk bersenang-senang, memanggil taksi, lalu melupakan kejadian berikutnya.
Ada koper Hasna semalam, ke mana koper itu? Lalu Hasna di mana sekarang?
Tidak ada orang lain di kamar ini, selain Kean.
Tiba-tiba, pintu kamarnya digedor sangat keras sampai Kean terkejut mendengarnya.
Dengan cepat, ia menutupi dirinya dan langsung merasakan sesuatu di kaki kanannya. Ia meraih ke bawah seprai dan menemukan ... bra? Itu milik Hasna.
Kean mengingat semuanya sekarang—mereka pergi ke kamar tidur bersama, Hasna pergi ke kamar mandi, dan ia tertidur.
Bagaimana Hasna tidur? Bagaimana dia tidur? Astaga! Kean Terkejut.
Dia meletakkan kedua tangannya di kepala. Ketukan di pintu terus berlanjut, tetapi pikiran Kean penuh dengan ia yang sudah tidur dengan seorang wanita yang sudah menikah.
"Tidak mungkin!" jeritnya.
Ia tahu kejadian semalam memang tidak benar, dia bersenang-senang di bar dengan wanita bersuami. Namun, alkohol semakin mengaburkan pikirannya.
"Buka pintunya, dasar b******n! Aku tahu kamu di dalam!"
Kean tahu suara ini, Arya, suaminya Hasna. Meskipun kepalanya masih berdenyut, ia dengan malas bangun dari tempat tidur dengan kondisi masih telanjang.
"Dasar bodoh!!!"
Setelah berkaca, Kean mengambil beberapa pakaian dari koper dan mendekati lubang intip, mengamati suami Hasna yang marah. Pria itu tampak siap mendobrak pintu.
Kean kembali melihat bra Hasna di lantai. Tidak mungkin Kean membiarkan bra itu tergeletak, pasti Arya semakin mengamuk. Dia lempar bra itu sembarangan dan masuk ke kamar mandi untuk membilas tubuh dengan pancuran yang menenangkan, mencoba mengabaikan teriakan di luar dan membiarkan air membasuh kecemasannya.
Saat dia keluar dari kamar mandi, teriakan Arya berhenti dan keheningan yang mencekam menyelimuti udara. Masa bodoh dengan Arya, Kean langsung beres-beres pakaian dan kopernya termasuk bra itu dia masukkan. Tidak mungkin dia tinggalkan di sini.
Sambil menyeret kopernya ke arah pintu, rekan-rekan bisnisnya sudah menunggu untuk berangkat ke bandara. Saat dia keluar dari kamar, seorang pria berambut hitam dan kekar muncul entah dari mana.
Pria itu memberikan pukulan kuat ke wajah Kean. Pukulan itu membuatnya terhuyung sampai menjatuhkan kopernya. Wajahnya berdenyut kesakitan karena pukulan yang tak terduga itu.
Saat itulah dia teringat nasihat saudaranya: "Selalu serang lebih dulu. Jangan biarkan lawan menyentuhmu."
Sambil terkekeh, dia membayangkan bagaimana saudaranya akan menangani situasi ini. Pukulan tadi membuatnya lengah. Arya yakin bahwa Kean adalah pria yang menghabiskan malam bersama istrinya. Makanya Arya langsung menyerangnya begitu dia keluar dari kamar. Dia belum pernah melihatnya, sekarang pertama kalinya dia melihat wajah Kean.
"Aku akan mengajarimu untuk tidak menyentuh milikku!" pekik Arya yang sudah bersiap untuk serangan berikutnya.
Kali ini, Kean sudah siap. Dia menghindari serangan kedua Arya. Dia menangkisnya dan malah kembali memukul wajah Arya.
“Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan,” kata Kean berpura-pura tidak tahu.
Tidur dengan istri orang lain, terutama saat bulan madu, adalah pelanggaran berat yang tidak akan pernah Kean lakukan jika dia tidak mabuk berat.
Kean hanya ingin mencoba meredakan situasi, karena Arya bersikeras bahwa dia melihat Hasna meninggalkan kamar lebih awal. Namun, Arya masih sangat ingin menghajar wajah Kean karena masih sempat-sempatnya berbohong.
“Jangan banyak omong! Ayo kita selesaikan!” kata Arya yang memasang tinju di dadanya.
Kean pun mengikuti. Sayangnya, teman-teman Kean yang berdiri di dekat lift memanggil. “Kean! Taksi sudah menunggu kita!"
Mereka yang melihat Kean dan Arya dalam kondisi seperti bertarung pun heran. Kedua orang itu mendekat dan wajah bingungnya tidak bisa disingkirkan. “Apa yang kalian berdua lakukan?”
“Tidak ada. Tidak terjadi apa-apa di sini,” kata Kean berdalih.
Arya melihat sekeliling. Hanya ada dua orang di sini, tetapi mereka berdua menyaksikannya. Arya tidak mau tersangkut masalah lain. "Tidak ada," sahut Arya.
Akhirnya, Kean mengikuti temannya pergi dan meninggalkan Arya di tempatnya. Arya sudah mengenali wajah pria itu. Kean Rinaldi, itulah namanya.
Kean sudah bersumpah untuk tidak tidur dengan wanita lain selain pasangannya lagi. Namun, bukan itu yang terjadi di kamar hotel. Tubuhnya telah mengkhianatinya, malah menanggapi belaian Hasna, ingin menyenangkannya. Dia telah tidur dengan Hasna.
Apakah karena alkohol? Atau apakah dia benar-benar tertarik padanya?
Dia menginginkan hubungan, bukan cinta satu malam. Tujuannya adalah pasangan hidup, tetapi wanita yang tepat belum muncul dan dia pasti tidak akan muncul jika Kean terus mengunjungi bar.
"Aku tidak seperti itu," kata Kean menegaskan saat menelepon adik laki-lakinya, Ari Mahendra. "Tapi aku tidak tahu apa yang terjadi semalam. Kami bertemu selama penerbangan karena sebangku. Kami hampir tidak berbicara. Aku hanya ingin membawanya ke kamar, tetapi dia membujukku untuk minum bersama sampai kami tidak sadar. Soalnya dia sempat mengancam akan mencari orang lain kalau aku tidak melakukannya. Apa kamu percaya padaku kalau aku bilang aku tidak berniat tidur dengannya?"
"Aku percaya padamu, tetapi Kean, tubuhmu akan lemah kalau kamu tidak berhubungan seks terlalu lama. Tidak perlu menyangkal!” kata Ari.
"Aku hanya ingin pasangan!" balas Kean tidak kalah sengit.
"Kalau begitu berhentilah mengunjungi bar-bar tempat para wanita berbondong-bondong mendatangimu. Tubuhmu yang 'lemah' tidak akan mengkhianatimu,” sahut si Ari.
"Aduh! Kamu itu tidak pernah mendengarkan dengan benar. Dia baru saja menikah. Aku tidur dengan istri orang lain. Aku mulai percaya bahwa Liliana benar. Bagaimana jika jauh di lubuk hatiku, aku tidak menginginkan komitmen? Bagaimana jika akulah yang menyabotase diriku sendiri?"
Ari terbahak-bahak di seberang sana. "Berhenti bicara omong kosong! Kalau dia tidur denganmu, pernikahan itu mungkin sudah berantakan sebelum dia datang ke kamarmu. Jangan berani-beraninya menuduh dirimu dengan itu."
"Malam seks yang tidak berarti lagi," keluh Kean tersenyum getir.
"Cari dia. Kalian mungkin punya kemiripan takdir, bukan? Carilah Hasna! Taufik pasti mengenalnya juga. Kalau kamu benar-benar penasaran, kamu masih punya kesempatan untuk melakukan hal yang benar.” Ari memberi saran.
Mengapa sekarang justru Ari yang bersikap dewasa? Padahal Kean sebagai Kakak di sini.
Sekarang, Kean bingung. Hasna adalah wanita yang sudah menikah dengan suami yang sangat pemarah. Kean sangat malu dan yakin Hasna juga begitu kalau mereka bertemu.
"Kalau dia menghilang seperti tadi, sudah jelas kalau dia tidak mencari yang lain."
"Ya kalau begitu kamu hanya dimanfaatkan oleh wanita itu," jawab si Ari.
Kean mendengus karena memikirkan hal yang sama. Ia pun mengalihkan pembicaraan. Namun, pikirannya tetap ke Hasna. Wanita itu tidak mencarinya. Padahal cinderella-nya meninggalkan sebuah bra, tetapi Hasna tidak mau mencarinya.
Apa benar Hasna juga tertarik?