Setibanya di rumah, Hasna langsung ke kamarnya. Dia ambil semua barang milik Arya dan membawanya ke taman. Kobaran api muncul dari barang-barang itu sampai akhirnya menyisakan bekas kehitaman tak berbentuk. Begitulah Hasna ingin melihat Arya dan adiknya, terbakar dengan api yang sangat panas.
Hasna sangat menderita. Belum lama dia menikah, tetapi dia sudah mendapatkan perselingkuhan suaminya dengan adik perempuannya selama beberapa bulan.
Bagaimana dia bisa menghadapi hal seperti itu?
Alkohol tidak dapat membantu, malah memperburuk keadaan yang membuat Hasna terbangun di ranjang pria lain. Dia mencintai Arya dan menderita atas apa yang Arya lakukan padanya. Malam penuh gairah dengan orang lain hanya sesaat menenangkan kemarahan hari itu. Kean Rinaldi hanyalah kenangan samar.
Kobaran api di sana membuat tetangga memanggil pemadam kebakaran. Tak hanya itu, kepala keluarga Mahendra dan Renata pun ikut datang karena mereka yakin rumahnya kosong ditinggal sepasang suami istri yang berbulan madu.
Sayangnya, mereka malah melihat Hasna di sana dengan wajah murung. Betapa terkejutnya mereka melihat Hasna di rumah ini sendirian.
"Hasna!" Ibunya berlari dan membawanya menjauh dari api.
Tuan Renata mengambil sapu tangan dari saku dan menyeka dahi, leher, dan bahu putrinya.
"Pasti sesuatu terjadi," kata Diki, ayah Hasna. "Kamu seharusnya sedang berbulan madu, tetapi kenapa ada di sini? Terus bagaimana dengan api-api ini? Di mana Arya?"
"Di mana anakku?!" Julia Mahendra menghampiri.
Mata Hasna tertuju pada air yang sedang memadamkan api. Hasna kehilangan keindahan dari api tadi.
Tidak ada jawaban dari Hasna, Julia pun meraih dagu menantu perempuannya, mengangkat tangannya, dan menampar Hasna dengan keras yang bergema di seluruh taman. Safa langsung menarik Julia menjauh dari putrinya.
"Jangan pukul putriku!" ancam Safa dengan mata nyalangnya.
"Di mana anakku?!" Tuan Mahendra yang berdiri terpisah dari semua orang bersuara.
Jika menantunya ada di sini, dia hanya memikirkan apa yang terjadi pada putranya. Apa yang telah Arya lakukan pada istrinya baru-baru ini? Atau apa yang telah ditemukannya tentang dirinya> Putranya bukanlah orang suci.
"Dia lagi sama Linda."
Hasna akhirnya berbicara. Suaminya bersama saudara perempuannya. Kemudian dia menangis tersedu-sedu, seolah mencari ketenangan dari ayahnya. Dua kali dia ditampar oleh Arya, sekarang ditampar oleh ibunya. Padahal, di sini dia sebagai korban.
"Kamu harus cerita, Hasna! Apa yang terjadi? Mengapa kamu di sini? Kok Arya bisa bersama saudara perempuanmu? Tidak mungkin. Linda bersama dengan Martha. Dia sedang melahirkan dan Lindah menemaninya,” kata Diki yang bertanya dengan serentetan pertanyaan.
"Kemarin tiketku dibatalkan, tetapi Arya bisa pergi, aku yang tidak bisa. Bagaimana aku mengurus itu tidak penting, tetapi Arya yakin aku akan tiba keesokan harinya. Terus aku datang ke hotel dan dia di ranjang bersama Linda," kata Hasna yang sudah mulai tenang.
Safa mulai tertawa. Baginya, asap dan panas sudah memengaruhi anaknya. Dia mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal.
"Suamimu dengan adikmu?" Julia tidak bisa memahami penjelasan tadi, makanya dia menegaskan.
Julia yang dari awal tidak suka dengan Hasna pun semakin geram. Dia merasa Hasna terlalu sederhana. Terkadang ia merasa Hasna terlalu dingin untuk putranya. Julia butuh wanita yang penuh kasih, bukan seseorang yang bersaing dengannya dalam segala hal. Singkatnya, Hasna Renata terlalu seperti wanita dan pada saat yang sama tidak cukup untuk Arya Mahendra.
Yang mengejutkan semua orang, Arya tiba di tempat kejadian.
"Barang-barangku. Kamu membakar barang-barangku?" tanya Arya pada Hasna. Satu hal yang memancing emosi Arya, piala yang dia raih juga ikut terbakar. “Kamu juga membakar piala bola aku?!"
"Piala, medali, semua foto. Seragammu yang menyebalkan! Semuanya! Semuanya sudah terbakar dan aku menikmatinya,” kata Hasna dengan tatapan kosong. Dia menjawab seolah tidak ada penyesalan dalam kalimatnya.
"Dasar biadab!" Langkah cepat Arya membawanya mendekat.
Dia mendorong tubuh Hasna hingga wanita itu jatuh ke tanah. Tuan Renata tidak dapat berbuat banyak terhadap tubuh Arya yang mengerikan itu. Dia menjambak rambutnya dan menyeretnya beberapa meter sebelum Tio Mahendra tiba.
"Dia tidur dengan pria tak dikenal saat bulan madu kami! Aku lihat dia dengan pria lain dan dia tidak mau mengaku!” pekik Arya di hadapan semua orang.
Setelah beberapa menit terjadi pergumulan, teriakan, dan ancaman, keluarga yang terpecah itu menjadi tenang. Mereka memasuki rumah untuk mendamaikan suasana. Orang tua mereka merasa cemas, karena anak-anak mereka baru saja memulai pernikahan, tetapi sudah banyak kesalahpahaman.
"Hasna harus bicara dulu," tuntut ayahnya dengan mata melotot. "Mengapa kamu bilang Linda bersama suamimu? Aku baru telepon. Dia dalam perjalanan ke sini.”
"Kita tunggu dia saja!" Hasna kembali menjawab tanpa sorotan mata yang berarti.
Tatapannya kosong, seolah sudah semakin muak dengan keadaan yang ada. Apalagi melihat Arya, dia sudah tidak sanggup.
Sakit di kepalanya masih terasa setelah Arya menjambak semua rambutnya. Lalu, ada memar di tengkuk dan kedua pipinya. Ya, itu semua konsekuensi yang didapat karena emosi Arya setelah melihat barang-barangnya dibakar.
Hasna tahu dia akan dibalas, tetapi kalau ada Arya, dia tidak akan berani melakukan hal seperti itu.
Linda pun sampai di rumah. Hasna langsung melempar sepatu ke arahnya, menyaksikan rubah kecil berwajah malaikat itu masuk.
"Apa yang salah, Kakak?" Linda berpura-pura tidak tahu dan persis seperti orang yang sedang kebingungan.
"Duduklah dan diam!" titah ibunya.
Linda pun duduk sejauh mungkin dari kakaknya, di sebelah Tuan Mahendra.
"Siapa yang akan bicara lebih dulu?" tanya Tio memecah keheningan. "Aku ingin masalah ini cepat berakhir, karena aku tidak mau repot-repot."
Hasna berdiri. Dia menempatkan dirinya di tengah-tengah semua orang. "Linda dan Arya sudah pacaran selama delapan bulan," katanya membuka omongan. "Aku sampai di hotel, tempat aku seharusnya menghabiskan salah satu minggu terbaik dalam hidup. Sayangnya malah melihat kejadian yang tidak akan pernah aku lupa. Linda sedang tidur dengan suamiku. Mereka mengaku mereka telah berpacaran atau bertemu secara diam-diam selama lebih dari delapan bulan."
Arya tertawa, tawa mengejek, dan tawanya menggema di mana-mana. Linda mulai berakting. Dia bersandar di bahu ayahnya, padahal kedua orang tuanya tetap diam. Itu masih tidak masuk akal.
"Boleh aku bicara sekarang?" Arya ingin menjawab setelah menunggu keheningan beberapa saat. "Kamu lagi mengigau, ya? Aku belum Lindah sejak pernikahan. Baru kali ini aku melihatnya. Hasna itu jalang! Kami berdebat soal hal kecil di hotel dan dia bilang dia tidak suka tempat itu. Dia datang sebelum aku dan dia meninggalkanku! Dia pergi ke bar dan kembali dengan seorang pria. Aku sangat khawatir malam itu dan keluar seperti orang gila untuk mencarinya, sampai pagi-pagi sekali, salah seorang gadis di hotel bilang kalau istriku baru saja sampai, tetapi dengan pria lain. Pria yang sama yang menemaninya semalam. Aku ingin menegur Hasna saat itu dan dia mengakui semuanya kepadaku. Yang terburuk bukan hanya itu, dia pulang dan membakar barang-barangku, kemudian menuduh Linda atas sesuatu yang tidak dia tahu. Sekarang, dia mencoba membuatmu percaya padanya, tahukah kamu kenapa?"
"Kamu pembohong!" sela Hasna di tengah penjelasan Arya. Dia baru menatap Arya dengan tatapan yang sama kosongnya. “Kamu pembohong yang ulung.”
"Diam! Tadi kamu sudah bicara! Sekarang giliran aku untuk mengatakan yang sebenarnya! Aku tidak tahu siapa yang kunikahi, wanita yang kulihat adalah wanita lain, wanita yang sama yang ada di sini, tetapi aku tidak bisa mengenalnya. Aku bodoh karena percaya dia mencintaiku. Dia hanya menginginkan uangku!"
"Aku punya uang!" Hasna hendak berdiri untuk menghampiri, tetapi ibunya menahan.
"Tidak lebih dariku, Sayang. Tidak lebih dariku. Yang tidak kalian tahu adalah Hasna memaksaku menandatangani perjanjian pranikah. Di mana aku akan kehilangan segalanya jika aku menceraikannya."
Bisik-bisik itu dimulai dari orang tuanya. Omongan Arya sangat hebat, sempurna.
"Kalian pasti tidak bisa membayangkan semua klausul aneh yang ada dan aku menandatanganinya karena saat itu aku sedang jatuh cinta. Tapi aku bersumpah tidak akan membiarkan dia menyimpan apa yang menjadi milikku. Dia adalah iblis kontrak sialan. Aku tidak tahu mengapa dia tidak menunggu sedikit lebih lama, setidaknya dia seharusnya berpura-pura lebih lama, mungkin dia tidak tahan. Saat bulan madu kami, dia tidur dengan pria lain! Bulan madu kami! Dia tidur bersama seseorang bernama Kean Rinaldi!"
Mata Hasna terbelalak saat mendengar itu, Arya mengenalnya.
"Kalian lihat dia terkejut, kan?! Dia tidak menyangkalnya!"
"Aku tidur dengannya setelah melihatmu bersama Linda!" Hasna baru saja mengakui bahwa dia tidur dengan pria lain.
"Hasna!" Ibunya yang ketakutan memegang tangannya. "Berhenti berbohong! Dia tidak bersama Linda karena Linda tidak meninggalkan negara ini!"
"Bu!” Hasna pun menoleh ke ibunya dengan tatapan memohon. “Kumohon kali ini percaya. Aku melihat mereka."
"Aku mengerti maksudnya." Tuan Mahendra berdiri dari tempat duduknya dan berbicara. "Aku tidak menyangka akan seperti ini. Aku benar-benar mengira Hasna jatuh cinta pada anakku dan tidak habis pikir betapa bodohnya anakku karena mau menandatangani perjanjian pranikah dengan pengacara iblis itu. Kamu pasti bodoh, Arya! Kalau kamu pikir berhasil menjebak anakku, aku akan memanggil pengacara terbaik untuk memeriksa semuanya dan membatalkan perjanjian sialan itu, Hasna! Kamu tidak akan menyimpan satu sen pun dari apa yang menjadi milik keluarga Mahendra."
Mendengar penjelasan tadi, rasanya Hasna ingin sekali meludah. Wajahnya yang dari tadi menatap ibunya pun kini menoleh. Dia menegakkan tubuh dan angkat bicara. "Pak, dialah yang menyuruhku menulis perjanjian itu."
Itu sama sekali tidak masuk akal. Di hadapan kedua orang tuanya, Arya hanyalah otot, otak kecil, dan Hasna adalah pengacara kejam nan brilian yang dapat mewujudkan keinginannya dengan membuat Arya menandatangani perjanjian itu. Sekarang tidak ada yang percaya cerita bahwa Arya tidur dengan Linda dan si kecil Linda yang polos juga mengakui tidak pergi ke mana-mana.
"Aku juga tidak menginginkan uang kalian!” Hasna kembali melanjutkan kata-katanya.
"Baiklah, mari kita batalkan perjanjian ini! Itikad baikmu akan terbukti nanti." Mata biru Tuan Mahendra terfokus pada menantu perempuannya. "Bagaimana menurutmu, Hasna? Biarkan ini tetap menjadi perceraian sederhana. Semakin cepat, semakin baik."
"Tidak." Arya berdiri di samping ayahnya. "Aku jatuh cinta pada Hasna, terlepas dari semua yang telah ia lakukan padaku, cara ia menghancurkan hatiku, dan betapa ia begitu tertarik. Bagiku, perjanjian itu tidak batal. Hasna adalah istriku! Kalau Hasna tetap menginginkan perceraian, beberapa klausul harus dipenuhi. Bahkan jika aku mencintainya, hatiku layak mendapatkan balasan atas kejahatan yang telah ia lakukan padaku."
"Aku tidak akan memberimu sepeser pun! Katakan sesuatu, Linda!”
"Ayah, Ibu. Dia gila. Ini adalah sesuatu yang harus kalian selesaikan sebagai pasangan dan aku tidak ada hubungannya di sini. Aku pergi." Linda menjawab dengan kata-kata kosong dan langsung pergi.
Dia mengingat semua rencananya bersama Arya. Semuanya sukses. Tidak seorang pun bisa mempercayai cerita Hasna, karena memang itu niat Arya. Kalau semua orang percaya, dia yang akan kehilangan banyak uang, benar-benar banyak uang.
"Sampai jumpa di rumah!” bisik Arya tak bersuara.
Di tengah ruangan, Hasna ditinggalkan tanpa dukungan. Ibunya tidak memaafkannya karena melibatkan adik perempuannya dan ayahnya tidak dapat mempercayai cerita gila yang diceritakan putrinya.
Arya menang.
"Terus apa selanjutnya? Kamu kan pengacaranya." Sudut bibir Arya melebar.
"Tidak akan ada yang dilakukan di sini sampai pengacara kita meninjau perjanjian pranikah itu dan melihat keabsahannya," kata Mahendra menyahut. Dia memegang tangan putranya dan membawanya keluar dari rumah itu.
Julia menghampiri menantunya dengan ekspresi tegas. "Dasar biadab kamu, Hasna! Aku tidak pernah menyukaimu dan sekarang lebih dari itu. Kamu tidak akan mengambil sepeser pun dari anakku. Aku akan membuatmu menderita, dasar bajingan.”
"Kamu juga hanya wanita tua yang tidak berguna." Hasna bergumam, tetapi masih bisa didengar oleh Julia.
"Siapa yang kamu sebut tidak berguna?!"
"Kamu. Orang yang tidak tahu cara membesarkan anak dengan baik! Dia yang mencari untung di sini, bukan aku!" kata Hasna masih membela dirinya.
"Kamu pergi sekarang juga!" titah Julia dengan mata melotot.
"Aku sudah membayar rumah ini! Alasan yang sama mengapa aku tidak membakarnya dengan semua yang ada di dalamnya. Kamu yang keluar dari rumahku!”
Awalnya Hasna hanya berkata tegas. Namun, sekarang emosinya memuncak dan dia mulai berteriak. “Semua orang keluar! Kamu juga! Pergi bersama si jalang Linda!"
Mereka semua pergi setelah diusir oleh Hasna. Ia menutup pintu dan menjatuhkan dirinya ke lantai, kelelahan karena berteriak. Ia harus membuktikan bahwa Linda dan Arya adalah sepasang kekasih sebelum Arya mengambil separuh dari semua yang dimilikinya.
Ia tidak bisa membiarkan Arya mempermalukannya seperti tadi dengan kebohongan yang dibuat-buat. Arya yang tidak setia, setidaknya lebih dulu daripada dirinya. Arya tahu nama lelaki yang ditiduri Hasna dan ia tidak bisa menyangkal fakta itu.
Bisa dibilang, Hasna diuntungkan oleh situasi itu. Tepat pada saat itu, Hasna berada di pihak yang kalah. Kehilangan segalanya. Bisakah Arya membuktikan bahwa Hasna dan Kean Rinaldi menghabiskan malam bersama malam itu? Jika demikian, ada klausul yang menunjukkan apa yang akan terjadi. Dan Arya tahu itu.