Estu kecil selalu dipanggil Prisa oleh kedua orang tuanya, namun dipanggil Estu oleh sang kakek.
Estu kecil yang terpaksa dirawat kakek, tidak membantah perkataan orang tua dan tinggal di rumah kakek.
Dia mencuri dengar percakapan orang tua dan kakeknya di ruang tamu.
"Apakah kalian tidak terlalu memanjakan Gita, sampai tega mengusir Estu?"
Estu bisa mendengar nada sedih dari pertanyaan sang kakek.
"Ayah, kami harus bagaimana? Gita berkali-kali selalu bilang iri melihat kakaknya bisa pergi kemanapun, sementara dia hanya berbaring di tempat tidur karena jantungnya yang lemah."
"Kamu sebagai Ayah harusnya bisa bersikap tegas dan menasehati Gita dengan baik."
"Ayah, aku sudah menasehati Gita. Tapi kami tidak tega melihat dia kesakitan seperti itu, apakah Ayah tidak melihat hatiku sakit harus memilih salah satunya padahal aku yang melahirkan mereka berdua?"
Estu menghapus air mata yang mengalir di pipi.
"Lagipula dia tidak akan menjadi anak nakal dan merepotkan, dia memang terlihat dewasa daripada usianya."
Ibu Estu berusaha menyakinkan mertuanya supaya bisa menerima Estu.
"Jika Ayah tidak menerima Estu, kami terpaksa mengirimnya ke rumah teman."
Estu bisa mendengar nada frustasi dari suara ancaman ayahnya.
"Tidak usah! Aku bisa mengurus cucu sendirian! Kalian urus sana anak manja itu!" Bentak kakek Estu. "Jika kalian sudah selesai, pergi dari sini!"
Tidak lama, Estu bisa mendengar suara mobil orang tuanya dinyalakan dan berjalan menjauh, mereka benar-benar telah membuang dirinya.
Kakek yang masuk ke dalam rumah, terkejut melihat Estu duduk di tembok pembatas ruang tamu dan ruang keluarga, hatinya sedih melihat cucu pertama harus merasakan dibuang oleh orang tuanya. "Kamu dengar semua tadi?"
Estu berdiri lalu mengangguk singkat.
"Kamu masih mengharapkan mereka kembali?"
Estu mengangguk lalu menggeleng.
"Mana yang benar?"
"Estu kangen tapi tidak mau merepotkan Ayah dan Ibu."
Kakek yang berjalan dengan bantuan tongkat jalan, duduk di sofa empuk dan menepuk sofa di sampingnya. "Kamu ke sini."
Estu menuruti perintah kakek.
Setelah Estu duduk sendiri, kakek mulai menasehati cucu pertamanya. "Anak kakek harus kuat!"
Estu terkejut mendengar perintah sang kakek.
"Jika cucu kakek tidak kuat, berarti Estu bukan cucu kakek."
"Bagaimana dengan Gita?"
"Dia bukan cucu kakek!"
"Tapi Gita, adik Estu."
Kakek berdehem. "Kakek akan berubah pikiran jika dia mampu bersikap baik kepada kamu."
Estu menunduk lesu.
"Kakek akan merawat Estu sampai dewasa dan tidak akan kalah dengan Gita, kakek juga tidak akan memakai uang kiriman orang tua Estu. Jadi, jangan manja. Mengerti?"
Estu mengangguk singkat. "Ya, kakek."
"Sekarang masuk kamar dan jangan menangis, ingat, ikut dengan kakek harus kuat."
Estu mengepalkan kedua tangan mungilnya dan mengulang perkataan kakek.
Kakek tertawa lalu menghela napas sedih ketika cucunya sudah masuk ke dalam kamar, dia senang tidak akan hidup sendiri lagi di rumah besar, tapi dia harus menelan perasaan kecewa ketika melihat perlakuan putranya terhadap anak kandungnya sendiri.
Diam-diam kakek merasa beruntung karena masih membiayai hidupnya sendiri, bagaimana jika dirinya menua dan tidak memiliki penghasilan sama sekali? Apakah akan didepak sama dengan Estu?
Kakek tidak tahu, namun yang pasti dia akan merawat cucunya dengan baik.
Hari berganti hari, Estu sudah mulai adaptasi tinggal di rumah kakek yang berada di pedesaan, meskipun dia masih tidak tahan dingin, namun bisa bersahabat dengan para anak tetangga seusianya, termasuk tetangga yang selalu datang untuk menemani kakek mengobrol dan minum teh, bahkan bergosip untuk hal yang tidak penting.
Estu tidak mau tahu urusan orang dewasa, dia mulai melupakan buku-buku yang dibawa dan bermain hal baru dengan teman-temannya.
Ada satu teman yang merupakan anak angkat dari teman kakeknya yang suka datang berkunjung, namanya Gyan.
Gyan selalu menemani Estu kemanapun hingga mereka menjadi dekat dan menjalin hubungan khusus.
Kakek tidak melarang hubungan mereka, begitu pula dengan ayah angkat Gyan.
Gyan dan Estu bahagia lalu saling berjanji. Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama, Estu harus kembali ke rumah orang tua setelah kakeknya meninggal karena serangan jantung.
Gita menyambut hangat Estu dan memeluknya. "Aku kangen sama kakak, selalu dengar cerita kakak dari Ayah dan Ibu beberapa hari ini."
Beberapa hari ini?
Estu ditinggalkan selama bertahun-tahun dan orang tuanya baru cerita beberapa hari ini?
Estu menyembunyikan perasaan kecewanya dan menjawab dengan singkat. "Ya."
Ibu mereka yang mendengar itu, menegur keras. "Estu! Usia kamu sudah tujuh belas tahun! Bagaimana bisa berkata kasar kepada adik kamu?"
Estu mengerutkan kening. "Aku hanya menjawab ya."
"Adik kamu sudah cerita panjang lebar dan kamu hanya menjawab dengan satu kalimat?" Tanya ibu.
Estu tidak percaya dengan sikap ibunya lalu melirik ke ayah yang hanya membalik halaman koran, apakah sudah tidak ada tempat untuknya di rumah ini?
Estu menggigit bibir lalu minta maaf ke Gita. "Aku minta maaf jika terdengar kasar."
Gita tersenyum lebar. "Tidak masalah, kakak. Aku paham perasaan kakak yang sedang sedih sekarang."
Estu mengangguk lalu masuk ke dalam kamarnya.
Ayah menegur Estu. "Kamar kamu sudah menjadi gudang sekarang, kamu pindah ke kamar di belakang rumah."
Estu balik badan dan terkejut. "Kenapa?"
Ayah melipat koran lalu melemparnya ke atas meja. "Apakah kamu tidak bisa berpikir dengan cerdas? Bukankah kamu juara di sekolah? Seharusnya kamu paham bahwa alat-alat yang Ayah beli untuk adik kamu, sangat mahal. Ruang yang tersisa hanya di halaman belakang."
Halaman belakang sama dengan ruang pembantu. Estu berusaha menabahkan diri. "Ya, baik."
"Ah, katanya kamu selalu juara bukan? Pasti tidak masalah masuk kelas beasiswa supaya kami tidak membayar biaya sekolah kamu, Gita harus masuk sekolah swasta yang mahal. Dia tidak bisa masuk sekolah negeri."
Estu berusaha menahan rasa sedihnya. "Baik, Ayah."
Di rumah orang tua, tidak ada yang memanjakan dirinya lagi.
Hiburan yang tersisa adalah Gyan. Estu berharap di masa depan bisa menikah dengan Gyan dan keluar dari rumah ini.
Gyan kadang kala datang berkunjung ke rumah lalu bertemu dengan Gita yang lembut, bahkan Gyan memperkenalkan Gita ke orang tua dan adik-adiknya yang juga datang berkunjung ke kota mereka.
Estu tidak pernah berpikiran buruk dan selalu percaya dengan cinta mereka yang tidak akan pernah goyah.
Meskipun beberapa kali Gita mengatakan hal untuk membuat marah, Estu tidak menanggapinya.
Cinta sejati sama saja dengan cinta suci, Gyan sudah berjanji di depan kakek dan ayah angkat Gyan, untuk menjaga dan menjadikan Estu sebagai pendamping hidup, dia bahkan berjanji tidak akan mencari wanita lain.
Estu sangat percaya dengan sumpah itu.