bc

MENIKAHI TEMAN GOSSIP KAKEK

book_age18+
148
IKUTI
1K
BACA
HE
lighthearted
city
like
intro-logo
Uraian

Prisa Estu Anindita sejak kecil dirawat kakek dari pihak ayah karena kedua orang tuanya fokus merawat adik yang sakit-sakitan. Dia tumbuh bersama anak angkat tetangga yang suka main sementara ayah anak itu sibuk menjadi teman gosip bersama sang kakek.

Saat usia 17 tahun, Estu harus kehilangan kakek dan terpaksa kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Meninggalkan kehidupan menyenangkan.

Kehidupannya terasa hambar hingga pada akhirnya harus menyaksikan pria yang dicintai menikah siri dengan adik Estu sebelum pernikahan besok dengannya, disaksikan kedua orang tua masing-masing.

Estu yang marah berujung diusir dari rumah dan tanpa sengaja dipungut teman yang biasanya menghabiskan waktu dengan kakek.

"Aku akan menolong kamu, jika memenuhi syarat dariku."

"Apa itu?"

"Menikahlah denganku dalam waktu satu tahun."

"Kenapa bisa?"

"Aku terlanjur membuat perjanjian saat mabuk."

Daripada hidup di jalanan yang tidak jelas, Estu akhirnya menerima syarat itu.

chap-preview
Pratinjau gratis
KELUARGA BEJAT
Estu yang baru pulang setelah berhasil memenangkan tender dalam proyek pembangunan hotel, pulang lebih cepat dengan hati riang dan atm menggembung. Tidak hanya itu, besok adalah hari pernikahannya jadi harus bisa menjaga kecantikan tubuh. Rencananya dia pulang di pagi hari sebelum acara dimulai, tapi karena berhasil menyelesaikan lebih cepat sehari sebelumnya. Dia memutuskan pulang cepat dan memberikan kejutan kepada tunangan dan keluarga yang dicintainya setelah kakek meninggal. Meskipun ada beberapa masalah yang membuat hidupnya merasa tidak adil, Estu tidak berani membenci kedua orang tua kandungnya. Saat melihat depan gerbang rumah ramai dengan orang banyak, dia memutuskan masuk, orang- orang pun masih tidak mengenalinya karena jaket kebesaran dan topi yang selalu dipakainya. Dengan senyum lebar dan jantung berdebar memikirkan kekasih hatinya mungkin memberikan kejutan sehari sebelum menikah. "SAH!" Teriakan kalimat kebahagiaan dari banyak orang memekakkan telinganya. Sah? Estu mengerutkan kening dan menangkap pemandangan mengerikan. Calon suami sekaligus sahabat sejak kecilnya, Gyan Mahesa duduk di samping Gita Darmaya dengan wajah bahagia. Estu tidak percaya dengan penglihatannya. Apa-apaan ini? Kenapa mereka- "Gyan, terima kasih sudah bersama dengan Gita selama ini. Gita yang hidupnya selama ini sakit-sakitan dan hampir menyerah- akhirnya bisa tersenyum bahagia." Ibu? Estu mengalihkan tatapan dan melihat ayahnya duduk menjadi wali nikah lalu kedua orang tua Gyan juga terlihat menghampiri Gita. "Gita, selamat ya- mama bahagia melihat kamu sudah menikah dengan Gyan." "Papa juga bahagia, sudah jangan memikirkan hal buruk." Gita semakin tersenyum lebar menatap Gyan, Gyan juga terlihat menatap penuh cinta Gita. Untung saja Estu membawa kamera tersembunyi di dalam tas. Yang awalnya ingin merekam setiap momen kejutan, berubah menjadi momen mengerikan. Ijab kabul di pagi hari lalu pesta pernikahan di siang hari yang akan dilakukan besok bersama Estu, tidak menjadi momen indah baginya. Estu pergi meninggalkan rumah itu dengan langkah gontai, tidak mempercayai penghianatan orang-orang yang disayanginya. "Kenapa kakak Gyan menikah dengan Gita? Bukannya sama kak Prisa?" Estu menghentikan langkahnya. Suara ini sangat dikenalnya, adik laki-laki Gyan yang paling kecil. Orang lain memanggilnya Prisa, hanya kakek dan teman kakek yang memanggilnya Estu. "Hah! Bagaimana bisa kakak kita yang tampan dan punya jabatan bagus menikah dengan anak tomboi seperti dia? Dengar, kakak kita akan mewarisi perusahaan besar dan hidup kita akan enak, jika kakak menikah dengan perempuan itu- keluarga kita yang akan malu." "Benar juga ya, kak Prisa tidak pernah memperhatikan dirinya sendiri. Lebih cantik kan kak Gita." "Nah kan, apalagi kalau terlihat sama kepala keluarga Gunadhya. Huft, pasti kita akan menjadi bahan tertawaan orang banyak." "Tapi, kak Prisa kan bisa merawat diri." "Apanya? Kakak kita sudah menasehatinya untuk merawat diri tapi dianya yang gak mau, kak Gita juga sempat menawarkan kartu salon langganan malah dibuang. Aku lihat sendiri di tempat sampah, itu kan kartu eksklusif ." Estu teringat. Waktu itu sempat bertanya ke Gita apakah kartu di atas meja yang ditumpuk bersama kertas-kertas tidak terpakai masih dipakainya? Lalu anak itu menjawab tidak sambil lalu. Estu menertawakan dirinya sendiri lalu berlari keluar lingkungan itu, untung saja dirinya tidak membawa koper jadi tidak perlu repot-repot menggeret bawang bawaannya. Setibanya di hotel, dia menangis sampai puas sambil memukul-mukul bantal empuk hotel. Semua perkataan keluarganya berkumpul di dalam ingatan Estu. Ayah. "Prisa, kamu sudah dewasa jadi harus lebih banyak mengalah demi Gita." Ibu. "Prisa, adik kamu hidupnya di rumah dan rumah sakit. Kenapa kamu tidak bisa mengalah kepadanya? Sudah bersyukur kamu bisa hidup sehat setidaknya kamu bisa bantu masalah keuangan untuk adik kamu." Mama Gyan. "Adik kamu cantik sekali ya, kenapa kamu juga tidak merawat diri? Mama bantu ya." Papa Gyan. "Gyan hidupnya sudah enak, setidaknya kamu menjadi calon istri harus bisa sederajat dengannya." Adik perempuan Gyan. "Kak, jangan dekat aku. Aku tahu kakak bisa cari uang tapi setidaknya harus bisa menjaga penampilan, coba contoh kakak Gita." Adik laki-laki Gyan tidak terlalu banyak berinteraksi dengan Estu. Gyan. "Kamu sudah cantik kok seperti ini, aku mengerti kamu harus mengurus rumah sekaligus kantor jadi tidak perlu melakukan hal lain. Nanti kita menikah- baru aku akan memperlakukan kamu seperti ratu. Aku suka kamu apa adanya." Dan semua perkataan yang dilontarkan Gyan adalah kebohongan. Ternyata pria itu tidak pernah mencintainya dengan tulus. Estu merasa terlalu bodoh karena percaya pada mereka semua, padahal dia percaya bahwa keluarganya akan berubah mencintainya dengan tulus. Tidak pernah terbesit di benaknya bahwa semua orang akan mengkhianatinya. Estu memukul tempat tidur dengan kesal. "Aku berjuang keras untuk mereka, aku juga bekerja demi mereka." Namun Estu tahu bahwa tidak ada cinta di benak kedua orang tuanya sejak sang adik terlahir lemah. Kasih sayang Cinta Perhatian Semua diberikan kepada Gita dengan alasan sakit. Estu teringat dengan teriakan Gita saat melihat dirinya, karena iri bisa bermain bebas dengan anak-anak tetangga, sementara sang ayah berlutut untuk meminta maaf, tapi insting kecil Estu tahu bahwa ucapan ayahnya tidak tulus. "Prisa ikut kakek ya, untuk sementara waktu. Ayah dan Ibu harus fokus mengurus adik." Estu kecil bisa merasakan genggaman erat sang ayah di kedua tangan mungil serta sorot mata dingin. "Prisa-" Ibu yang sedang menggendong Gita menegur Estu. "Kamu lebih besar dari Gita, harusnya mengalah. Jangan jadi anak manja yang tidak tahu diri." Estu menundukkan kepala dengan sedih, orang tuanya sudah tidak ingin bersamanya. "Ya, Prisa ikut kakek." Estu kecil terpaksa menuruti permintaan egois keluarganya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook