Satu jam kemudian, Enzo bertemu dengan Gyan, kedua orang tua dan saudara-saudaranya. Enzo yang selalu tepat waktu, sengaja sedikit mengulur waktu.
Papa Gyan menjabat tangan Enzo dengan sopan. "Lama tidak bertemu."
Mama Gyan tersenyum sumringah. "Wah, Enzo. Kamu semakin tampan sekarang."
Enzo mengangguk kecil lalu mempersilahkan yang lain duduk. "Maaf, saya sedikit terlambat."
Adik perempuan Enzo tersenyum malu-malu. "Gak, kami tahu kalau om sibuk."
Adik laki-laki Enzo menguap. Dia tidak suka terlalu menjilat kerabat.
"Sudah pesan makanan?" tanya Enzo sambil melihat menu makanan.
"Kami sudah memesannya, tinggal menunggu kamu saja." Sahut ibu Gyan yang sok akrab.
Enzo menutup menu dan diletakkan di atas meja, perutnya tidak ingin makan makanan berlemak malam ini mengingat Estu akan menghabiskan champagne mahalnya.
"Papi, apakah ada kesibukan di hotel? Aku bisa membantu papi."
Kalimat Gyan menarik perhatian Enzo. "Urus pernikahan kamu dulu, baru bantu papi."
"Tapi pi, aku tidak enak meninggalkan papi bekerja sendirian."
"Hm? Bukankah pagi ini manajer keuangan pusat tidak bisa menghubungi kamu sama sekali?"
Gyan berdehem. "Maaf, aku-"
"Haduh Gyan ini, maaf ya Enzo. Anak ini suka tidur larut malam jadi bangunnya siang-siang. Terlalu gugup karena besok mau menikah dengan tunangannya. Kami sudah menegurnya." Ibu Gyan melambaikan tangan sambil mengedipkan mata.
Gyan tersenyum canggung.
Enzo tidak bereaksi.
"Astaga, ada Gita." Ibu Gyan menepuk lengan atas suaminya dengan heboh.
Enzo hanya diam, melirik reaksi Gyan yang sibuk melihat menu.
"Tante." Gita cipika cipiki ke mama Gyan diikuti ibunya.
"Jadi, ada apa kalian mengundang saya kesini?" tanya Enzo yang mulai muak.
"Aduh, Enzo. Kami cuma ingin memperkenalkan kedua orang tua Gita di pernikahan Estu besok," kata mama Gyan.
"Hallo," sapa ibu Gita.
Enzo tidak membalas. "Oh, orang tua Gita?"
Ibu Gita mengangguk senang. "Kami sudah mendengar cerita dari Gyan tentang papi angkatnya, jadi kami hanya memberikan salam untuk besok dan terima kasih sudah mau menerima anak kami yang tomboi."
Enzo menatap muak orang-orang di meja. "Hanya ini? Kalian membuang waktu saya hanya untuk ini?"
"Papi, jangan salah paham. Mereka hanya ingin menyapa." Gyan mencoba memberikan penjelasan terbaiknya.
"Ya, silahkan saja tapi besok seharusnya. Apakah kalian semua mulai melupakan tata krama? Besok Estu yang harusnya menikah dengan kamu, kenapa malah menunjukkan orang tidak penting disini?" cecar Enzo ke Gyan. "Lagipula kemana Estu? Kenapa dia tidak muncul?"
Gyan mengeluarkan alasan tidak masuk akal bagi Enzo. "Papi kan sudah tahu Prisa, nah ini orang tua dan adiknya. Jadi, menurut aku-"
Gita menggigit bibir bawah dan menunjukkan wajah sedih. "Maaf, kami sudah mengganggu. Kami sendiri tidak menyangka kakak ipar disini bersama keluarga, saya dan orang tua kembali saja."
"Gita-" Gyan tidak rela Gita mencari meja lain.
"Gyan, jika kamu tidak ingin melakukan pernikahan dengan Estu- sebaiknya dibatalkan saja sebelum semuanya menjadi kacau." Tegur Enzo.
"Papi bicara apa sih, aku disini-"
Enzo bangkit dan merapikan jasnya. "Sepertinya sudah selesai. Gyan, jangan lupa besok aktifkan handphone kamu sebelum semua menjadi kacau."
"Bahkan om enzo tidak merestui kak Estu." Gerutu adik perempuan Gyan.
"Memangnya kenapa jika saya tidak merestui Gyan?" tanya Enzo ke adik perempuan Gyan yang sudah bicara tidak sopan. "Saya sendiri yang mengambil keputusan, kamu siapa sampai berani ikut campur?"
Adik perempuan Gyan terdiam lalu menunduk.
Enzo menatap kecewa Gyan. "Apakah seharian ini kamu sudah menghubungi Estu?"
"I- itu-"
Enzo melirik kedua orang tua Gyan yang gugup. "Anak kalian akan menikah dan bertemu dengan lawan jenis, meskipun dia adik kandung mempelai wanita- tetap saja ini tidak sopan."
"Kakak sedang sibuk, tadi saya juga sudah mende-" Gita terdiam begitu melihat sorot mata menakutkan Enzo.
Enzo segera keluar dari rombongan badut. Menyebalkan!
Enzo kembali ke hotel miliknya dan ingin melihat perkembangan Estu. Begitu sampai di kantor, dia melihat Estu masih tertarik membaca buku yang diberikannya, champagne pun terlihat masih utuh.
"Point apa yang membuat kamu menarik?" tanya Enzo sambil duduk di samping Estu.
"Selama ini aku memang tertarik bidang hotel dan tidak memiliki kesempatan sama sekali untuk belajar, begitu kemarin mendapat tender proyek pembangunan hotel. Aku harus mempertimbangkan beberapa hal tapi tidak mengerti."
"Contoh?"
Estu menarik napas panjang lalu menghembuskan perlahan dan mulai menjelaskan. "Ruang front office dan marketing harus berbeda, akhirnya aku mengerti kenapa hotel cenderung memberikan satu tempat untuk marketing tapi di hotel lainnya tidak. Ada sih yang ruang marketing di balik ruang fo jadi kita harus mempertimbangkan dengan matang."
Dahi Enzo berkerut. "Kamu bagian apa di tempat kerja?"
"Marketing." Cengir Estu.
"Marketing dengan penampilan tomboi?"
"Kata orang-orang, ini adalah satu daya tarik utama aku. Jadi kalau aku coba menjelaskan klien, tidak akan bingung lagi."
"Estu, apakah kamu mencintai pekerjaan yang sekarang?"
Wajah Estu berubah muram. "Kenapa bertanya?"
"Aku hanya penasaran."
Kakek meninggal saat Estu berusia 17 tahun, pulang ke rumah orang tua yang hanya diberi sambutan dingin karena kesibukan mereka dan Gita yang bolak balik harus diantar jemput rumah sakit, menganggap Estu tidak ada di sana atau bisa dibilang pengganggu?
Estu juga tidak terlalu berharap mendapat kasih sayang dari orang tua dan adiknya, dia hanya ingin cepat lulus sma dan kuliah lalu pergi meninggalkan rumah.
Sayangnya harapan harus pupus karena kedua orang tua lebih fokus memilih sekolah dan kesehatan Gita, sekali lagi Estu harus mengalah dan bekerja.
Ingin menangis atau marah pun percuma jadi satu-satunya cara melarikan diri dan tenggelam dalam pekerjaan.
Jadi jika Estu diberikan pertanyaan, apakah bahagia dengan pekerjaan sekarang? Dia tidak akan bisa menjawab. Karena pekerjaan sekarang merupakan kebutuhannya.
"Tidak bisa menjawab?" tanya Enzo.
Estu mengalihkan tatapannya.
"Lupakan saja, kita bersenang-senang malam ini."
"Bersenang-senang?"
"Ya," kata Enzo sambil menggoyangkan gelas champagne.
Kedua mata Estu mengerjap tidak mengerti.