“Perjalananku akan penuh dengan bahaya,” kata Surya pada Meillyana.
“Tak mungkin akan lebih berbahaya dibanding aku melakukan perjalanan sendiri,” jawab sang gadis dengan tegas.
“Kematian bisa mengancam setiap waktu. Aku adalah seorang buronan. Mungkin saat ini mereka belum menyadari saja, jika ternyata aku masih hidup,” kata Sang lelaki kembali.
“Kita memiliki posisi yang sama. Walaupun ceritanya berbeda, tapi aku yakin kalau nyawa kita sama-sama terancam,” tukas si gadis dengan nada sedih.
“Baiklah ... jika kita bisa keluar dari ibu kota dengan selamat, aku ingin mendengarkan ceritamu. Dan jika kamu tertarik, aku juga akan menceritakan kisahku ...”
“Sepakat, aku setuju ...” jawab Meilyana dengan lugas.
“Sekarang, istirahatlah meskipun hanya tersisa waktu beberapa jam. Karena mungkin saja, besok bisa jadi hari yang lebih berat bagi kita.” Si lelaki mengatakan itu sebagai sebuah anjuran yang sulit ditolak.
“Bagaimana dengan engkau sendiri?”
“Aku akan berjaga di sampingmu. Cukup dengan duduk menyandar, aku akan bisa memulihkan tenagaku lagi. Tidurlah ...” kata Surya kelana untuk menutup pembicaraan malam itu.
Beberapa saat kemudian, hanya terdengar desah napas lembut dari keduanya. Terlihat jelas, hari itu adalah merupakan sebuah bagian terberat dalam hidup mereka. Dalam keadaan lelah jasmani dan rohani, mereka segera mencoba untuk menyerahkan semua takdir seiring kepasrahan dalam pelukan alam mimpi.
Antara ada dan tiada, sadar serta tak sadar ... Lian merasakan sebuah kehangatan menyelimuti dirinya. Sebuah kain tipis yang ditutupkan pada tubuhnya, ternyata mampu membuat si gadis jadi merasa lebih nyaman.
Si lelaki menatap wajah cantik yang begitu lemah, pasrah serta patuh pada takdirnya itu ... dan ia hanya dapat menghela napas panjang karena merasa telah benar-benar jatuh kasihan pada seorang gadis asing, yang tiba-tiba saja telah memasrahkan seluruh jiwa raga kepada dirinya.
---
Dalam keremangan fajar, Meillyana terjaga ketika lamat-lamat mendengar sebuah kesibukan di sekitarnya. Meskipun setiap langkah dan gerakan si lelaki telah dibuat dengan sedemikian perlahan serta hati-hati, tak urung tetap saja membangunkan alam bawah sadar si gadis yang masih sangat memproteksi dirinya sendiri.
Lelaki itu tampaknya sudah selesai membersihkan diri, karena langsung bisa ia lihat dari wajahnya yang tampak segar dan bersih. Dan entah kapan, Surya Kelana juga sudah sempat berganti pakaian. Saat ini, ia mengenakan sebuah hem berbahan jeans dan juga celana jeans yang kesemuanya berwarna biru gelap.
Dengan bantuan cahaya lemah selepas fajar, Meillyana menatap lelaki yang ternyata masih sangat muda itu. Mungkin saja, usianya hanya selisih beberapa tahun lebih tua dengan dirinya. Namun yang membuat hatinya bergetar, adalah profil kekerasan hati, kejujuran serta kematangan pribadi yang ada di wajah maskulin tersebut.
Jika dilihat dari umur, orang semuda itu sebenarnya masih bisa dikatakan sebagai seorang anak kuliahan yang belum lama lulus. Namun, pancaran mata serta gurat kepribadian yang tercermin dari wajah ganteng itu seolah meninggalkan jauh usia diri yang sebenarnya.
Surya Kelana adalah seorang laki-laki yang memang selayaknya laki-laki! Karena sebuah kekuatan dahsyat dalam pribadi setia tak tergoyahkan dan begitu dewasa itu ... tak mungkin tidak, pasti akan mengguncang hati gadis manapun yang ia temui.
Apalagi, bagi Meillyana yang baru bebarapa jam lalu ditinggalkan oleh semua orang terdekatnya ... seketika itu juga ia bersumpah untuk mengikuti kemanapun langkah si lelaki pergi. Bila perlu, ia akan menyerahkan seluruh miliknya yang paling berharga kepada si pemuda asing yang telah menyelamatkan kehormatannya. Karena, disanalah ia melihat kembali sebuah harapan yang terkubur bersama musnahnya semua yang ia miliki.
---
“Hei ... kau sudah bangun?” tanya Surya Kelana saat melihat si gadis bangkit dari rebahnya.
Wajah itu terlihat sedemikian cantik, walau belum menyentuh setetespun air untuk membasuh wajah. Dan ... tubuh indah itu masih sangat menonjolkan pesonanya. Meskipun saat itu ia tetap berbalut pakaian serta selimut tipis yang kini ia sampirkan pada bahu, untuk menutupi punggung dan bagian depannya.
"Kau tidak tidur?” Si gadis malah balas bertanya.
“Oh ... aku sudah cukup beristirahat. Kalau kau sudah siap, bersihkan tubuhmu di ruang mandi darurat sana. Aku sudah mengambilkanmu air yang cukup untuk sekedar membasuh badan serta keperluan pribadi lain.”
“Ohh ... maaf, jadi merepotkanmu,” jawab Meillyana dengan perasaan tak enak.
“Tidak masalah. Tadi sekalian saja aku sediakan saat bersiap untuk diriku sendiri. Oh, iya ... mungkin kau bisa memakai ini untuk sementara. Nanti kita coba mencari baju ganti yang sesuai. Semoga saja, di bagian kota ini ada toko yang berani buka. Kurasa, tempat kita sekarang ini berada agak jauh dari pusat kerusuhan. Mungkin, tempat usaha masih bisa berjalan sedikit normal tak seperti di sana.”
“Iya, semoga saja begitu ... terima kasih, sudah sangat merepotkanmu,” jawab si gadis dengan malu.
“Mandilah, bersihkan dirimu ... sekalian nanti kita juga perlu mencari tukang foto kilat untuk membuat dokumentasi kita,” jawab si lelaki kembali.
“Foto? Dokumentasi?” Lian bertanya dengan sedikit heran.
“Kalau ingin melakukan perjalanan dengan aman, kita harus memiliki dokumen lengkap. Dan hari ini kita harus bisa mendapatkan itu. Selanjutnya, baru kita pikirkan kemana harus menuju.”
“O-ohh ... baiklah. Aku ikut sesuai rencanamu saja ...”
---
Yang namanya kamar mandi darurat itu, ternyata memang sebuah tempat yang memang sudah dibangun sebagai ruang mandi dan aktifitas kebersihan lain. Hanya saja tempat tersebut memang belum sepenuhnya jadi, lagi pula memang terlihat kotor karena sudah terlantar sekian lamanya. Tapi, keadaan seperti itu masih saja diterima dengan penuh syukur oleh si gadis. Paling tidak, ia bisa sedikit membersihkan tubuh walau hanya mengunakan sabun mandi keras.
Rasa haru dan sangat berterimakasih juga ia panjatkan pada Sang Maha Kuasa, karena ia telah dipertemukan dengan orang baik yang tak banyak bicara tapi telah begitu perduli padanya. Bayangkan saja, mengumpulkan air hingga memenuhi sebuah bak plastik usang sebesar itu pastilah memakan banyak waktu dan tenaga. Entah darimana Surya Kelana mendapatkannya. Tapi yang jelas, ia telah bersusah payah saat membawanya ke tempat itu.
Dihinggapi sebuah perasaan aneh, tiba-tiba saja sang gadis merasakan sedikit keriangan dalam dukanya. Tanpa ragu, ia membuka satu persatu pakaian yang melekat dan langsung mengguyur tubuh indahnya dengan menggunakan rantang berlobang yang ada di situ. Tanpa sadar, ia bernyanyi kecil sambil menggosok seluruh bagian yang terasa sudah sangat kotor.
***
Wajah segar yang hanya mengenakan celana selutut dan kaus tanpa lengan yang ditutupi sebuah kemeja flanel gombrong itu terlihat menyaingi cahaya mentari pagi yang cerah. Surya Kelana menatapnya sekilas, lalu menyadari betapa belianya si gadis yang semalaman ini berada dekat menempel padanya.
Meskipun terlihat masih menyisakan kedukaan dalam sinar matanya, si gadis berusaha untuk tetap tegar dan ‘biasa saja’ di hadapan Surya Kelana. Hal itu dapat langsung dilihat oleh si lelaki yang kini secara jelas bisa memandang dengan bantuan cahaya mentari yang terang kemilau.
Entah seberat apa, hari yang sudah dilewati oleh gadis tersebut pada saat kerusuhan kemarin. Karena takkan mungkin seseorang akan lari menjauh dan bersedia tercerabut dari akarnya, kalau ia tidak menemui suatu hal yang memukul batin dengan begitu berat.
Tapi, itu bisa menunggu nanti ... karena, prioritas utama dalam waktu singkat adalah mencari sebuah cara untuk dapat meloloskan diri menuju sebuah tempat yang aman. Bila nanti mereka diberkati serta direstui dan bisa tetap selamat dalam keadaan tak kurang suatu apapun, Surya Kelana telah berjanji pada diri sendiri untuk membantu sepenuhnya sang gadis agar bisa memiliki hidupnya kembali.
***